
"Sayang...!" Ben mengetuk pintu dengan rasa khawatir. Ia mencoba membukanya namun ternyata Maura menguncinya dari dalam.
Terdengar suara Maura yang sedang muntah.
Tak lama kemudian, Maura keluar dengan wajah pucat.
"Sayang...!" Ben mendekat.
"Jangan dekat-dekat. Aku benci bau shampo mu!" teriak Maura sambil menjauh.
"Baiklah...!. Aku tak akan mendekat. Sekarang kamu ingin apa? Biar aku bawakan"
"Mungkin minum teh hangat akan membuat perutku jadi enak."
"Akan ku buatkan. Sebentar ya..!" kata Ben lalu melangkah menuju pintu.
"Ben..!" teriak Maura
"Ya. Ada apa sayang?"
"Apakah kamu mau keluar dengan gaya seperti itu?"
Ben menatap tubuhnya ke cermin. Ia langsung melompat kaget saat melihat bahwa ia sama sekali belum mengenakan pakaiannya. Ia segera melangkah ke dalam walk in closet, lalu mengenakan pakaian rumahnya.
"Maaf ya sayang...aku sangat khawatir padamu sampai tak menyadari kalau aku ternyata sedang polos" kata Ben sambil menatap istrinya dengan senyum menggoda.
"Pergi cepat buatkan teh nya" usir Maura sedikit kesal.
"Iya sayang....!" Ben langsung keluar. Ia sedikit heran dengan sikap Maura yang tiba-tiba jadi judes malam ini.
Tak sampai 10 menit Ben kembali ke kamar. Di lihatnya Maura sedang duduk di atas sofa.
"Sayang....ini teh nya"
"Letakan di situ dan jangan mendekat...nanti aku mual lagi" kata Maura sambil meraih cangkir berisi teh hangat yang dibuatkan oleh Ben.
"Cih....rasa apa ini?" Maura meletakan teh itu kembali.
"Rasanya tidak enak? Takaran gula dan teh nya kan seperti yang biasa aku buatkan untukmu" Ben jadi heran.
"Aku mau teh melati yang dari Indonesia"
Ben menggaruk kepalanya "Sayang, di sini mana ada teh melati?"
"Ya pergi beli di toko Asia"
Ben menatap jam dinding "Ini sudah jam setengah dua belas malam. Tokonya sudah tutup"
"Aku mau teh melati, Ben"
"Permintaanmu kok aneh malam ini"
Maura diam sejenak. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Ben, di rumah mommy Iriana ada teh melati. Ayo cepat ambil"
"Tapi jarak dari mansion ini ke rumahmu agak jauh sayang. Memakan waktu setengah jam. Berarti jika aku bolak balik ada satu jam." Ben membayangkan betapa lelahnya ia jika harus pergi. Jam kerja sopir rumah sudah selesai jam 10 malam. Para sopir pasti sudah pulang.
"Aku mau sekarang Ben...!" rengek Maura.
"Baiklah aku pergi." Ben pun berdiri dan segera meraih hp dan kunci mobilnya. Ia menghubungi Naomi agar bisa membukakan pintu baginya.
Selesai mengambil teh melati itu, Ben kembali ke mansion dan langsung membuat teh bagi Maura. Ia melangkah memasuki kamar dan melihat Maura sudah tertidur.
"Sayang..teh melatinya sudah siap" kata Ben dari jarak jauh supaya Maura tak mencium bau shampo di rambutnya.
"Aku sudah tak menginginkannya lagi. Aku mau tidur. Ngantuk!" kata Maura sambil menarik selimutnya sampai ke leher dan
Kening Ben berkerut. Ia sedikit kesal karena Maura tak mau meminum teh nya. Ia bingung memikirkan sikap istrinya itu.
__ADS_1
"Ben...malam ini kamu tidur di sofa ya. Aku nggak mau kamu tidur di ranjang ini dan akhirnya aku harus mencium bau shampo jelekmu itu" ujar Maura saat ia merasa kalau Ben sudah naik ke atas tempat tidur.
Ben mengigit bibirnya sendiri karena rasa jengkelnya sudah sampai di ubun-ubun. Namun ia akhirnya mengalah dari pada Maura akan muntah kembali.
Dengan langkah gontai, Ben melangkah menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya dengan bibir yang terus menggerutu.
**********
Ben masih sangat mengantuk. Namun telinganya mendengar suara Maura yang muntah di kamar mandi. Ia pun bangun dan langsung masuk ke kamar mandi yang pintunya memang dibiarkan Maura terbuka. Ben meraih sebuah topi yang ditaruh di gantungan dekat pintu kamar mandi agar bau sampo dari rambutnya tidak tercium oleh Maura.
"Sayang, kamu muntah lagi?" tanya Ben lalu berjongkok dibelakang Maura, memberikan pijatan ditengkuk istrinya.
"Ben....aku agak pusing." kata Maura lemah.
Ben langsung memeluk Maura, secara spontan Maura langsung melingkarkan tangannya dileher Ben.
"Tidurlah lagi sayang. Aku akan menelepon dokter Albert dan memintanya ke sini. Aku juga akan menyiapkan sarapan untukmu!" Ben menyelimuti tubuh Maura.
"Ben, aku mau sarapan nasi goreng. Pake cabe yang banyak." kata Maura dengan wajah penuh permohonan. Ia bahkan menelan salivanya membayangkan makanan itu sudah berada di depannya.
"Baiklah sayang...akan kuusahakan" Ben meninggalkan kamar. Saat ia turun ke bawa, ia langsung meminta kepala pelayan untuk menelepon dokter Albert.
