My Best Photo

My Best Photo
Kenangan Terbuka


__ADS_3

"Maura....sayang...Inda Holang, kau dimana?"


Maura terkejut. Ia menata semua yang ada di ruangan itu. Ezekiel, Joe, Faith dan Rachel. Keempat orang itu mengeri dengan apa yang Ben ucapkan karena memang mereka tahu bahasa Indonesia.Sedangkan Alicia, Edward da Mira hanya terpana tak mengerti.


"Ben bicara apa?" tanya Alicia penasaran.


"Ben menyebut namaku, nama panggilanku di Medan dan dia bertanya aku dimana, mom" kata Maura tanpa bisa menahan air matanya. Ia mendekati ranjang tempat Ben dibaringkan. Menatap pria tampan itu yang selalu saja tampan dimatanya.


"Ben....apakah kamu mengingatku? Aku di sini sayang...aku sangat merindukanmu" kata Maura sambil menggengam tangan Ben. Namun mata Ben masih tetap menutup matanya dengan napas yang teratur.


Mira yang melihat hal itu, memilih keluar kamar secara diam-diam. Ia cukup mengerti bahwa saat Ben menemukan ingatan masa lalunya, ia pasti akan bersama Maura. Dan Mira yakin kalau dirinyalah yang harus pergi.


Mira duduk di kursi tunggu yang ada di depan pintu. Tangannya kembali menyentuh perutnya."My baby girl..., i love you.."


"Permisi!"


Mira mengangkat kepalanya. "Ya?"


"Saya Ficlen Browley, pengacaranya keluarga Aslon. Apakah di sini ruang perawatan tuan Ben Aslon?"


"Ya. Dia di dalam"


Ficlen tersenyum. Ia menatap Mira sebelum masuk.


Gadis yang cantik. Sayangnya sudah dimiliki oleh Ben. Ben memang penakluk wanita. Dalam keadaan amnesiapun masih mendapatkan wanita cantik. Dan aku ini? jomblo sejati, usiaku saja sudah 33 tahun. Apakah aku kurang tampan?


Ficlen segera masuk dan menemui nyonya Alicia.


"Maaf nyonya saya menganggu di saat begini" kata Ficlen saat mendekat.


"Ada apa, Fic?"


"Kemarin tuan Ben berbicara denganku ditelepon katanya dia ingin menikah secara resmi dengan nona Mira. Tapi aku bingung"


Maura mendekat mendengar perkataan itu. "Menikah?"


"Maafkan saya, nona Maura." Ficlen menyesal karena ia berbicara agak keras.


"Bicaralah Ficlen. Semua disini tahu tentang Ben. Sebaiknya kita duduk saja!" ajak Alicia.


Sofa L yang ada di ruangan perawatan Ben cukup besar untuk menampung mereka. Namun Ezekiel, Joe dan Edward memilih untuk berdiri. Mereka juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Ficlen.


"silahkan Fic. ! Kemarin memang Ben meminta nomor telepon seorang pengacara, jadi mommy memberikan nomormu. Saat mommy tanya ada apa, dia sama sekali tak menjawab" kata Alicia meminta Ficlen untuk melanjutkan.


"Ben kemarin menghubungi saya untuk mengurus berkas-berkasnya bersama Mira agar mereka bisa menikah. Tapi saya bingung karena sesungguhnya Ben dan Maura belum bercerai" kata Ficlen.


"Apa?" semua secara spontan mengucapkan kata yang sama.


"Bukankah pengacara Lerry mengatakan kalau Ben sudah menandatangani akta perceraian itu?" tanya Maura dengan wajah bingung.


Ficlen tersenyum. "Hari itu, Ben mengajak saya menemui hakim. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk tidak bercerai dengan Maura. Ia juga meminta agar aku, Lerry dan hakim merahasiakan ini karena dia sendiri yang akan membuat Maura kembali padanya. Ia merancang pameran foto itu sedemikian rupa agar Maura dapat melihat bukti cintanya."


Air mata Maura mengalir. "Jadi kami belum bercerai? Ah, Ben kamu sungguh bodoh!"


"Mengapa kau tak mengatakan ini padaku, Fic?" tanya Alicia.


"Maaf nyonya, Ben mengancam akan memecat aku sebagai pengacara keluarga Aslon. Dia juga mengatakan akan menghancurkan karirku." Ficlen tertunduk sedih.


"Dan kamu percaya?" kali ini Faith yang berbicara. "Ben bukan orang seperti itu. Dia tak pernah mencelakai orang lain. Apalagi sampai mengancam segala."


"Waktu itu Ben meneleponku. Akulah yang memberi saran untuk mengancam pengacara Ficlen" Ezekiel akhirnya bicara.


"Sayang...kamu benar-benar.." Faith menatap suaminya dengan jengkel.


