My Best Photo

My Best Photo
pengakuan


__ADS_3

Sudah 3 hari Maura kembali latihan. Kedatangannya disambut dengan sukacita oleh semua temannya. Maura memang sangat merindukan mereka.


Saat latihan, Maura yang beberapa kali harus berpelukan dengan Alan karena tuntutan gerakan dance yang sudah diatur berusaha untuk tidak melibatkan perasaannya. Sebab tatapan mata Alan masih penuh cinta untuknya.


Maura juga dapat merasakan tatapan mata Kelly yang sepertinya cemburu padanya namun berusaha ditekan oleh gadis itu.


"Ra, kita jalan-jalan setelah ini?" tanya Lety saat mereka berdua baru selesai mandi.


Maura melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam.


"Aku harus pulang, Lety. Aku nggak mau mencari perkara dengan papaku. Apalagi menjelang hari sialku"


"Hari sial?"


Maura menatap Lety "Aku akan menikah hari sabtu ini. Tapi kamu jangan bilang pada siapapun ya..." bisik Maura


Mulut Letty terbuka karena sangat kaget.


"Menikah? Menikah dengan siapa?"


"Aku nggak tahu. Ayahku menjodohkan aku dengan anak temannya Iriana. Katanya keluarga bangsawan"


Letty duduk dibangku beton yang ada di dekat kamar mandi. Ia menatap Maura.


"Ra, kamu akan menikah dan tak tahu siapa laki-laki itu? Apakah kamu sudah gila? Bagaimana jika dia bukan tipe lelaki yang kau inginkan? Apakah kamu sudah tidak mencintai Alan?"


"Alan sudah menghianatiku. Apapun alasannya, aku memang tidak akan pernah kompromi dengan yang namanya penghianat. Lagi pula pernikahan ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan warisan ibuku dan kembali ke Indonesia" Kata Maura tanpa ekspresi.


"Ra, pernikahan ibu bukan permainan."


"Aku yakin pria itu juga terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya. Pernikahan ini pasti tak akan berlangsung lama. kami akan bercerai dan aku akan bebas."


Letty menepuk bahu temannya. Ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran temannya. Sebagai teman ia hanya ingin mendukungnya.


"Kamu tidak mengundang kami untuk datang?"


"Aku akan pikirkan" Maura tersenyum. Lalu ia berdiri dan meninggalkan sahabatnya itu.


"Ra, kamu mau pulang?" Alan mencegah langkah Maura saat gadis itu melewati kamarnya.


"Iya"


"Kita makan malam sama-sama?"


"Maaf.Aku harus cepat pulang"


"Bagaimana kalau hari sabtu?"


"Aku juga tak bisa. Hari jumat dan Sabtu aku ijin tak latihan karena ada acara keluarga"


"Ra, mengapa kamu jadi sangat dingin padaku?" Alan menyentuh tangan Maura.


"Alan, bukankah sudah kukatakan bahwa kita hanya berteman?"


"Ra, aku sangat mencintaimu"


Maura menatap Alan. Ia tahu Alan sangat serius dengan perkataannya. Ingin rasanya ia memeluk Alan. Namun dia ingat dengan dirinya yang 3 hari lagi akan menikah.


"Maaf Alan. Memang kita lebih baik menjadi teman saja. Permisih!" Maura melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Alan lalu segera melangkah pergi.


Hari ini Maura tidak membawa motor karena cuaca hujan saat ia datang. Makanya gadis itu pulang dengan taxi.

__ADS_1


Saat taxi berhenti di depan gerbang rumahnya, ia terkejut melihat sebuah mobil sport putih terparkir diseberang jalan. Di depan mobil nampak Ben sedang bersandar.


" Ben, apa yang kamu lakukan disini?"


Ben menoleh sambil tersenyum "Aku menungguhmu."


"Ada urusan apa?"


"Bolehkah kita masuk ke dalam mobil dan pergi ke suatu tempat yang sepi untuk bicara?"


"Aku nggak bisa, Ben. Sudah ku katakan kalau aku akan menikah."


"Aku tahu, makanya sebelum kau menikah, aku harus mengatakan ini padamu. Mengenai malam disaat kau diberikan obat perangsang"


Deg! jantung Maura seakan berhenti berdetak. Ia sepertinya sudah melupakan peristiwa itu.


"Kau harus tahu yang sebenarnya"


Maura diam sejenak, lalu ia akhirnya mengangguk.


"Aku harap kita tak akan lama karena papaku akan marah jika aku pulang larut"


"Dia pasti tak akan marah" Ben membuka pintu mobil bagi Maura. Sebelum ia pergi, ia mengirimkan sms pada seseorang.


Selamat malam tante Iriana


Aku sedang bersama Maura.


Mungkin agak larut baru pulang


Iriana membalas :


Ben tersenyum lalu segera menjalankan mobilnya.


Di dalam mansion, Gerald menatap istrinya "Siapa yang sms?"


"Ben. Calon menantu kita. Dia meminta ijin untuk pulang agak larut. Ia bersama Maura"


"Apakah Maura sudah tahu siapa Ben?"


