
-happy reading-
"Berhati-hatilah dengan ucapan,karenanya tanpa di sadari bisa menjadi sebuah doa.
Atau jangan-jangan itu keajaiban?"
(My clown boy)
***
Hari itu Fany tak sadar mengatakan"Gue..mau dia" dengan suara lumayan keras,yang membuat penghuni kantin melihat ke arahnya.
Sarah terkejut matanya melotot tak percaya."Maksudnya???".
Fany yang kepedasan tak peduli dia mencari air di dekatnya namun tak ada. Wajahnya mulai memerah sampai ke ubun-ubun.
Sambil mengipas-ngipaskan tangannya dia langsung menyambar air seseorang yang baru saja lewat.
Fany meminumnya dengan cepat,setelah selesai fany mengangkat kepalanya dan terkejut melihat orang di hadapannya.
"H...a...i!!!!" cengirnya tanpa dosa pada Adly yang hanya melihat botol air minumnya yang telah habis.
Adly mengalihkan tatapannya pada gadis di hadapannya. Fany langsung menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Lo kok ngeliat gue gitu???".
" Minuman"
"Oh"... Fany salah tingkah apalagi ketika mulai mendengar suara tawa penghuni kantin. Dia segera mengambil minuman yang sama lalu menyerahkannya ke Adly.
Tanpa kata Adly segera meninggalkan kantin setelah menerima minumannya. Fany lumayan keki karenanya.
Setelah Adly berlalu Sarah langsung memulai pertanyaannya.
" Fan! Lo beneran mau Adly???"
"Apaan sih Sar. Tadi gue cuma keceplosan doang" sanggahnya.
"Apa keceplosan???!jadi itu artinya beneran. Hehehehe" Sarah memperlihatkan muka menyebalkannya.
"Fan,mau gue bantu buat dapetin dia???" tawar Sarah dengan tatapan mata yang menurut Fany tersirat kesedihan. Tapi tersamarkan oleh senyumannya.
"Gimana caranya?" Tanya Fany antusias,lumayan untuk memulai langkah pertama.
Wajah Sarah berubah dia berusaha menahan tawanya,namun entah mengapa di dalam sana ada yang mengganjal.
" Tuh kan lo suka sama Adly. Mengaku sajalah. Muka lo gak pandai berbohong". Desak Sarah.
"Gue saranin, jangan nyerah sama Adly karena sudah banyak cewe cewe kece yang di tolak sama dia". Lanjutnya.
Fany mengeriyit heran," Maksudnya?"
Sarah menghela nafas pelan"udah banyak cewek sebelum lo ngaku suka dan semuanya nyerah gitu aja".
"Ok. Sar,lo beneran gak papa kalau gue misalnya suka Adly". Sarah terdiam cukup lama,entah mengapa Fany tak suka hal itu.
Senyuman kecil terbit dari bibir Sarah.
" gpp kok".
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara Mas Dono.
"Nengg nggak mau masuk kelas atuh! Bel pelajaran udah terdengar 10 menit yang lalu".
***
Fany bimbang dia utarakan perasaannya atau tidak. Masa ia terlalu terburu-buru apalagi dia sudah mendengar dari Sarah tentang banyaknya manusia yang tak beruntung tidak bisa mendapatkan cowok kece,kutub utara kaya Adly.
Ok hari ini Fany akan mengatakan yang sejujurnya,kelas mulai sepi. Tiba-tiba saja rasa gugup mengahampirinya. Sarah keluar kelas lebih dulu menyisakan Fany dan Adly yang masih merapikan buku-bukunya.
Fany melangkah pelan,lidahnya agaj keluh kakinya ia goyang-goyangkan karena gugup.
" Ad....gue mau bicara!" Adly hanya diam sambil terus membereskan bukunya. Mungkin masih marah atas kejadian di kantin.
Fany menggigit babee bibir bawahnya.
"Adly,gue mau bicara sama lo gue mohon jangan acuh ky gitu".
