
Maura menatap Ben tak percaya. Emosinya langsung meledak.
"Aku benci kamu Ben....aku benci....!" ia memukul Ben dengan pukulan yang bertubi-tubi.
"Hei....kenapa kamu marah?" tanya Ben heran. Ia berusaha menghindari pukulan Maura yang membabi buta.
"Kamu bilang apapun yang terjadi kamu tak akan melepaskanku lalu kenapa sekarang kamu membiarkanku untuk bersama Patrick?"
"Lalu alasan kamu ingin berpisah apa? Bukankah karena ingin bersama Patrick?" tanya Ben. Ia melepaskan tangan Maura dan membuat Maura berhasil mundur dan menedang perut Ben.
Ben terjatuh, kepalanya membentur sofa dan ia pingsan.
"Ben....Ben....!" panggil Maura kaget melihat Ben jatuh tergeletak di atas karpet.
"Ben...!" Maura mendekat. Menyentuh tangan Ben dengan jantung yang berdebar.
Ben tak bereaksi.
"Ben....jangan mati. Aku tak bermaksud melukaimu. Aku hanya kesal saja sebab kau tak pernah cemburu padaku." Air mata Maura langsung mengalir di pipi mulusnya. Ia duduk di samping Ben.
Ben masih tetap diam.
"Ben....jangan mati...! Aku minta maaf. Aku mencintaimu Ben....aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku Ben..." Maura menangis di dada Ben. Ia menjadi sangat takut.
Sentuhan di kepalanya membuat Maura membuka matanya. Ia langsung bangun dan menatap Ben dengan wajah senang.
"Ben.....are you ok?"
Ben mengangguk. Sebenarnya ia hanya pura-pura pingsan. Ia ingin mendengar pengakuan Maura tentang perasaannya.
Maura tersenyum walaupun air matanya masih mengalir. "Kau...jahat Ben!" Maura memukul dada Ben perlahan.
"Aku jahat tapi kamu mencintai aku kan? Kamu takut kalau aku mati" goda Ben sambil menahan senyum.
"Jadi kamu tidak pingsan?" Mata Maura melotot.
Ben langsung menarik tubuh Maura sehingga jatuh di atas tubuhnya, Kemudian ia memutar posisi mereka sehingga Maura terkurung dalam dekapannya.
"Kau mencintaiku kan?" tanya Ben sambil menyibak anak-anak rambut Maura yang menutupi wajahnya.
"Ya. Aku mencintaimu Benecdik Jeremia Aslon. Aku sangat mencintaimu sampai aku tak bisa membencimu" kata Maura masih dengan linangan air matanya.
Ben mengahapus air mata Maura. "Aku tak mau kamu menangis. Aku mau kamu tetap menjadi Charlie Angelku. Yang kuat, tegar dan selalu membuatku gemas dengan sikap pembangkangmu itu"
"Ben, dulu kamu pernah bilang kalau aku harus siap mati jika aku jatuh cinta padamu. Apakah kau akan membunuhku?" tanya Maura dengan wajah polos.
"Ya. Aku akan membunuhmu dengan cintaku"
"Apakah kau mencintaiku?" tanya Maura dengan mata berbinar.
"Aku tak akan mengatakannya. Kau cukup merasakannya saja.." kata Ben dengan nada sensual lalu menunduk dan mulai menyatukan ciuman mereka.
Maura membalas ciuman suaminya dengan penuh kerinduan. Hatinya bahagia. Ia membiarkan Ben melakukan apa saja yang dia inginkan di tubuhnya.
Perlahan Ben bangun, mengangkat tubuh Maura dan menaiki tangga.
"Ben, kita mau kemana?"
"Ranjang kita sudah terlalu lama dingin. Aku ingin kita menghangatkannya lagi" kata Ben dengan senyum menggoda.
Maura pipi Maura menjadi merah. Ia menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.
__ADS_1
Saat mereka sudah memasuki kamar, Ben meletakan tubuh Maura di atas ranjang. ia lalu membuka kemeja dan celana panjangnya dan melemparkan ke lantai.
Maura terpesona menatap tubuh suaminya. Ia mengigit bibir bawahnya membayangkan apa yang akan mereka lalui.
Ben tersenyum menatap istrinya. Ia naik ke atas tempat tidur dan mulai membuka kancing gaun Maura.
"Kau merindukan aku?" tanya Ben masih dengan tatapannya yang menggoda.
Maura mengangguk malu lalu membiarkan gaunnya ditarik oleh suaminya.
"Jangan pernah pergi lagi dariku, sayang." bisik Ben lalu kembali mendaratkan ciumannya dibibir Maura.
Keduanya kembali bergumul dalam balutan kerinduan. Maura larut dalam sentuhan Ben yang sudah membiarkan tubuhnya menjadi polos.
Ia memejamkan matanya, menikmati semua rasa nikmat yang menjalar memenuhi seluruh tubuhnya.
Kedua insan itu benar-benar larut dalam gairah yang sama membaranya. Menuju puncak kenikmatan bersama diantara desahan panjang.
Ben dan Maura tetap berpelukan erat, saling menatap dan melemparkan senyum kepuasan.
"Aku bahagia...sangat bahagia karena kau kembali padaku" kata Ben sambil menyentuh bibir Maura yang masih basah karena baru saja dilepaskannya.
"Ben....." Maura tak tahu harus bicara apa. Ia menatap Ben dengan mata yang basah "I love you, Ben"
Ben menghapus air mata Maura lalu kembali mengecup bibir manis istrinya.
