
Ben yang sementara memeriksa beberapa kameranya dikejutkan dengan kehadiran 2 wanita cantik di depannya.
"Hei....ada apa sampai 2 wanita Thomson ini datang ke studio pria kesepian ini?"
" Ben....!" Rachel langsung mendekat dan memeluk sahabatnya itu dengan penuh kasih.
Ben berusaha tersenyum walaupun ia sulit menyembunyikan wajah sedihnya di hadapan Rachel dan Faith.
"Kita makan siang bersama, yuk!" ajak Faith.
"Aku sudah kenyang"
"Jangan bohong, Ben. Aku yakin bahkan sarapanpun kamu tidak sempat" kata Rachel sambil bergelut manja di lengan sahabatnya itu.
"Kalian mengajak aku makan siang dan membiarkan suami-suami kalian makan sendiri? Aku masih ingin hidup damai jauh dari jangkauan kemarahan Ezekiel dan Joe"
"Kalau Ezekiel dan Joe ikut, pasti kau akan patah hati karena mereka akan bersikap manja pada kami" ujar Faith.
"Ayolah Ben. Jangan biarkan ijin yang sudah kami dapatkan dari para pria posesif itu menjadi sia-sia." Rachel merengek manja.
Ben menyerah. Ia tahu tak ada gunanya berbantahan dengan 2 wanita tangguh ini. Ia meraih kunci mobilnya.
"Ayo kita pergi !"
"No Ben. kita pergi dengan mobilku. Mata pandamu itu menunjukan bahwa kau kurang tidur. Kami tidak mau mati sia-sia" Kata Rachel lalu meraih kunci mobil Ben dan meletakan kembali ke atas meja.
Ben mengikuti langkah Faith dan Rachel tanpa bantahan lagi.
***********
"Kau tidak makan?" tanya Patrick melihat Maura hanya memainkan saja makanannya dengan garpu tanpa memasukannya ke dalam mulut.
"Maaf ya, aku sudah makan tadi di rumah jadi masih kenyang" Maura terpaksa bohong karena ia tak mau membuat Patrick kecewa.
Patrick hanya mengangguk. Ia berusaha memahami perasaan Maura yang masih galau.
"Bagaimana dangan teman-temanmu?" tanya Patrick berusaha untuk mengalihkan perhatian Maura yang sepertinya lebih senang melamun.
"Kami akan mulai latihan besok."
"Baguslah. Kau memang harus banyak bekerja di luar rumah supaya pikiranmu tidak terlalu terfokus pada Ben" Patrick menyentuh tangan Maura.
"Aku tak mau kamu sedih, Ra."
Maura hanya bisa tersenyum.
"Silahkan tuan..silahkan nyonya...!"
Maura menoleh dengan kaget saat melihat siapa yang datang dan duduk di dekat meja mereka.
Ben, Faith dan Rachel pun terkejut melihat Maura ada di sana bersama seorang pria yang sedang memegang tangannya.
Secara spontan Maura langsung menarik tangannya dari genggaman Patrick namun mata Ben secara tajam sudah melihat hal itu.
Untuk beberapa saat ketegangan terjadi diantara mereka. Rachel yang sudah duduk pun hanya diam, tak tahu harus bicara apa.
Ben masih berdiri, di sebelahnya ada Faith.
__ADS_1
"Hai Maura...!" sapa Faith untuk menghilangkan suasana bisu yang tercipta.
Dengan sikap yang penuh persahabatan, Faith mendekati meja Maura, sedikit menunduk dan memeluk Maura dengan hangat.
"Hai..Faith" Maura akhirnya bicara.
"Apa kabarmu?" tanya Faith masih dengan sikapnya yang bersahabat.
"Aku baik saja" jawab Maura.
Faith menatap Ben, namun pria itu langsung duduk tanpa bicara apapun.
"Aku duduk dulu ya...Atau kau mau gabung bersama kami?" Faith menawarkan.
"Maaf. Kami sudah selesai. Aku harus pulang cepat karena ada janji dengan mommy Iriana." Maura menatap Patrick.
"Yuk Patrick !"
Patrick mengangguk. Dia langsung berdiri.
"Aku permisi dulu ya. Bye.." Maura menghadiahkan sebuah ciuman dipipi Faith lalu melangkah meninggalkan restauran tanpa memandang lagi ke arah Ben dan Rachel.
Faith menatap Ben. Wajah pria itu nampak geram menahan marah. Tangannya bahkan sudah terkepal dengan sangat kuat. Faith tahu jika Ben seperti Ezekiel suaminya, Patrick pasti tidak akan pulang dengan utuh. Namun Ben bukanlah pria yang emosional seperti Ezekiel. Ben dikenal sebagai pria manis yang tidak pernah berkelahi dengan siapapun.
"Maaf ya Ben...seharusnya kita tidak datang ke restauran ini." kata Rachel dengan wajah sedih.
"No problem. Ayo kita pesan makanan." Ben langsung memanggil pelayan yang ada. Ia berusaha menghilangkan wajah sedihnya. Dia ingin makan dan untuk menghilangkan kejenuhannya.