__ADS_1
Adly menoleh sebentar lalu menggendong tasnya.
" Jangan buang waktu gue hanya untuk hal gak penting". Dia berniat keluar,jamnya menunjukkan hampir pukul 14.00.
"Please Ad ini hal penting". Fany berusaha menghilangkan kegugupannya dengan meremas buku-buku jarinya.
" 5 menit". Adly akhirnya menyerah lalu duduk diatas meja salah satu temannya.
Fany menarik nafasnya perlahan setidaknya waktu 5 menit lebih dari cukup untuk mengutarakan perasaannya.
"Ad,sebenarnya..." tiba-tiba keberaniannya menghilang mengucapkan satu kalimat yang menjadi penentu masa depannya.
Adly berdecak sebal,berniat meninggalkan kelas. Gak ada penting-pentingnya.
Melihat Adly yang berniat pergi Fany gelagapan refleks dia mengucapkan kata sakral itu.
"Adly Mahardika gue Suka Sama Lo!". Wadawww tiba-tiba suasana serasa memanas bagi Fany.
Adly berhenti berjalan lalu tertawa. Tawanya mengiris hati Fany
"Kalau cuma itu yang mau lo bilang. Mending gak usah".
Fany syok mendengarnya,kakinya gemetar. Tulangnya terasa remuk tak mampu menyangga tubuhnya.
Ucapan Adly barusan sungguh menusuk,harapannya mungkin sirna. Fany belum menyerah walaupun matanya terasa panas.
" tapi kenapa Ad???"
"Basi. Dan gue tau lo cuma mau balas dendam". Adly bertepuk tangan walaupun itu terasa sangat menyakitkan bagi Fany.
Fany menyeka air matanya yang mulai luruh.
" Tapi kalau lo salah gimana?" tantang Fany.
"Dugaan gue gak pernah salah". Hanya itu akhir dari pengungkapan perasaan Fany yang tak berbalas.
Mereka tak sadar bahwa tadi ada sebuah kamera yang mengarah pada mereka. Entah pertanda baik atau justru buruk.
Fany berjalan gontai keluar dari kelas,di dalam sana ada yang merasa sakit. Sesuatu yang tadi ia tahan mendesak untuk keluar,Fany menanggis sejadi-jadinya.
"Kok sakit ya? Gue gak suka cara dia". Fany terisak,batinnya tak terima di tolak oleh Adly.
***
Sepatu pantofel hitam dengan hak yang tidak terlalu tinggi membuat kita menyimpulkan pemiliknya perempuan.
Dia terus berjalan dan berhenti ketika tiba di kelas bertuliskan XII IPA 7. Sambutan di dalam sana membuat rasa puas di dalam dirinya meluap-luap.
Tiga orang cabe-cabean menunggunya di dalam sana. Mengapa? Karena dandanannya menor. Mereka langsung tersenyum ketika melihat gadis tadi masuk ke kelas mereka.
"Hai...akhirnya lo datang" sapa Tisya,ketua geng mereka.
"Iyya. Gue cuma mau beritahu lo hal penting".
" Tumben?" tanya Gea yang dari tadi sedang berdandan.
"Lo tahu murid baru yang di gosipkan sebagai pacar Aly"
Kening Tisya berkerut"Tahu. Jangan-jangan yang bikin masalah sama lo dia!" tebak Ria yang dari tadi diam.
"Jadi lo mau kita..." ucapan Tisya di buat menggantung tapi bisa di mengerti oleh gadis itu,yang sekarang mengipas-ngipaskan dirinya karena kegerahan.
"Tapi kakak jangan bilang- bilang ya!"
"Tenang aja gak ada yang tahu kalau lo yang rencanain ini".
Tanpa mereka sadari gadis itu tersenyum licik.
" kami juga tahu kalau lo udah suka dia dari dulu".
Gadis itu mengangguk,lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Udah gue sebarin".
" that's right"
Tisya menyeringai,tapi gadis itu menyorot benci.
__ADS_1
"Ok kalau gitu gue pulang dulu kak".
