
"Aku memang masih bergumul dengan perasaanku padamu namun aku yakin, aku bisa mencintaimu dengan tulus. Dengan berlalunya waktu, dengan banyaknya kebersamaan yang kita lalui bersama, aku yakin bisa mencintaimu"
"Selama itu pula, aku tak akan pernah menghianatimu. Aku takan pernah meninggalkanmu. Sekalipun kau meminta aku ribuan kali untuk pergi, aku juga punya ribuan alasan untuk tetap ada di sampingmu"
"Kita sudah menikah, ma. Dan bagiku pernikahan itu sekali seumur hidup."
Kata-kata itu berulang kali menggemah di kepala Maura. Seperti musik yang diputar berulang kali dan membuatnya perlahan membuka matanya.
Bau khas rumah sakit, dan dinding yang berwarna putih membangunkan kesadaran Maura untuk segera mengingat apa yang sudah terjadi.
"Inda holang...!"
Panggilan itu membuatnya tersenyum dan perlahan menoleh ke arah sumber suara.
Seraut wajah penuh kasih menyambutnya.
"Papa...!" panggil Maura perlahan.
Gerald melangkah mendekati ranjang tempat Maura berbaring.
"Syukurlah kau sudah sadar." Kata Gerald dengan wajah lega.
"Aku di rumah sakit?"
"Ya sayang. kau mengalami kecelakaan di dekat bandara. Beruntunglah helmmu terpasang dengan baik dan melindungi kepalamu. Namun tangan kananmu patah sehingga harus di operasi dan dipasang gips" kata Gerald sambil menunjuk tangan Maura.
"Aku mengejar Ben, namun Ben sudah pergi papa" tangis Maura pecah saat mengingat kejadian malam itu.
Gerald membelai kepala putrinya "Kau pasti akan bertemu lagi dengannya. Percayalah, jika kalian berdua saling mencintai pasti ada jalan untuk bersama lagi"
"Aku bodoh, papa. Sangat bodoh sehingga membuang pria sebaik Ben dalam hidupku"
"Semua ini adalah proses pembelajaran agar hidupmu menjadi semakin baik." Gerald menghapus air mata putrinya "Yang harus kau lakukan sekarang adalah membuat dirimu sehat kembali"
Maura mengangguk. Ia memang merasa sakit disekujur tubuhnya saat ini. Namun yang paling sakit adalah kehilangan Ben.
Maura akan berjuang untuk mendapatkan Ben kembali. Dia akan mencari Ben kemanapun dan meminta maaf untuk semua yang telah dilakukan olehnya.
Semangat Maura yang begitu kuat agar bisa bertemu lagi dengan Ben membuatnya cepat sembuh dan diijinkan pulang walaupun dengan tangan yang masih digips.
Alicia datang berkunjung selama 2 kali ketika Maura ada di rumah sakit. Namun saat Maura bertanya tentang Ben, Alicia sama sekali tak tahu.
"Mommy juga tak tahu, sayang. Selama ini Ben tak pernah pergi tanpa pamit. Mommy juga sama gelisahnya dengan dirimu. Ben hanya berpesan melalui pak Leo, bahwa dia akan baik-baik saja. Dan akan pulang memang waktunya sudah tepat" kata Alicia dengan wajah yang sedih.
Maura memendam rindu yang mendalam. Setiap hari ia bahkan selalu berdoa agar keberadaan Ben segera bisa diketahui.
*********
Hari ini Faith memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya. 2 minggu sudah Opa Daren meninggal dan Faith tahu kalau Ezekiel begitu terpukul atas kematian opanya itu.
Ia juga senang karena Rachel ikut dengannya. Mereka berdua sudah memasak masakan kesukaan Joe dan Ezekiel agar mereka bisa makan siang bersama di kantor sayang.
"Sayang, aku senang karena kau datang!" Ezekiel langsung memeluk istrinya.
