My Best Photo

My Best Photo
Pilihan


__ADS_3

"Good morning..." sebuah sapaan diikuti dengan ciuman di pipi membuat Maura membuka matanya. Menemukan wajah adiknya yang duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Good morning. Kamu tidak sekolah?"


"Ini hari sabtu, kak. Mengapa kakak belum bangun? Ini sudah hampir jam 10 pagi"


Maura bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Semalam ia memang susah tidur. Apa yang dilihatnya di kamar Alan sangat menyakitkan hatinya.


"Kak, ayo kita sarapan!" ajak Gery membuyarkan lamunan Maura.


"kakak cuci muka dulu ya..."


Setelah selesai, Maura mengikuti adiknya ke meja makan. Ia memang sangat menyayangi Gery.


Kedua kakak beradik itu asyik dengan makanan mereka tanpa memperdulikan Iriana dan Gerald yang masih duduk di meja makan.


"Selesai sarapan, ke ruangan papa. Ada sesuatu yang ingin papa bicarakan denganmu" kata Gerald lalu segera melangkah menuju ke ruang kerjanya.


Maura mendengus kesal. Namun ia pergi juga ke ruang kerja papanya.


"Ada apa?" tanya Maura sambil duduk di depan papanya. wajahnya kelihatan cuek.


"Bisakah kau bersikap lebih sopan padaku? Aku ini papamu"


Maura menarik napas panjang. ia berusaha sabar.


"Ada apa kau memanggilku?" Maura berkata lagi dengan suara yang lebih halus.


"Aku dan Iriana akan menjodohkanmu dengan anak salah satu bangsawan di London ini."


"Apa? Belum puas mengatur hidupku dengan membawa aku ke London, sekarang kalian ingin mengatur jodohku? Memangnya kalian Tuhan?" Maura langsung marah.


"Dengar Maura, mereka ini dari keluarga baik-baik. Kau akan mendapatkan laki-laki terhormat dari pada kau berhubungan dengan mafia tak berguna seperti Alan."


"Jangan menghina teman-temanku"


"Teman katamu? Teman yang menusukmu dari belakang? Teman yang tidur dengan pacarmu sendiri?"


Maura terkejut. Bagaimana papanya bisa tahu tentang kejadian semalam?


"Maura, ingatlah pesan almarhuma mamamu, kau harus menikah dengan laki-laki yang baik. Bukan tentang wajah yang tampan atau harta yang melimpah, tapi laki-laki yang bisa menghargaimu sebagai perempuan."


Maura tak bisa menahan air matanya. Kata-kata itu yang diucapkan mamanya sebelum meninggal. Dan mamanya mengatakan kalau laki-laki itu seperti papanya. Yang sangat menghargai perempuan. Waktu itu Maura memang sangat menyayangi papanya. Namun saat papanya memutuskan menikah lagi, Maura memberontak. Semua kasih yang dimilikinya untuk papanya seakan hilang ditelan dengan sejuta kekecewaannya.


"Papa tahu kau sangat membenci papa. Tapi percayalah, semua yang papa lakukan ini atas amanat mamamu"


Maura menghapus air matanya kasar. "Aku tidak mau!" katanya lalu berdiri dan melangkah hendak meninggalkan papanya.


"Kalau kau menerima perjodohan ini, maka semua warisan mamamu akan langsung beralih ke tanganmu. Kau dapat mengolahnya sendiri. Asalkan kau juga harus berhenti mengikuti club dancemu itu."


Langkah Maura terhenti " Bukankah aku akan memilikinya sampai usiaku 23 tahun?"


"Ya. Tapi sebagai walimu, aku bisa memberikannya kepadamu sebelum usiamu genap 23 tahun."


Maura menarik napas panjang. "Aku akan pikirkan" ujarnya lalu segera melangkah menuju ke kamarnya.


Bukankah mendapatkan warisan mamanya adalah sesuatu yang sangat dinantikannya selama ini? Dengan warisan itu, ia bisa menjalani hidup tanpa harus tergantung pada papanya. Dan tentu saja ia akan kembali ke Indonesia.


Tapi berhenti dari The Crown rasanya berat. Ia terlanjur menyukai persahabatan yang tercipta di sana. Namun memikirkan apa yang dilakukan oleh Alan dan kelly membuat Maura pun benci untuk kembali ke sana.


Bicara tentang warisan mamanya mengapa harus melalui pernikahan untuk bisa mendapatkannya? Bagaimana aku harus menjalani kehidupan dengan orang yang tidak kusukai?


Apakah aku terima saja lalu kemudian bercerai dengannya?


Tok....tok..tok..

__ADS_1


Ketukan dipintu membuyarkan lamunan Maura.


"Masuklah!"


Pintu terbuka dan nampaklah Naomi masuk.


"Ada sahabat nona di bawa. Namanya nona Lety"


"Baiklah. Aku akan turun" Maura merapikan rambutnya sebentar dan segera turun ke bawa.


Lety yang duduk di ruang tamu langsung tersenyum melihat temannya.


"Maaf ya kalau aku menganggumu. Teleponmu nggak aktif"


"Aku sengaja tak mengaktifkannya." kata Maura lalu duduk di dekat Lety.


"Kamu tahu, club kacau. Alan menghancurkan semua yang ada di sana. Dia nampak frustasi karena tak bisa menghubungimu. Dia bahkan datang ke sini namun penjaga pintu tak mengijinkannya masuk."


"Biarlah. Aku tak peduli lagi dengannya" Maura melipat tangannya di depan dada.


