My Best Photo

My Best Photo
Perjuangan Maura


__ADS_3

Ben langsung memeluk Maura ketika istrinya itu berteriak histeris melihat ada darah yang mengalir dari inti tubuhnya.


"Tenang sayang...jangan panik!" kata Ben lalu segera mengangkat tubuh Maura dan membawanya keluar dari ruangan Mira menuju ke ruang UGD.


Kebetukan dokter Laura yang adalah dokter ahli kandungan ada di sana.


"Dokter tolong, istri saya mengeluarkan darah!" seru Ben lalu membaringkan tubuh Maura di salah satu tempat tidur yang kosong.


Dokter Laura langsung bergerak cepat. Ia memanggil dua orang perawat untuk mendorong tempat tidur Maura ke sudut ruangan yang ada alat USG nya.


"Sayang....jangan tinggalkan aku...!" kata Maura sambil menangis saat Ben akan melepaskan tangannya.


"Sayang, biarkan dokter memeriksamu dulu. Aku mau telepon mommy memintanya untuk datang ke sini!"kata Ben lalu memberikan kecupan di dahi Maura. Setelah itu ia keluar dari ruangan UGD itu.


"Hallo...mommy, datang ke rumah sakit sekarang ya. Maura mengalami pendarahan. Aku takut dia keguguran lagi" kata Ben sedikit gugup.


"Ya ampun, Ben. Kenapa memangnya? Apa yang terjadi?" terdengar suara panik Alicia.


"Aku juga tak tahu, mom. Pokoknya mommy cepat datang ya." Ben langsung memutuskan sambungan telepon dan masuk kembali ke dalam ruangan UGD.


Nampak dokter Laura masih memeriksa Maura..


"Apakah anda pernah terjatuh nyonya? " tanya dokter Laura.


"Tidak dokter. Hanya saja tadi sebelum datang ke rumah sakit, saat kami mampir ke sebuah toko dan aku ke toilet, aku hampir saja terpeleset. Untung saja petugas cleaning servicenya menangkap aku sebelum jatuh" kata Maura sambil menatap Ben dan meminta suaminya itu mendekat dengan gerakan tangannya.


"Apakah itu berpengaruh dokter?" tanya Ben saat melihat dokter Laura masih diam.


Dokter Laura mengangguk "Bisa saja itu salah satu penyebabnya. Sepertinya kandungan nyonya Maura agak lemah. Jadi saran saya agar nyonya mengurangi aktivitas yang menguras tenaga. Saya sudah menyuntikan obat supaya pendarahannya akan berhenti karena itu nyonya harus dirawat di rumah sakit ini dulu supaya bisa kami pantau" kata dokter Laura.


"Bagaimana dengan aktivitas bercinta, dok?" tanya Ben spontan dan membuat Maura secara cepat mencubit tangan Ben yang sedang memegang tangannya. Wajah perempuan itu sedikit merona.


Dokter Laura tersenyum."Bercinta disaat hamil bisa saja. Namun karena kondisi kandungan nyonya Maura yang agak lemah, jadi saran saya jangan terlalu sering melakukannya dan carilah posisi yang aman"


"Sebaiknya waktu bercinta yang aman itu bagaimana dok?" tanya Maura sambil menahan senyum malu-malunya.


"Mungkin seminggu sekali" kata dokter Laura.


"Tuh sayang...dengar apa kata dokter. Seminggu sekali " kata Maura dalam bahasa Indonesia.


Dokter Laura hanya terkeke karena ia tak mengerti apa yang Maura katakan namun melihat gerakan tangan Ben yang mengacak rambutnya sedikit frustasi, sudah bisa diartikan apa yang Maura ucapkan agak sulit Ben terima.


"Nyonya akan dipindahkan ke ruangan lain. Istirahat yang banyak, jangan stres. Karena jika mamanya tenang, bayinya juga tenang. Nanti malam saya akan periksa lagi. Saya permisi mau menengok pasien yang lain" pamit dokter Laura lalu memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruangan perawatan bagi Maura.


"Ben....!" panggil Maura saat mereka sudah berada di ruang perawatan VVIP.


"Ya..sayang...!" ujar Ben sambil mendekat.


"Bukankah sore ini kamu ada janji untuk pemotretan?"


