My Best Photo

My Best Photo
Menemukan


__ADS_3

Pintu kamar tempat Maura dikurung terbuka. Maura yang sedang duduk membelakangi pintu di atas tempat tidur menoleh dengan kaget.


"Alan?"


Alan masuk sambil menatap Lerina dengan segenap kerinduan yang dia miliki untuk perempuan cantik itu.


"Maafkan aku yang sudah menawanmu seperti ini" kata Alan sambil mendekat.


"Apa maumu, Alan? Aku sangat membencimu!" teriak Maura dengan emosi yang sudah ditahannya sejak kemarin.


"Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, sangat memujamu. Begitu menginginkanmu."Alan naik ke atas tempat tidur.


Maura turun dengan cepat "Alan, aku sudah menikah. Biarkan aku pergi dari sini. Suamiku pasti sedang cemas mencariku"


"Suamimu takan cemas mencarimu. Ia tak mencintaimu. Ia seorang playboy yang tak lama lagi akan bosan padamu dan menemukan perempuan lain untuk dipermainkannya."kata Alan dengan nada mengejek.


Maura menatap Alan dengan penuh kebencian " Apa bedanya dengan dirimu? Kelly juga sedang hamil anakmu. Mengapa kamu tak bertanggungjawab dengan menikahi Kelly?"


"Masalahnya Kelly yang menyerahkan diri padaku tanpa tahu malu. Ia tahu kalau aku mencintaimu. Dan ia tak peduli" Alan mendekati Maura tatapannya penuh dengan kabut gairah. Hasratnya untuk menyentuh Maura sudah tak bisa dibendung lagi.


"Apa yang kamu akan lakukan Alan? Jangan mendekat!" Maura memasang kuda-kuda. Dia siap untuk memukul Alan.


"Aku mau merasakan tubuhmu sayang....aku tak peduli kalau si brengsek Ben sudah mendapatkanmu lebih dulu. Ayo sayang..." Alan mendekati Maura, lalu memeluk gadis itu dengan erat. Maura mendorong Alan, mencoba melancarkan pukulannya. Tetapi tentu saja Alan dapat membaca semua gerakan Maura. Sebab pertemuannya dengan Maura diawali bukan dari grup dance mereka. Namun di club bela diri dimana Alan yang menjadi salah satu pelatihnya.


"Lepaskan aku, Alan !" Maura memberontak sambil berusaha melepaskan diri Alan. Ia jatuh bangun, bergerak mendorong sehingga bisa lepas, namun tubuhnya yang lemah karena belum makan, kepalanya yang sedikit pusing dan rasa mual yang mendera tubuhnya membuat Maura berhasil dikuasai oleh Alan.


Setelah melalui perlawanan yang panjang, dengan beberapa bagian tubuhnya yang sudah memar, Maura akhirnya kelelahan. Ia bahkan merasa sakit di perutnya. Dengan cepat Alan melempar Maura untuk ada kembali ke tempat tidur, bahkan gaun yang dikenakannya sudah robek sebagian.


"Alan....lepaskan aku...!" mohon Maura


"Aku akan melepaskan semua pakaianmu!" Alan dengan seringai liciknya langsung menarik gaun Maura sehingga yang tersisa hanyalah pakaian dalamnya.


"Maura, kau sangat cantik. Aku sudah lama merindukan untuk menikmati semua ini" Alan yang sudah dirasuki napsu tak memperdulikan lagi isak tangis Maura.


"Aku mohon Alan...jangan lakukan ini. Aku sedang hamil ...."


"Aku tak peduli. Biarkan benih Ben tumbuh bersama beniku sayang..." kata Alan sambil membuka semua pakaian yang melekat ditubuh Maura.

__ADS_1


",Aku takan pernah melepaskanmu. Aku akan menjadikanmu milikku selamanya. Aku akan merawat anak ini seperti anakku sendiri. Kau akan menjadi ratu dalam hidupku" kata Alan sambil membelai perut Maura.


"Alan.....jangan....!" Maura semakin takut saat Alan mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Ia ingin sekali melawan namun tenaganya hampir habis. Pandangannya mulai berkunang-kunang namun ia masih jelas mendengar suara tembakan dari luar kamar sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


*************


Ben menatap wajah pucat Maura yang terbaring dengan selang infus dan selang ogsigen yang menempel ditubuhnya. Ada rasa marah yang tidak bisa tertahankan melihat tubuh Maura yang terbaring lemah dengan berbagai luka memar di sekujur tubuhnya.