"Aku tahu kamu sedih. Makanya aku datang membawakan makan siangmu. Rachel dan Joe juga sedang makan siang di ruangan Joe"
__ADS_1
Faith melepaskan pelukannya dan mengatur makan siang yang sudah dibawahnya. Mereka pun makan siang bersama.
Selesai makan siang, Rachel dan Joe datang ke ruangan Ezekiel.
"Kita pulang sekarang?" tanya Rachel
Faith yang sedang membereskan meja pun mengangguk.
Bunyi ketukan pintu, mengalihkan pemandangan mereka ke arah pintu. Thomas, sekretaris Ezekiel membuka pintu dan membungkuk hormat ke arah mereka.
"Tuan, di lobby ada nona Maura Belinda, katanya ingin bertemu dengan tuan Ezekiel"
Ezekiel menerutkan dahinya "Maura Belinda?"
"Sayang, itu kan Maura. Istrinya Ben" kata Faith sedikit terkejut.
"Persilahkan dia masuk!" kata Ezekiel.
Thomas mengangguk dan segera meninggalkan ruangan.
Tak lama kemudian, Maura masuk dengan tangan yang masih dipasang gips.
"Maura...!" Faith langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. "Maaf aku tak sempat menjengukmu di rumah sakit"
"Tak apa-apa Faith. Aku tahu kalian sibuk sejak Tuan Darren sakit sampai akhirnya meninggal. Aku turut berdukacita, ya " Maura tersenyum getir.
Faith mengangguk lalu mengajak Maura duduk di sofa. Yang lain pun melakukan hal yang sama.
"Ada yang dapat kami bantu?" tanya Ezekiel.
"Aku mohon, tolong bantu aku menemukan dimana Ben berada"
Faith terharu. Ia memegang tangan Maura yang tidak digips. Memberikan remasan lembut di sana.
"Aku....aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya." kata Maura tanpa bisa menahan air matanya.
"Kami juga tak tahu Ben dimana. Ponselnya tidak aktif. Dan dia sama sekali tak pernah mengabari kami" kata Ezekiel.
"Ben pernah mengatakan padaku, kalau Ezekiel dan Joe mempunyai kehebatan untuk melacak keberadaan orang. Kalian punya orang-orang hebat yang sangat menguasai berbagai alat canggih" kata Maura sambil menghapus air matanya.
"Tante Alicia sudah pernah meminta kami untuk mencari Ben. Namun dia sangat sulit dilacak. Ia bahkan tak pernah menggunakan kartu kreditnya. Yang aku tahu, dihari sebelum menghilangnya Ben, ia mengambil uang cas dengan jumlah yang cukup besar di rekeningnya." kata Joe dengan wajah yang menyesal.
"Aku mohon, cobalah sekali lagi untuk melacak keberadaannya. Siapa tahu dia sudah menggunakan kartu kreditnya." kata Maura dengan wajah yang begitu berharap.
"Kami pasti akan berusaha Maura. Kau tenanglah. Ben pasti akan ditemukan. Sekarang yang harus kau lakukan adalah menyembuhkan tanganmu dulu." kata Faith.
Maura mengangguk "Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu" pamit Maura. Ia memberikan salam kepada semua yang ada di ruangan itu sebelum meninggalkan ruangan Ezekiel.
Rachel menatap Joe"Sayang, apakah kau tidak dapat melacak keberadaan Ben? Kau kan bisa meretas berbagai sistem keamanan sehingga bisa tahu. kalau Ben tidak menggunakan kartu kreditnya, dia kan pasti menggunakan pasportnya untuk bepergian, wajahnya akan terlihat di mana-mana. Kau kan sangat ahli meretas CCTV"
"Tentu aku dapat melakukannya walaupun sebenarnya itu merupakan tugas yang berat mengingat betapa banyaknya pekerjaan di kantor ini. Tapi sayang, jika Ben pergi dengan cara seperti ini, itu berarti dia tak ingin diganggu. Kita harus menghargai keputusannya itu" ujar Joe berusaha memberi pengertian kepada istrinya itu.