"Kau harus membayar untuk 61 hari meninggalkan aku sendiri di sini"
Maura mengerutkan dahinya " Kau menghitungnya?"
"Ya. Aku menghitungnya dengan rasa kesepian yang mendalam. Untunglah kau pernah menebusnya satu kali."
Maura memukul bahu Ben "Jadi itu bukan mimpi? Kita memang bercinta?"
"Kau pembohong. Kau bilang sedang ada pemotretan di luar daerah" Maura cemberut.
Ben tak dapat menahan dirinya. Ia menarik hidung Maura dengan gemas.
"Kau menikmatinya kan? Jadi jangan marah...." Ben memeluk Maura semakin erat. Membiarkan istrinya itu bersembunyi malu dibalik dada bidangnya.
"Astaga....Ben!" Maura tiba-tiba melepaskan pelukannya dan duduk dengan wajah panik.
"Ada apa, sayang?" tanya Ben ikut duduk juga.
"Patrick sedang menungguhku di bawah!" kata Maura dengan keras.
"Kau datang ke sini bersama Patrick?" tanya Ben dengan raut wajah kurang suka.
"Iya. Aku kan tadi datang karena ingin pisah denganmu"
Ben bangun, mengenakan boxernya lalu meraih hp nya didalam saku celana panjangnya. Ia menuliskan sesuatu, lalu meletakan hp nya di atas meja dan kembali naik ke atas ranjang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Maura sambil menyandarkan kepalanya di dada Ben.
"Aku mengirim pesan pada Patricia agar dia dapat meminta Patrick pulang karena kita sedang making love"
Maura mengangkat kepalanya dan menatap Ben "Benar kamu mengirim sms seperti itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Ben, itu kan hal yang pribadi. Kenapa harus memberitahukannya pada orang lain?"
__ADS_1
"Jadi kamu malu jika Patrick tahu saat ini kamu bukannya meminta pisah dariku namun justru sedang menempel padaku"
"Ben...!" Maura mencubit dadanya suaminya gemes.
"Aow.....sakit sayang.."
"Biarin....!"
Ben menahan tangan Maura, menciumnya dengan penuh kasih. Lalu mencium dahi Istrinya dengan lembut.
"Tidak apa-apa kau mau memukul atau mencubitku sekeras yang kamu mau. Asalkan kau tetap ada di sampingku, menemaniku, dan membuat perasaan sayangku padamu semakin kuat dan kuat sehingga aku tak akan bisa melepaskannya lagi" kata Ben lembut lalu kembali mencium bibir istrinya.
Hati Maura bahagia mendengar perkataan suaminya. Ia pun membalas ciuman Ben dengan hati yang berbunga-bunga.
**********
Malam yang indah baru saja dilalui oleh pasangan suami istri itu. Mereka tidur tanpa melepaskan pelukan satu dengan yang lain.
Maura bangun saat jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dan ia menemukan suaminya sudah pergi dari sisinya.
Kemana Ben pergi ya? Apakah dia ada pekerjaan?
Maura bangun, lalu merapihkan tempat tidur yang sudah sangat berantakan karena aktivitas bercinta mereka yang terjadi tak hanya satu kali.
Hasrat Ben yang menurut Maura sedikit berlebihan tadi malam telah membuat Maura cukup lelah sehingga tak bisa bangun dijam yang wajar bagi seorang istri.
Dengan wajah tersenyum, ia pun masuk ke kamar mandi dan melaksanakan aktivitas mandinya. Setelah selesai, ia segera turun ke bawa dan menemukan pemandangan yang membuatnya kembali tersenyum.
Ben sedang memasak, menggunakan celemek dan celana pendek. Ada heatset ditelinganya. Sepertinya ia sedang mendengarkan lagu. Ia memegang spatula sambil menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu.
Saat melihat istrinya, Ben tersenyum lalu mempersilahkan istrinya duduk dengan gerakan tangannya.
Maura pun duduk di depan meja makan, sambil terus memperhatikan Ben yang masih memasak.
Tak lama kemudian makan pagi selesai dibuat. Dan Maura langsung terpana melihat nasi goreng, telur mata sapi lengkap dengan kerupuk dan sambal botol dari Indonesia.
"Ben...kau yang melakukan ini semua?" tanya Maura.
"Ya sayang"
"Jam berapa kau bangun?"
"Jam 7 pagi."
"Memangnya kau tidak capeh? Kita kan tidur saat jam sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi"
"Rasa bahagia mengalahkan rasa kantuk" Ben melepaskan celemek dan heatset yang menempel ditubuhnya. Ia duduk di depan istrinya.
"Makanlah sayang...!"
Maura memasukan satu sendok ke mulutnya.
"Enak sekali!" pujinya sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Makanlah yang banyak karena setelah ini kau harus membayar hutangmu yang masih tersisa 58 kali"
Maira tersedak. Ia langsung meneguk air putih yang ada di depannya. Di tatapnya wajah Ben dengan wajah sedikit bersemu merah.
"Dasar bule gila!" sungutnya lalu tersenyum dengan hati yang berdebar.
Ben hanya terkekeh lalu ia pun memasukan makanannya ke dalam mulutnya dan menikmati sarapan dengan hati yang bahagia
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA BAGIAN INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT, VOTE DAN KASIH BINTANG LIMA YA...(ngarep banget eui..☺☺☺)