My Best Photo

My Best Photo
I am Yours


__ADS_3

Semua sudah berjalan tanpa bisa ditolak. Mau mundur juga percuma. Yang pasti saat ini Maura membiarkan rasa itu menuntunnya untuk menikmati semua yang dilakukan Ben pada tubuhnya.


Apakah besok Maura akan terbangun dengan rasa penyesalan ataukah rasa bahagia, untuk saat ini Maura benar-benar tak peduli.


Yang ia tahu Ben adalah suaminya. Jadi ia tak melanggar apa yang sudah dijanjikannya pada mamanya. Kehormatannya sebagai seorang perempuan sudah dijaganya sampai ia menikah.


Sementara Ben masih tetap asyik menyentuh semua yang menjadi hak nya sebagai suami Maura. Ia sudah menahan ini sekian bulan lamanya. Bahkan saat pertama Ben melihat Maura yang terpengaruh oleh obat perangsang itu.


Ben tahu kalau Maura bukan seperti para gadis yang selama ini tidur dengannya. Yang dengan sengaja membuka bajunya dihadapan Ben untuk menggodanya.


Maura adalah istrinya. Yang harus diperlakukan dengan istimewa. Kesenangan yang akan Ben dapatkan harus atas persetujuan Maura.


"Sayang....aku akan memasukimu" kata Ben saat ia tahu Maura sudah mendapat pelepasannya yang kesekian kalinya.


Maura hanya mengangguk.


Ben tahu kalau ini akan sakit bagi Maura.


"Sayang, ini agak sakit. Kamu tahan sedikit ya..."


Maura membuka matanya. "Ben....apakah sakit sekali?"


"Aku nggak tahu sayang."


Maura menutup matanya kembali. Kepalanya kembali mengangguk.


Ben mencium bibir Maura, memberikan rangsangan sambil menyatuhkan diri mereka.


"Ah...Ben...." Maura memekik kesakitan. Tangannya memegang pinggang Ben dengan kuat seolah ingin menahan Ben untuk meneruskan gerakannya.


"Sakit..." rintih Maura


"Sayang...aku belum masuk semua. Apakah aku hentikan saja?"


"Memangnya boleh dihentikan? Apakah kamu tak akan sakit?" Maura kembali membuka matanya dan menatap Ben.


"Tentu saja ini akan menyiksaku." Ben sedikit frustasi antara melanjutkan atau menghentikannya. Maura memang bukan perawan pertama yang tidur dengannya. Biasanya juga Ben tak peduli. Tak akan bertanya. Namun kali ini entah mengapa Ben tak tega kalau Maura tersakiti.


"Ben.....lanjutkan saja....tapi...."


"Sayang...."


"Aku siap, Ben"


Ben memasukan juniornya secara utuh. Maura kembali merintih. Namun rasa sakit itu perlahan hilang.


Keduanya kembali mendesah. Seolah tak peduli dengan lampu kamar yang tidak dimatikan. Tak peduli dengan suara angin malam yang bertiup. Ben ingin menuntaskan hasratnya yang tak terbendung lagi. Sampai akhirnya teriakan kecil Ben dan Maura terdengar bersamaan.


Ben benar-benar telah mendapatkan semua yang dia inginkan dalam diri Maura.


Saat tubuh Ben berguling, terbaring disamping istrinya dengan deru napas yang mulai stabil, ia meraih selimut dan menutup tubuh mereka.


Tak ada suara yang terdengar. Sampai akhirnya Maura membalikan tubuhnya. Membelakangi Ben yang masih tidur terlentang.


Akhirnya, aku menyerah kalah padanya. Ini benar-benar sesuatu yang sangat indah sekaligus juga menyakitkan. Aku telah kehilangan kehormatanku. Tapi aku melakukannya dengan suamiku kan? Lalu bagaimana selanjutnya? Bagaimana dengan hubungan ini? Akankah ada cinta? Ataukah ini hanya napsu semata?


Maura terus berbicara dengan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian ia merasakan tangan Ben yang kembali memeluknya erat.


"Ma, apakah kamu sudah tidur?" tanya Ben.


"Belum"


"Kalau begitu tidurlah. Apakah kamu tidak lelah?"


"Aku belum mengantuk" kata Maura sambil terus memunggungi suaminya.


"Kalau begitu, aku akan membuatmu lebih lelah sehingga kau bisa tidur dengan nyenyak" kata Ben sambil menarik Maura semakin dekat padanya.


"Ben, apa yang akan kau lakukan?" Maura mulai panik karena tangan Ben sudah kemana-mana. Selimut yang menutupi tubuh mereka pun sudah terlempar di ujung ranjang.

__ADS_1


"Olahraga bersama sayang...." Ucap Ben sensual dan langsung menyatuhkan kembali diri mereka.


Maura tak bisa menolak. Ia Kembali pasrah dalam dekapan suaminya.


*********


Maura tahu kalau hari sudah lama siang. Ia bahkan mendengar suara bel pintu depan yang berbunyi dan Ben yang akhirnya bangun untuk membukakan pintu.


Namun Maura tak juga beranjak bangun. Ia bingung harus bagaimana.


Bahkan saat Ben kembali masuk ke kamar dan membersihkan dirinya pun, Maura tahu.


Tak lama setelah selesai mandi, Ben memilih keluar dari kamar.


Maura pun akhirnya bangun dengan rintihan karena sakit yang ia alami di sekitar area sensitifnya.


Sedikit tertatih Maura menuju ke kamar mandi. Ia mandi secara cepat dan segera memakai pakaian santai.


