My Best Photo

My Best Photo
Kembalilah Ben


__ADS_3

Sudah dua minggu Ben menjalani perawatan di rumah sakit ternama di London dengan dokter-dokter terbaik.


Sedangkan Maura, memilih untuk melihat dari jauh. Sebab jika ia mendekat, ia hanya akan menemukan tatapan dingin Ben yang sangat menyakitkan hatinya.


Maura juga menolak ajakan Alicia untuk tinggal di mansion. Ia lebih memilih untuk tinggal di apartemen Ben.


Dokter menyarankan agar keluarga jangan terlalu memaksa Ben untuk segera menemukan ingatan masa lalunya karena itu justru akan membuat amnesia Ben menjadi parah dan bisa menyebabkan ia tak akan pernah mengingat lagi semuanya.


Hari ini, Maura memilih mendatangi studionya Ben. Para pegawai di sana langsung menyapanya dengan ramah. Mereka pun sudah tahu apa yang terjadi pada Ben dan mereka memilih untuk tak banyak bertanya.


Foto-foto Maura masih tergantung di ruangan pameran walaupun pameran itu sudah ditutup. Alicia yang memerintahkan agar foto-foto itu tetap di tempatnya. Ia ingin Ben melihatnya dan mencoba mengingat masa bahagianya bersama Maura.


Saat Maura sedang berada di ruang pameran, ia melihat Ben masuk bersama Alicia dan Mira.


Dada Maura kembali terasa perih saat melihat Ben masuk sambil menggandeng tangan Mira.


Saat mereka bertiga masuk ke ruang pameran itu, Mira langsung menarik tangannya dari genggaman Ben.


"Sayang, kau ada di sini?" Alicia langsung memeluk Maura dengan penuh kasih.


Mira tersenyum pada Maura. Ia pun dibuat terperangah melihat semua foto yang dipajang di sana.


Maura memilih meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Alicia.


Ben berjalan menperhatikan foto itu satu persatu. Ia juga membaca kalimat-kalimat yang tertulis di sana.


"Kau sangat mencintainya, Ben. Kau bahkan memujanya. Itulah yang dapat ku mengerti saat melihat semua foto ini." kata Mira saat mereka sudah berada di depan foto pernikahan Ben dan Maura.


Tangan Ben terulur. Menyentuh foto pernikahan itu dengan tangan yang bergetar.


"*Aku memang masih bergumul dengan perasaanku padamu namun aku yakin, aku bisa mencintaimu dengan tulus. Dengan berlalunya waktu, dengan banyaknya kebersamaan yang kita lalui bersama, aku yakin bisa mencintaimu"


"Selama itu pula, aku tak akan pernah menghianatimu. Aku takan pernah meninggalkanmu. Sekalipun kau meminta aku ribuan kali untuk pergi, aku juga punya ribuan alasan untuk tetap ada di sampingmu"


"Kita sudah menikah, ma. Dan bagiku pernikahan itu sekali seumur hidup*."


Kata-kata itu beberapa hari ini seakan selalu berbisik ditelinga Ben dan membuatnya harus menepisnya karena menimbulkan sakit di kepalanya.


"Ben, kamu baik-baik saja?" tanya Mira melihat dahi Ben tiba-tiba saja berkeringat dan wajahnya agak pucat.


"Kepalaku sedikit sakit" kata Ben.


"Kalau begitu ayo kita keluar!" ajak Mira. Ia segera melingkarkan tangannya di lengan pria itu dan menuntunnya keluar dari sana.


"Tuan...kenapa?" tanya Luna. Ia ikut membantu Mira menuntun tubuh Ben agar bisa duduk di sofa yang ada di lobby.


Luna pun segera masuk dan mengambil segelas air putih.


Alicia dan Maura segera menuju ke tempat Ben berada saat mendengar kalau Ben pusing.


"Anakku, ada apa?" tanya Alicia cemas.


