My Best Photo

My Best Photo
Dihianati???


__ADS_3

Maura kini punya pekerjaan baru sebagai seorang penata panggung. Selama 1 minggu ia berhasil membentuk tim kerja. Ben membantunya dengan memberikan salah satu ruangan di studionya sebagai kantor Maura.


Ben ingin berdekatan terus dengan Maura..


"Anakku, jangan terlalu capeh ya? Supaya kamu cepat hamil. Jangan lupa meminum vitamin yang mommy kirimkan padamu. Bye..." Alicia mengahiri percakapan videocall nya dengan menantunya itu.


Maura meletakan hp nya di atas meja, lalu memegang perutnya. Ada perasaan sedih saat ia mengingat bahwa pernah ada anaknya di sana namun kini sudah tak ada.


"Honey...!" Ben masuk ke ruangannya.


"Ben...!"


Ben menatap wajah sedih istrinya "Ada apa?"


Maura menggeleng. Berusaha tersenyum.


"Jangan bohong!" Ben mendekat lalu bersandar di meja kerja istrinya dan menatap Maura dengan begitu dekat.


"Mommy tadi menelepon menanyakan persiapanku dengan proyek temannya. Ia juga mengingatkanku untuk tidak terlalu capeh dan meminum vitamin yang dia kirim supaya aku bisa cepat hamil"


"Lalu, apa yang salah?"


"Ben, kita sudah hampir setahun menikah. Tapi aku belum juga hamil. Rachel bahkan sudah melahirkan seorang bayi minggu yang lalu"


Ben menarik tangan Maura agar berdiri lalu melingkarkan tangannya dipinggang Maura.


"Apakah, aku pernah memaksa agar dirimu cepat hamil? Tidak kan? Kita dulu pernah hampir diberikan anak namun Tuhan berkehendak lain. Aku yakin akan mendapatkannya lagi. Apakah dalam waktu dekat ini, ataukah nanti beberapa tahun lagi. Jadi jangan terlalu bersedih. Mari kita nikmati saat-saat berdua ini dengan penuh rasa bahagia." Ben menempelkan dahinya ke dahi Maura.


"Jangan terlalu terbeban untuk memiliki anak" ucap Ben lalu menggesekan hidungnya dengan hidung Maura.


"Ben, nanti ada yang melihat kita"


"Biar saja. Aku kan suamimu."


Maura mencubit pinggang Ben. Suaminya meringis namun ia tetap mencuri satu ciuman dari bibir istrinya.


Ben melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi dan menarik Maura agar duduk di pangkuannya.


"Sayang, lusa aku ada pemotretan di luar kota selama 2 hari. Kamu mau ikut?"


"Ben, 2 hari lagi panggungku harus siap dipakai, jadi aku tak bisa ikut"


Ben menyandarkan kepalanya di punggung Maura


"Aku akan kesepian jika kamu tak ikut"


"Hanya dua hari, Ben"


"Aku bahkan tak bisa tidur nyenyak tanpa memelukmu"


"Aku pastikan jika kamu pulang, akan ku tebus dua malam itu dengan pelayanan extra"


Bola mata Ben membesar. Ia memegang dagu istrinya agar bisa menatap wajahnya.


"Kau semakin hebat sekarang ya..."


Maura tertawa lalu mencium dahi Ben dengan wajah agak merona"Siapa dulu yang menjadi gurunya" bisiknya sengaja dibuat sensual untuk menggoda suaminya.


"Kalau begitu, bisa dicicil siang ini di ruanganku" Ben mendorong Maura untuk turun dari pangkuannya lalu ia berdiri dan menarik tangan istrinya.


Maura menghentikan langkahnya "Sayang....apakah kamu lupa kalau aku masih datang bulan?"


Ben mendengus kesal. Ditatapnya wajah Maura dengan gemas "Aku pergi saja. Bisa mati aku menahan hasratku jika terus berada di dekatmu"


Maura masih tertawa melihat suaminya yang melangkah pergi dengan bibir yang mengkerucut.

