My Best Photo

My Best Photo
Mira Houston


__ADS_3

"Hanya ini tempat tinggalku. Tempat tidurnya hanya satu. Jadi kamu boleh tidur di sofa itu!" kata Mira.


Ben baru saja pulang dari rumah sakit dan dia ikut pulang ke kedai kopi Mira sekaligus juga menjadi tempat tinggalnya di lantai 2.


"Terima kasih karena sudah menerimaku" kata Ben.


Mira membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan kalung dan 2 cincin.


"Aku tahu namamu dari 2 cincin ini. Sepertinya perampok itu tidak menemukannya karena tersimpan dibalik bajumu. Sepertinya ini cincin pernikahan" kata Mira lalu meletakan kalung dan cincin itu didepan Ben.


Ben mengambil cincin itu, membolak-balikanya dan membaca tulisan yang ada didalamnya.


"Aku tak mengingat apapun tentang cincin itu!" kata Ben sambil memegang kepalanya.


"Jangan terlalu memaksakan. Cobalah perlahan-laham. Memang dokter mengatakan kalau kita harus pergi ke rumah sakit yang lebih lengkap lagi untuk memeriksakan kepalamu. Tapi aku tak punya cukup uang untuk membawamu ke sana."


"Tidak apa-apa, Mira. Aku sudah merasa sehat. Aku akan membantumu di sini. Akan kulakukan pekerjaan apa saja agar bisa membantumu."


Mira tersenyum "Kau istirahat saja dulu. Beberapa luka ditubuhmu itu belum sembuh benar"


Ben mengangguk. Ia merasa senang karena Mira mau menerimanya.


Setiap hari Ben membantu Mira membuat kue dan melayani tamu yang ada. Mira pun merasa senang karena Ben sangat cepat belajar dan sangat rajin.


Kedai kopi ini adalah warisan keluarganya. Orang tua Mira sudah meninggal dan Mira menjalankan kedai kopi ini untuk membiayai kehidupannya.


Keduanya cepat menjadi akrab, sampai disuatu pagi Ben melihat Mira sedang duduk di dekat jendela sambil menangis.


"Mira, ada apa?" tanya Ben heran.


Tangis Mira semakin pecah. Ia langsung menghamburkan diri dalam pelukan Ben.


"Mira kenapa?" tanya Ben semakin khawatir. Tangannya secara spontan membelai punggung Mira.


"Aku hamil, Ben!"


Ben melepaskan pelukannya. Ia menatap Mira dengan bingung "Sudah 3 minggu aku di sini namun aku tak pernah melihat ada teman dekatmu yang datang."


"A...ku diperkosa!" kata Mira dengan sangat pelan. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Apa?"


"Kira-kira 6 minggu yang lalu, aku baru saja akan menutup kedai kopiku. Waktu itu baru jam 8 malam. Namun hujan turun dengan sangat deras. Tiba-tiba masuk 2 orang lelaki. Mendorong pintu dengan sangat keras. saat keduanya sudah didalam, temannya yang satu langsung menutup pintu dan menurunkan semua tirai jendela. Yang satunya lagi langsung mendorong aku ke lantai, dan tanpa menungguh lama, ia merobek pakaianku dan memperkosaku secara kasar. Saat yang satu selesai, temannya yang satu langsung gantian memperkosaku. Mulutku di lakban demikian juga dengan tanganku. Setelah itu mereka berdua pergi sambil melemparkan beberapa lembar dolar di mukaku. Seolah aku adalah perempuan murahan yang biasa melayani lelaki brengsek seperti mereka." Mira menghentikan ceritanya sebentar. Ia menarik napas panjang beberapa kali. Mencoba menenangkan hatinya yang kembali gundah mengingat kejadian paling mengerikan dalam hidupnya.


"Aku tak menyangkah kalau mereka meninggalkan benih didalam diriku yang kini mulai tumbuh. Aku sangat bingung, Ben. Aku ingin sekali mengugurkan anak ini namun aku takut pada Tuhan. Anak ini juga tidak salah."


Ben meraih tangan Mira "Mira, jangan takut. Aku akan menemanimu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Jika memang kau memutuskan untuk merawat anak ini, maka kita akan merawatnya bersama."


Mira sangat tersentuh mendengarkan perkataan Ben. Ia kembali memeluk Ben dengan perasaan yang sangat terhibur. Ia bersyukur saat ia sangat membutuhkan teman dalam hidupnya, Tuhan memberikan Ben yang sangat perhatian.


"Apakah kau mengenal mereka?" tanya Ben


Mira mengangguk dalam pelukan Ben" Mereka adalah pemimpin mafia di daerah pecinan ini. Makanya aku memilih tak melaporkan kejadian ini karena selain tak ada saksi, gadis miskin yang sebatangkara seperti aku tak akan bisa melawan mereka di pengadilan."


"Apakah mereka pernah datang ke sini lagi?"