"Hanya sedikit sakit kepala" kata Ben.


"Lebih baik kita ke dokter saja" Alicia langsung memerintahkan sopirnya untuk menyiapkan mobil.


Saat mobil sudah terparkir di depan pintu masuk, Ben berdiri dipegang oleh Alicia, namun karena tubuh Ben cukup tinggi sehingga ia membutuhkan topangan lagi di sisi yang lain. Maura melangkah hendak membantu Ben, namun Ben langsung menoleh ke arah Mira.


"Mira, tolong bantu aku...!" kata Ben, menghentikan langkah Maura yang sudah sangat dekat dengannya.


Mira nampak salah langkah. Ia menatap ke arah Alicia dan Maura secara bergantian.

__ADS_1


"Cepatlah Mira!" ujar Maura berusaha tersenyum walaupun hatinya sangat sakit.


Mira menggandeng lengan Ben di sisi yang lain lalu membantu Ben melangkah sampai masuk ke dalam mobil.


"Maura, kau tak ikut?" tanya Mira di depan pintu mobil.


"Kalian pergilah...! Aku masih ada pekerjaan" kata Maura.


Mira masuk ke dalam mobil, duduk bersama Ben sementara Alicia duduk di depan.


Saat mobil itu pergi, Maura langsung berbalik dan hendak masuk ke ruangan lagi.


"Sabar ya nyonya....!" ujar Luna.


"Makasi Luna...!" kata Maura lalu masuk ke dalam ruang kerja Ben.


Matanya memandang seluruh kamera Ben yang masih tersimpan rapih di lemari.


Apakah aku harus merelahkan kau kali ini? Jika memang memorimu tak diisi lagi tentang aku, dan jika kau bahagia bersama, Mira, aku akan meninggalkan kau bersamanya.


"Hai...boleh aku menganggu?"


Maura mengangkat wajahnya. Ia buru-buru menghapus air matanya.


"Arnold Manola?"


Arnold masuk dan langsung memeluk Maura sebentar, setelah itu ia duduk di depan Maura.


Maura senang. Penyanyi idolanya ada di sini. Ia memang sudah pernah beberapa kali bertemu Arnold saat sedang bersama Ben, namun baru kali ini mereka bertemu berdua saja.


"Jangan sedih ya...aku tahu Ben hanya tersesat. Ia pasti akan pulang. Jangan berhenti menuntunnya untuk kembali" kata Arnold melihat wajah Maura yang sedih.


"Makasi Arnold."


"Apa itu?"


"Aku akan mengadakan konser amal bersama beberapa temanku. Ada juga Edward Kim yang akan memainkan pianonya. Aku ingin kamu yang menjadi penata panggungnya. Di konser itu, aku juga akan menyanyi 4 lagu. Aku membutuhkan The Crown untuk tampil bersamaku dan aku mau kamu ada juga di sana"


Maura tersenyum "Benarkah? Tentu saja aku takan menolaknya. Konsep apa yang kau mau, Arnold?"


"The Power of Love"


Maura menatap Arnold dengan dahi berkerut " Tema yang sangat bagus"


"Ya. Tema itu untukku dan juga untukmu. Cinta adalah kekuatan untuk bertahan."


"Kau pernah kehilangan?"


Arnold tersenyum getir "Ya. Dan aku tetap menantinya kembali. Walaupun mungkin dia sudah bersama dengan orang lain, aku hanya ingin meminta maaf padanya"


Maura tersenyum "Ayo kita semangat untuk menanti cinta kita kembali"


Arnold menangguk. Ia senang melihat Maura tersenyum. Hanya dengan cara seperti ini ia bisa menghibur dan menguatkan Maura. Iya yakin jika suatu saat Ben akan mendapatkan kembali memori masa lalunya, Ben pasti akan bersyukur karena teman-temannya menjaga Maura dengan baik.


