
"Tak ada yang berbeda. Nyatanya fakta yang bicara".
***
"Adly....."
Orang yang disebut namanya mengeluarkan ekspresi yang tak terbaca. Lalu menoleh ke Sarah sambil menatap gadis itu nanar.
Seharusnya Fany merasa senang ketika mengetahui Adly yang menyelematkannya. Tapi lama kelamaan ia menatap orang itu entah mengapa ia juga merasa jika Adly berbeda dari biasanya.
Memang wajah mereka terlihat sama. Tapi dia merasakan perbedaan itu. Melihat tatapannya yang menusuk Fany yakin jika yang dihadapannya bukan Adly yang ia kenal.
"Lo apa-apaan. Lo tahu apa yang lo lakukan barusan itu hampir mencelakainya?" tanya cowok itu tetap bergeming pada tempatnya.
"Emang itu yang gue inginkan dari dulu. Makanya gue ikut pada rencana konyol kalian", kesal Sarah, sambil memelototkan matanya pada cowok itu.
Fany masih saja duduk menyandar pada tembok memeluk lututnya sendiri. Merasa ketakutan juga bingung disaat yang bersamaan. Entah apa sebabnya dia merasa sebagian ingatannya yang hilang itu perlahan kembali ketika tiba di tempat ini.
Dia berusaha tak peduli pada kedua orang yang berdebat di depannya. Asalakan mereka tak melakukan apapun padanya maka Fany akan tetap diam.
"Ad! Apa yang lo lakuin di sini. Bukannya tadi lo mau bawa gur ke suatu tempat. Apa gak jadi?" tanya Fany beruntun untuk menetralisir rasa takutnya.
Sarah yang mendengar itu kembali tersenyum meremehkan. Setidaknya begitulah tafsiran Fany melihat gelagat gadis itu.
"Ck! Dasar bodoh"
Orang yang dipanggil Fany Adly menoleh ke arah gadis itu. Memandanginya dari atas hingga bawah. Terlihat sangat kacau.
"Maaf!" hanya kata itu yang terucap dari bibirnya yang biasanya mengeluarkan kata pedas.
Fany menghembuskan nafas. Artinya memang selama ini dia dipermainkan. Sengaja di pertemukan dengan Adly untuk kemudian di jebak seperti ini. Tapi mau bagaimanapun caranya mengelak. Separuh hatinya tetap merasa terluka juga kecewa.
Juga Fany menelisik wajah itu. Menyiratkan rasa bersalah yang amat sangat.
"Lo belum makan kan?" tanya cowok itu menatap Fany tepat.
Fany segera mengangguk mengiyakan.
Sarah yang berdiri di belakang cowok itu kembali mendecak malas.
"Hati-hati dia ular!" tekan Sarah pada kalimat terakhir.
Tapi cowok itu tak peduli, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kresek yang tadi di bawa nya. Sebuah nasi bungkus dengan di ikat menggunakan karet. Beserta air gelas.
"Makanlah!" perintah cowok itu pendek.
"Tapi kenapa lo jebak gue Ad?" tanya Fany ketika cowok itu selesai membuka nasi bungkus yang di letakkannya di depan Fany.
Cowok itu menghembuskan nafas pelan mengacak rambut orang dihadapannya. Membuat Fany sedikit menggerutu.
"Gue senang akhirnya ada yang manggil gue dengan nama itu lagi!" katanya misterius lalu beranjak keluar.
Fany mengerutkan dahi tak mengerti. Tapi entah mengapa perasaannya kali ini sedikit berbeda. Bukan kagum seperti biasanya. Tapi rindu. Seakan orang itu pernah ada lalu kembali.
Fany yang tak mengerti pun hanya menanggapi datar lalu memakan makanannya dengan lahap. Apalagi memang perutnya keroncongan sejak tadi.
Selesai makan pintu kembali terbuka. Fany yang tadinya ingin tersenyum tak jadi melakukan niatnya. Bagaimana tidak, laki-laki paruhbaya berwajah menyeramkan itu kembali masuk. Yang membuat jantung Fany mendadak berdegup sangat kencang.
