My Best Photo

My Best Photo
Cemburu???


__ADS_3

Ben menatap tempat tidur di sampingnya yang sudah kosong. Maura berarti sudah bangun. Sejak semalam, Maura sepertinya sedikit menjauh darinya. Setiap kali Ben memeluknya, Maura selalu


menepiskan tangan Ben.


Akhirnya Ben menuju ke kamar mandi dan mandi dengan cepat lalu segera turun ke bawa. Di ruang makan nampak Erick, Rara dan Dodi.


"Selamat pagi!" sapa Ben sambil duduk di depan meja makan.


"Ben, sarapanlah!" kata Rara sambil menuangkan kopi di cangkir dan meletakannya di depan Ben.


"Kemana Maura dan teman-temannya?" tanya Ben sambil memasukan potongan roti ke dalam mulutnya.


"Mereka pergi ke pulau samosir dengan perahu saat jam 6 tadi pagi. Maura bilang Ben pasti lelah karena kerja sampai subuh. Makanya Maura tidak membangunkan Ben." kata Erick


"Iya. Aku memang kerja sampai subuh" kata Ben. Sebenarnya ia agak kecewa. walaupun dia sudah pernah ke pulau Samosir sebelumnya, namun


tentu akan terasa berbeda jika pergi dengan Maura saat ini.


Selesai sarapan, Ben mengajak Dodi untuk jalan-jalan di sekitar Villa sambil bersepeda. Dodi sangat senang karena Ben sangat baik dan membelikan apa saja yang Dodi inginkan.


Saat kembali ke Villa, waktu sudah menunjukan pukul 1 siang. Maura dan teman-temannya pun sudah datang dan sementara makan siang. Jam 4 nanti mereka akan kembali ke kota Medan.


"Ben, kamu tidak makan?" tanya Rara


"Aku dan Dodi tadi sudah makan di luar" jawab Ben lalu mendekati Maura yang sedang duduk di meja makan.


"Sayang...papa ke atas dulu ya...mau mandi." pamit Ben setelah mencium kepala Maura.


"Ok" jawab Maura sedikit malu.


"Kenapa masih malu dicium suamimu? Kan kalian sudah melakukan lebih dari sekedar ciuman" ledek Judika membuat Maura melotot kepadanya.


Yang lain langsung tertawa saat melihat wajah Maura tambah merah dan Ben yang menaiki tangga sempat menoleh ke arah mereka dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Selesai makan siang, Maura merasa malas untuk ke kamar. Entah mengapa dia tidak mau berbicara dengan Ben saat ini.


"Kalian bertengkar?" tanya Rara melihat Maura masih duduk di meja makan sementara teman-temannya sudah di kamar untuk beristirahat sambil menungguh bus yang akan menjemput mereka.


Maura menggeleng.


"Meninggalkan suami sendiri tanpa pamit dan pergi dengan teman-temanmu tanpa mengabarinya bukanlah tindakan yang bijaksana" kata Rara lalu duduk di samping Maura.


"Nantulang....., semalam aku dan Ben berbicara tentang pekerjaannya. Lalu pembicaraan kami merembet pada kehidupannya yang dahulu adalah seorang playboy. Entah mengapa saat mendengar pengakuannya kalau dia sudah tidur dengan banyak cewek membuat hatiku sakit." aku Maura tanpa bisa menyembunyikan wajah sedihnya.


"Sebelum menikah dengan Ben, kamu sudah tahu kan kalau dia seorang playboy?"


Maura mengangguk.


Rara memegang tangan Maura " Inda holong, Ben memang seorang playboy sebelum menikah denganmu. Tapi itukan kehidupan masa lalunya. Kau harus belajar menerimanya. Karena jika kau tidak bisa menerimanya maka rumah tangga kalian tidak akan bahagia."


"Aku dijodohkan dengannya"

__ADS_1


"Aku tahu. Papamu sudah menceritannya pada kami. Tapi Ben kelihatannya baik. Nantulang juga melihat bahwa wajahnya selalu bersinar saat menatap dirimu. Kau juga sering tersipu malu saat menatap suamimu. Cobalah untuk mencintainya secara benar. Cinta sejati itu menerima segala kekurangan termasuk juga masa lalunya."


Maura masih diam. Pikirannya sedang berkelana entah kemana.


"Temui suamimu. Dia sudah menungguhmu" kata Rara sambil menepuk pundak ponakannya.


Maura pun segera menuju ke kamar. Saat ia membuka pintu nampak Ben sudah selesai mengemasi barang-barang mereka.


"Sayang.....!" panggil Ben saat Maura masuk.


Maura tersenyum lalu segera meletakan kantong plastik berisi beberapa ole-ole yang dibawanya lalu menaruhnya dengan semua pernak pernik yang sudah dibeli kemarin.


Ben tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Ada apa?"


"Tidak....!" Maura berusaha melepaskan diri namun Ben semakin erat memeluknya.


"Papa tidak akan melepaskan mama kalau mama tidak mengatakan mengapa sikap mama berubah. Apakah karena pengakuan papa semalam?"


Maura akhirnya mengangguk.


