My Best Photo

My Best Photo
Tak Bisa Menolak


__ADS_3

Langkah Maura terhenti diujung tangga melihat Ben sedang berada di dapur. Ia bingung antara mau turun atau kembali saja ke kamar.


Apa yang terjadi semalam sangat memalukan menurut Maura.


"Good morning, honey..." sapa Ben melihat istrinya itu nampak melamun.


"Good morning" sapa Maura setelah berhasil menenangkan hatinya.


Sikap Ben nampak biasa. Ia seolah lupa sudah meninggalkan rasa yang hampir membuat Maura tenggelam dalam kabut gairah semalam.


"Mau sarapan? Aku buatkan roti bakar" kata Ben sambil menuangkan susu di gelas.


"Memangnya kamu sudah sehat?"


Ben mengangguk, menatap istrinya sambil tersenyum "Aku sudah sehat, Ma. Yang sakit adalah ade kecilku"


"Gracia sakit?" tanya Maura sedikit terkejut.


Ben menatap istrinya. Apakah dia terlampau polos atau pura-pura polos? Masakan istilah 'ade kecil' saja tidak tahu.


"Ade kecilku bukan Gracia."


"Memangnya kamu punya adik yang lain?" tanya Maura sambil menarik kursi di depan Ben dan duduk dengan manis.


"Ah...sudahlah" Ben mengacak rambutnya kacau. Ia pusing dengan kepolosan Maura pada hal dia besar di negara maju seperti ini.


Maura menatap Ben heran " Kamu kenapa, Ben?"


"Tidak, makanlah sarapanmu."


Maura menikmati sarapannya masih dengan tanda tanya. Tiba-tiba hp nya berbunyi.


"Hallo, Mom" sapa Maura membuat Ben yang sedang menikmati sarapannya juga menatap Maura.


"Apa kabar kalian di sana sayang?" tanya Alicia dari seberang.


"Kami baik-baik saja, Mom. Masih ada di Paris?"


"Ya sayang. 2 hari lagi baru bisa pulang. Makanya mom menelepon, bolehkah malam ini kau dan Ben tidur di rumah? Soalnya Gracia sedang sakit dan Daddy ada syuting di India"


"Oh...Gracia sakit? Tadi Ben memang bilang kalau ade kecilnya sakit, saat aku bilang Gracia Ben bilang bukan" Maura bicara sambil menatap Ben membuat cowok itu tersedak karena tak menyangkah kalau Maura akan mengatakan itu pada mamanya.


Terdengar suara Alicia yang tertawa "Maura, apa kau tak mengerti kalau yang dimaksud oleh Ben adalah itunya."


"Itunya apa?"


"Burungnya"


"Burung Ben? Memangnya Ben memelihara burung?" pertanyaan Maura membuat Ben semakin tersedak.


"Astaga menantuku ini benar-benar polos. yang dimaksud Ben adalah Kejantanannya"


"Apa?" Maura terkejut. Ia sungguh malu membicarakan ini dengan mertuanya.


"Sudahlah. Cepat kasih makan burungnya supaya mommy cepat dapat cucu. Jangan lupa lihat Gracia ya...bye..."


Maura meletakan hp nya dengan wajah merah padam. Ben yang baru selesai meneguk air putih sampai 2 gelas justru menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini ya....anak kecil saja pasti tahu apa itu ade kecil, burung, mengapa kamu justru seperti orang bodoh? Memalukan hal seperti itu justru kamu bilang ke mommy" kata Ben sedikit kesal.


"Mengapa juga dipikiran kamu hanya ada hal mesum? Aku memang sama sekali tak pernah tahu istilah-istilah seperti itu" seru Maura


"Terus mommy bilang apa?"

__ADS_1


"Aku harus memberi makan burungmu supaya mommy cepat dapat cucu" Ucap Maura cepat. Sedetik kemudian ia menyesal mengapa hal itu yang dikatakannya. Ben kini melangkah mendekatinya dengan senyum mematikan yang membuat jantung Maura berdetak sangat cepat.


