
Sebuah sentuhan di wajah Maura membuat gadis itu menggeliat dan akhirnya bangun.
"Ben....?" Maura terkejut melihat Ben yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah waktunya makan malam. Ayo kita makan!" ajak Ben dengan lembut.
"Baiklah. Aku mau cuci muka dulu" Maura bangun. Ia heran mengapa bisa tidur siang sangat lama.
Mungkin karena suasana kamarnya yang membuat Maura merasa nyaman.
Saat ia turun ke bawa, Ben sudah menungguhnya di meja makan.
"Kau pesan makanan?" tanya Maura.
"Tidak. Aku memasaknya"
"Apa?" Maura nampak tak percaya.
"Silahkan lihat peralatan masaknya belum aku cuci. Selesai makan kamu yang harus mencucinya"
Maura kembali terkejut. Seumur hidup, Maura tidak pernah memasak apalagi membersihkan alat-alat masak. Ia baru sadar, baik mamanya maupun Iriana sangat memanjakannya.
"Ben, aku tak pernah cuci piring apalagi masak"
"Makanlah dulu!"
Maura menikmati makan malamnya dengan sangat lahap. Ia harus mengakui kalau masakan Ben sangat enak.
Saat ia selesai makan, ia membereskan meja. Di depan tempat cuci piring ia jadi bingung.
"Kau tinggal masukan saja ke dalam mesin pencuci piring sayang" Ben langsung mengambil alih pekerjaan melihat Maura nampak bingung.
Maura akhirnya mundur dan memperhatikan bagaimana Ben merapikan lagi dapur yang berantakan.
"Jam berapa besok kau akan latihan?" tanya Ben saat pekerjaannya selesai.
"Jam 10 pagi"
"Aku akan mengantarmu"
"Aku bisa pergi sendiri"
"Tadi joe menelepon. Ia sudah menemukan arti tato dari orang-orang yang menyerangmu waktu itu. Mereka adalah kelompok mafia yang sangat terkenal di London ini. Keberadaan mereka bahkan sangat sulit di selidiki oleh polisi."
"Oh ya? Jadi untuk apa mereka menyerangku?" tanya Maura bingung.
"Itu yang belum diketahui. Mungkin kamu pernah mengusik anggota mereka yang lain"
Maura diam sesaat. Apakah Alan ada dibalik semua ini? Bukankah papa selalu mengatakan kalau Alan adalah seorang mafia? guman Maura dalam hati.
"Sayang, kau ingat sesuatu?" tanya Ben lembut.
Maura menggeleng " Aku mau tidur. Dan berhentilah memanggil aku dengan sebutan sayang. Aku nggak suka mendengarnya"
"Baiklah, ma"
Langkah Maura terhenti. Ma? Bukankah itu justru panggilan sayang untuk mereka yang sudah menikah? Pa..Ma....Apalagi Ben selalu berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu"
"Kenapa? Teman-temanmu memanggil namamu dengan akhiran 'Ra' jadi aku ingin punya panggilan khusus bagimu. "
Maura tak menanggapi. Ia segera menaiki tangga dan meninggalkan Ben sendiri.
************
Ben menatap Maura yang sudah terlelap di kamarnya. Dia harus akui kalau gadis itu memiliki keunikan tersendiri.
Ia duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai wajah Maura dengan penuh kasih.
"Aku akan menjagamu. Kau sekarang istriku. Walaupun aku tak tahu apakah akan ada cinta diantara kita" kata Ben lalu meninggalkan kamar itu. Ia menuju ke ruang kerjanya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpaku pada foto yang tergantung di sana. Foto seorang perempuan yang duduk termenung.
__ADS_1
Ben bersyukur pernah mengenalnya. Karena perkenalan itu justru membuat Ben akhirnya mengenal apa itu jatuh cinta. Walaupun ia tak bisa memilikinya, ia merasa senang pernah mencintainya. Karena dengan perasaan itu, Ben mengakui kalau seorang Benecdik Aslon, bisa mencintai seorang wanita.
**********
Maura bangun pagi dan segera mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya ia langsung berteriak histeris dan membalikan tubuhnya melihat Ben sementara berpakaian.
"Ah....Ben...kau sangat menjijikan. Mengapa berpakaian di kamar ini?"
"Semua pakaianku ada di dalam lemari ini, Ma"
"Cepatlah keluar"
"Aku sudah selesai" kata Ben dan langsung meninggalkan kamar.
Maura menarik napas kesal. Ia segera membuka walk in closet dan masuk ke dalamnya.
"Bajunya bermerk semua." Maura kagum melihat semua pakaian Ben yang tertata rapih di sebalah kanan dan ia juga hampir kembali menjerit melihat dideretan sebelah kiri ada banyak baju dengan merk Aslon yang nampaknya masih baru.
"Apakah ini semua untukku? Wah.....beruntungnya memiliki ibu mertua seorang perancang." Maura pun mengenakan pakaiannya.
Begiru selesai, ia segera turun ke bawah.
Ben sudah menungguhnya di meja makan dengan menu sarapan yang sudah siap.
"Sarapanlah dulu supaya kamu kuat untuk latihan."
Maura tak menolak. ia pun segera menikmati makan pagi. Keduanya saling diam tak bicara apa-apa.
"Ayo kita berangkat" ajak Ben.
"Aku naik taxi saja. Nanti besok aku akan meminta papa untuk mengirimkan motorku ke sini. Aku tidak mau merepotkanmu"
"Kau adalah istriku. Apanya yang merepotkan? Ayo!" Ben tanpa diduga langsung menarik tangan Maura dan segera keluar dari apartemen.