"Gimana makannya?" tanya Wils matanya yang berputar-putar kembali mengarah pada Fany.
Fany semakin merapatkan diri ke tembok. Perasaan takutnya lebih mendominasi dibanding ketika bersama Sarah tadi.
Siapapun yang berada di sana tolonglah Fany. Dia tak bisa terus-terusan di perlakukan seperti ini. Dia bisa saja merasa gila karena keanehan yang terjadi belakangan ini.
"Kau tahu nak! Dimana tadi kau meludah!"sindir Wils sambil memajukan tubuhnya ke gadis itu.
Dia tak akan membiarkan Fany kesempatan untuk bernafas.
Wils berjongkok hingga wajahnya dan wajah Fany sejajar. Dapat Fany rasakan bagaimana mengerikannya wajah itu dari dekat. Bekas goresan, berombak disana mata itu melotot seakan mencuat keluar. Fany tak bisa berkata demi melihatnya. Dia ingin pergi lalu lari secepat mungkin jika ia bisa.
Ini seperti mimpi terburuk baginya. Dia sangat ketakutan.
"DI SINI!!!!" tekan Wils pada pipi sebelah kirinya.
Dia berbicara tepat di dekat telinga Fany. Gadis itu sekarang bergetar tak bisa mengontrol diri lagi untuk terus berwajah tak peduli.
Perlahan air mata keluar dari mata sipitnya. Terjatuh, disertai getaran di seluruh tubuhnya. Dia memeluk dirinya sendiri.
"DAN KAU ORANG PERTAMA YANG KELAKUKANNYA"katanya lagi yang membuat Fany menutup telinganya.
"stop!!!stopp!" pekiknya nyaring. Walau suaranya hampir habis di kata terakhir. Dia sungguh ketakutan.
Wils terkekeh, yang membuat bau busuk tercium jelas dari mulutnya. Entah bagaimana. Tapi Fany rasanya ingin muntah disaat yang bersamaan.
"Mana gadis ceria yang dikatakan Sarah? Buktinya kau hanyalah gadis gila yang berusaha merebut apa yang diinginkan putriku", kata Wils lagi tanpa berniat menjauhkan tubuh dari gadis yang ketakutan itu.
__ADS_1
Di belakangnya. Ada Sarah yang tersenyum simpul. Dia tak peduli, malahan dia sangat senang melihat Fany kacau seperti itu.
"Gimana rasanya kau ingin mati nak?" tajam laki-laki paruhbaya itu.
"Bu...nuh...saja"ucap gadis itu lemah. Dia tak tahu kemana perginya suaranya yang tadi.
Fany sangat ketakutan. Bayangan akan kesendiarian kembali mengusik dirinya. Juga kematian yang terjadi di depan matanya. Dia bahkan tak berani membuka matanya sekarang.
Trengggg
Trengggg
Suara benda terjatuh juga pecahan sesuatu terdengar dari tempat mereka sekarang.
Fany tak terlalu peduli, karena rasa takutnya mendominasi.
Tapi Wils akhirnya memilih keluar.
***
Seorang laki-laki muda memasukkan motornya ke dalam hutan. Walaupun hutan itu jauh ke dalam pelosok. Tapi tetap saja jalan yang dilaluinya lancar. Seakan memang jalan itu sudah sering dilalui orang-orang.
Bulan purnama memancar di atas sana. Hingga suasana tak terlalu gelap melalui pencahayaan alami itu.
Dia sama sekali tak takut akan apa yang menantinya di dalam sana. Pandangannya terus mengarah ke depan. Memerhatikan agar tak ada hambatan sedikit pun.
Dan akhirnya dia menghentikan motornya pada sebuah gedung tua tepat di tengah hutan. Rahangnya entah sejak kapan mengeras. Dia memarkir motornya sembarang arah.
Matanya menatap tajam seakan siap menerkam siapapun yang menghalangi jalannya.