Saat ia akan merapihkan tempat tidur, ia melihat ada bercak merah di seprei putih.


Ya ampun.....apakah harus berdarah seperti ini saat pertama kali diserang? Sungguh brutal si Playboy itu. tubuhku jadi sakit semua.


Maura memutuskan untuk mengganti seprei itu dan membawanya ke bawa untuk segera di cuci.


"Selamat siang, nona" sapa seorang pelayan yang sedang memasak. Ia kelihatan masih muda.


"Selamat siang" Balas Maura sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah sebelas siang.


"Sepreinya mau dicuci. Berikan saja kepadaku"


"Tapi......" Maura bingung mau menjelaskan tentang noda darah yang ada di sana.


"Ada apa?"


"Eh....aku sedang datang bulan jadi sepreinya...."


Pelayan itu tersenyum "Oh....masalah itu. Tidak mengapa nona...berikan saja padaku"


"Sedang datang bulan ya? Kenapa nggak bilang saja kalau perawanku baru saja diambil oleh suami buleku" kata Ben sedikit mengejek sambil berjalan ke arah Maura.


"Diam kamu!" Maura merasakan kalau pipinya menjadi panas.


Ben terkekeh. Ia menyentuh pipi Maura dan mengelusnya perlahan.


"Apakah sakit?" tanya Ben lembut


"Sudah tahu. Jadi tak usah bertanya" Maura menepis tangan Ben dan segera melangkah ke ruang keluarga. Ia duduk di atas sofa lalu menyalahkan TV.


Ben ikut duduk di sampingnya.


"Aku tahu bagaimana supaya nyeri di situ cepat hilang" kata Ben sambil tersenyum nakal.


"Bagaimana?" tanya Maura sedikit penasaran.


"Kita harus sering melakukannya"


"Melakukan apa?" dahi Maura berkerut.


"Ya melakukan itu....yang membuatmu mendesah..."


Maura langsung membungkam mulut Ben dengan tangannya. Ia takut pelayan itu mendengarnya karena Ben menggunakan bahasa Indonesia.


"Shut up,Ben"


"Why?"


"I don't want to doit again"


"it's true?" Alis Ben terangkat lalu mendekatkan wajahnya ke arah Maura.

__ADS_1


" I am hungry. I want to eat..." Maura langsung berdiri dan meninggalkan Ben sendiri. Ia duduk di meja makan.


"Sarapannya mungkin sudah dingin. Apakah nona mau saya memanaskannya lagi?" tanya pelayan itu.


Maura menggeleng. "Aku mau makan. Siapa namamu?"


"Saya Silga."


"Baiklah Silga. Tolong buatkan aku secangkir teh ya.."


"Dua cangkir, Silga. Aku juga mau minum teh. Tapi aku tak mau memakai gula" Kata Ben lalu duduk di samping Maura.


Silga mengangguk dan langsung membuat teh.


Maura menatap Ben "Ben, aku mau makan. Jangan ganggu"


"Aku juga mau makan. Aku menungguhmu bangun supaya bisa makan bersama" kata Ben lalu mulai mengambil piring, memasukan nasi goreng dan telur mata sapi.


"Ah..." Ben menyuruh Maura membuka mulut sambil menyuapinya.


"Ben...what are you doing?" Maura jadi tersipu.


"come on eat...if you don't eat, i'll kiss you..." kata Ben setengah mengancam.


Maura terpaksa menerima suapan Ben. Dari pada dicium dan dilihat oleh Silga.


"Good girl!" kata Ben lalu menyuapi dirinya sendiri.


Silga tersenyum melihat pasangan itu.


Bulenya benar-benar romantis. Mau dong dapat suami bule kayak ini.


Silga membawa 2 cangkir teh. Meletakannya di depan mereka. Lalu ia kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Aku sudah kenyang, Ben." tolak Maura.


"Habiskan. Supaya kamu menjadi kuat"


"Aku kan memang kuat"


Ben tersenyum nakal "Kalau begitu ayo kita ke kamar!" ajak Ben sambil menarik tangan Maura.


"Ben.....kamu ini..." Maura mencubit tangan Ben dan segera berlari menaiki tangga.


Ia masuk ke kamar dengan napas yang agak terengah- engah.


Kok aku masuk ke kamar?


Maura baru saja akan keluar. Namun Ben sudah masuk, menutup pintu, memutar anak kuncinya dan menyimpan anak kunci itu di saku celananya.


"Ben, kamu mau apa?" Maura mulai panik. Ia berjalan mundur saat Ben mulai mendekatinya.


Sialnya, kaki Maura justru menyentuh pinggiran ranjang.


"Ben, jangan coba-coba, aku akan menghajarmu" Maura memasang gaya siap memukul Ben.


Ben tersenyum "Pukul saja aku...!" Ben semakin dekat.


"Ben....!"tangan Maura terancung namun Ben dengan cepat meraih tangan Maura dan mendorong tubuh Maura sehingga istrinya itu langsung terlentang di atas tempat tidur.


"Ben....jangan..." seru Maura melihat Ben yang sudah membuka kaosnya.


"Benarkah?" tanya Ben sambil naik ke atas tubuh Maura.


Maura mengangguk lalu kemudian menggeleng. Ia jadi bingung dengan dirinya.


Ben terkekeh "Jangan terlalu kuat suaranya, Ma. Nanti Silga akan mendengar kita. Kamar ini tidak kedap suara kan?" tanya Ben lalu segera menunduk dan meraup bibir manis istrinya.


*Aduh....sampai di sini dulu ya....

__ADS_1


takut nantinya ada yang marah ☺☺☺☺


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA*...


__ADS_2