Keduanya berangkat menggunakan Mobil sport milik Ben.
"Berhentilah di sini saja" kata Maura
"Mengapa tak sampai di depan gedung?"
"Baiklah. Jam berapa latihannya selesai?"
"Tergantung Alan. Biasanya jam 8 atau jam 9 malam."
"Telepon aku jika sudah selesai"
"Aku bisa sendiri"
"Please.....aku tak bisa tenang membiarkan kamu sendiri saat tahu kalau para Mafia itu yang mengejarmu. Aku tak ingin kamu celaka, Ma."
Maura membuka sabuk pengamannya "Akan kuusahakan" lalu ia segera turun dan masuk ke lorong.
Sambutan hangat didapatkan Maura saat ia masuk.
"Kami pikir kau tak akan datang lagi" kata Donald
"Aku hanya ijin ada acara keluarga" kata Maura lalu segera ke ruang ganti. Letty menyusulnya.
"Bagaimana pernikahanmu?" tanya Letty
"Berjalan dengan baik"
"Lalu siapa suamimu?"
"Benecdik Jeremia Aslon"
"What? Kamu nggak bercanda kan?" Letty terpana.
"Kamu mengenalnya?" giliran Maura yang terpana.
"Siapa yang tidak mengenal Ben? Dia yang jadi fotografer saat kita diwawancara kan? Astaga, Ra. Lelaki itu sangat digilai oleh para gadis di London ini. Kamu beruntung sekali menikahinya. "
__ADS_1
"Aku nggak merasa beruntung"
"Kenapa?"
"Sudahlah. Malas aku menceritakannya." Maura segera keluar diikuti Letty.
Latihan pun berlangsung seperti biasa. Setiap ada kesalahan, Alan meminta gerakan untuk diulang.
Mereka hanya berhenti selama 1 jam untuk makan siang lalu latihan dilanjutkan lagi.
"Lombanya tinggal seminggu lagi. Makanya aku minta kalian lebih serius lagi latihannya. Tak ada yang ijin lagi" kata Alan sebelum mengahiri latihan.
Maura segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Saat ia selesai, teman-temannya sudah pulang semua. Maura sedikit heran karena biasanya masih ada beberapa yang tinggal.
"Alan?" Maura terkejut melihat Alan masih berada di ruang latihan.
"Aku menunggumu"
"Ada apa?"
"Ra, tak dapatkah kita bersama lagi? 3 hari kau tidak datang latihan membuatku hampir gila merindukanmu" Alan berdiri di depan Maura dan menatap cewek itu dengan sejuta kerinduan yang ia miliki.
Maura memalingkan wajahnya. Ia tak bisa memandang wajah Alan. Sejujurnya ia masih memiliki rasa cinta untuk Alan.
"Alan, kita sudah membahas itu. Kita berteman saja" Maura membalikan badannya. "Aku mau pulang"
Alan tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Ra, maafkan aku....aku sungguh mencintaimu. Aku tak bisa tanpamu. Jangan biarkan aku seperti ini."
Maura merasakan pungguhnya basah. Alan menangis di sana.
Hati Maura tersentuh. Tangannya terangkat hendak menyentuh tangan Alan yang masih erat memeluk pinggangnya. Namun matanya tiba-tiba memandang cincin pernikahannya yang berkilau karena sinar lampu.
Gadis itu tiba-tiba menjauh. "Maaf Alan, aku tak bisa" Maura meraih tasnya dan segera berlari meninggalkan tempat itu.
Hatinya menjadi galau. Pelukan Alan sangat menyentuh hatinya. Ia tahu Alan pasti sangat menyesal dengan apa yang terjadi diantara ia dan Kelly.
Maura tahu ia sudah terikat walaupun tanpa melibatkan perasaan.
Saat ia tiba di depan gang, ia melihat mobil Ben sudah ada di sana. Tanpa di perintah, Maura segera membuka pintu mobilnya dan duduk di sebelah Ben.
"Ada apa?" tanya Ben melihat wajah kesal istrinya.
"Ingin pulang dan tidur. Aku capeh, Ben."
"Baiklah. Namun setidaknya kita makan dulu. Kamu mau kan?"
"Aku tidak lapar"
"Kita pergi ke restaurant Indonesia"
"Terserah"
Mereka pun menuju ke restaurant yang dimaksud. Awalnya Maura masih galau karena perkataan Alan padanya. Namun saat melihat semua makanan yang sudah disajikan di atas meja, selera makan Maura langsung terbuka.
"Makanlah pelan-pelan nanti kamu tersedak" kata Ben melihat Maura makan dengan lahapnya.
"Aku sudah lama tinggal di London namun tak pernah tahu tentang restaurant ini" kata Maura jujur.
"Itu karena kamu tak pernah mencintai kota ini, tak pernah mau mengenal kota ini. Yang kau sukai hanyalah diam di dekat sungainya"
Maura menatap Ben sekilas. Ya, apa yang dikatakab Ben memang benar. Maura selalu ingin lari dari London. Sehingga ia tak pernah mengenal bagian kota London yang lain.
Selesai makan, mereka pun kembali ke apartemen. Maura langsung naik ke atas. Meninggalkan Ben yang masih berdiri di depan tangga, menatap gadis itu menghilang dibalik tembok.
Perlahan Ben masuk ke ruang kerjanya. Ia membuka jaketnya dan melemparnya asal. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Di depan apartemen Ben, ada seorang pria mengawasi tempat itu. Ia lalu mengirim sms pada seseorang.
Mereka masuk ke apartemen ini bos
__ADS_1
Maura dan pria itu, Ben Aslon.
#jangan lupa komentar dan jempolnya ya....