Mira melepaskan pelukannya "Ya. Tapi mereka tak banyal bertingka karena kamu ada di sini."


"Aku berjanji Mira, karena kamu sudah menolongku maka aku akan menjagamu. Sekalipun ingatanku akan kembali lagi, aku tak akan pernah membiarkan kau sendiri"


"Terima kasih, Ben!"


************


Kehadiran Maura, selanjutnya orang tua dan teman-teman Ben, disatu sisi membuat Mira senang. Walaupun ia merasa takut Ben akan meninggalkannya dan para mafia itu akan menyerangnya lagi.


Ben meminta pada Mira untuk tidak mengatakan apa-apa tentang kehamilannya. Biarlah mereka menyangka kalau itu adalah anak Ben.


"Ben, istri, orang tua dan teman-temanmu sudah ada di sini. Apalagi yang kau tungguh?" tanya Mira melihat Ben masih duduk di sofa tempat dia tidur.

__ADS_1


"Aku tak bisa mengingat mereka semua. Jadi aku tak mau pergi dengan mereka."


Mira duduk di samping Ben "Ben, dengan berada di dekat mereka, maka kau akan lebih cepat menemukan ingatanmu"


Ben memandang Mira "Bagaimana denganmu, Mira? Jika aku pergi maka para mafia itu akan bisa mencelakai kamu lagi."


"Aku harus bagaimana, Ben? Hidupku memang ada di kedai kopi ini. Aku tidak kuliah, tidak punya keahlian apapun selain membuat roti dan kue. Kau tak harus bertanggungjawab atas hidupku"


Ben meraih tangan Mira "Ikutlah denganku ke London. Agar aku bisa tenang selama menjalani pengobatan di sana"


"Tapi Ben.."


"Kalau kau tak mau ikut, maka aku tidak akan pergi."


Mira tak bisa menahan air matanya. Ia percaya akan ketulusan Ben padanya. Walaupun Mira tahu hati Ben tidak mencintainya. Ia memutuskan untuk ikut Ben ke London agar pria itu bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik.


************


Alicia Aslon tak dapat menahan air matanya mendengar cerita Mira tentang hidupnya. Demikian juga Maura yang duduk di sebelah Ben pun menangis saat tahu betapa menderitanya Mira dengan kehamilannya itu.


"Sekarang Ben sudah menemukan ingatan masa lalunya. Jadi besok, aku mau kembali ke New York." kata Mira.


"Tidak sayang......!"Alicia tiba-tiba berdiri dan mendekati Mira. Ia duduk di dekat Mira dan menggenggam tangan Mira dengan erat.


"Jika kau kembali, maka mereka bisa saja menyakitimu. Aku tidak akan ijinkan itu terjadi. Kau sudah menolong anakku. Makanya mulai hari ini, aku menerimamu menjadi adik Ben" Alicia membelai perut Mira. "Biarkan anak ini lahir di sini. Aku siap menjadi omanya. Iyakan, pap?" ujarnya sambil menatap Bryan.


"Tentu saja, sayang...!" Kata Bryan dengan senyum tulus.


Air mata Mira mengalir lagi. perasaannya benar-benar bahagia. Saat ia merasa akan sendirian karena Ben sudah mendapatkan lagi ingatan masa lalunya, ia justru mendapat kasih sayang seorang ibu dalam diri Alicia.


"Terima kasih nyonya Aslon!"


"Panggil aku, mommy!"


"Mommy !"


Mira menangis dalam pelukan Alicia. Ia tak dapat mengungkapkan kebahagiaannya.


"Kau tulis saja apa yang ingin kau ambil di kedai kopi itu. Anak buahku akan mengambil dan membawanya ke sini." ujar Ben.


"Terima kasih, Ben."


"Di samping butikku masih ada tanah kosong. Aku akan meminta mereka membuatkan kedai kopi untukmu." imbuh Alicia


Mira terperangah "Benarkah? Aku sangat senang"


Semua pun tersenyum bahagia.


********


Selesai makan siang bersama, Ben menemui Mira di kamarnya.


"Mira.....!" panggil Ben


Mira yang sedang membereskan pakaiannya menoleh ke arah Ben. Ia memang menerima semua bantuan keluarga Aslon padanya. Namun Mira ingin tinggal sendiri. Makanya ia beres-beres karena besok ia akan pindah ke apartemen yang Alicia siapkan untuknya.


"Ben...masuklah!"


Ben melangkah masuk. "Kau sudah siap?"


"Ya."


"Terima kasih karena mau tinggal di London bersama kami."


"Terima kasih karena sudah memberikan aku sebuah keluarga, Ben"


"Kau pantas untuk mendapatkannya. Karena kau sudah melakukan banyak kebaikan dalam hidupmu."


"Ben, bolehkah aku berbicara dengan Maura?"

