My Clown Boy

My Clown Boy
45


__ADS_3

"Bukankah ada saatnya untuk mencari cara dalam memulai sebuah awal yang baru".


***


Apapun yang dimulai dengan baik belum tentu berakhir dengan baik. Begitupula sebaliknya. Sehingga tak ayal seorang pemuda duduk merenung di sebuah rumah kecil pinggiran yang agak jauh dari keramaian sedang menghela nafas frustasi.


Hari ini sudah tujuh minggu sejak kejadian itu. Tapi sampai sekarang orang yang sedang di fikirkannya belum pernah muncul barang sedetikpun ke sekolah. Apalagi ujian semester pertama akan diadakan bulan depan. Itu artinya ada kemungkinan gadis yang difikirkannya memiliki kemungkinan besar tak ikut ujian kali ini.


Cowok itu,Adly menghela nafas kasar. Duduk diayunan yang menggantung pada pohon beringin. Dan di dekatnya kenya. Anak berusia empat tahun dengan mata birunya setia menemaninya dengan sesekali mengerjap polos hendak bertanya tapi urung.


"Kakak kenapa?" tanya Kenya akhirnya membuka suara.


Tapi Adly tak berniat sedikitpun menghapus rasa penasaran anak itu. Rangkaian peristiwa terus menerus mengalir memuat cerita yang panjang. Lalu menghadirkan pertayaan yang jawabannya hanya bisa ditebaknya sendiri. Setidaknya,ia sebaiknya sadar.


Tapi entah kenapa sampai sekarang cowok berambut hitam legam itu belum mengerti sedikitpun. Walaupun rasa sepi kadang-kadang datang menghampiri karena hampir setiap hari dahulu gadis itu mengusik hidupnya. Hanya agak aneh karena minggu minggu belakangan ini dia sudah tak ada.


Harusnya Adly merasa senang kan karena bebas darinya. Tapi nyatanya tidak. Ada rasa gelisah yang menghantui. Karena mungkin saja gadis itu akan datang beberapa minggu kemudian menempel padanya lagi seperti cewek cabe-cabean dengan tingkah kekanakan.


Adly sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang sebenarnya dirasakannya.


Kadang kala dalam sehari kerjanya cuma melamun.


Tak jauh dari mereka seorang gadis berambut hitam panjang memerhatikan Adly. Mencari detail dan berusaha menyimpulkan sendiri apa yang dirasakan cowok itu.


"Bodoh!!" desisnya kemudian melenggang masuk.


***

__ADS_1


"Om....Fany udah pulang" tanya gadis berisi itu pada seorang penjaga berkepala plontos,yang memiliki raut tegas itu.


Dengan sabar orang berkepala plontos itu menggeleng. Membuat Ima menghela nafas berat. Si kepala plontos sebenarnya merasa prihatin padanya. Karena hampir setiap hari gadis itu datang bertanya hal yang sama. Seakan-akan kelak hal itu akan benar-benar terjadi. Keinginannya untuk bertemu Fany bisa terwujud. Tapi nyatanya,tidak. Tidak sama sekali.


"Makasih om!" ucap Ima lesu sambil melangkahkan kakinya dengan berat. Dan seperti hari-hari sebelumnya si kepala plontos menatap punggung itu sambil tersenyum kecil.


Setelah ima menghilang dari pandangan terlihat Ali yang keluar dengan terburu-buru dari dalam rumah. Dan masih sempat melihat Ima untuk sesaat.


"Siapa Pak?" tanya Ali penasaran.


"Teman Nona, tuan. Orang yang datang kemarin!".


Demi mendengar itu Ali mengangguk. Lalu sedikit tersenyum kecil. Setidaknya dia yakin. Diantara banyaknya yang membenci adiknya. Ada seseorang yang benar-benar tulus padanya. Dan itu adalah makna dari kata teman yang sesungguhnya.


"Pak hari ini aku kayaknya pulang larut. Soalnya latihan basketnya sampai malam. Kalau Mami nanya. Bilang itu aja ya!" cengir Aly pada si kepala plontos itu tanpa dosa.


Walaupun percuma karena si kepala plontos bisa melihat dengan jelas ada gurat yang tersembunyi di balik senyum itu.


***


Seandainya jika perkembangan ini tak terjadi. Dia dan suaminya Farhan berencana memindahkan Fany ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan dari dokter ahli.