Rachel menatap Joe dengan tajam "Apakah kamu terlibat juga, sayang?"


"Tidak. Aku baru tahu ceritanya seperti ini" kata Joe jujur.


"Aku nggak tahu kalau Ben akan melakukannya. Karena setelah itu aku mendengar kalau Ben dan Maura sudah resmi bercerai" kata ezekiek sambil menatap istrinya dengan wajah penuh permohonan.


"Aku juga sudah mengatakannya pada Ben kalau ia belum menandatangani surat perceraian itu dan Ben memintaku untuk menemuinya hari ini sesudah konser karena dia akan menandatanganinya" kata Ficlen sambil menatap Maura dengan wajah sedih. Ia sebenarnya tak tega untuk mengatakan itu.


"Aku baik-baik saja, Fic. Aku siap menerima apapun yang Ben inginkan. Semua ini terjadi karena kesalahanku yang tidak percaya padanya. Mira sedang hamil jadi Ben ingin membuat hubungan mereka menjadi jelas." kata Maura berusaha tegar.

__ADS_1


"Maura, jangan berkata seperti itu. Bukankah tadi Ben sudah memanggil namamu?" ungkap Alicia.


Maura akan bicara, namun dari arah ranjang nampak Ben yang berusaha untuk bangun.


"Anakku...kau sudah sadar?" tanya Alicia sambil mendekat.


Ben duduk dengan wajah yang bingung. Ia menatap semua orang yang ada di ruangan itu.


"Mana Mira?" tanya Ben.


"Mira ada diluar, Ben" kata Alicia.


"Panggil Mira. Aku mau bersamanya...!"teriak Ben sedikit frustasi.


Maura langsung keluar. Ia memanggil Mira.


"Mira, Ben mencarimu!" kata Maura.


Mira langsung berdiri dan masuk ke dalam. Meninggalkan Maura yang duduk di tempat Mira tadi.


Maura berusaha menahan tangisnya. Namun ia tak bisa. Hatinya kembali terluka.


Dokter memang mengatakan kalau perampokan dan pemukulan yang Ben alami membuatnya tak percaya pada siapapun. Mira adalah orang yang pertama Ben lihat saat sadar makanya Ben selalu merasa membutuhkan Mira dan berlindung pada perempuan itu.


"Maura.....!" Faith duduk di samping Maura. Tangannya terulur dan merengku pundak Maura sehingga dapat memeluknya.


"Faith, apakah aku akan kehilangan Ben selamanya? Apakah aku memang tidak ditakdirkan Tuhan untuknya? Apakah sebaiknya aku pulang ke Indonesia dan melupakan Ben?" tanya Maura perih. Hatinya bagaikan ditusuk ribuan pisau.


"Ben mencintaimu. Tetaplah bersamanya. Karena kaulah cahaya yang akan menuntunnya kembali."


Maura mengangguk. Ia sangat bersyukur karena dalam keadaan seperti ini, semua teman-teman Ben semakin dekat dengannya.


Di dalam kamar....


Ben yang melihat Mira masuk langsung turun dari tempat tidurnya dan memeluk gadis itu dengan erat.


"Kamu dari mana saja? Mengapa membiarkan aku di sini sendiri?"


Mira jadi tak enak hati "Ben, mereka bukan orang asing. Mereka adalah sahabat-sahabatmu. Dan juga mommymu."


"Ficlen, jika Ben menghubungi kamu lagi, katakan bahwa mengurus surat-suratnya butuh waktu yang lama. Jangan sampai Ben menandatangani surat perceraian itu." kata Ezekiel saat mereka sudah berada di luar.


"Baiklah, Eze. Aku juga tidak ingin Ben bercerai dengan Maura. Dia sangat mencintai Maura" kata Ficlen.


Alicia pun mengangguk setuju. Ia sebenarnya senang karena Ben dan Maura ternyata belum bercerai.


************


Maura bangun dengan sakit kepala yang sangat menyiksanya. Mungkin karena ia selalu susah tidur akhir-akhir ini. Ia bangun dan menatap wajahnya ke cermin. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Wajahnya juga kelihatan pucat, kusam dan kurus.


ponselnya berbunyi. Maura melihat ada nama Alicia di sana.


"Hallo mommy!"


"Maura sayang, sebentar malam datang ke mansion. Kita akan makan malam bersama."


"Ada apa, mommy?"


"Hari ini Ben ulang tahun. Apakah kamu lupa?"


"Aku ingat, mom"


"Baguslah. Mommy dan daddy ingin kau datang. Kami juga mengundang semua teman-teman dekat Ben."


"Aku usahakan ya, mom. Soalnya kepalaku sedikit pusing."


"Kamu sakit sayang?"