"Eh...Ben maksud mommy, malam ini kita tidur di rumah karena Gracia sakit dan daddy sedang ada syuting di India" Maura buru-buru meralatnya.Tapi Ben kini sudah berdiri dibelakang tempat duduknya. Meletakan dagunya dibahu gadis itu sambil melingkarkan tangannya dileher Maura.


"Sekarang kau sudah tahu istilah-istilah itu kan?"bisik Ben persis ditelinga Maura. Perlahan ia mencium telinga Maura, lalu turun ke lehernya sementara tangannya sudah menyusup ke dalam kaos Maura yang agak longgar itu.


"Ben....." Maura ingin berdiri dan menghindar namun entah mengapa sensasi sentuhan bibir dan tangan Ben membuatnya tak berdaya.


"Ben....aku...." kalimat Maura terhenti saat tangan Ben semakin masuk ke dalam dan berbuat seenaknya disana sementara ciuman Ben terus berada dileher jenjang Maura yang memang bebas terekpos karena ia mengikat rambutnya.


"Mandilah....nanti kamu terlambat untuk latihan" kata Ben lalu segera berjalan menjauhi Maura.


Maura menarik napasnya. Sungguh hal seperti ini sangat menyiksanya. Dan bodohnya lagi, ia selalu tak bisa menolak.


Maura segera berlari, menaiki tangga dan langsung ke kamar. Ia merasa perlu untuk mendinginkan tubuhnya yang seolah ingin terus dijamah oleh Ben.


**********


Selesai mandi, Maura berdiri di depan wastafel yang ada kaca besar. Matanya langsung melotot melihat tanda merah dilehernya yang ada 2.


Sialan! Dia melakukan ini dan aku tidak menyadarinya? Dasar laki-laki mesum.


Maura pun segera turun ke bawa. Dilihatnya Ben juga sudah selesai mandi dan ganti pakaian.


"Kau ada latihan hari ini?" tanya Ben


"Iya. Tapi aku tadi sudah minta ijin pada Alan untuk bolos latihan hari ini. Aku mau menengok Gracia"


"Aku akan antar kau ke sana" Ben meraih kunci mobilnya. Keduanya meninggalkan apartemen bersama.


Maura yang baru pertama kali datang ke rumah Ben sangat kagum melihat arsitektur rumah bergaya Eropa kuno itu.


Seorang pembantu yang membukakan pintu segera


"Kak Ben? Kak Maura?" Gracia nampak senang melihat kedatangan mereka.


"Sakit apa kamu? Merepotkan orang saja datang ke sini" kata Ben dan langsung disambut wajah cemberut adiknya.


"Ben....!" Maura menatap Ben dengan mata bulatnya tanda tak suka.


"Jangan dengarkan kakakmu, Gracia" hibur Maura membuat Gracia langsung memeluk Maura yang memang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Kalian bicaralah. Aku mau ke studio sebentar.Nanti sore aku datang lagi." Pamit Ben. Ia mencium kepala adiknya lalu tanpa diduga mengecup bibir Maura dan segera pergi.


Dasar Ben kurangajar! Mengapa dia mencium aku didepan adiknya?


"Terima kasih menerima pernikahan ini kak Maura. Sebab mommy sangat stres jika kakakku itu tak menikah. Maklumlah dia kan seorang playboy. Tapi kamu jangan khawatir, Ben pasti akan setia padamu. Aku tahu kak Maura pasti bisa merubahnya" Kata Gracia dengan wajah penuh keyakinan. Ia lalu membaringkan tubuhnya lagi.


"Kepalaku agak sakit. Mungkin karena aku jarang tidur karena belajar banyak untuk bisa masuk ke Oxford university." Gracia menjelaskan tanpa diminta.


"Kau mau aku pijat?"


Gracia mengangguk.