Ben menikmati makan siangnya dengan lahap. Ia berusaha membunuh rasa cemburu yang menyeruak dalam hatinya. Ia tetap percaya, Maura dan Patrick kelihatan bersama di hari ini karena ada suatu pekerjaan. Ia tahu seluruh cinta Maura masih utuh untuk dirinya.
"Ben apakah tidak sebaiknya kau mengatakan kebenarannya pada Maura? Kalian akan terus saling menyakiti bila seperti ini. Maura bisa direbut oleh Patrick" kata Faith. Rachel yang ada di sampingnya mengangguk setuju.
"Dia harus mencari tahu sendiri kebenarannya. Karena aku sudah berulang kali mengatakan padanya kalau aku sudah berubah ketika menikah dengannya. Aku sungguh-sungguh dengan pernikahan ini."
Faith dan Rachel saling berpandangan. Mereka tahu kalau Ben memiliki prinsip hidupnya sendiri. Dan mereka menghargai itu.
"Ben, telepon kami jika kau butuh teman ya? Atau datanglah ke mansion kami jika kau kesepian" kata Rachel sebelum ia dan Faith pamit untuk pergi.
Ben merasa sepi lagi. Pikirannya benar-benar buntuh untuk saat ini.
"Tuan...."
Ben menatap Luna "Ada apa Luna?"
"Pameran foto untuk tahun ini akan dilaksanakan kapan? Banyak email yang masuk menanyakan itu.
Ben merenung sejenak " Dua bulan dari sekarang"
"Apa temanya?"
"My Best Photo"
Luna mengangguk. Ia segera kembali ke ruangannya. Meninggalkan Ben yang nampak tersenyum sambil memikirkan sesuatu.
***********
Kegiatan latihan Maura dan teman-temannya, sedikit menghilangkan rasa rindunya pada Ben. Maura ingin membunuh semua rasa yang selalu membuatnya menginginkan kembali ke apartemen itu.
__ADS_1
Seperti hari ini, dia pulang dengan tubuh yang lelah karena syuting video clip sudah selesai di gelar. Patrick selalu menemaninya. Walaupun Maura selalu menanggapi dengan sikap yang biasa saja karena ia sama sekali tak punya niat bersama dengan Patrick.
"Sayang, sudah pulang?" Iriana menyambut Maura.
"Hai Mom. Belum tidur?"
"Belum. Mommy sengaja menungguhmu. Ayo kita duduk dan bicara!" ajak Iriana.
Maura mengikuti langkah ibu sambungnya itu dan memasuki ruang kerja papanya.
Keduanya duduk berhadapan, dibatasi oleh sebuah meja kerja.
Iriana menyerahkan sebuah amplop "Ini adalah surat panggilan untuk sidang perceraianmu dengan Ben"
"Per...cerai..an?" Sedikit tersendat Maura mengucapkan kata itu.
"Ya. Kamu kan yang memintah agar prosesnya dipercepat? Salah satu temanku sudah kutunjuk untuk menjadi pengacaramu. Kau dapat berdiskusi dengannya menyangkut hak-hakmu setelah kau berpisah dengan Ben."
"Aku tak akan meminta apapun padanya."
"Itu akan lebih baik. Prosesnya akan semakin cepat. Sidang akan dilaksanakan 3 kali. Setelah itu jika kalian berdua sudah sepakat maka akan dilaksanakan penandatanganan akta perceraian."
"Apakah selama sidang aku harus hadir?"
"Tidak juga. Kecuali ada masalah penting yang harus dibicarakan bersama. Namun untuk tanda tangan persetujuan perceraian, kalian berdua harus hadir"
Maura mengangguk "Kapan sidang pertamanya dimulai?"
"Minggu depan"
"Terima kasih, mom!" Maura mengambil surat itu dan segera meninggakkan ruangan kerja papanya.
Saat ia tiba di kamar, ia duduk di sofa dan kembali membaca surat itu. Ada sedikit keraguan yang berbisik dari dalam hatinya. Namun ia berusaha menepiskannya.
Siapkah aku kehilangan Ben?
Pertanyaan itu terus muncul dikepalanya dan menimbulkan nyeri di dadanya.
Maura membuka laci meja yang ada di dekat tempat tidurnya. Ia membuka sebuah kotak putih tempat ia menyimpan kalung, gelang dan cincin pernikahan mereka. Hatinya bagaikan dihantam melihat 3 perhiasan yang diberikan Ben padanya.
**********
Di kamar yang ada di studionya, Ben duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang surat pemberitahuan sidang perceraian.
Hati Ben sangat sakit. Bagaikan ditusuk dengan seribu pisau yang tajam.
menatap foto pernikahan mereka yang ada di dinding kamar itu.
Jadi ini keinginanmu, sayang? Kau sungguh ingin berpisah dariku?
Ben melemparkan surat itu dengan sembarangan. Ia berbaring di atas tempat tidur sambil menggunakan tangannya sebagai bantal. Ia berusaha membuang wajah manis Maura yang selalu hadir dalam ingatannya.
MAKASI SUDAH BACA
KASIH LIKE, BUAT KOMENTAR UNTUK BAB INI YA
JANGAN LUPA VOTE
__ADS_1