My Best Photo

My Best Photo
Perhatian


__ADS_3

Malam ini, Maura selesai latihan saat jam sudah menunjukan pukul 11 malam.


Seperti biasa, Ben sudah menungguhnya di depan gang.


Maura langsung masuk ke dalam mobil Ben. Ia benar-benar sangat lelah.


"Sudah makan?" tanya Ben saat ia mulai menjalankan mobilnya.


"Sudah. Tadi Alan menyiapkan makan malam." Maura memejamkan matanya. Ia bahkan tertidur saat mereka sudah tiba di apartemen.


Ben langsung mengangkat tubuh Maura memasuki apartemennya. Ia bahkan sangat hati-hati agar kepala istrinya tidak terbentur didinding atau pintu.


Sesampai di kamar, Ben dengan hati-hati meletakan tubuh Maura di atas tempat tidur. Ia membuka sepatu Maura dan terkejut melihat kaki Maura sedikit lecet dan agak membengkak.


Ia pasti kelelahan dan sangat lelah. Kakinya harus dikompres, pikir Ben dan segera ke lantai bawah untuk menyiapkan air hangat.


Maura bangun dan menemukan dirinya sudah tertidur di atas kasur.


Astaga, aku pasti digendongnya. Sungguh memalukan. Aku pasti tidur sambil mendengkur karena kelelahan.


Pintu kamar terbuka. Ia melihat Ben masuk sambil membawa sebuah loyang.


"Kau sudah bangun?" tanya Ben sambil meletakan loyang itu di lantai.


"Ma, ayo rendam kakimu. Kalau tidak direndam, besok kamu pasti tidak bisa latihan dengan baik" kata Ben sambil duduk di tepi tempat tidur.


Entah mengapa Maura langsung menurut. Ia memang merasakan kalau kakinya sangat sakit. Ia pun duduk di samping Ben dan memasukan kedua kakinya ke dalam loyang.


Rasa hangat langsung menjalar ke kakinya.


"Eh...apa yang kamu lakukan?" tanya Maura saat Ben duduk di lantai dan mulai memijat kakinya.


"Memijat kakimu"


"Nggak perlu" Maura akan mengangkat kakinya namun Ben menahannya.


"Duduk dan diamlah.Aku hanya membantumu" kata Ben sedikit memerintah.


"Aku kan nggak memintamu" ketus Maura. Namun ia membiarkan kakinya dipijat oleh Ben didalam air hangat itu.


Jujur, pijatan Ben membuat kaki Maura merasa sangat rilex.


Selesai dipijat, Ben mengambil handuk kecil dan mengeringkan kaki Maura.


"Gantilah bajumu dan istirahatlah" Ben segera keluar kamar dan mengunci pintunya kembali.


Maura segera ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya sebentar lalu keluar lagi dan segera mengambil gaun tidurnya di lemari.


Maura awalnya sedikit geli memakai gaun tidur yang sudah disiapkan oleh Alicia Aslon untuknya. Namun karena ia tahu bahwa Ben tidak akan pernah tidur sekamar dengannya, Maura akhirnya memakai gaun tidur yang seksi itu.


"Maura....!" panggil Ben sambil membuka pintu.


Maura buru-buru naik ke atas tempat tidur dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Ada apa lagi?" tanya Maura dengan wajah sedikit merah karena Ben sempat melihatnya dengan gaun tidur yang seksi itu.


Ben tersenyum. Ia tahu apa yang menyebabkan Maura sedikit salah tingkah.


"Aku hanya membawakan susu untukmu. Kata mommy Iriana , kamu suka minum susu sebelum tidur" Ben meletakan segelas susu di atas nakas.


"Keluarlah, aku pasti akan meminumnya"


Ben mengangguk. Namun sampai di depan pintu ia berbalik dan menatap Maura yang memang masih menatapnya.


"Ma, kamu nggak usah malu begitu. Aku kan pernah melihatmu tanpa busana" kata Ben sedikit menggoda.


"Ben......!" Maura mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Ben. Namun Ben buru-buru keluar sehingga yang ada bantal itu hanya mengenai pintu.


"Dasar cowok gila...!" teriak Maura. Ia bangun dan mengambil gelas susu itu.


Maura bermaksud akan membuangnya namun bau susu itu sangat menggodanya. Ia tertarik mencobanya.