Orang-orang berpakaian serba hitam menghampirinya. Menatapnya dengan penuh seringaian. Tapi tetap saja tak mengurangi percaya diri orang itu.
Dia mengepalkan tinjunya. Lalu mulai mengeluarkan kemarahannya sejak tadi. Tanpa berkata apapun dalam waktu singkat dia menghabiskan orang berpakaian serba hitam sekitar delapan orang.
Dia melanjutkan langkah. Matanya yang hitam menatap awas. Juga waspada.
Dia masuk ke dalam gedung tua itu. Dinding yang mengelupas adalah hal yang pertama kali dilihatnya. Lantai yang retak, serta beberapa bercak darah yang sudah kering.
Dia mencari ke sekitar tapi sudah tak ada orang-orang berpakaian serba hitam itu.
Treng!!!!
Dia sengaja menjatuhkan wadah aluminiun yang terletak diatas meja untuk membuat orang yang dicarinya keluar dengan sendirinya.
Apapun yang ada dihadapannya dijatuhkannya. Juga beberapa botol bir di pecahkannya. Hingga belingnya berserakan di lantai.
Entah mengapa tak ada ketakutan sedikitpun di matanya.
" WILS!"katanya mulai membuka satu persatu pintu yang ada di gedung tua itu.
Dia bahkan merasa tak aneh sedikitpun akan keadaan sekarang.
Baru saja dia hendak membuka bilik yang paling sempit. Sebuah kekehan khas membuatnya menoleh.
Dia menatap wajah menyeramkan itu dengan mata berkilat.
"Hahahahaa.....kau mencariku nak?" tanya suara sedalam sumur itu meremehkan.
Dengan cepat laki-laki itu menoleh. Nafasnya memburu, bersiap memberikan pelajaran pada laki-laki paruhbaya di depannya.
"Di mana dia?" tanyanya penuh penekanan. Tak ada toleransi di tiap kata yang ia ucapkan.
Mereka mungkin berada di tengah gedung.
"Jangan terlalu terburu-buru. Kita akan bermain sebentar!" cetus Wils yang membuat orang dihadapannya semakin memggeram.
"Tak akan ada waktu!" katanya lalu maju.
Bugh!
Dia memukul wajah lalelaki paruhbaya itu.
Bugh!
Bugh!
Dia terus memukulinya. Hingga ia tak sadar. Jika orang-orang berpakaian hitam sudah berkumpul mengelilingi mereka membentuk sebuah lingkaran.
Mungkin ada sekitar dua puluh orang dan semuanya terlatih. Juga beberapa orang yang mungkin masih baru.
Seseorang menarik kerah bajunya dari belakang hingga cowok itu berhenti melakukan aksinya. Dan baru menyadari kelalaiannya. Wils yang tadi terbaring di lantai langsung bangun.
Lalu kembali terkekeh.
"Tenagamu boleh juga! Tapi kau harusnya tak menyia-nyiakannya nak!" ejeknya.
__ADS_1
"Karena mereka masih sangat banyak untuk kau lawan sendirian!" lanjutnya.
Cowok itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Memang yang mengelilinginya hanya dua puluh orang. Tapi dia tahu di belakang atau di luar sana. Kurang lebih jumlah mereka sama besar seperti yang ada di dalam.
Dia menghela nafas frustasi.
"Dimana dia?" tanyanya tepat sasaran. Dia tak mau membuang waktu lebih lama lagi hanya untuk meladeni mereka. Dia tahu karena jumlah mereka terlu banyak untuk dilawannya sendirian.
"Hehehe! Ternyata kau masih tak sabaran rupanya!"
"Kau lumayan berbeda dengan bocah yang dulu sering merengek padaku. Juga memjadikanku sebagai panutan. Tapi harus kuakui. Ternyata aku memberikan pengaruh yang cukup kuat dihidupmu nak! Buktinya kau memilih pekerjaan yang dulu kulakukan padahal kau punya harta berlimpah".