"Aku sudah membatalkannya"


"Kenapa?" tanya Maura heran.


"Menjagamu dan anak kita jauh lebih penting dari apapun juga." kata Ben sambil menggengam tangan Maura.


"Makasi ya.." ujar Maura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau tak perlu berterima kasih sayang. Ini adalah kewajibanku sebagai suami. Yang harus kau lakukan sekarang adalah berdoa, jadilah tenang dan percaya bahwa si cantik ini akan baik-baik saja" kata Ben lalu membelai perut Maura dan memberikan beberapa ciuman di sana.


"Mengapa cantik? Memangnya sudah tahu kalau dia perempuan? Bisa saja dia laki-laki kan?"

__ADS_1


Ben tersenyum "Hanya perasaan aku saja. Soalnya anak ini sangat manja seperti mamanya"


Maura tertawa kecil. "Ben, cium aku...!" sambil memonyongkan bibirnya ke depan.


"Ok. Tapi kata dokter seminggu sekali"


Dahi Maura berkerut. Nampak ia kesal. "Memangnya minta cium saja tak boleh?"


"Boleh sayang. Hanya saja aku kalau sudah mencium kamu rasanya tak mau berhenti...!"


"Cih...dasar kamu saja yang mesum. Berciumankan tak selamanya harus diakhiri dengan aktivitas bercinta" gerutu Maura.


"Baiklah istriku...!" Ben mendekat. Tangannya membelai pipi Maura dengan lembut lalu ia menunduk dan memangut bibir Maura dengan sangat lembut.


"Astaga....nih anak berdua....!" teriak Alicia membuat Ben dan Maura harus mengahiri aktivitas ciuman mereka dengan tak rela.


"Mommy!" protes Ben pura-pura cemberut.


Alicia yang datang bersama Iriana tersenyum menggoda sambil melangkah masuk.


"Bagaimana keadaanmu, nak?" tanya Iriana.


"Harus menjalani perawatan di sini dulu. Mudah-mudahan pendarahannya akan segera berhenti." kata Maura sedikit muram.


"Mommy yakin kalau dia anak yang kuat"kata Alicia sambil membelai perut Maura.


"Dia memang anak yang kuat. Seperti Maura" Iriana menyambung ucapan Alicia sambil membelai kepala Maura.


Mendapat perhatian dan kasih sayang dari 2 orang ibu membuat Maura sangat terharu. Tanpa sadar Maura menangis.


"Ada apa, sayang? Mengapa menangis?" tanya Iriana heran.


"Sayang....kau tahu kalau kami berdua memang menyayangimu!" ujar Alicia diikuti anggukan kepala Iriana. Kedua perempuan itu pun haru mendengar kata-kata Maura.


Ben tersenyum melihat 3 perempuan itu yang hanyut dalam keharuan. Ia semakin tak sabar menanti kelahiran anaknya.


************


4 hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Maura dinyatakan sehat. Mereka kembali pulang ke mansion.


Maura pun kembali menjalani masa kehamilannya dengan penjagaan yang sangat ketat baik dari Ben dan mama mertuanya. Mereka selalu mengingatkan Maura untuk tidak melakukan pekerjaan apapun.


"Sayang, kita belanja keperluan bayi hari ini ya?" ujar Maura saat mereka baru saja selesai sarapan pagi ini. Kandungan Maura yang sudah memasuki 7 bulan membuat perutnya bertambah besar.


"Boleh. Tapi kamu harus pakai baju hangat ya? Udaranya sangat dingin di luar" ujar Ben sambil menunjuk hamparan salju yang nampak tebal melalui kaca jendela kamar.


"Ok." Maura jadi sangat senang. Dia sudah lama menantikan hari ini. Membeli keperluan bayinya. Alicia sebenarnya sudah menawarkan diri agar dia saja yang menyiapkannya namun Maura ingin membelinya sendiri karena ini adalah anak pertamanya.


Mereka pun pergi ke salah mall untuk membeli perlengkapan bayi.


"Ben...mengapa bajunya di ambil warna merah muda semua? Bagaimana kalau anaknya laki-laki?" protes Maura .


"Sayang, aku merasa kalau anak ini perempuan" kata Ben sambil membelai perut Maura. Para pelayan yang ada di toko itu jadi malu melihat tingkah laku pasangan itu.


