
Tangan Ben bergetar menekan tombol angka-angka dilayar digital pintu masuk apartemennya. Ia bahkan harus dua kali memasukan nomor sandinya karena sangat gugup.
"Maura...!" panggilnya ketika pintu terbuka.
Di lantai satu tak ada Maura. Ben berlari menaiki tangga. Ia langsung menuju ke kamar dan membuka pintunya dengan cepat.
"Sayang...!" panggilnya sekali lagi.
Kamar kosong. Ben menuju ke kamar mandi. Di bukanya pintu itu dan ternyata Maura pun tak ada.
Ben mencari hp nya. Namun ternyata ia tak membawa hp.
"Sial...!" umpatnya kesal. Ia mendekati meja tempat telpon rumah berada. Dengan tak sabar ia menekan nomor hp Maura.
Terdengar suara lagu nada sambung dari hp Maura. Lagu Arnold Manola yang berjudul forever.
Kepala Ben bergerak mencari sumber bunyi itu dan dia melihat kalau hp Maura ternyata ada di atas meja rias.
Ben mendekat, meraih hp itu dan matanya menemukan dua buah koper yang terletak di samping meja rias itu.
Dada Ben langsung berdetak kencang. Ia membungkuk dan membuka satu koper. Penuh dengan baju Maura dan ada beberapa dokumen pentingnya dan ijasah-ijasahnya.
Ya Tuhan, apakah Maura akan pergi? Jangan-jangan dia akan pulang ke Indonesia? Dasar gadis keras kepala. Selalu diselesaikan dengan melarikan diri.
Ben mengunci kembali koper itu dan mendorongnya masuk ke dalam walk in closet.
Ia kemudian berdiri menatap ke arah jendela. Mencoba mencari tahu kemana Maura pergi. Ia kemudian tersenyum.
Aku tahu. Ia pasti ke sungai Thames.
***************
Malam di sungai Thames masih seperti 2 tahun yang lalu. Ketika Maura berdiri di tempat yang sama dan ia berjumpa Ben untuk yang pertama kalinya.
Maura menatap arlojinya. Sudah hampir jam 11 malam. Pesawatnya baru akan berangkat jam 5 subuh. Jadi dia masih punya banyak waktu untuk menikmati malam terakhirnya di London, di tempat yang paling ia sukai.
Angin malam yang berhembus dingin menerbangkan rambut panjang indahnya. Ia mengenakan celana jeans, kaos putih yang disusun dengan jaket jeansnya.
Maura sudah mengambil keputusan, menjauh dari Ben adalah jalan terbaik baginya. Ia tak mau egois. Mira sedang hamil. Dia punya hak bersama Ben. Maura tak mau memisahkan Ben dengan anaknya. Cinta memang tak selamanya harus memiliki. Maura yakin kota Medan dan semua teman-temannya akan membuatnya melupakan Ben.
"Ma....!"
Deg
Mengapa ia seperti mendengar suara Ben yang memanggilnya? Bukankah hanya Ben yang memanggil nama depannya?
"Ma...!"
Air mata Maura mengalir. Ia merasa seperti orang gila karena mendengar namanya dipanggil dua kali.
Sebuah tangan kokoh memeluk pinggangnya dari belakang.
Tubuh Maura menjadi tegang. Ia kenal dengan cara pelukan seperti ini. Ia juga kenal dengan harum maskulin ini.
"Aku merindukanmu!" suara lembut dengan bisikan tepat diujung telinganya membuat Maura memejamkan matanya.
Seandainya ini hanya mimpi, maka biarlah Maura sesaat menikmatinya. Biarlah Maura merasakan hangatnya. Karena pelukan ini sangat menyejukan hatinya. Pelukan ini sangat membahagiakan jiwanya.
Ben melonggarkan pelukannya, membuat Maura tak rela, ia membalikan badannya dengan cepat.
Tatapan mereka bertemu. Maura menatap wajah Ben. Wajahnya langsung tersenyum melihat tatapan mata yang selama ini ia cari. Tatapan mata yang sangat melumpuhkan pertahanannya.
"Ben....kau kembali?" tanya Maura sambil menangkup kedua pipi Ben. Perasaannya bergemuru, antara percaya dan tidak percaya.
Ben mengangguk. Lalu meraih kedua tangan Maura, menciumnya secara bergantian. Lalu ia melingkarkan tangan Maura dipinggangnya.