Maura pun memposisikan dirinya untuk bisa nyaman memijat kepala dan dahi Gracia.


"Pijatanmu sangat enak kakak ipar, aku jadi mengantuk"


Gracia pun akhirnya tertidur. Maura memilih ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang.


"Jangan nyonya...biarkan kami saja yang mengerjakannya" kata Londra, perempuan berusia 50 tahun yang menjadi kepala pelayan di rumah ini.


"Aku tidak tahu masak. Jadi biarkan aku belajar" pinta Maura.

__ADS_1


Para pelayan pun akhirnya tak bisa menolak.


Selesai makan siang, dokter Albert datang memerika Gracia. Setelah minum obat yang dokter berikan, Gracia kembali tertidur.


Ben pun datang.


"Apakah dia sudah tidur?" tanya Ben


"Iya. Baru saja"


"Ayo ke kamarku!" ajak Ben dan langsung menarik tangan Maura meninggalkan kamar Gracia.


Kamar Ben letaknya ada di paling ujung.


Saat pintu kamar terbuka, mata Maura langsung melihat pemandangan yang serba hitam putih.


"Ben, untuk apa kita ke sini?" tanya Maura sedikit was-was karena apa yang sudah 2 kali Ben lakukan padanya.


"Ini kan kamar kita. Aku mau tidur. sangat tidak menyenangkan tidur di atas sofa. Makanya aku mau melepas kepenatan dengan tidur di kasur empuk ini. Kamu temani aku ya?" rengek Ben sambil membaringkan tubuhnya.


"Bagaimana kalau Gracia mencari kita?"


"Dia tahu kemana harus mencari kita"


Maura duduk ditepi tempat tidur. Memandang Ben yang nampaknya sedang menikmati tidur di kamar ini.


Kasihan, pasti dia tersiksa tidur di sofa itu, batin Maura sedih.


Ia bersandar di kepala ranjang sambil memainkan hpnya. Tak lama kemudian, ia pun ikut tertidur.


*********


Selesai makan malam, Gracia merengek minta ditemani tidur. Tentu saja Maura senang karena itu berarti dia bisa terhindar dari tatapan Ben yang memabukan itu.


Namun saat tengah malam, Maura merasakan kalau ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Ia segera membalikan tubuhnya.


"Ben apa yang kamu lakukan di sini?"


"Diamlah, nanti Gracia bangun. Aku hanya nggak bisa tidur, makanya datang ke sini." Kata Ben pelan. Tangannya yang memeluk pinggang Maura segera menarik gadis itu agar semakin dekat padanya.


"Ben, kamu mau apa?"


"Jangan berisik" Ben langsung memungut bibir tipis Maura, melumatnya perlahan sementara tangannya sudah menjalar kemana-mana.


"Ben...." Maura berusaha bersuara saat ciuman itu berhenti namun Ben tak memberinya kesempatan karena mulut Ben kembali membungkam bibirnya.


Setelah ciuman itu berhenti, Maura langsung membelakangi Ben.


"Tidurlah dan jangan macam-macam" kata Ben sambil kembali memeluk Maura.


Memangnya siapa yang macam-macam? Bukankah tanganmu itu yang masih asyik menyentuh dadaku? Hei....Ben, apakah tanganmu tak bisa diam?


Maura berusaha menurunkan tangan Ben yang masih mengelus dadanya. Namun setiap kali Maura menurunkannya, Ben kembali menaikannya.


Dan maura tak bisa berteriak atau memukul Ben dengan jurus bela dirinya karena ia tak mau membangunkan Gracia yang nampak sudah tidur enak.


"Aku akan membunuhmu besok pagi, Ben" kata Maura sedikit berbisik.


"Aku menungguhnya dengan senang hati" ucap Ben dengan tangan yang masih ada di dada Maura.


#makasi sudah baca part ini


#JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE NYA

__ADS_1


😀😀😀😀😀😍😍🤩🤩🤩


__ADS_2