"Begini saja. Ambil baju yang warnanya bisa dipakai anak laki dan anak perempuan. Misalnya warna putih. Bagaimana?"


Ben mengangguk setuju."Tapi ambil warna merah muda beberapa potong ya.." kata Ben memelas.


Maura akhirnya mengalah. Ia tak ingin wajah suaminya itu menjadi cemberut.


Selesai memilih baju, mereka pun memilih perlengkapan lain seperti kaos kaki, topi dan sepatu bayi.

__ADS_1


"Oh..ini cantik sekali!" kata Ben sambil memegang sepatu itu berpita merah muda lagi.


"Sayang...itukan sepatu anak cewek." protes Maura.


"Aku suka bentuknya. Jadi biarkan aku membelinya. Nanti kalau anak kita ternyata laki-laki maka sepatu ini akan kusimpan untuk adiknya nanti"


"Maksudnya?"


"Sayang, memangnya kamu hanya ingin memiliki anak satu saja? Kalau aku maunya 3 atau 4"


Maura menyentil dahi suaminya membuat Ben meringis. "Aow...sakit sayang. " keluh Ben.


"Makanya otakmu digunakan secara benar. Satu saja belum keluar sudah memikirkan yang kedua, ketiga alalagi keempat. Memangnya kamu pikir hamil itu gampang." Maura mengkerucutkan bibirnya.


"Maafkan aku, ya" Ben langsung memeluk istrinya yang membuat Maura tersentak kaget.


"Ben, mereka melihat kita" Maura jadi malu.


"Biarkan saja." kata Ben lalu mencium bibir istrinya secara lembut. Ia sangat bahagia saat ini.


"Anaknya tiga atai empat ya?" bisik Ben setelah mengahiri ciumannya.


"Ben....!" Maura berkacapinggang membuat Ben menjauh sebelum tangan Maura mendarat ke tubuhnya .


**********


Ben membuka matanya saat dirasakannya kalau Maura tak ada di sampingnya. Ia melihat Maura sedang duduk di atas sofa.


"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Ben sambil beranjak duduk. Memang sudah seminggu ini Maura selalu tak nyaman dengan tidurnya. Apa lagi kakinya sudah bengkak. Namun Ben bangga karena Maura tak pernah mengeluh.


Maura yang sedang duduk menatap suaminya.


"Perutku sakit Ben." keluhnya


"Jangan-jangan kamu sudah waktunya melahirkan" wajah mengantuk Ben langsung hilang. Ia melompat turun dari tempat tidur dan segera mendekati istrinya.


"Sepertinya belum, Ben. Kata dokter Laura kan masih sekitar 3 minggu lagi. Mungkin ini hanya kontraksi palsu. Aku juga mengalaminya beberapa malam yang lalu"


Ben duduk di samping Maura. Tangannya terulur membelai perut Maura.


"Anak daddy, jangan nakal ya...kasihan mommy nya nggak bisa tidur" ujar Ben sambil terus membelai perut Maura.


"Dia bergerak, Ben" wajah Maura yang tadi sedikit memelas menahan sakit berubah menjadi senang.


"Sepertinya dia senang aku belai" ujar Ben.


"Sakitnya sedikit berkurang!" Maura menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia bahkan memejamkan matanya.


"Sayang...kamu sudah tidur?" tanya Ben.


Tak ada sahutan.


Ben mengangkat kaki Maura dan memutar tubuh istrinya itu agar dapat berbaring secara benar di atas sofa.


Sementara ia sendiri, duduk di atas lantai kamar yang dialasi dengan karpet. Tangannya masih terus membelai perut Maura. Ia tahu Maura pasti lelah karena kurang tidur. Rasa sayangnya pada perempuan itu membuat Ben menghadiakan satu kecupan singkat dibibir istrinya.


"Selamat malam....mimpi indah ya...Istri dan anakku" bisik Ben lalu meletakan kepalanya disamping tangan Maura dan memejamkan matanya.


TERIMA KASIH SUDAH BACA KISAH BEN DAN MAURA SAMPAI DI SINI


DUKUNG AKU DENGAN CARA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA...

__ADS_1


__ADS_2