"Wah...susu ini sangat enak" guman Maura. Ia pun menghabiskan susu itu.


Selesai itu ia kembali ke atas tempat tidur. Maura memikirkan tentang perhatian Ben padanya. Mulai dari menyiapkan sarapan, mengantar dan menjemputnya latihan. Maura tak mengerti dengan hatinya yang selalu bergetar mendapat perhatian itu.


Namun Maura berusaha menepisnya. Ia yakin bahwa semua itu Ben lakukan untuk menaklukan hatinya. Dan Maura tak ingin jatuh pada pesona seorang play boy seperti Ben.


*******


Seperti biasa, pagi ini Ben sudah menyiapkan sarapan untuknya. Namun cowok itu tak terlihat di lantai bawa.


Apakah dia keluar? tanya Maura sambil melangkah ke meja makan. Ia menemukan catatan yang ditinggalkan Ben.

__ADS_1


selamat pagi, Ma.


Maaf tak menemanimu sarapan


Aku ada pemotretan di luar kota.


Mungkin pulangnya malam.


Jangan lupa minum vitaminmu ya...


Jangan pergi sendiri ke tempat latihan


Aku sudah meminta pak Leo, sopirnya


mommy untuk mengantar dan menjemputmu


hari ini.


Have a bless day, honey


Maura meletakan kertas itu dan langsung memakan sarapannya. Ia tak ingin terlambat ke tempat latihan.


Selesai mandi dan ganti pakaian, Maura langsung ketemu pak Leo begitu ia membuka pintu apartemen.


"Kenapa nggak mengetuk pintu?" tanya Maura saat pak Leo mengatakan bahwa sudah 1 jam ia ada di sana.


Lelaki paru baya itu tersenyum "Tuan Ben berpesan agar jangan menganggu nona. Saya pikir nona masih tidur."


Maura segera melangkah menuju lift dan diikuti oleh pak Leo.


"Pak nanti jemput saya sekitar jam 9 malam. Atau saya minta nomor hp bapak nanti kalau sudah selesai saya akan telepon bapak"


"Jangan nona. Saya akan berjaga di sini. Tuan berpesan agar saya menungguh nona sampai selesai latihan dan memastikan nona sampai di apartemen sampai dengan selamat."


Maura malas berdebat. Ia pikir kalau pak Leo pasti akan menuruti perintah Ben. Jadi ia pun segera masuk ke dalam gang menuju ke tempat latihan.


************


"Besok adalah hari perjuangan kita. Kalau besok kita berhasil, maka kita boleh lolos ke babak final. Aku harap kita semua bisa menampilkan yang terbaik" kata Alan.


"Yes..." teriak mereka kompak.


"Kita istirahat dulu makan siang"


"ini makananmu" kata Donald sambil menyerahkan sebuah kotak makanan.


"Terima kasih Donald"


Letty pun ikut duduk di samping Maura.


"Ra, dari kemarin aku ingin menanyakan sesuatu tetapi aku sering lupa untuk menanyakannya."Ucap Donald di sela-sele makannya.


"Ada apa?" tanya Maura santai sambil terus menguyah makanannya.


"Cincin itu adalah cincin pernikahan ya...."


Ruangan yang sedang sunyi karena semua sibuk dengan makanannya membuat apa yang ditanyakan oleh Donald hampir didengar oleh seluruh yang ada di sana. Alan yang mendengarpun langsung menatap Maura dengan tatapan ingin tahu.


Maura langsung tersedak. Wajahnya menjadi merah dan matanya mengeluarkan air mata.


"Ya ampun Ra....ayo minum" Letty memberikan sebuah botol air mineral.


"Donald, pertanyaan macam apa itu?" Letty memarahi Donald.


"Maaf, aku kan hanya bertanya karena selama ini Maura kan tidak pernah menggunakan cincin. Dan cincin yang ia pakai sekarang bentuknya seperti cincin pernikahan." Donald berkata dengan wajah polosnya.


Maura yang sudah tenang menatap semua temannya yang sedang menatapnya juga meminta penjelasan.


Ia menarik napas panjang. "Ya. Aku sudah menikah" ia akhirnya bicara.


"Dengan siapa, Ra? kamu selama ini tidak punya pacar lain selain Alan kan?" tanya Clief.


"Dengan Benecdik Aslon"


"Astaga dengan fotografer itu?"