__ADS_1


"Boleh. Sebentar aku panggilkan"


Mira menatap kepergian Ben sambil tersenyum. Ia tahu bahwa sedikit rasa yang mulai hadir dalam hatinya karena perhatian dan kasih sayang yang Ben berikan selama ini harus ia hilangkan. Dan ia bersyukur karena kembalinya ingatan Ben membuatnya bisa mendapatkan keluarga yang baru.


"Hai...kau ingin bicara padaku?" tanya Maura sambil berdiri di depan pintu.


"Masuklah Maura!"


Maura masuk dan ikut duduk di atas karpet bersama Mira.


"Mengapa kau tak menerima tawaran mommy untuk tinggal di sini?"


Mira menatap Maura "Aku sudah mendapat banyak hal yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Jadi aku ingin tetap menjadi Mira yang mandiri"


"Aku bangga padamu, Mira. Kau sangat kuat menghadapi semua ini"


Mira hanya tersenyum. "Aku kuat karena dia" katanya sambil memegang perutnya yang sudah mulai kentara.Ia kemudian menatap Maura.


"Maura, antara aku dan Ben tidak pernah terjadi apa-apa. Kami memang tidur di kamar yang sama. Namun Ben selalu tidur di sofa. Kalau pun akhir-akhir ini ia bersikap mesra padaku, itu semua karena ia belum mendapatkan ingatannya. Tapi Ben sama sekali tak pernah menyatakan cinta atau semacamnya.Ia hanya ingin melindungiku dan anak ini"


Maura mengangguk "Aku tahu. Aku memang awalnya cemburu denganmu. Namun sekarang aku justru ingin menjadi saudaramu."


"Terima kasih, Maura. Aku percaya, pertemuanku dengan Ben adalah bagian dari rencana Tuhan agar hidupku dan hidup anakku menjadi lebih baik."


"Terima kasih sudah mengajarkan Ben berdoa"


Mira hanya tersenyum sambil memegang perutnya "Sayang....kau sudah tenangkan? Begitu banyak orang yang mengasihi kita."


"Boleh aku menyentuhnya?" tanya Maura antusias.


"Tentu saja"


Maura menyentuh perut Mira dengan hati yang bergetar. "Sudah berapa bulan?"


"5 bulan. Aku sudah tak sabar menantinya lahir. Aku berdoa agar kau juga cepat hamil Maura"


Maura tersenyum getir. "Dulu aku pernah hamil lalu mengalami keguguran. Setelah itu aku belum hamil lagi"


"Jangan sedih. Kau pasti akan memilikinya."


"Amin....!" kata Maura sambil memegang perutnya sendiri. Ia begitu berharap untuk segera hamil.


********


Malam ini, Alicia meminta Ben dan Maura untuk tidur di mansion karena besok mereka akan sama-sama mengantar Mira ke apartemennya.


Selesai makan malam, Maura membersihkan dirinya di kamar mandi dan setelah setelah itu ia langsung membaringkan tubuhnya. Ia merasa sangat lelah hari ini.


Ben sementara berbicara dengan daddy nya di ruang kerja. Yang Maura tahu mereka hendak mengatur surat-surat Mira. Makanya Maura tak mau ikut campur. Ia percaya kalau Ben dan papanya akan memberikan yang terbaik bagi Mira.


Maura tak tahu kapan Ben kembali ke kamar karena ia sudah tertidur. Namun saat Ben keluar dari kamar mandi, ia perlahan membuka matanya.


"Hi baby..! Apakah aku membangunkanmu?" tanya Ben sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.


"Ben...kenapa kamu nggak mengenakan baju?" tanya Maura terkejut saat melihat suaminya itu melemparkan handuknya ke lantai.


"Sebenarnya aku akan pakai baju tadi namun saat melihat kau sudah terbangun, aku pikir sudah saatnya aku membayar hutangku padamu yang jumlahnya masih sangat banyak itu" kata Ben dengan seringai penuh hasrat. Tatapannya begitu menggoda membuat Maura jadi merona.


"Ben...!" Maura akan turun dari tempat tidur namun Ben sudah menariknya sehingga Maura kini berada dibawa suaminya itu.


"Aku mencintaimu istriku!" Ben mulai menunduk dan mencium dahi, turun ke hidung dan saat ia akan menyentuh bibir manis istrinya itu, Maura tiba-tiba mendorong tubuh Ben.


"Ben, shampo apa yang kau gunakan?" tanya Maura lalu menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya.


"Shampo yang biasa. Memangnya kenapa?" tanya Ben lalu menjauhkan tubuhnya dari Maura.


"Aku tak suka. Baunya menyengat. Aku ingin muntah, Ben!" Maura buru-buru turun dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi.


"Sayang, ada apa?" tanya Ben lalu menyusul istrinya ke kemar mandi

__ADS_1


MAKASI SUDAH BACA PART INI..


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEMPOL, BERI KOMENTAR DAN VOTE YA...🤩🤩🤩


__ADS_2