"Apa yang paling kamu sukai dari hidupmu?" tanya Lian pada Fany tanpa sengaja,karena terkesan dengan sunyuman indah itu. Karena tanpa sadar sebenarnya hal itu adalah prosedur pengobatan dari yang disarankan dokter Fey pada Lian.


Fany perlahan berhenti tersenyum. Dalam dua minggu terakhir gadis itu cukup pesat mengendalikan emosi dan rasa takutnya. Hal ini karena pengobatan traumatis yang dijalaninya. Serta terapinya sudah mulai menunjukkan hasil. Berbeda dari sejak pertama kali gadis itu kembali ke tempat ini.


Sekarang mata itu sudah tak menatap kosong. Melainkan sudah mulai muncul harapan sedikit-demi sedikit. Dan hal itu juga kabar baik bagi Lian sendiri.

__ADS_1


Kening Fany mengeriyit mendapat pertanyaan tiba-tiba itu. Sekelebat bayangan muncul di memorinya. Tentang keluarganya yang memberikan segalanya padanya. Tentang teman-temannya. Serta apapun yang di ingatnya.


Dengan ragu gadis itu menjawab. "Entah".


"Tapi jujur,aku suka pada badut". Ingatan samar itu kembali muncul di kepalanya. Suara nyanyian anak-anak mengalun,tapi dia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Hanya seorang badut yang memberikannya permen yang berhasil di ingatnya sekarang.


"Dan rasanya ada sesuatu yang aneh tentangnya. Yg membuat aku merasa nyaman". Jujur Fany,yang tanpa di sadarinya membuat badut itu menarik sudut bibirnya ke atas.


"Kalau lo?" tanya Fany ikut-ikutan.


Dan badut itu terdiam beberapa saat. Matanya menerawang. Tapi tak lama kemudian ekspresinya berubah. Gurat sendu jelas terlihat di sana tapi lagi-lagi Fany tak menyadarinya.


"Kamu mau main?" tanya badut itu agak kaku.


Dan hal itu membuat Fany langsung mengangguk antusias. Dia suka waktu bebasnya seperti ini. Tanpa ada rasa takut akan masalah yang dihadapinya. Dia suka ketika orang-orang mulai memerhatikannya. Tapi jujur dia mulai bertanya kemana orang yang dahulu di kejarnya? Ada kekosongan ketika menyadari orang itu tak sekalipun muncul di depannya.


Ya!maksud Fany adalah dia, si badut yang berhasil masuk ke hatinya. Tapi dalam hal bersamaan dia tak berharap orang itu datang. Karena dia takut hal yang sama akan terulang. Karena Fany tahu tak ada harapan bagi dirinya bagi seorang Adly. Karena Fany tahu cowok itu hanya akan merasa senang jika akhirnya dia menyerah seperti sekarang.


Tapi jujur jauh di lubuk hatinya,gadis itu berharap Adly datang dengan kata kata menusuknya seperti biasa. Setidaknya Fany bisa bersyukur masih hidup di bumi yang sama dengannya. Walaupun ia tak yakin apakah dirinya sudh bisa menerima kehadirannya. Atau histeris seperti terakhir kali.


Karena bukankah setiap orang bisa menunjukkan sikap yang berbeda di balik sebuah topeng.


Fany yakin hari ini gadis itu akan memulainya. Memulai dan berniat untuk pergi dari rasa takut ini. Walaupun tak mudah tapi akan ada jalan bagi dia yang bersungguh-sungguh.


Dia harus melawan setakut apapun dirinya. Dia tak boleh kalah. Karena jika dia kalah sekarang entah bagaimana orang-orang yang menyanyanginya. Kata dokter Fey lupakan sejenak apa yang membuatmu ada di sini. Tapi ingatlah bahwa yang kamu lakukan sekarang adalah jalan untuk kembali.


Karena setidaknya kali ini dia telah memulainya. Jadi untuk kali ini dia bahkan tak berniat mundur karena rasa takut itu. Dia akan berdamai dengannya.

__ADS_1


Tanpa ia sadari seorang gadis berwajah oriental menatapnya dengan tajam dari balik pillar rumah sakit. Gadis itu meremas kemeja bajunya. Lalu mulai tersenyum sinis.


Tbc


__ADS_2