"Ben kan? ya ampun dia salah satu cowok idola di kota ini"


"Dia anak bangsawan dari sutradara terkenal itu lho. Ibunya si alicia Aslon sang perancang terkenal itu kan?"


"Aduh beruntung sekali Maura bisa menikah dengannya"


"Aku memang membaca berita tentang pernikahan mewah itu. Memang sih wajah pengantinnya tidak terlalu jelas. Aku tak menyangkah kalau itu adalah Maura"

__ADS_1


Berbagai komentar muncul. Maura hanya tersenyum. Namun ia dapat melihat Alan yang nampak kecewa. Cowok itu bahkan tak menghabiskan makanannya dan memilih meninggalkan ruang latihan.


Maafkan aku, Alan, batin Maura. Ia merasa tak ada gunanya lagi menyimpan rahasia ini.


***********


Waktu istirahat siang agak panjang hari ini karena Alan diam di kamarnya cukup lama.


Namun saat latihan kembali, Maura melihat kalau Alan sudah kembali seperti biasa. Gadis itu pun merasa lega.


Saat mereka akan pulang, Kelly mendekatinya.


"Ra, bagaimana kau bisa menikah secepat itu?"


"Aku dijodohkan oleh papa. Tapi aku menerimanya dengan tangan terbuka. "


"Ben memang baik. Tapi dia itu seorang play boy, Ra"


"Yang nampak baik pun belum tentu setia"


"Ra, kamu menyindir aku dan Alan ya? Percayalah? Itu buka kesalahan Alan. Itu salahku"


Maura menepuk bahu Kelly" Sudah ku katakan kalau aku sudah memaafkan kalian. Bye..." Maura langsung meninggalkan markas.


Saat ia sudah diluar, ia memeriksa hp nya, ternyata sudah jam 10 malam.


Saat ia sampai diujung jalan, nampak mobil Ben ada di sana. Cowok itu bahkan menungguh Maura sambil berdiri di dekat mobilnya.


"Mana pak Leo?" tanya Maura saat mendekat.


"Kamu lebih suka dijemput pak Leo atau olehku?" tanya Ben dengan senyum menggodanya.


"Aku lebih suka naik motorku" jawab Maura sambil menyembunyikan senyumnya. Entah mengapa hatinya bergetar melihat senyum Ben.


Ben membuka pintu mobil dan mempersilahkan Maura masuk.


"Kerjamu sudah selesai?" tanya Maura setelah beberapa saat saling diam.


Ben senang karena Maura mau bertanya tentang pekerjaannya. " Belum. Aku sedang membuat foto praweding teman baikku. Dan dia ingin foto itu harus nampak sempurna. Karena pria yang akan dinikahinya adalah cinta pertamanya. Ia bahkan rela menungguh selama hampir 9 tahun sampai akhirnya pria itu mau menyatakan cinta padanya"


"Waw....kisah yang menarik"


"Aku rasa kisah kita lebih menarik"


Maura berusaha tak menanggapi. Ia tak mau jatuh dalam rayuan Ben.


"Kapan lombanya?"


"Besok malam"


"Apakah aku boleh datang?"


"Bukankah kamu sibuk?"


"Aku bisa membatalkan seluruh pekerjaanku hanya untuk menemanimu"


"Jangan gombal, Ben."


"Apakah untuk berbicara dengan istriku aku harus jadi pria yang pandai menggombal?"


"Datanglah jika kau suka" kata Maura tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.


Sesampai di apartemen, Maura pun langsung menuju kamar dan membersihkan dirinya. Saat ia membuka lemari pakaian untuk mengambil baju tidur, Ben mengetuk pintu.


"Masuk!"


Ben masuk sambil membawakan segelas susu. "Minumlah susu ini dan beristirahatlah. Besok akan menjadi hari yang melelahkan untukmu"


"Terima kasih, Ben"


Ben mengangguk, secara tiba-tiba ia mencium pipih Maura membuat gadis itu tersentak dan hanya menatap Ben tajam.


"Selamat malam, Ma" ucapnya sebelum pergi


Maura masih diam.


Saat Ben menutup pintu, Maura duduk di depan meja riasnya dan memandang wajahnya ke cermin.


Ini, gila....gumannya dalam hati saat melihat pipihnya yang merah.


#Makasih sudah baca ya...


#Komentar dan jempolnya jika suka...😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2