My Best Photo

My Best Photo
Penjelasan


__ADS_3

Pagi sudah sejak tadi datang. Matahari bahkan sudah lama menyinari bumi.


Di koridor hotel The Thomson nampak si cantik Alicia Aslon berjalan dengan hak tingginya. Di belakangnya ada seorang pelayan yang sedang menarik sebuah koper besar.


Alicia heran saat pegawai hotel meneleponnya dan mengatakan kalau koper milik putranya masih ada di lobby hotel.


Begitu sampai di depan kamar 1002 itu, Alicia meminta sang pelayan untuk pergi dan dia sendiri yang membunyikan bel pintu.


Ia tahu bahwa kamar ini kedap suara. Sekuat apapun ia berteriak takan ada gunanya.


Alicia menatap jam tangannya. Sudah hampir jam 11 jadi dia pikir si pengantin baru ini pasti sudah bangun.


ting......tong...


Sampai 3 kali ia membunyikan bel baru akhirnya pintu terbuka.


"Mom?" mata Ben yang masih mengantuk langsung terbuka lebar.


Alicia mendorong pintu yang hanya di buka sedikit oleh Ben.


"Mana menantuku.....oh....My God....!" teriak Alicia saat melihat keadaan kamar yang nampak berantakan. Bantal sofa yang berhamburan di lantai dan bula angsa yang ada di mana-mana.


Teriakan Alicia membuat Maura yang masih tidurpun langsung bangun. Melihat ibu mertuanya ia langsung menarik selimut sampai ke lehernya.


"Ben......gaya apa yang kalian pakai untuk melewati malam pengantin sehingga bisa kacau seperti ini?" tanya Alicia sambil menggoyangkan kepalanya. Namun ia akhirnya tersenyum.


"Berarti mama tak lama lagi akan mendapatkan cucu" katanya senang sambil mengangkat bantal-bantal yang berjatuhan itu.


"Mengapa mommy ke sini?" tanya Ben sambil duduk di atas sofa, melipat tangannya di depan dadanya yang telanjang.


"Membawa baju kalian. Oh ya kalian mau bulan madu ke mana?" tanya Alicia.


"Aku dan Ben sepakat untuk menunda bulan madu kami, mom. Sebab aku akan mengikuti lomba dance dan Ben masih banyak pekerjaan." kata Maura cepat sebelum Ben menjawab.


"Iyakan sayang?" Maura menatap Ben mesra.


Ben berdiri dan melangkah ke arah ranjang. Ia duduk di sebelah istrinya sambil melingkarkan tangannya di bahu Maura.


"Sayang, pekerjaannya kan bisa ditunda."


"Tapi kan kamu sudah janji semalam" Maura pura-pura merajuk pada hal ia sudah sedikit menahan emosi sebab tangan Ben dengan tanpa permisi sudah ada dipinggangnya dan menggerakan tangannya dengan bebas ke mana-mana karena ada selimut yang menutupinya.


"Kalian putuskan sendiri saja. Mommy tinggalkan.kalian ya...selamat bersenang-senang. Carilah waktu untuk makan malam di rumah" Alicia meraih tas nya dan segera meninggalkan kamar itu. ia tak ingin menganggu pasangan muda itu.


"Kamu.....!" Maura akan menyerang Ben namun tangan Ben yang lebih dulu menguasainya, mendorong gadis itu dan mengunci pergerakannya sehingga Maura terbaring dibawa dengan tangan yang diangkat Ben ke atas kepalanya.


"Kamu mau apa?" tanya Maura saat Ben mendekatkan wajahnya.


Ben tak bicara, ia mencium dahi, telinga dan leher Maura membuat gadis itu merasakan aliran listrik yang sangat besar mengaliri seluruh tubuhnya.


"Ben...apa yang...." kalimat Maura terhenti saat ciuman Ben ada disudut bibirnya. Namun Ben tak menyatukan ciuman mereka.Ia hanya menggesekan hidungnya dengan hidung Maura.


"Mandilah!" lalu ia melepaskan tangan Maura dan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Maura mengutuki dirinya yang diam saja saat dicumbu oleh Ben. Gadis itu menarik napas panjang lalu segera bangun, melilit badannya dengan selimut karena ia merasa gaun tidurnya sangat terbuka. Ia membuka koper, mengambil bajunya dan segera ke kamar mandi.


Selesai mandi ia mengenakan baju yang diambilnya tadi. Ternyata ini baju baru. Ada merk Aslon di sana. Maura bersenyum saat ia merasa bangga mengenakan baju yang sering digunakan oleh selebritis dunia.


Saat ia keluar kamar, nampak kamar yang berantakan sudah rapih. Maura tak mau tahu apakah pelayan hotel atau Ben sendiri yang merapikannya. Ia memang mandi cukup lama.


Ben pun gantian masuk ke kamar mandi.


Maura menyisir rambut basahnya. Ia jadi bingung dengan apa yang akan dilakukannya.


Bel pintu berbunyi.


Maura membukanya.


Seorang pelayan mendorong sebuah kereta makanan. Ia mengaturnya di meja bulat yang ada di balkon kamar. Setelah selesai ia pun segera keluar.


Perut Maura langsung bergerak melihat makanan itu. Ya, ia sangat lapar karena sejak semalam ia hanya makan sepotong kue.


Tanpa ditunda lagi, gadis itu langsung menikmati makannya dengan sangat nikmat.


"Masih ada sisa untukku?" tanya Ben yang sudah selesai mandi. Ia kelihatan segar dengan kaos oblong putihnya dan celana jeans selututnya.


"Aku tidak rakus" jawab Maura sambil terus menikmati.