"Aku semalam susah tidur. Makanya aku mau menemui dokter hari ini untuk konsultasi apakah ada obat tidur yang aman untukku"


"Baiklah sayang. Mommy sangat mengharapkan kedatanganmu. Semoga cepat sembuh ya? Bye.."


Maura meletakan hp nya di atas meja. Ia menatap kue tart dengan lilin angka 29 yang ada di sana.

__ADS_1


Semalam Maura merayakan ulang tahun Ben tepat di jam 12. Maura memasang lilin sendiri, meniup lilin sendiri dan berdoa sendiri.


Pandangan Maura beralih ke foto pernikahan mereka.


"Selamat ulang tahun, Ben!" ucapnya lirih tanpa bisa menahan air matanya.


*********


Maura tak datang di acara makan malam. Ponselnya pun susah untuk dihubungi.


"Bagaimana kalau sesudah makan malam kita pergi ke club malam milik Ben?" tanya Rachel.


"Club malam?" tanya Ben heran.


"Ya Ben. Kau punya Club malam yang sangat terkenal di London ini. Club malam itu kau dirikan dengan uangmu sendiri ketika usiamu 22 tahun. " kata Bryan dengan bangga pada putranya itu.


Ben menatap Mira "Tapi Mira sedang hamil. Tidak baik untuk ke sana"


"Ben, akukan tidak akan minum yang berbau alkohol. Ayolah kita pergi. Lihatlah teman-temanmu ingin sekali ke sana" kata Mira dengan suara yang sedikit membujuk.


"Baiklah!"


Mereka pun pergi bersama ke club malam milik Ben.


Saat mereka masuk ke sana, semua kariawan club langsung mendekati Ben dengan wajah gembira.


Saat mata Ben melihat orang-orang yang sedang asik bergoyang, tiba-tiba seperti ada bayangan gadis berambut hitam yang nampak tertawa menatap ke arahnya.


"Ben, kamu baik-baik saja?" tanya Mira.


Ben menatap teman-temannya "Apakah tidak ada ruangan lain? Kepalaku sedikit pusing"


"Kau punya ruangan VVIP di sini, Ben..Ayo kita ke sana!" ajak Ezekiel.


Mereka pun menuju ke ruangan VVIP itu. Setelah duduk dan memesan minuman, Rachel mencoba membuka memori Ben.


"Ben, kau dan Maura pernah punya kisah unik di club ini. " kata Rachel.


"Oh ya? Kisah unik apa?" tanya Ben nampak penasaran.


"Maura pernah dipermainkan oleh teman-temannya dengan memberinya obat perangsang. Kau menyelamatkan dia dan membawanya ke kamarmu. Dan kau menjadi pria paling baik sedunia saat itu karena sama sekali tak menyentuh Maura"


Ben terdiam. Ia kembali mengingat sesuatu. Ada gadis yang dibawahnya ke kamar mandi dan...


"Ah...!" Ben memegang kepalanya lagi.


"Sudah jangan memaksakan diri, Ben. Aku mau ke toilet dulu" kata Faith. Ia berdiri melewati Ezekiel, Mira dan saat akan melewati Ben, tiba-tiba sepatu hak tinggi Faith tersangkut di ujung meja. Faith hilang keseimbangan.


"Faith...!" Ben secara spontan langsung berdiri dan menahan tubuh Faith. Namun karena Ben juga dalam keadaan sedikit pusing, keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Ben berada di bawa.


"faith..!" teriak Ezekiel panik dan langsung berdiri untuk membantu istrinya itu bangun.


Setelah Faith berdiri, Ezekiel mengulurkan tangannya hendak membantu Ben untuk berdiri.


Ben memegang kepalanya yang sakit membentur lantai. Sebuah memori perlahan-lahan membuka alam pikirannya. Wajah papa, mama dan kedua saudaranya. Wajah teman-temannya dan sepupunya Edward. Lalu ia menatap Faith yang berdiri di sampingnya. Matanya menatap semua yang ada di ruangan itu. Ben mencari seseorang.


Ia ingat pertemuannya dengan Maura, hari pernikahan, pertengkaran karena foto itu serta kepergiannya ke New York.


"Ben, kamu baik-baik saja?" tanya Mira khawatir.


"Mana Maura?" tanya Ben sambil berdiri.


"Maura tidak datang, Ben. Dia ada di apartemenmu" jawab Rachel.


"Aku harus mencarinya!" Ben melangkah.


"Ben, kamu kenapa?" Ezekiel menahan tangan Ben.


"Aku ingat semuanya. Dan aku ingin mencari Maura." kata Ben dan setengah berlari dia meninggalkan ruangan itu.


Mira tersenyum bahagia. Ia senang Ben telah menemukan ingatannya. Tangannya perlahan membelai perutnya.


Kita akan baik-baik saja, sayang...

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACANYA


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


__ADS_2