__ADS_1


Walaupun Ben belum pernah menyatakan perasaan cintanya pada Maura namun Maura menikmati rasa bahagia menjadi istri Ben. Karena Ben selalu tahu bagaimana membuat Maura merasa dihargai, disayangi dan selalu bisa menjadi suami yang siaga. Maura yakin, akan ada harinya pengakuan cinta itu akan dinyatakan oleh Ben walaupun sebenarnya tanpa diakuipun Maura sudah merasakannya.


*********


Perasaan senang dan bangga menghiasi wajah cantik Maura saat semuanya sudah selesai.


"Nyonya, apakah kami sudah boleh pulang?" tanya Steven, salah satu pegawainya.


"Kalau semuanya sudah dibereskan, kalian dapat pulang."


Steven mengangguk dan segera kembali ke atas panggung.


Hp Maura berbunyi. Ia tersenyum melihat panggilan Video call dari suaminya.


"Hallo sayang..." wajah ganteng Ben nampak lelah di kamar hotelnya.


"Hai....kamu nampak lelah." Maura langsung memperhatikan wajah suaminya itu.


"Ya. Kami bekerja dari pagi sampai malam. Ada beberapa kali pengambilan gambar di pantai. Hari ini kami ada di Whitstable Kent. Besok mau pindah ke pantai lain lagi"


"Jaga kesehatan ya sayang....jangan lupa minum vitamin dan tidur yang cukup"


Ben tersenyum sambil mengangguk. "Masih di hotel?"


"Ya. Acaranya sudah selesai. Aku baru saja akan pulang"


"Jangan naik motor ya?"


Maura tertawa "Sayang, aku terlanjur membawa motor"


Ben nampak sedikit kesal namun ia akhirnya tersenyum "Hati-hati saat pulang ya..."


"Iya sayang. Nanti kita sambung lagi di rumah ya...bye..." Maura memasukan lagi hp nya ke dalam tas. Lalu ia segera mengambil kunci motor dan helm nya yang dititip di ruangan penitipan.


Maura yang sudah naik ke atas motornya menoleh.


"Patrick?"


"Selamat ya...panggungnya sangat bagus"


"Kamu juga hadir di sini?"


"Hotel ini kan punya keluargaku"


"Oh....."


Patrick hanya tersenyum. "Boleh kita bicara sebentar?" tanya Patrick.


"Boleh." Maura turun lagi dari atas motornya. Lalu ia berdiri sambil bersandar pada motornya yang terparkir.


"Ben sedang ada pemotretan di luar kota kan?"


Maura mengangguk."Kamu tahu dari mana?"


"Karena model fotonya adalah kakakku. Dia adalah bintang iklan pakaian dalam dari merk yang mengontrak Ben sebagai fotografernya.


Jadi Patricia ada di sana dan berpose seksi dengan tubuh yang hampir telanjang? Kenapa Ben tidak mengatakan kepadaku? Apakah dia sengaja menyembunyikannya?


"Apa maksudmu mengatakan ini padaku?" tanya Maura sambil menatap Patrick curiga.


"Aku hanya mau membuka mata hatimu, Ra. Ben bukanlah lelaki yang baik untukmu. Dia selamanya akan menjadi playboy. Kalau dia sungguh-sungguh mencintaimu, bukankah dia akan memberitahukan segalanya?"


Maura berusaha untuk tak terpengaruh. Ia naik kembali ke atas motornya.


"Aku percaya pada suamiku"

__ADS_1


Patrick tersenyum miris "Kau akan menyesal jika terlalu percaya padanya"


Maura mengenakan helmnya "Terima kasih Patrick." lalu Maura menjalankan motornya.


Perkataan Patrick sangat mengusik hatinya. Membayangkan Ben membidikan kameranya pada tubuh Patricia membuat dada Maura sedikit sesak. Namun ia berusaha memahami bahwa itu memang sudah pekerjaan suaminya.