Ben membalikan tubuh Maura sehingga mereka kini berhadapan. Di tatapnya mata hitam itu dengan senyum manisnya. Maura segera memalingkan wajahnya. Sesungguhnya ia tak kuat jika harus bertatapan dengan suaminya. Jantungnya bahkan sudah berdetak sangat kencang.


"Ayo kita duduk sambil bicara!" ajak Ben sambil menuntun istrinya berjalan menuju ke sofa yangbafa di sudut ruangan.


Saat keduanya sudah duduk berdampingan, Ben meraih kedua tangan Maura, digenggamnya secara erat dan ia kembali bicara.


"Papa tidak dapat merubah semua masa lalu yang sudah terjadi. Namun papa ingin berubah demi masa depan yang akan kita jalani bersama. Bukankah sudah pernah papa katakan bahwa sumpah pernikahan yang pernah papa ucapkan bukanlah main-main?"


"Sebelum kita bertemu, papa sudah 1 tahun lebih tidak pernah dekat dengan gadis manapun"


"Kecuali bersama Faith" sambung Maura dengan nada suara yang cemburu.


"Iya. Papa dekat dengan Faith karena menjalankan misi untuk membuat Ezekiel cemburu"


"Kamu jatuh cinta padanya kan?" tanya Maura sambil menatap Ben. Dia ingin melihat kejujuran di mata suaminya.


"Kata siapa papa jatuh cinta"


"Seorang play boy yang tidak bisa jika tidak kencan dengan gadis-gadis cantik tiba-tiba saja berhenti mendekati gadis lain karena ingin membuat suami Faith cemburu? Yang menjadikan gadis itu sebagai tokoh utama dalam pameran fotonya pada hal selama ini tidak pernah dilakukannya?"


Ben mengangguk. Ia mengakui kemampuan Maura mengerti ceritanya.


"Aku memang jatuh cinta padanya. Dan itu menyadarkanku untuk berhenti bermain-main dengan gadis lain. Aku pikir dengan jatuh cinta pada Maura merupakan cara Tuhan untuk menghukumku atas semua yang sudah kulakukan dan itu merupakan jalan bagiku untuk menemukanmu, mama"


Maura menarik tangannya dari genggaman Ben dan melipatnya didada.


"Semua itu terjadi sebelum kita menikah. Setelah menikah papa hanya ingin bersama mama. Tidak ada gadis lain lagi..." kata Ben sambil membelai wajah Maura dengan lembut. Ia tak ingin Maura tersakiti lagi. Kali ini Ben benar-benar harus mengeluarkan jurusnya untuk merayu wanita.


"Tapi papa senang karena mama cemburu. Itu tandanya mama sayang pada papa.."


"Cemburu? Mana mungkin?" Maura berusaha menyangkalnya

__ADS_1


"Benar tak cemburu?" Ben memegang dagu istrinya dan memaksa Maura untuk menatapnya.


"Apa?" tanya Maura saat Ben semakin mendekatkan wajahnya.


"Kalau benar mama tak cemburu berarti boleh kan papa dekat dengan perempuan lain?"


"Silahkan!" kata Maura walaupun suaranya terdengar serak. Hatinya memberontak.


"Mencium gadis lain?"


"Silahkan!" ucap Maura dengan wajah yang semakin cemberut.


Ben tersenyum " No baby. you are the one. From now and forever." lalu Ben langsung menyatuhkan bibir mereka dengan lembut, mengulumnya perlahan sehingga istrinya itu tak bisa menolaknya.


"Bus nya akan datang pada pukul 4." kata Maura saat ciuman mereka terlepas karena Ben sudah mengangkatnya menuju ke ranjang.


"Papa masih punya 2 jam untuk menghukum mama karena sudah berani pergi tanpa mengajak papa" bisik Ben lalu perlahan meletakan tubuh Maura di atas ranjang dan kembali menciumnya.


************


Semua menatap pasangan itu yang menuruni tangga sambil bergandengan tangan dan rambut basah karena baru selesai mandi.


"Jam berapa ini?" tanya Susi sambil menatap jam tangannya.


"Jam 4 sore waktu Inggris dan jam 7 malam waktu Medan." jawab Intan dengan nada menyindir.


Erick dan Rara tersenyum melihat tingkah teman-teman Maura.


Ben dan Maura hanya terkekeh bersama.


"Ayo, kita makan malam dulu!" ajak Rara.


Mereka pun makan bersam dengan gembira dan kembali ke Medan.


Maura menghabiskan 1 hari lagi dengan teman-temannya setelah itu ia dan Ben kembali ke London dengan pesawat Jet The Aslon.


Walaupun Maura sebenarnya masih ingin tinggal di Medan namun ia harus kembali bersama Ben.


"Makasi ya Ben" kata Maura ketika mereka sudah berada dalam pesawat.


"Siapa Ben?"


"Ihs...kamu ini" Maura mencubit suaminya "Makasi ya..papa. sudah mengajak mama ke Medan"


Ben tersenyum. Lalu menghadiahkan sebuah ciuman di pipi Maura "Tidurlah..!"


Maura membaringkan kepalanya di bahu Ben lalu ia pun memejamkan matanya.


MAKASIH SUDAH BACA...


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2