"Jangan bercanda denganku! Dan katakan dimana dia!" tekan cowok itu tak sabaran.
Bahkan raut wajah datarnya menghilang entah kemana.
"Tenang, tenang dulu nak!"
Tapi cowok itu tak peduli, dia menerobos saja orang-orang yang mengelilinginya. Lalu mencari orang yang memang membuatnya ke sini.
"Fan! Fany!!!" panggilnya pada gadis itu. Sementara Wils dan anak buahnya hanya menatap cowok itu dalam diam. Mungkin menikmati pertunjukannya.
Cowok membuka bilik yang tadi belum di bukanya. Dan terkejut ketika mendapati orang yang dikenalnya berada di sana.
"Apa yang lo lakuin?" tanyanya tepat sasaran. Matanya menatap penuh selidik orang dihadapannya.
Gadis berwajah oriental itu tanpa aba-aba langsung memeluknya. Sangat jauh berbeda dengan raut wajah yang sebelumnya.
"Ad gue sayang sama lo! Makanya gue lakuin ini. Gue cuma mau jadi milik lo. Juga gue gak rela jika ada orang lain yang berani ambil lo dari gue!" jelasnya mulai terisak.
Cowok itu langsung menghempaskan tangan yang melingkar di pinggangnya. Dia muak. Sangat muak.
"Jangan berani sentuh gue!" sentak Adly yang membuat Sarah kaget.
"Gue gak suka pada orang bermain kotor kayak lo!" ketusnya.
Lalu menit berikutnya. Dia merasakan benturan keras di kepala bagian belakangnya. Kepalanya terasa pusing setelah benturan itu terjadi. Dia agak limbung lalu terjatuh. Menyisakan Sarah yang membeku melihat semuanya. Saat cowok itu terjatuh, matanya tepat terarah pada Wils.
Perlahan air mata merembes dari cela pipinya.
Apa yang harus dilakukannya?
Juga ada seseorang yang melihat semuanya yang berdiri tepat di belakang Sarah. Sebuah seringaian terbit dari bibirnya.
***
Orang itu kembali terkekeh. Seakan menertawakan karena orang yang mereka sayangi meninggal di depan mereka tanpa ada yang bisa melawan.
"Kau kenapa?" tanya Wils yang mendapat tatapan tajam dari Willy.
"Kenapa paman melakukannya?" anak itu balik bertanya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya jelas terlihat naik turun.
"Jadi kau mengenalku?"
"Willy tahu, paman adalah badut yang waktu itu". Ungkap Willy dengan mata menutup.
Kening Wils terangkat. Entah kagum entah kesal. Yang jelas salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil.
"Dari mana kau tahu?"
"Willy kenal sama paman badut. Tapi kenapa paman melakukan ini pada ayah!"
"Ini adalah balasan atas perbuatan ayahmu,padaku"
Jeda sejenak
"Dia membunuh anak dan istriku!" lanjutnya kemudian.
Anak-anak di sana membelalak tak percaya.
"Tidak mungkin. Ayah tak mungkin pembunuh". Elak Ian dengan nafas tersegal.
Wils melihat Ian dan Willy bergantian.
"Menarik juga! Kalian terlihat sama tapi jelas kalian orang yang berbeda",kata Wils menarik kesimpulan dari yang dilihatnya.
"Tapi aku hanya menginginkan salah satu dari kalian!" lanjutnya lagi.
Menit berikutnya, seseorang membekap mulut Willy dengan sapu tangan. Hingga ia merasakan aroma itu. Yang membuat seluruh rongga tubuhnya terasa berhenti bekerja.
Kesadarannya perlahan menghilang. Samar suara kendaraan mendekat masih bisa di dengarnya. Juga wajah terkejut adiknya.
"Kak Willy!" Ian walaupun kesusahan berusaha menghentikan Willy yang akan dibawah pergi.
***
__ADS_1
Tbc
Ian sama Willy. Orang yang berasal dari masa lalu Fany