"Ra, aku tahu kalau kamu kecewa dengan Alan. Perbuatannya tak bisa dimaafkan begitu saja. Kelly pun nampak menyesal. Dia menangis terus sepanjang malam."


Maura menarik napas panjang "Aku tak akan kembali ke sana"


"Bagaimana dengan pertandingan itu?"


"Kalian dapat mencari penggantiku"


"Ra, kau adalah salah satu penari utama. Tanpamu, The Crown bukan apa-apa. Salah satu dari kami mungkin dapat menggantikanmu tapi disisa waktu yang ada, rasanya tidak mungkin" kata Lety sambil menyentuh bahu Maura.


"Maafkan aku Lety. Aku tidak bisa."


Lety menepuk bahu temannya " Tolong ingatlah kami" katanya sebelum pergi.


Maura menatap kepergian Lety dengan hati yang galau. Ia sendiri bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


"Bos, jadwal kita hari ini sudah selesai. Apakah aku boleh pulang cepat?" tanya Luna.


Ben yang sedang sibuk mengedit foto, menatap jam tangannya " Ini baru jam 2 siang"


"Aku tahu. Masalahnya hari ini dirumahku ada acara penting dan aku ingin pulang cepat untuk membantu mamaku memasak."


"Acara penting apa?"


"Aku akan bertunangan hari ini." jawab Luna malu-malu.


"Oh ya? Dengan pria yang sering mengantarmu ke sini?"


"Iya. Kami sudah 2 tahun pacaran."


"Selamat untukmu. Semoga bahagia"


"Saya doakan supaya bos juga cepat dapat jodoh dan menikah. Karena untuk julukan play boy seperti bos, rasanya sangat memalukan selama 1 tahun tak pernah berkencan." kata Luna sebelum pergi dengan senyum jahilnya.


Ben tidak marah dengan sendiran luna. Ia tahu gadis itu tak bermaksud apa-apa. Luna sudah 4 tahun menjadi asistennya.


Ben tersenyum mengingat perkataan Luna. Play boy yang sudah tidak pernah kencan. Eh, bagaimana kabar Maura ya? Apakah dia sudah baikan?


Terus bagaimana dengan perjodohannya?


Ben langsung menghubungi mamanya.


"Mom...bagaimana perjodohannya? Berhasil tidak?"


Alicia tertawa diujung sana " Entahlah Ben. sepertinya gadis itu tak tertarik padamu. Iriana belum memberi kabar. Mommy cari kan gadis lain saja ya? Di agensi mommy banyak model baru yang cantik-cantik"

__ADS_1


"Ih...mommy sudahlah. Ben bisa cari sendiri. Bye..." Ben menutup percakapannya. Tiba-tiba ia merasa malas untuk bekerja.


Sebaiknya aku pulang dan tidur saja guman Ben dan segera meninggalkan ruangannya. Ia memilih jalan kaki ke apartemennya karena memang jaraknya sangat dekat. Ia hanya memerlukan waktu tak sampai 10 menit untuk bisa sampai ke apartemennya.


Mata Ben menatap gadis cantik yang berdiri di pinggiran sungai itu.


Ah...apakah kami benar-benar berjodoh? Lihatlah siapa yang berdiri di sana?


"Masih galau ya..."


Maura mendengus kesal. Apakah pria ini selalu mengikutiku?


Ia menoleh dengan wajah kesal " Aku benar-benar akan melaporkanmu pada polisi"


"Hei girl....janganlah terus berpikir kalau aku mengikutimu. Apakah kau lupa kalau studioku ada di sekitar sini? Dan apartemenku ada juga di sana. Jadi memang aktivitasku ada di sekitar sini"


Maura memalingkan wajahnya. Rasa kesalnya masih ada.


"Kau cantik...!"


Maura masih diam.


"Ingin rasanya aku meminta ibuku untuk melamarmu"


"Buanglah angan-anganmu itu karena aku sudah dilamar oleh orang lain."


"Oh....begitukah? Aku patah hati mendengarnya"


"Mana ada play boy yang patah hati?" Maura tersenyum mengejek tanpa menoleh ke arah Ben.


"Play boy juga manusia, punya hati dan perasaan."


Maura terkekeh " Kau memang sangat pandai berkata-kata. Sebaiknya aku pergi"


"Jangan" Ben menghadang langkahnya "Biar aku saja yang pergi. Kali ini nikmatilah kesenanganmu di sini. Namun sebelum pergi, bolehkah aku menciummu?"


"Kamu..!" mata Maura melotot.


Ben tertawa dan langsung berbalik meninggalkan gadis itu. Ia merasa senang tiap kali membuat Maura kesal.


*********


Gerald yang ada di ruang kerjanya bersama Iriana terkejut melihat Maura yang masuk.


"Ada apa?" tanya Gerald.


"Aku menerima perjodohan ini"


Mereka terkejut.


"Jangan lupa dengan janjimu untuk memberikan warisan ibuku" lalu Maura membalikan badannya dan pergi.


"Apakah dia mimpi?" tanya Iriana.


"Tidak sayang. Dia mengatakan yang sebenarnya"


"Baiklah aku akan menelepon Alicia."


*********


Ben tersenyum mendengar perkataan mamanya dari ujung telepon.


Welcome to my home Maura Belinda..gumannya senang.


#Makasih sudah baca part ini

__ADS_1


#jangan lupa berikan tanda like dan tinggalkan kementarnya ya....biar aku jadi lebih semangat


__ADS_2