Iriana menggeleng."Pernikahan ini sedikit aneh karena Maura juga tak pernah menanyakan siapa nama pria yang akan dinikahinya"


"Setidaknya dia akan bebas dari lelaki bernama Alan itu. Dia mafia"


Iriana hanya mengangguk.


**********


Mobil Ben berhenti disebuah daerah perbukitan. Dari sini mereka bisa melihat kota London.


"Ah....ini sangat indah. Sudah lama aku tinggal di London namun tak tahu ada tempat yang bagus seperti ini." kata Maura begitu turun dari mobil.


"Ini adalah salah satu tempat faforitku" Ben duduk di bangku beton. Dia meminta Maura untuk duduk di sampingnya.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Maura setelah beberapa menit mereka saling diam.


"Aku tak pernah tidur denganmu. Jadi kau masih perawan"


Maura menoleh dengan kaget. "Bagaimana mungkin? Aku sudah tak menggunakan baju saat bangun. Aku baca di salah satu artikel bahwa pengaruh obat peransang lama hilangnya. Dapat menyebabkan kematian jika diberikan dengan dosis yang berlebihan."


"Memangnya kamu belum pernah berhubungan intim dengan laki-laki lain?"

__ADS_1


"Tentu saja belum."


"Berarti suamimu nanti akan bahagia karena kau menjadi yang pertama baginya"


"Dengan cara apa kau menuntaskan hasratku?" tanya Maura tak memperdulikan perkataan Ben sebelumnya. Ia begitu penasaran sehingga menatap Ben tanpa berkedip.


Ben tersenyum sambil membalas tatapan Maura dengan sikap menggoda"Kau mau mendengarnya?"


"Ya....." jawab Maura walaupun dengan wajah yang memerah.


"Aku membuka bajumu dan memasukanmu ke dalam bak mandi. Menciummu, ya...menyentuh bebarapa bagian tubuhmu. Dan....seperti itulah aku memuaskan hasratmu"


"Maksudnya kamu sama sekali tak memasukan...." kalimat Maura terhenti. Ia agak bingung mau menyebut apa untuk menggambarkan kejantanan Ben.


"Ya. Aku tak memasukimu sama sekali. Tidak ada making love. Aku memuaskanmu dengan cara yang lain"


"Cara seperti apa?" Maura nampak semakin penasaran.


"Kamu benar-benar polos. Nantilah kalau kamu sudah menikah, kamu juga akan tahu." Ben memutusan untuk tak mengatakannya karena ia sendiri merasa malu untuk merincihkan apa saja yang sudah ia lakukan untuk memuaskan Maura saat itu. Karena jika mengingat hal itu, reputasinya sebagai play boy kelas dunia pasti akan hancur. Meraka akan tahu bahwa dia adalah laki-laki terbodoh yang membiarkan dirinya sangat tersiksa demi memuaskan Maura.


Maura mendengus kesal. Jelaslah dia harus tahu apa saja yang sudah playboy disampingnya ini lakukan pada tubuhnya. Tapi ia juga tak bisa memaksa. Ia bersyukur kalau dia masih perawan.


"Ayo kita pulang!" ajak Ben sambil meraih tangan Maura.


Kali ini Maura tak menepis tangan Ben yang menggengam tangannya.


Saat keduanya sudah berada di dekat mobil, Ben justru mengunci pergerakan Maura sehingga gadis itu hanya bisa bersandar pada pintu mobil.


Cup..


Satu kecupan lembut mendarat di dahi Maura. Membuat gadis itu tetap merasakan kalau seluruh tubuhnya bergetar.


Lalu tanpa bicara Ben membukakan pintu mobilnya, membimbing Maura untuk masuk. Lalu ia sendiri duduk dibelakang kemudi sambil menjalankan mobilnya perlahan. Keduanya saling diam sampai mereka tiba di depan rumah Maura.


"Kau tak ingin tahu?" tanya Ben.


"Apa?" tanya Maura sambil membuka sabuk pengamannya.


"Pria yang akan menikah denganmu. Sungguh kau tak ingin tahu? Bagaimana jika kau menyelesal saat mengetahui siapa dirinya?"


"Aku masih bisa membatalkan pernikahannya sebelum mengucapkan janji setia. Selamat malam, Ben. Terima kasih sudah menolongku tanpa merusak diriku" Maura segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke arah Ben.


Saat ia masuk ke dalam ruang tamu, ia terkejut tak menemukan papanya. Biasanya Gilbert akan menungguhnya dengan nasehat panjang yang mengingatkannya betapa tidak baik seorang gadis pulang larut malam.


Matanya menatap tumpukan undangan di atas meja makan. Saat ia memegangnya, ia tersenyum kecut mengetahui kalau itu adalah undangan pernikahannya.


BENECDIK JEREMIA ASLON


Oh....itu nama calon suamiku? Sepertinya aku pernah memdemgar nama Aslon ini. Tapi siapa? Apakah aku harus mencari tahunya sekarang?


Sementara itu di depan rumah Maura, Ben masih belum beranjak dengan mobilnya.


Apakah sebaiknya aku mengatakan kebenarannya?


Tanya hati Ben sambil terus memandang rumah itu.


#makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like dan komentarnya jika suka


😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2