"Ya. Kita harus menghargai keputusan Ben. Ini kan jadi pelajaran bagi Maura. Jangan asal percaya pada orang lain sementara suaminya sendiri tak ia percayai" sambung Ezekiel sambil bersandar di sofa.
Faith menatap suaminya dengan sedikit melotot "Eze, mengapa kau dan Joe sepertinya tidak mau membantu? Ben adalah sahabat kita, berarti Maura juga adalah sahabat kita. Mereka berdua dua orang yang saling mencintai namun sangat egois. Makanya kita harus membantu mereka. Jangan berikan tugas apapun pada Joe mulai hari ini sampai ia berhasil menemukan dimana Ben berada."
__ADS_1
"Sayang...!" ada nada protes dari suara Ezekiel.
"Aku akan tidur di kamar Caleb dan Chloe selama kalian belum menemukan dimana Ben berada" kata Faith dengan nada tegas.
"Ya. Aku pun akan tidur di kamar Joel sebelum Ben ditemukan" Sambung Rachel. Ia menatap Faith "Ayo kakak ipar!"
Kedua perempuan cantik itu segera keluar dari ruangan Ezekiel.
"Joe, cepat cari keberadaan Ben. aku nggak mau tidur sendiri selama berminggu-minggu" perintah Ezekiel.
"Baik Bos! Memangnya cuma kamu saja yang nggak mau tidur sendiri!" kata Joe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
**********
Angin malam menerbangkan rambut Maura. Ia berdiri di pagar pembatas sungai Thames. Gips ditangannya sudah dilepas sehingga kedua tangannya kini dengan bebas memegang besi pagar itu.
Sudah seminggu sejak ia datang ke kantor Ezekiel. Namun belum ada kabar tentang keberadaan Ben. Dan itu berarti sudah 3 bulan Maura memendam rasa rindu yang sangat mendalam untuk Ben. Ia bahkan kini tinggal di apartemen Ben. Karena dengan tinggal di sana, ia masih bisa menyentuh barang-barang Ben, memeluknya dengan erat seperti halnya ia memeluk tubuh Ben yang selalu membawa kehangatan.
Entah sudah berapa banyak email yang Maura kirimkan untuk Ben. Namun tak ada satupun yang Ben baca.
Dan sungai Thames ini menjadi tempat yang selalu rindu didatangi olehnya karena disinilah tempat mereka pertama bertemu.
Hp Maura berdering. Ia senang karena itu telepon dari Faith.
"Maura, Kami sudah menemukan di mana Ben berada"
Jantung Maura langsung berdetak dengan cepat. Matanya bahkan sudah sangat berkaca-kaca.
"Benarkah? Dia di mana?" tanya Maura tak sabar.
"Dia ada di New York"
"Aku akan pergi besok pagi-pagi. Terima kasih Faith"
"Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Bye..."
Maura langsung berlari ke apartemen Ben dengan semangat yang membara. Rasa rindunya, membuat ia tak sabar untuk segera menginjakan kakinya di New York besok hari. Diambilnya foto Ben yang ada di atas meja. Ia menciumnya dengan deraian air mata.
Ben....akan kulakukan apa saja asalkan kau memaafkanku....
Sementara itu di kediaman The Thomson...
Joe, Rachel dan Ezekiel menatap Faith yang baru saja menelepon Maura.
"Mengapa kau tak katakan kebenarannya?" tanya Rachel.
Faith duduk dengan wajah sedih "Suaranya begitu gembira. Aku tak tega"
"Dia akan patah hati jika melihat Ben tak sendiri di sana" kata Ezekiel.
Faith terdiam. Hatinya bertanya. Secepat itukah Ben melupakan Maura?
MAKASI SUDAH BACA PART INI
DILARANG BAPER YA...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARNYA DAN VOTE