My Best Photo

My Best Photo
Sebuah Cahaya


__ADS_3

"Ben?" Maura terkejut melihat Ben berdiri di depan pintu masuk.


Saat Maura mendekat, ia terkejut melihat Ben basah kuyup.


"Ben, kamu bisa sakit! Ayo ganti pakaian!" Maura menarik tangan Ben untuk masuk, sambil mendorong pintu agar tertutup.


"Sebentar aku ambilkan handuk dan baju ganti untukmu" Maura melangkah menaiki tangga. Namun baru beberapa langkah ia berbalik lagi.


"Bagaimana kau bisa datang ke sini? Apakah kau sudah ingat kalau ini adalah apartemenmu?" tanya Maura sambil menatap Ben dengan penuh harap.


Ben menatap Maura. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Hatinya yang menuntun dia untuk datang ke sini.


Melihat Ben hanya diam saja, Maura pun segera berbalik "Aku ambilkan handuk dan baju ganti untukmu" katanya lalu kembali menaiki tangga.


Dengan perasaan yang masih dipenuhi tanda tanya, Maura membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam walk in closet mencari baju ganti untuk Ben. Semua baju Ben masih tersusun dengan rapih di sana.


Bagaimana ia bisa masuk ke apartemen ini? Apakah ia sudah mengingat kodenya? Apakah itu berarti Ben juga sudah mengingat aku?


Saat ia keluar, ia hampir berteriak kaget karena melihat Ben sudah ada di dalam kamar.


"Ben....ini baju gantimu!" kata Maura sambil mengulurkan baju ke arah Ben.


Langkah Ben mendekat ke arah Maura. Ia tak mengambil baju itu tapi terus mendekati Maura sehingga jarak diantara mereka semakin dekat, Maura bahkan dapat merasakan napas Ben yang hangat di kulit wajahnya.


"Ben.....!" Maura tertunduk. Ia tak sanggup saling beradu pandang dengan pria itu. Mata Maura langsung melihat kaki Ben yang sudah tak mengenakan sepatu lagi.


Tangan Ben terulur. Ia menyentuh wajah Maura.


Dada Maura seakan mau meledak menerima sentuhan itu. Ia memberanikan diri menatap Ben. Mencoba menemukan sinar cinta dalam hangatnya tatapan mata itu.


Tapi Maura akhirnya kecewa. Tatapan mata itu masih terlihat sama. Menatapnya dengan kosong.


"Ben, kamu harus ganti baju nanti kamu sakit" kata Maura lalu mulai membuka kancing kemeja Ben. Baju bersih yang ada di tangannya diletakannya dibatas tempat tidur.


Tangan Ben secara tiba-tiba menahan tangan Maura dan meletakannya di dada Ben yang sudah terbuka. Tangan Ben yang satu masih ada dipipi Maura.


"Tolong temukan cara agar aku bisa kembali padamu" kata Ben pelan.


"Ben...!" Maura langsung memeluk tubuh Ben dengan erat tanpa bisa ditahannya. Tangisnya langsung terdengar saat ia menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ben.


"Ben...aku sangat mencintaimu." bisik Maura sambil mengeratkan dekapannya. Tangannya dilingkarkan dipinggang Ben. Tak peduli dengan baju Ben yang basah.


Untuk sesaat Maura membiarkan dirinya larut saat ia memeluk Ben. Tak lama kemudian tangan Ben memegang bahu Maura, membuat Maura melepaskan pelukannya perlahan. Lalu tatapan mereka kembali bertemu.


Ben perlahan menunduk lalu menyentuh bibir Maura dengan bibirnya. Membuat Maura untuk sesaat merasa terkejut namun dengan cepat menyambut ciuman itu dengan hangat.


Saat bibir mereka saling memungut dan memberi kehangatan, tangan Maura perlahan meneruskan membuka kemeja Ben. Lalu setelah itu tangannya terulur dan membuka ikat pinggang yang melingkar di celana Ben.


Saat Maura berusaha membuka kain yang menutup tubuh Ben, lelaki itu pun melakukan hal yang sama. Tangannya menarik kaos yang dipakai Maura.