" kita juga mau pulang kok".
Setelah itu akhirnya mereka meninggalkan kelas,menatap sinis orang-orang yang tidak menyukai mereka,berpakaian ketat dan roknya diatas lutut.
Setiap orang akan berfikir mereka berandalan. Tapi gadis tadi tidak berfikir demikian. Dia menjadikannya alat untuk mencapai tujuan.
***
Happy reading....
"Semangat....seburuk apapun hari yang kamu lalui percaya aja kata kata pujangga yang tidak akan membuat harimu tambah suram".
***
Part 11
Fany berjalan gontai menuju halte dekat sekolah,pandangannya lurus ke depan. Kosong.....
Sesekali melihat remaja yang asik bercengrama di pinggir jalan. Dia tak sadar sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya,dengan celana abu-abu.
Orang itu mengawasi Fany,hingga sampai di halte. Setelah itu dia pergi dengan senyum terukir di bibirnya.
Ketika bus berhenti di hadapannya Fany segera naik,duduk di salah satu kursi kosong dekat jendela. Tanpa bisa ia cegah,lagi-lagi bulir bening berhasil lolos.
Fany terlonjak ketika mendengar suara anak kecil yang menyapanya.
" kak! Kakak kenapa sedih?"
Fany menyeka air matanya lalu menoleh. Mendapati seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun memandanginya dengan sorot penasaran.
Fany berusaha tersenyum,kemudian menggeleng pelan.
"Tangan kakak sini" pintah anak itu pada Fany.
Dengan ragu Fany menjulurkan tangan.
Tanpa ada yang menduga anak kecil tersebut memberikan permen m*****a rasa coklat kepada Fany.
"Kakak jangan sedih lagi ya!!! Kata kakak Vani,kalau sedih entar mukanya jelek". Pipi gembulnya terlihat menggemaskan,membuat Fany ingin mencubitnya.
" emang nama kamu siapa manis?"tanya Fany sambil memegang pipi bakpia itu.
"Vani. Namaku Vanilla kak!" ujarnya antusias. Bus berhenti pada pemberhentian pertama.
Vanilla berlari ke wanita separuh baya yang memang menunggunya. Fany mengikuti dengan sudut mata,hingga Vanilla turun dari bus. Fany sempat melihat Vanilla melambaikan tangan padanya.
Fany melihat permen di tangannya,ternyata terdapat tulisan di sana. "Semangat:)".
Fany tersenyum,perlahan ia bisa melupakan kesedihan hatinya. Bus terus melaju hingga berhenti,di halte selanjutnya. Fany turun,rumahnya sudah dekat.
***
Fany menulis sesuatu pada diarynya dengan huruf kapital,setelah itu menuju balkon untuk menikmati angin sore.
Dia menatap halamannya yang luas berwarna-warni di penuhi bunga,tak sia-sia maminya menatanya setiap hari.
.
Satu-satunya orang yang berada di pikirannya saat ini adalah Adly,mulai dari pertemuan pertama hingga tadi siang. Pikirannya terus berkecamuk.
Kalau di fikir Adly memang belum jelas baginya. Semua masih berupa tanda tanya.
" Apa jangan-jangan gue harus cari tahu dulu tentang dia". Gumamnya pada diri sendiri.
Fany teringat mata hitam itu menatap sendu padanya,namun ia tak tahu alasannya.
"Tunggu!!!kenapa gue gak bisa berhenti mikirin dia" kesalnya di tujukan pada diri sendiri.
Fany menatap jalanan di depan sana,hingga sebuah sosok terlihat tak asing di matanya berjalan dengan cepat. Mungkin sedikit berlari.
Itu Adly orang yang belum menghilang di pikirannya tiba-tiba lewat di depan matanya. Tapi siapa yang mengejarnya? Hingga cowok itu terlihat kewalahan.
Fany menegang sendiri ketika melihat tak jauh di belkang Adly,sekelompok orang berpakaian hitam mengejarnya.....
***
__ADS_1
Tbc