Setelah itu dia meminta pak Leo untuk ke restaurant Asia dan mencarikan nasi goreng dengan cabe yang banyak.
Alicia, Bryan dan Mira yang ada di meja makan menatap Ben dengan heran.
"Ben, apakah Maura sakit?" tanya Alicia.
Ben mengangguk dan menceritakan apa yang Maura alami sejak semalam.
"Mungkin sakit maagnya kambuh lagi, mom" kata Ben diakhir ceritanya.
"Apakah Maura hamil? Tapi tak mungkin! Kaliankan baru 2 hari berbaikan" Alicia membatah analisanya sendiri.
"Tapi apakah orang sakit maag akan meminta makanan yang macam-macam seperti itu? Mual dan muntah karena mencium bau harum?" Tanya Bryan.
"Tapi Ben...!" Alicia masih membantah.
"Mommy ingat sebulan yang lalu saat aku tak pulang ketika hujan di malam hari? Pada saat itu aku ada di apartemen bersama Maura" kata Ben dengan raut wajah bahagia.
"Ben...kau menyentuh Maura saat masih Amnesia?" tanya Alicia sedikit kaget.
"Aku ke atas dulu, mom!"Kata Ben langsung kembali ke kamar.
Mira menatap kepergian Ben dengan wajah senang"Dia akan menjadi papa"
Bryan pun tersenyum "Kita akan punya dua cucu diwaktu yang hampir bersamaan."
*******
Ben membuka pintu kamar dengan perasaan bahagia.
"Sayang....!" panggilnya sambil duduk di tepi ranjang.
Maura membuka matanya "Ada apa, Ben?" tanyanya lemah.
"Aku pikir kalau kamu hamil" kata Ben sedikit bergetar.
"Hamil?" Maura tertawa "Ben, kita kan baru 2 hari bersama"
"Lalu malam disaat aku datang dengan baju basah itu kau sudah lupakan?" tanya Ben sedikit gemas dengan sikap istrinya.
"Kamu kan bilang kalau itu tidak masuk hitungan" seru Maura dengan wajah polosnya.
"Hei...walaupun itu tidak masuk hitungan namun aku mengeluarkan benihku dalam rahimmu"
Maura diam sejenak. "Apa mungkin Ben? Aku memang bulan ini belum datang bulan."
__ADS_1
"Semoga sayang......!" kata Ben lalu secara tiba-tiba menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Maura. Tangannya membelai perut Maura.
"Kalau memang benar kamu sudah tumbuh di sini maka ini adalah sebuah keajaiban."
Air mata Maura mengalir. Kata-kata Ben menghangatkan hatinya.
Tak lama kemudian dokter Albert datang dan langsung memeriksa Maura.
"Sepertinya nyonya Maura memang sedang hamil" kata dokter Albert membuat semua yang ada di ruangan itu langsung tersenyum bahagia.
"Aku sudah membawa alat test kehamilan saat menerima kabar kalau nyonya Maura muntah-muntah sejak semalam" Dokter Alberth mengeluarkan sebuah test kehamilan dari dalam tasnya dan langsung memberikannya pada Maura.
"Kau tahu cara menggunakannya ?" tanya dokter Albert.
Maura mengangguk. Ia bangun di bantu oleh Ben.
"Ben, aku sendiri saja ya...!" ujar Maura saat Ben akan mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi. Ben pun menurut dan kembali menungguh bersama yang lain.
5 menit berlalu..
"Mengapa lama sekali ya" guman Ben.
"Sabar Ben!" kata Alicia menenangkan putranya yang nampak sangat tak sabar menanti hasilnya.
10 menit kemudian....
Maura keluar dengan wajah bahagia "Positif!" katanya sambil mengangkat tespeck yang memunculkan 2 garis merah.
Ben langsung berlari dan memeluk istrinya. Alicia pun mendekati Maura dan memeluk menantunya itu.
"Kalian harus tinggal di sini. Jangan kembali ke apartemen. Mommy tak mau kalau Maura sampai keguguran lagi" kata Alicia tegas.
Ben dan Maura sama-sama mengangguk. Mereka tahu dalam hal ini, Alicia Aslon tak bisa dibantah.
***********
Nasi goreng extra pedas dan satu gelas teh melati telah dihabiskan oleh Maura. Kini perempuan berambut hitam itu sudah tertidur dengan lelap.
Ben tidak berhenti memandang wajah istrinya dengan bahagia. Tak peduli jika dia harus memakai topi terus agar bau rambutnya tak tercium oleh Maura.
"Ben....!" panggil Maura dengan suara serak.
"Ya sayang...!" Ben mendekat.
"Aku lapar, Ben"
"Lapar lagi?" Ben jadi bingung. Bukankah baru 2 jam yang lalu istrinya itu selesai makan? Namun karena dokter Albert sudah mengatakan kalau ada perubahan hormon pada ibu hamil maka Ben harus sabar menghadapi mood dan permintaan Maura yang aneh-aneh.
"Kamu mau makan apa, sayang?"
"Aku mau bakso dan gado-gado" rengek Maura.
"Astaga....apakah tidak ada makanan lain?"
"Maunya seperti itu!"
Ben mendekat lalu membelai perut Maura "Dede sayang..kok seleranya Indonesia terus. Papamu kan orang bule. Apakah kamu nggak mau makan makanan orang Inggris?"
"Ben...cepatlah! Aku sudah tak sabar ingin makan!" seru Maura sedikit kesal karena Ben belum juga pergi.
"Iya sayang...aku pergi!" Ben bergegas keluar dari kamar sebelum Maura meneriakinya lagi.
**Pusing pala baby...!
MAKASI SUDAH BACA YA...
BAGAIMANA KOMENTARNYA?
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YA**