My Best Photo

My Best Photo
Terluka


__ADS_3

Faith membersihkan luka ditangan Ben kemudian memberikan obat merah dan membungkus luka itu dengan perban.


"Ben, apakah tidak sebaiknya kita ke rumah sakit? Luka ini harus dijahit" tanya Faith.


Ben menggeleng. Masih jelas terlihat raut wajah yang sedih dan kecewa.


Pelayan yang dibawa Faith dari rumahnya sudah selesai membersihkan ruang apartemen Ben yang kotor dan mengaturnya kembali rapih.


Faith terkejut karena masih sangat pagi dan Ben sudah meneleponnya. Ia juga meminta Faith membawakan seorang pelayan. Faith pun datang tanpa membangunkan Ezekiel yang masih tidur.


"Kau sudah boleh pulang bersama sopir. Biar nanti saya pulang dengan tuan Ezekiel" kata Faith pada pelayan itu.


Beberapa menit yang lalu Ezekiel memang meneleponnya. Faith menceritakan keadaan Ben sambil mengirim kode untuk membuka pintu apartemen.


"Baik nyonya. Saya permisih" pelayan itu pun pergi.


Tangan Ben yang masih ada digenggaman Faith diusap perlahan oleh perempuan cantik itu.


"Ben, apakah kau mencintainya?" tanya Faith perlahan.


Ben menatap Faith dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Dulu, aku berpikir mencintai perempuan itu adalah sesuatu yang sulit. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Perasaan yang belum pernah aku rasakan pada perempuan manapun hadir saat aku bersamamu. Aku sudah menekannya sedemikian rupa namun rasa itu terus tumbuh. Sampai akhirnya Ezekiel dan kamu bersama kembali. Itu sangat menyakitkan bagiku."


"Namun, setelah aku menyumbangkan darahku kepadamu, rasa sakit itu berubah menjadi rasa sayang. Seperti rasa sayang terhadap saudara. Aku bahkan bahagia melihat kau dan Ezekiel bersama."


"Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Maura. Penolakannya, sikap pembangkangnya, penampilannya yang sedikit tomboy menjadi suatu obsesi untuk menjadikannya mililkku"


"Namun, dihari pernikahan kami, saat aku mengucapkan janji setia itu, aku tahu bahwa komitmen yang kuucapkan itu adalah pengakuan seumur hidup. Aku membuka hatiku untuk mencintainya, walaupun awalnya sangat sulit tapi aku sungguh jatuh cinta padanya. Rasa cinta itu tumbuh ketika kami bersama lagi setelah sempat berpisah karena Maura keguguran."


Ben berhenti sejenak. Memejamkan matanya sebentar sambil menarik napas panjang beberapa kali.


"Aku ingin cinta Maura kepadaku adalah sebuah keyakinan bahwa aku bukanlah Benecdik Aslon yang dikenal sebagai seorang playboy. Aku adalah Ben yang sungguh-sungguh mencintainya. Aku kecewa pada sikap Maura yang cemburu buta dan mudah diintimidasi oleh orang lain. Seharusnya dia bijak dalam menerima semua tudingan miring tentang aku"


Faith menepuk pundak Ben perlahan. "Apakah foto itu adalah sebuah kebenaran?"


"Ya. Itu memang fotoku bersama Patricia. Namun itu terjadi 3 tahun yang lalu. Sebelum aku mengenalmu. Maura sungguh telah dibutakan oleh rasa cemburu sampai ia tak bisa membandingkan foto baru dan yang lama. Rambutku saja agak lebih panjang di foto itu"


"Jelaskan padanya, Ben"


Ben menggeleng "Aku ingin Maura menjadi bijak sebagai istriku. Aku ingin dia belajar bahwa mencintai itu adalah mempercayai orang yang kita cintai"


Faith akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ben meletakan kepalanya dibahu Faith"Aku boleh pinjam bahumu sebentar?"

__ADS_1


Faith mengangguk. Ia bahkan membelai kepala Ben dengan lembut.


Pintu apartemen terbuka. Nampak Ezekiel masuk sambil membawa sebuah kantong plastik kecil.


Dengan matanya yang melotot ia bertanya mengapa Ben bisa ada dipundak istrinya. Ia nampak sudah rapih dengan baju kantornya.


Faith meletakan jari telunjuknya didepan mulutnya sebagai tanda supaya Ezekiel diam.


"ini obatnya. Aku menelepon dokter Albert" kata Ezekiel sedikit berbisik.


Faith perlahan mengangkat kepala Ben dari bahunya dan meletakannya diatas bantal sofa. Perlahan juga Faith berdiri karena takut Ben akan terbangun.


Ia langsung mendekati suaminya dan menarik tangan Ezekiel agak menjauh dari ruang tamu.


"Ben semalaman tidak bisa tidur. Ia sedang ada masalah dengan Maura. Dia dia sangat tertekan. Bolehkah aku di sini sampai siang nanti? Aku hanya ingin menemaninya sebentar." mohon Faith sambil melingkarkan tangannya dipinggang suaminya.