__ADS_1
"Aku selalu menghingdar mengatakan cinta karena bagiku cinta itu sesuatu yang cukup dirasakan tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Aku tahu selama ini kau begitu ragu padaku karena aku tak pernah mengungkapkannya. Makanya sekarang aku ingin mengatakan padamu dengan seluruh perasaan yang ku milki untukmu." Ben berhenti sejenak. Matanya pria itu sedikit berkaca-kaca. Tangannya kembali menangkup kedua pipi Maura, agar mata mereka saling berhadapan secara dekat.
"Aku mencintaimu Maura Belinda Aslon dengan segenap hatiku. Karena kau adalah seluruh napasku, kau adalah hidupku dan aku tak menginginkan wanita cantik manapun juga karena kau sudah menyempurnakan hidupku" kata Ben dengan suara yang bergetar. Pandangan Ben menjadi kabur karena air matanya sudah tak terbendung.
Perasaan Maura bagaikan melayang sangat tinggi. Ia memang sudah mendengar ungkapan cinta Ben saat pameran foto itu. Tapi ini adalah pernyataan langsung di depannya. Maura tak dapat menyimpan rasa bahagianya. Inilah yang paling ia nantikan. Tak ada lagi keraguan karena Ben memang mencintainya.
Maura pun tak dapat menahan dirinya lagi. Ia menghamburkan diri dalam pelukan Ben.
"Aku mencintaimu juga Benecdik Jeremia Aslon. Terima kasih sudah kembali padaku" kata Maura diantara isak tangisnya.
Ben semakin mengeratkan pelukannya "Ya Tuhan, terima kasih telah menjadikan Maura istriku."
Untuk sesaat keduanya larut dalam kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan lewat pelukan hangat. Sampai akhirnya pelukan itu perlahan terlepas. Keduanya saling berpandangan lagi.
"I love you, Ben!" kata Maura dengan pipi yang merona
"I love you too, honey!" kata Ben.
Keduanya tersenyum bersama. Ben menunduk, memungut bibir Maura dengan lembut. Menyesapnya dengan pelan seakan ingin merasakan hangatnya bibir itu dengan sangat hati-hati.
Maura membalas ciuman itu dengan rasa yang sama. Hatinya sangat bahagia.
Cahaya bulan yang menari di atas air sungai Thames seolah menjadi saksi indahnya perasaan cinta yang saling memiliki.
************
Penjaga apartemen tersenyum melihat pasangan yang saling jatuh cinta itu. Keduanya melangkah sambil bergandengan tangan dan sesekali saling melempar pandangan penuh cinta dengan tatapan bahagia.
"Selamat malam tuan dan nyonya Aslon!" sapa penjaga apartemen itu.
Ben dan Maura membalas sapaan itu secara bersamaan "Selamat malam, pak"
Lalu keduanya memasuki lift dengan pegangan tangan yang tak pernah lepas.
Saat pintu apartemen terbuka. Maura melepaskan pegangan tangannya. Ia melangkah lebih dulu ke dapur dan mengambil kue tart yang ada di atas meja. Menyalahkan lilinnya kembali dan mendekati Ben.
Ben tersenyum. Ia memejamkan matanya "Tuhan, jangan pisahkan aku dan Maura lagi karena bersamanya aku bahagia. Amin"
Ben membuka matanya kemudian meniup lilin itu dengan hati yang semakin berbunga-bunga. "Terima kasih sayangku"
Maura meletakan kue tart itu kembali ke atas meja. Ia mendekati Ben "Kau mau istirahat?"
Ben tersenyum dengan kerlingan mata yang begitu menggoda. "Apakah kau ingin aku hanya tidur saja malam ini?"
Wajah Maura langsung bersemu merah. "Ben....!"
Ben membelai wajah istrinya "Aku punya banyak hutang padamu. Selama 4 bulan lebih kita terpisah karena aku meninggalkanmu. Sebentar ya aku hitung dulu." Ben mengangkat jarinya dengan mulut yang berkomat kamit kurang jelas.
" 131 hari aku pergi meninggalkanmu. Apa kau mau aku mencicilnya malam ini?"
"Kau sudah mengurangi hukumanmu 1 kali saat kau datang di malam itu dengan keadaan basah kuyup" kata Maura sambil memundurkan tubuhnya melihat seringai penuh hasrat dari tatapan mata suaminya.
"Ya. Aku ingat namun itu tak masuk hitungan karena hari itu aku masih amnesia" ujar Ben sambil terus melangkah mendekati Maura, membuat gerakan Maura terhenti karena punggungnya sudah menyentuh dinding.
"131 hari itu tidak usah kau bayar. Aku menganggapnya lunas." kata Maura dengan sedikit gemetar. Napas Ben sudah menyentuh kulit wajahnya.