**************


Luna menatap Ben yang masih berdiri di dalam ruangan pameran. Ia sedikit terkejut saat akan menutup studio dan menemukan Ben ada di sana.


"Tuan Ben...!" panggil Luna pelan.


Ben menoleh. "Luna kan?"

__ADS_1


"Ya, tuan. Namaku Luna. Aku adalah asisten tuan yang sudah bekerja dengan tuan sangat lama" kata Luna dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Ben tersenyum. Ia melangkah dan duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Luna, apakah aku baik pada semua kariawan yang ada di sini?"


Luna mengangguk "Kau sangat baik, tuan. Selalu bercanda dengan kami. Tuan juga memberikan kami gaji yang layak sehingga semua kariawan yang ada di sini sangat suka bekerja dengan tuan"


Ben menatap foto Maura "Apakah aku sungguh mencintai, Maura?"


Luna mengangguk. "Ya. Aku sudah melihat tuan dengan banyak perempuan, namun tak ada yang mampu membuat tuan kelihatan sangat bahagia kecuali nyonya Maura"


"Lalu mengapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali?"


"Tuan hanya tersesat. Tuan butuh cahaya untuk pulang. Dan cahaya itu adalah nyonya Maura. Aku pulang dulu ya...tuan tarik saja pintunya"


Ben mengangguk. Ia membiarkan Luna meninggalkannya sendiri.


Hari beranjak malam. Namun tak mengurangi keramaian kota London di musim panas ini.


Ben melangkah meninggalkan studio. Ia berjalan kaki menyusuri jalan sambil menikmati malam.


Kakinya berhenti di dekat sungai Thames. Perasaannya menjadi gundah. Mengapa tempat ini sangat mempengaruhiku? Ada apa dengan tempat ini?


Dasar bule gila...!


Kalimat itu kembali terngiang di telingan Ben. Ada seraut wajah yang sangat samar melintas dipikirannya.


Apa ini? Mengapa aku sama sekali tak bisa menemukan siapa gadis itu?


Ben terus berdiri. Tangannya memegang pagar pembatas jalan dengan perasaan gelisah. Hp nya tiba-tiba berbunyi.


"Hallo...!"


"Ben, kamu dimana? Sekarang sudah jam makan malam." terdengar suara lembut Mira.


"Ya. Aku akan pulang sekarang"


Ben memasukan kembali hp nya ke dalam saku celananya. Entah kenapa hujan tiba-tiba saja turun. Ben pun berlari meninggalkan tempat itu. Kakinya justru menuntun dia ke sebuah kawasan apartemen mewah.


Apakah aku pernah ke sini? Mengapa aku merasa pernah ke sini?


Ben berdiri di depan pintu masuk. Tangannya secara cepat memasukan kode dan pintu itu terbuka. Ia pun melangkah menyeberangi lobby, kemudian masuk ke dalam lift. Tangan Ben langsung sejenak berhenti. Ia bingung harus menekan lantai nomor berapa.


Matanya berhenti ke angka nomor 10. Ia pun langsung menekannya. Lift bergerak naik dan berhenti di lantai nomor 10. Ben melangkah keluar. Ia menatap dua pintu yang hampir berhadapan itu.


Mengapa aku ke sini? Apakah aku tinggal di sini?


Ben berdiri di pintu nomor 1001. Jarinya agak ragu menekan tombol digital di sana. Angka-angka itu secara asal ditekannya saja.


Terdengar bunyi blip...


Pintu terbuka.


Maura yang sedang membuat kopi terkejut mendengar pintu dibuka dari luar.


Pandangannya beralih ke pintu masuk "Ben....?" Maura terkejut melihat Ben berdiri di sana dengan baju yang sudah basah.


MAKASI YA SUDAH BACA...


LIKE, KOMENT DAN VOTE

__ADS_1


INTIP YUK CERITA ARNOLD MANOLA DALAM KISAH


"SONG IN MY LIFE"


__ADS_2