My Clown Boy

My Clown Boy
68


__ADS_3

"Apa yang pernah dimulai pasti akan memiliki akhir. Tapi kita tak akan bisa menebak akhir sesungguhnya itu bagaimana. Karena setelah sebuah masalah berakhir. Hidup akan terus berlanjut membentuk sebuah kesan".


***


Anak itu mengerjap beberapa kali. Mata hitamnya berusaha menyesuaikan jumlah intensitas cahaya yang masuk.


Pelan tapi pasti tangannya tergerak sedikit sebelum akhirnya bisa melihat ibunya yang sedang hamil muda berdiri di sisinya dengan mata bengkak.


"Bun..." dan panggilan singkat itu langsung memberi reaksi pada orang di dekatnya itu.


"Willy...kamu sudah sadar nak!" katanya berusaha untuk menahan air matanya. Ibunya terlihat mengenakan pakaian warna hitam. Siapa yang berkabung.


Willy menolehkan kepala ke sekitar. Ibunya tak sendirian. Di sana ada Ibu Ryan serta ayahnya. Juga om Farhan yang ia tahu ayah Steffy.


Mereka semua mengenakan satu warna pakaian. Hitam. Dan Willy tahu artinya.


"Ada apa bun?" tanyanya serak yang di jawab gelengan oleh Wati.


"Tunggu bunda panggilakan dokter ya" pesan Wati sebelum akhirnya keluar.


"Ayah mana?" tanyanya pada orang-orang di sana. Karena tidak biasanya mereka berkumpul tanpa sosok yang menjadi pemimpin mereka yaitu ayahnya.


Ketiga orang dewasa itu berpandangan. Saling mengode. Membuat ingatan Willy kembali ke malam nahas itu.


Langit malam yang mencekam. Juga lolongan kesakitan.


Darah...


"Jangan bilang dia pergi!" kata anak itu mulai paham apa yang terjadi.


Ketiga orang dewasa itu tak bisa berkata-kata. Hal yang terjadi barusan adalah hal yang sangat mereka sayangkan.


"Ian mana?" tanyanya kembali mengingat adiknya yang kemarin terlihat mengenaskan.


Melihat respon yang sama itu membuat mata Willy berkaca-kaca.


"Ian mana?" tanyanya sekali lagi. Entah mengapa ia merasa gagal untuk menjadi seorang kakak. Bukankah hal itu merupakan janjinya pada sang ayah. Untuk melindungi adik-adiknya.


Mama Ryan mendekat berusaha menenangkan anak itu. Mengusap pelan kepalanya.


"Ian pergi gara-gara Willy gak bisa lindungi!" katanya menyalahkan diri sendiri.


"Tidak... Tidak sayang! Kau sudah berasaha maksimal. Tapi kamu tidak bisa mengimbangi mereka", hibur wanita muda itu suara lembutnya terdengar menenangkan.


Willy menggeleng.


"Willy kakak yang buruk", katanya sambil berusaha melepaskan cairan infus di tangannya.


"Kamu mau ngapain Wil?" tanya wanita itu kembali lembut.


"Willy mau nyusul mereka. Willy tak bisa menepati janji Willy!" anak itu merasa sesak. Sesak karena kehilangan.


Tapi tiba-tiba pintu terbuka. Hingga masuklah sosok dokter ke dalam ruangan.


Mata Willy terbelalak. Melihat dokter itu. Entah dia merasa muak karena sang dokter tak bisa menyelamatkan ayahnya.


Padahal yang bersalah adalah dirinya.


Willy kemudian kembali berbaring. Lalu sang dokter mulai memeriksanya. Matanya, kerongkongannya. Bahkan denyut jantungnya.


Setelah selesai. Entah apa yang di suntikkan dokter ke dalam cairan infus miliknya. Tapi setelah itu dia merasa tenang.


Lalu kembali tertidur.


Lalu dokter itu keluar berbicara dengan Wati. Cukup serius. Padahal Wati yang saat itu sedang hamil muda tak boleh terlalu stres.


Dokter memberitahukan kemungkinan-lemungkinan yang akan dialami oleh putranya itu. Sang anak terlalu menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi ayahnya mati di depan matanya. Dan kemungkinan ada sedikit masalah.


Itulah yang dijelaskan dokter pada Wati.


Lalu setelahnya dokter itu pergi ke ruangan lain.


___


"Bun...." kata anak itu kembali tersadar. Malam sudah kembali, terlihat dari lampu rumah sakit yang telah menyala.


Di ruangan itu hanya ada dirinya dan ibunya. Mata hitamnya mengerjap polos. Seakan baru bangun tidur.