Sesampai di apartemen, Maura langsung membersihkan dirinya dan mengenakan gaun tidurnya. Tak lama kemudian hp nya berbunyi lagi dan Ben kembali menghubunginya.


Maura melambaikan tangannya "Hai sayang..."


Ben nampak sedang berdiri di balkon kamarnya. "Aku nggak bisa tidur. Pada hal rasanya sangat lelah."


"Kamu belum mandi mungkin..." ledek Maura.


"Memang benar. Aku jadi malas mandi di sini. Soalnya aku sudah terbiasa dimandikan oleh kamu" kata Ben dengan senyum menggodanya.


"Kamu bisa saja...!"


Ben memperhatikan ekspresi wajah istrinya "Apakah ada sesuatu yang salah?"


Maura menarik napas panjang. Ia memang tak bisa menyembunyikan apapun pada suaminya.


"Sayang...., kau sedang kesal?" tanya Ben.


"Ben, apakah model yang kau foto adalah Patricia Monde?"


"Iya"


"Mengapa kau tak mengatakannya padaku?"


"Sayang, aku juga baru tahu pas datang ke sini. Kontrakku dengan perusahaan pemilik brand baju dalam itu tidak menyebutkan siapa modelnya karena memang modelnya dicari oleh pihak perusahaan."


Wajah Maura masih saja cemberut. Ia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Kalau kau curiga aku akan macam-macam di sini, kau bisa datang ke sini besok. Aku tidak mau kau cemburu buta padaku. Itu sama artinya kau tidak percaya padaku" kata Ben dengan nada suara yang terdengar sedikit emosi.


"Maaf."


"Sayang, tidurlah malam ini dengan hati yang tenang. Aku juga mau tidur karena besok harus bangun pagi-pagi sekali untuk menemukan latar sunrise yang paling bagus"


"Baiklah. Have a nice dream honey..." Maura tersenyum. Keduanya saling memberikan ciuman jarak jauh, setelah itu Maura mematikan sambungan telepon.


Ia mencoba membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Namun bayangan wajah Patricia dengan bentuk tubuhnya yang sangat sempurna dalam pandangan Maura sungguh membuat rasa kantuknya hilang.


Patricia memiliki tinggi badan yang hampir sama dengan Ben. Kaki jenjangnya yang menopang tubuh sintalnya bak gitar spanyol dengan ukuran dada yang ideal. Belum lagi dengan kulitnya yang putih mulus.


Sangat berbanding terbalik dengan Maura yang tinggi badannya hanya sampai dibahu Ben. Kulitnya yang eksotis dan dadanya yang lebih kecil dibandingkan dengan punya Patricia.


Sepanjang malam Maura terus dilanda oleh rasa gelisah yang mendalam.


Apakah suamiku sungguh tak akan tergoda dengan penampilan Patricia yang mulus seperti boneka barbie? Apalagi Patricia akan berpose hanya menggunakan celana dalam dan bra.


Ya Tuhan, kenapa aku harus merasa sakit membayangkan semua ini?


Bukankah dulu Ben pernah menjadi pacar Patricia? Mereka pasti sudah sering making love. Ben pasti sudah merasakan semua yang ada di tubuh indah Patricia.


Apakah Ben tidak akan menghianatiku?


Maura memandang foto pernikahan mereka yang digantung tepat didepan ranjang. Ia menatap wajah tampan Ben. Senyumnya yang mematikan itu membuat Maura harus jujur mengakui tak ada gadis yang mampu menolak pesona sang fotografer itu.


*Hai teman-teman, sekarang kan sudah ada grup chat di mangatoon. Gambung yuk di gruo chat aku sambil kita akan membahas novel2ku yang kalian baca sekalian aku akan sampaikan di sana jika cerita tentang Arnold Manola serta cerita tentang Thomson Family sudah bisa kalian baca.


Makasi ya...atas kesediaannya membaca


jangan lupa like, koment, vote dan kasih bintang 5 ya...he....he*...

__ADS_1


__ADS_2