"Ya. Kau boleh menemani Ben sampai siang nanti namun setelah itu kau harus menungguh aku di lantai atas. Kita sudah lama tak mengujungi apartemen itu"


"Untuk apa ke atas?"


Ezekiel tersenyum menggoda "Aku ingin bercinta di ranjang kita tanpa ada yang menganggu."


Wajah Faith langsung menjadi merah "Dasar bule gila" umpatnya sambil tertawa.


Ezekiel mencium bibir istrinya gemas. "Kau mencintai bule gila ini kan?"


Ezekiel terkekeh "Aku lebih suka kau menyambutku tanpa menggenakan apapun"


"Pergi sana..!" Faith mendorong Ezekiel. Ia tahu jika percakapan itu tetap mereka lanjutkan, Ezekiel bisa tidak masuk kantor hari ini.


**********


Gerald dan Iriana terkejut mendengar perkataan Maura pagi ini.


"Bercerai? Sayang, apakah kau sudah memikirkannya matang-matang? Bukankah kau mencintai Ben? Papa melihat akhir-akhir ini hubungan kalian jadi tambah bagus." Gerald menatap Maura dalam, sambil berusaha merubah pendapat anaknya itu.


"Aku tidak akan berubah, papa. Aku memang ingin kami berpisah. Aku tidak mau bersama dengan laki-laki playboy yang pandai memainkan hati wanita. Setelah proses perceraian kami selesai, aku akan kembali ke Medan. Aku akan tinggal di Medan dan mengurus semua usaha mamaku di sana" kata Maura dengan penuh keyakinan.


Iriana menatap suaminya. Ia tahu benar dengan sikap pembangkang putri sambungnya itu.


"Mommy, aku mohon. Carilah pengacara terbaik untuk mengurus perceraian kami. Aku harap ini tak lebih dari 2 minggu" Maura berdiri lalu meninggalkan ruang tamu. Matanya bengkak karena semalaman menangis. Ia bahkan sama sekali belum makan sejak semalam. Sebelum Maura menaiki tangga, ia tiba-tiba merasa pusing. Ia berpegang pada pagar pembatas tangga.


Naomi berlari mendekat "Nona....ada apa?" tanya Naomi dan langsung memeluk Maura.


Gerald dan Iriana pun berlari mendekat.

__ADS_1


"Sayang...ada apa?" tanya Iriana.


"Aku hanya merasa pusing saja, mom" kata Maura sambil terus memejamkan matanya.


Gerald segera menelepon dokter.


***********


Ben memakan habis semua makanan yang dimasak Faith untuknya.


"Enak sekali. Ezekiel pasti senang punya istri pintar masak"


Faith hanya tersenyum dan membereskan meja makan, lalu mencuci peralatan makan yang ada. Setelah itu, ia membantu Ben meminum obatnya yang di bawa oleh Ezekiel.


"Tumben sekali suamimu itu mengijinkan kau menemaniku berdua saja di sini"


"Dia tidak mengijinkan secara gratis tapi aku harus membayarnya dengan menemaninya berdua di apartemennya" kata Faith sedikit tersipu.


"Ah..., sudah ku duga. Ezekiel pasti mengambil keuntungan dibalik semua ini"


"Itulah suamiku. Dan aku mencintainya" kata Faith dengan mata bersinar saat mengingat suaminya itu.


Pintu apartemen dibuka dari luar. Ternyata Alicia Aslon yang masuk. Ia terkejut melihat Faith ada di apartemen anaknya.


"Hallo Faith..!" sapa Alicia lalu memeluk Faith dengan hangat.


Alicia lalu menatap putranya. Ia memekik kaget melihat tangan Ben.


"Ya ampun Ben. Ada apa dengan tanganmu?"


Faith menatap Ben"Aku ke atas dulu ya. Ini sudah hampir jam 1. " lalu ia berpamitan untuk memberi ruang bagi ibu dan anak itu untuk berbicara.


"Iriana meneleponku. Ada apa, Ben? Mengapa Maura ingin bercerai?"


Ben mendengus dengan kesal "Biar saja kalau ia ingin bercerai. Yang penting bukan aku yang memintanya"


Alicia duduk disamping putranya "Ben, kau tidak mencintai istrimu itu?"


"Aku mencintainya, mom. Aku juga tak pernah selingkuh darinya. Makanya aku membiarkannya pergi. Kalau dia sungguh mencintaiku, dia yang harus berjuang untuk cintanya itu. Karena aku tak ingin mengejarnya lagi"


"Ben!"


"Berhentilah menekanku, mom. Aku hanya ingin tidur saat ini. Aku sangat lelah" Ben berbaring dipangkuan mamanya.


Alicia menatap putranya dengan hati sedih. Ia pun membelai kepala Ben dengan penuh kasih.

__ADS_1


MAKASI SUDAH MEMBACA PART INI


JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENT AND VOTE YA...


__ADS_2