Hujan yang turun dengan sangat deras di luar tak mampu memadamkan hangatnya gairah yang sementara dirasakan oleh kedua anak manusia itu. Keduanya seakan tenggelam dalam kerinduan yang begitu dalam.

__ADS_1


Tanpa perkataan apapun tubuh mereka menyatuh dalam sentuhan dan belaian.


Telinga mereka seakan menjadi tuli ketika suara hp Ben terus berbunyi. Karena mereka hanya fokus untuk saling memuaskan.


********


Tangan Ben terulur menyentuh punggung Maura yang polos. Perempuan itu sudah berbaring membelakanginya. Napasnya yang teratur menandakan bahwa perempuan berambut hitam itu sudah terlelap dalam tidurnya.


Ben merasakan selama ini hidupnya gelap. Ia hanya bisa merasa tenang saat bersama Mira. Dan saat Maura datang dan mengklaim dirinya sebagai orang nomor satu di masa lalunya Ben, ada rasa frustasi yang datang karena Ben sama sekali tak mengingatnya.


Dan ketika suara-suara itu selalu datang menghantuinya beberapa hari ini, Ben sepertinya menemukan sebuah cahaya. Makanya ia tadi datang ke studio. Menatap kembali foto-foto itu. Mencoba mencerna setiap kata yang tertulis di setiap foto.


Secara tiba-tiba hatinya menuntunnya untuk datang ke apartemen ini. Mencoba mencari jawaban atas semua yang dirasakannya. Dan ketika ia mendekati Maura, ia merasakan tubuh Maura seperti magnet yang menariknya untuk mendekat, lalu ketika ciuman itu terjadi, Ben tahu ia menginginkan Maura. Pelukan gadis itu bukan hanya menghangatkan tubuhnya yang telah basah karena terkena air hujan melainkan hatinya juga merasakan hangatnya.


Ben masih terus membelai punggung Maura lalu perlahan ia menunduk dan memberikan kecupan di sana sampai beberapa kali.


Tubuh Maura nampak menggeliat, ia perlahan berbalik dan dengan mata yang masih terpejam, Maura menarik kepala Ben sehingga bibir mereka kembali bersentuhan.


***********


Maura terbangun karena mendengar suara bunyi ponsel. Ia turun dari tempat tidur lalu ia memungut bajunya dari atas lantai dan mengenakannya kembali. Ia menemukan hp Ben yang terletak di atas lantai. Mungkin terjatuh dari celana Ben.


Saat melihat kalau nyonya Alicia yang menelepon, Maura pun langsung mengangkatnya.


"Hallo, Mom"


"Maura?" terdengar suara Alicia yang terkejut karena bukan Ben yang menerima panggilan itu.


"Yes, mom."


"Ya, mom. Ben sedang tidur"


"Tidur? Apakah Ben sudah menemukan ingatannya kembali?"


"Tidak, mom. Namun dia ingat apartemen ini. Berarti sudah ada kemajuan kan?"


"Ya. Mommy senang mendengarnya. Biarlah kalau Ben sudah tidur. Mommy senang karena Ben ada di sana. Bye...


Maura meletakan Hp Ben di atas meja, lalu ia memungut pakaian basah Ben dan memasukan ke keranjang baju kotor yang ada di dalam kamar mandi.


Maura menatap Ben yang tertidur. Ia nampak nyenyak. Tangannya membelai wajah tampan itu dengan hati yang perih.


Mengapa takdir mempermainkan kita seperti ini sayang? Di saat aku sudah sangat yakin untuk berbahagia denganmu, kau justru dipaksa melupakan aku karena amnesia ini. Tapi aku takan menyerah, Ben. Kalau memang kau mulai menemukan cahaya untuk bisa kembali, maka aku akan menjadi penuntunmu. Aku tak peduli setelah itu kau akan bersamaku atau bersama Mira, aku takan marah atau cemburu buta lagi karena Mira sudah menolongmu.


Tangan Maura terus membelai wajah Ben. Lalu ia menunduk, mencium pipi Ben dengan lembut.