Ben ingat, saat ia mendobrak pintu kamar itu dan menemukan Maura yang pingsan tanpa menggunakan apapun di tubuhnya.


Bagaimana gugupnya ia membungkus tubuh Maura dengan selimut dan membawanya pergi dari sana.


Tubuh Maura yang tak bergerak, membuat Ben ingat saat Faith tertembak dan hampir mati. Hal itu membuat rasa gugup menyerang Ben dengan sangat hebat sampai ia tak bisa bicara.


Ya, Ben memang akui, perasaannya terhadap Maura belumlah tumbuh secara benar. Namun Ben sungguh-sungguh untuk terus bersama dengan Maura menjalani pernikahan mereka. Apalagi saat tahu kalau Maura hamil anaknya. Ben benar-benar bahagia dan bertekad untuk terus belajar mencintai Maura.


Pintu ruangan tempat Maura dirawat dibuka. Ternyata yang masuk adalah Joe dan Ezekiel.


Ben mencium tangan istrinya lembut lalu melangkah mendekati kedua sahabatnya itu yang sudah duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan Maura?" tanya Joe.


"Sabar ya, dude" Ezekiel menepuk bahu sahabatnya.


Ben mengangguk.


"Dokter mengatakan kalau Maura tidaklah diperkosa. Ia hanya mengalami kekerasan fisik. Sesuai juga dengan kesaksian Kelly yang mengatakan kalau Alan belum sempat menyentuh Maura dan ia sudah lari mendengar suara tembakan itu." kata Joe.


Ben mengepal tangannya kesal "Aku benci karena Alan berhasil lari. Ia tentu saja menjadi ancaman bagi Maura."


"Kita pasti.akan menemukan Alan. Aku janji padamu. Orang-orang terbaikku akan bekerja 24 jam untuk menemukan Alan. Aku juga sudah membereskan semuanya agar kejadian ini tidak diendus oleh wartawan." Ezekiel berucap seperti kakak yang menenangkan adiknya.


"Terima kasih" kata Ben tulus.


Setelah berbincang sebentar, Ezekiel dan joe permisih pulang.


Ben kembali mendekati istrinya, menyeka keringat yang ada didahi Maura, dan mencium bahu itu dengan lembut.

__ADS_1


Tak lama kemudian Maura membuka matanya.


"Ben...." panggilnya pelan, membangunkan Ben yang tidur di sofa tepat disamoung ranjangnya. Maura mencabut selang ogsigen yang menempel dihidungnya.


Ben buru-buru bangun, mengucek matanya sebentar lalu mendekati Maura "Sayang, sudah bangun?"


"Aku di mana, Ben?" tanya Maura sambil menatap sekeliling.


"Ini di rumah sakit sayang. " Ben membelai wajah Maura.


Maura bangun dan duduk dengan bantuan Ben. Ia membangun ingatannya kembali. Tiba-tiba dia ingat sesuatu "Alan....dia memperkosaku..." Maura terisak. Ia menarik tangannya dari genggaman Ben. "Jangan sentuh aku, Ben. Aku sudah kotor"


"Sayang.....Alan tidak memperkosamu"


"Dia menyentuhku. Memegang tubuhku dengan kedua tangannya. Aku susah payah melawannya namun tak bisa. Aku sangat lemah. Aku jijik dengan diriku sendiri..." Maura kelihatan sangat frustasi.


Ben langsung memeluknya "Sayang, tenanglah. Alan tidak memperkosamu. Dokter sudah memastikannya. Kelly juga mengatakan kalau Alan belum menyentuhmu. Kami datang di saat yang tepat."


Maura mengeratkan pelukannya seolah ingin menyalurkan perasaan leganya. "Ben....aku takut"


"Semuanya sudah berlalu, sayang"


Maura memeluk Ben beberapa saat lalu ia melepaskan pelukannya.


"Ben, aku hamil" katanya dengan mata berbinar sambil membawa tangan Ben ke perutnya.


Ben menelan salivanya dengan berat. Ia menatap wajah Maura dengan penuh kasih.


"Sayang......" Ben merasa susah payah untuk mengatakan semua ini.


"Sayang...bayi kita sudah tak ada. Kau mengalami keguguran"


Maura terpana. Ia menatap Ben tak percaya. Beberapa detik kemudian tubuhnya kembali jatuh. Ia pingsan kembali.


MAKASI SUDAH BACA


MAAF AGAK LAMA UP NYA DAN SEDIKIT.

__ADS_1


LAGI KEBANJIRAN DI RUMAHKU


Jangan lupa like dan komentari kalau suka ya...


__ADS_2