"Kalau begitu...berarti kau yang punya hutang padaku." ujar Ben dengan senyum nakal. Ia mengambil kedua tangan Maura dan melipatnya kebelakang.
"Curang Ben...kan kamu yang meninggalkan aku..." Maura menahan tawa
"Untuk malam ini, kita tidak akan saling membayar hutang karena aku akan memintah hadiah ulang tahun" kata Ben lembut dan langsung menunduk mencium kembali bibir istrinya dengan lembut namun penuh dengan hasrat untuk segera dituntaskan.
************
Mata Maura yang masih sangat mengantuk terpaksa dibukanya perlahan mendengar suara ponselnya yang terus berbunyi.
__ADS_1
Dengan perlahan ia melepaskan tangan Ben yang sedang melingkar di pinggangnya dan turun dari atas ranjang. Ia meraih kaosnya dari lantai dan mengenakan kembali begitu juga dengan cd nya.
"Hallo mommy...!" sapa Maura saat melihat Iriana yang menghubunginya.
"Sayang, kamu baru bangun tidur? Ini sudah jam 4 lewat. Daddy dan mommy sudah di bandara" terdengar suara Iriana sedikit terkejut karena tahu bahwa Maura baru saja bangun dari caranya berbicara.
"Maaf mommy, aku lupa mengatakannya. Ben ada di sini. Semalam dia datang menemuiku. Ingatannya sudah kembali"
"Ya Tuhan..jadi kalian sudah bersama lagi? Syukurlah. Kalau begitu kami saja yang pergi ke Medan. Kalian bersenang-senanglah"
"Terima kasih mommy. Tolong sampaikan peluk hangatku untul tulang dan nantulang" ujar Maura.
"Ok sayang. Bye..."
Maura meletakan kembali hp nya. Seharusnya ia memang berangkat subuh ini ke Medan bersama dengan keluarganya. Gerry bahkan begitu bersemangat untuk pergi karena ini perjalanan pertamanya ke Indonesia. Maura sudah bisa membayangkan wajah kecewa adiknya itu saat tahu bahwa ia tak jadi pergi.
"Sayang....!" panggil Ben saat merasakan kalau di atas tempat tidur itu hanya ada dirinya sendiri.
Maura mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ben sendiri sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang. Nampak jelas kalau wajahnya masih mengantuk.
"Mommy Iriana menelepon. Mereka sudah dibandara dan sedang menungguhku."
Mata mengantuk Ben langsung terbuka lebar "Kamu akan pergi? Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan aku lagi!" kata Ben tegas lalu segera menarik tubuh Maura dan mendekapnya erat.
"Ben, aku tidak akan pergi. Aku sudah mengatakannya pada mereka."
Ben melepaskan pelukannya. Tangannya membelai wajah Maura dengan lembut "Kita dapat menyusul mereka 2 hari lagi. Setidaknya biarkan kita saling melepas rindu dulu baru kemudian kita terbang ke Indonesiamu"
"Benarkah? Terima kasih Ben..!" Maura mencium pipi Ben beberapa kali dengan perasaan gembira.
"Sudah, sekarang ayolah naik ke atas ranjang"
Maura mengangguk. Ia menaikan kakinya namun Ben tiba-tiba menahan tangannya.
"Eh...tungguh!"
Maura menatap Ben heran "Ada apa?"
"Siapa yang menyuruhmu untuk memakai lagi pakaianmu? Ayo cepat buka !"
Maura terkejut. Ia secara spontan bergerak mundur saat tangan Ben sudah terulur untuk melepaskan kaosnya.
"Dasar bule gila...!" pekik Maura saat kaosnya sudah dilemparkan Ben ke lantai. Keduanya tertawa bersama di saat matahari belum juga menampakan dirinya.
***********
"Sayang, kau mau ke mana?" tanya Maura ketika melihat Ben menuruni tangga dengan pakaian yang rapih.
"Aku mau ke mansion. Di sana ada Mira" kata Ben.
Jantung Maura seakan berhenti berdetak. Ia terlalu bahagia sampai melupakan tentang Mira.
"Kau mengingatnya, Ben?"
"Tentu saja. Dengan kembalinya ingatan masa laluku tak membuat aku melupakan beberapa bulan kebersamaanku dengannya"
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Maura dengan dada yang terasa sesak.
"Dia sedang hamil, Maura. Aku tak mungkin membiarkannya"
Air mata Maura pun jatuh. Ia juga hampir lupa kalau Mira sedang hamil.
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENT DAN VOTE
__ADS_1
DI LARANG KOMENTAR PEDAS PADA BEN YA...
☺☺☺☺☺