Malam ini, dia hanya ingin menjadikan Ben miliknya sendiri.


********


Mira berdiri dekat jendela. Menatap air hujan yang berjatuhan membasahi malam di kota London.

__ADS_1


Malam ini Ben tak pulang. Alicia sudah mengatakan padanya kalau Ben sedang bersama Maura.


Tempatmu memang di sana, Ben. Aku yakin hanya bersama dengan Maura, kau akan menemukan jalan untuk kembali pada masa lalumu.


Tangan Mira membelai perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Mama bahagia memilikimu, sayang. Mama janji, apapun nanti keputusan Ben untuk kita, mama akan berjuang untukmu." Mira berkata sambil menitikan air mata.


Kehidupan telah mengajarkannya banyak hal. Cinta tak perlu egois. Dia memang sangat senang dengan semua perhatian dan kasih sayang yang diberikan Ben padanya. Namun ia tahu bahwa suatu saat itu akan hilang dengan kembalinya ingatan Ben.


"Aku mohon, Tuhan, berikan kebahagiaan untuk Ben dan Maura...!" doa Mira sebelum beranjak tidur malam ini.


*************


Maura bangun saat masih jam 6 pagi. Ia akan menyiapkan sarapan untuk Ben. Hatinya berbunga-bunga. Ia bahkan bersenandung selama memasak.


Selama hampir 2 jam lebih ia menyiapkan berbagai jenis sarapan. Menatanya di meja. Saat ia akan ke kamar untuk membangunkan Ben, dilihatnya pria itu sedang menuruni tangga. Ia kelihatan segar karena baru selesai mandi. Ia juga mengenakan baju yang Maura siapkan semalam. Celana Jeans dan kaos oblonh warna hitam.


"Selamat pagi, Ben. Ayo kita sarapan!" ajak Maura.


Ben tak bicara. Tapi ia menurut dan menuju ke meja makan. Saat keduanya sudah duduk berhadapan, Maura merasa sedikit canggung namun ia berusaha menguatkan hatinya.


Maura pun mengambil nasi goreng dan hendak menaruhnya ke dalam piring Ben namun pria itu menolaknya. Maura agak kecewa karena ia tahu bahwa Ben sangat menyukai nasi goreng buatannya.


"Aku makan roti saja!" katanya lalu segera mengambil roti, memberikan mentega dan keju lalu menaruhnya ke atas piringnya. Maura terkejut saat melihat Ben melipat tangannya di depan makanannya, menundukan kepalanya dan menutup matanya.


Ya Tuhan, Ben berdoa? Apakah aku tidak salah melihatnya?


Ben kemudian membuka matanya lalu mulai memasukan potongan roti itu ke dalam mulutnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Saat suasana sepi itu tercipta, Maura pun menatap Ben diam-diam.


Mira telah mengajarkan hal baik padanya. Ben pasti melakukan doa bersama setiap hari bersama Mira. Hubungan mereka pasti sangat manis. Ya Tuhan, mengapa hatiku sangat sakit?


"Aku permisi dulu. Makasi atas sarapannya" Ben menghabiskan sususnya lalu berdiri.


"Karena sepatu basah, aku memakai sandal ini" kata Ben menunjukan sandal yang dikenakannya.


"Tak apa, Ben. Itu memang milikmu" kata Maura sambil tersenyum.


Ben mengangguk. Ia menatap Maura dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Maafkan aku untuk yang semalam. Aku seharusnya tak melakukan itu padamu karena aku sudah bersama Mira. Sekarang aku akan pulang. Mira pasti sudah menungguhku dengan cemas." Ben langsung melangkah meninggalkan Maura yang diam membatu mendengar semua perkataan Ben.


Ya Tuhan, aku memang sudah dilupakan olehnya.


Tangis Maura langsung pecah. Ia memegang dadanya, menekan rasa sakit yang menusuk hatinya.


Ben...kembalilah padaku....


Makasih atas kesediaannya membaca

__ADS_1


mohon maaf jika ada salah kata


jangan lupa di like, koment dan vote ya...


__ADS_2