Ben duduk didepan Maura dan mulai menikmati makanannya.


"Aku tidak menjebakmu, Maura."Ben mulai bicara saat dilihatnya Maura sudah selesai makan.


Maura meneguk jus nya sampai habis lalu memalingkan wajahnya. Ia enggan melihat Ben.


"Bukankah aku sudah memintamu untuk mencari tahu siapa calon suamimu? Kau bilang hanya orang gila yang mau dijodohkan di zaman semodern ini. Ya, akulah orang gila itu. Aku jadi gila sejak pertama melihatmu."


Wajah Maura yang semula cemberut, perlahan mulai tenang.


Ben tersenyum. Kali ini kata-kata manisnya berhasil.


"Maura, maukah kita mencoba untuk saling kenal?"


Maura menatap Ben "Ben, aku tak mungkin bisa bersamamu. Karena kamu bukan tipe pria yang ku sukai. Aku nggak suka pria play boy yang sok kaya dan sok tampan sepertimu. Aku ingin pria sederhana yang bisa membuatku nyaman dengan cintanya"


"Aku bisa menjadi pria itu."


"Kau tak mungkin bisa, Ben. Karena kau terlahir menjadi pria luar biasa. " Maura berdiri.


"Aku ingin berhenti kemarin sebelum sumpah pernikahan. Namun aku tak mungkin membuat keluarga kita menjadi malu. So, kita berpura-pura saja menjalani pernikahan ini sampai salah satu diantara kita merasa bosan" Maura meninggalkan Ben sendiri dan segera masuk ke kamar lagi.


Ben manatap kepergian Maura dengan hati yang terasa sakit.


Seumur hidup dia tak pernah ditolak wanita. Para gadis yang selama ini tersakiti atas sikapnya pun tak pernah menolaknya saat Ben tiba-tiba ingin kencan lagi dengan mereka.


Namun, bukan Ben namanya jika ia menyerah.


"Sayang, kita akan kembali ke apartementku hari ini?"

__ADS_1


"Terserah" jawab Maura yang sedang menonton TV.


1 jam kemudian, mereka sudah berada di apartemennya Ben.


"Di mana kamarku?" tanya Maura


"Di sini kamarnya ada dua. Namun kamar yang satu kugunakan sebagai ruang kerjaku"


"Jadi, maksudmu kita akan tidur satu kamar lagi? Aku nggak mau Ben. Kita cari apartemen lain saja" kata Maura tegas.


"Kau tidurlah di kamarku dan aku akan tidur di ruang kerjaku. Di sana ada sofa" Ben mengalah.


"Ya sudah, sekarang aku mau ke studio dulu. Aku harus latihan karena lomba akan dilaksanakan 1 minggu lagi"


"Aku akan mengantarmu"


"Aku bisa sendiri, Ben"


Ben menahan tangan Maura "Sayang, kau ingatkan dengan para mafia yang pernah menganggumu? Kita belum tahu motif mereka apa. Jadi sebaiknya kau jangan bepergian seorang diri. Lagi pula, kita baru saja menikah. Tak dapatkah kau pergi latihan besok saja? Setidaknya lengkapilah sandiwara ini kalau kita masih bulan madu"


Maura menarik tangannya dari genggaman Ben.


"Bolehkah aku meminjam teleponmu untuk meminta orang di rumahku mengirimkan hp ku?"


"Semua barangmu sudah ada di atas"


Maura menaiki tangga. Namun baru beberapa langkah ia berhenti.


"Tunjukan kamarmu. Apartemen ini terlalu luas."


Ben melangkah mendahului Maura. Ia membuka pintu kamar dan mempersilahkan Maura masuk.


Gadis itu terkejut melihat beberapa barangnya sudah ada di kamar itu. Laptop, hp, koleksi cd nya, dan fotonya bersama Keyri.


"Hanya beberapa baju dan sepatumu yang dibawa ke sini, selebihnya mommy ku sudah mengisinya dengan sepatu dan baju pilihannya. Maaf jika kamu tak suka" kata Ben.


Maura tak menanggapi. Sebenarnya dalam hati ia sementara menganggumi kamar Ben yang sangat nyaman dalam pandangannya karena baik dinding kamar maupun isi kamar ini bernuansa coklat putih seperti warna kesukaannya.


"Ya sudah. Sekarang, bolehkah kau keluar dari kamarku ini? Aku sangat mengantuk"


Ben hanya mengangguk dan langsung keluar.


Maura langsung mengambil koleksi cd nya dan memutar lagu Arnold Manola. Kemudian ia mengambil hp nya dan berbaring di atas tempat tidur.


"Ah....nyaman sekali. Seperti di kamarku sendiri" Maura merasa pikirannya sedikit tenang.


Di lantai bawah, Ben tersenyum senang. Ia dapat melihat ekspresi Maura yang kagum atas semua yang ada di kamar itu.


Ia bersyukur karena Iriana mau berbagi rahasia Maura yang sangat senang dengan warna coklat putih. Dan Faith dengan senang hati membantunya untuk membongkar kamarnya itu yang awalnya bernuansa hitam putih, dialihkan ke nuansa coklat putih. Ben ingin Maura merasa nyaman.


Ya Tuhan, apakah aku bisa bertahan dalam hubungan pernikahan ini? Ataukah aku hanya terobsesi padanya karena belum pernah tidur dengannya? batin Ben sambil menyandarkan tubuhnya di sofa putih yang ada di ruang kerjanya.


#makasi sudah baca bagian ini

__ADS_1


#jangan lupa jempol dan komentarnya jika suka


😍😍😍😍😍


__ADS_2