Wati yang sempat menundukkan wajah terkesiap demi mendengar suara kecil itu. Wanita itu sudah bisa tersenyum tipis seperti yang dilakukannya sekarang.


"Ian kenapa di sini?" tanya anak itu dengan mata menyendu.


Deg!!!


Jantung Wati entah kenapa terasa akan melompat dari tempatnya. Seakan ada hantaman keras di sana.


Walaupun dokter sudah menjelaskan kemungkinannya. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan.


"Kamu demam sayang!" dustanya mengikuti saran dokter tadi.


"Kak Willy mana?" tanyanya kembali.

__ADS_1


" Willy nggak ada" kata Wati menghembuskan nafas kasar.


"Kemana?" tanya anak itu lagi.


"Ian suka lihat kak Willy jadi badut lalu bikin bunda senyum dan gak nangis kayak gini".


"Ian juga bisa kok,nak!"


"Benarkah?" tanya Ian berbinar. Wati hanya mengangguk.


Karena terlalu merasa bersalah. Perlahan otaknya menanggapi sinyal. Sehingga anak itu berniat mengubah dirinya menjadi Ian. Dan mungkin karena itu yang terus dipikirkannya. Jadilah dirinya sepenuhnya hidup sebagai Ian.


Bahkan namanya Adly Mahardika. Yang berasal dari Adlian mahardika. Nama adiknya.


***


Suara-suara riuh dari luar terdengar mulai masuk. Ali dengan senyuman khasnya kembali membanggakan diri seakan mengatakan.


'Ini semua karena gue'. Adly melengos, melihat wajah yang entah kenapa tiba-tiba bertambah menyebalkan.


Lihatlah sekarang. Ali seakan sudah mulai ingin berlari-lari jika memungkinkan. Dia berdiri, lalu mulai melangkah hendak mendekati Wils. Tiba-tiba terdengar bunyi khas mobil polisi.


Ali tersenyum samar seakan mengejek Wils yang terlihat terpojok.


Kamu sekarang tak bisa lari. Seakan begitulah maksud tatapan itu pada Wils.


Adly entah sejak kapan tiba-tiba seakan bisa membaca pikiran cowok satu itu.


Liam menatap bengis Wils yang masih terus terlihat biasa saja padahal pistol miliknya sudah terlempar. Juga tangannya yang terluka.


Entah mengapa ia merasa hal ini sangat janggal. Tapi berusaha di tepisnya.


Cowok itu menoleh, mencari keberadaan Adly tapi sudah tak di temukan di tempatnya.


Suara keras itu membuatnya menoleh ke kiri.


***


"Sejak kau membunuh ayahku!" tekan pemuda itu menatap Wils dingin. Semua orang terperangah mendengar jawaban Liam. Tapi Adly tertegun.


Mungkinkah dia?


Mereka terus saja berpandangan dalam hening. Perlahan otak Adly memberikan respon. Liam entah mengapa ia merasa ikatan itu semakin kuat. Juga nalurinya perlahan tumbuh.


Dia ingin berlari untuk memeluk orang itu. Tapi sadar mereka masih berada di tempat laknat ini.


Tanpa sengaja cowok itu melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari sana. Sosok yang dikenalnya sedang memegang sesuatu.


Yang jika Adly lihat adalah sebuah pistol.


Oh tidak!!!


Apalagi gadis itu menatap lurus pada Liam. Adly menoleh ke kanan dan ke kiri semua orang sibuk pada Wils. Hingga tak ada yang menyadari keberadaannya.


Sementara Wils sendiri melirik gadis yang berdiri mematung itu.


"Licik" batin cowok itu beranjak berdiri ketika melihat Sarah mulai menarik pelatuknya. Seringaian kecil tanpa suara terlihat dari gadis itu.


Dor!!


Awalnya hening,lalu menit berikutnya serentak menoleh ke asal suara.


Tapi perhatian mereka sudah terlambat. Apalagi semuanya terjadi begitu cepat. Dengan tanpa aba-aba. Tak ada yang tahu apa yang di inginkannya.


Pelurunya mulai terlepas. Untungnya jarak mereka lumayan jauh. Dan dalam menit yang menentukan. Ketika Liam baru tersadar. Saat itu juga Adly telah berlari ke sana.


Semuanya hampir terlambat. Tapi untung saja ia tiba di saat yang tepat. Perih terasa ketika peluru itu menembus perutnya. Memberikan luka yang dalam.


Perlahan ingatan itu berputar cepat di kepalanya. Dimana ayahnya di tembak membelakanginya. Tubuh pucat dan tak berdaya teringat olehnya.


Cowok itu limbung, tak bisa menggambarkan rasa sakit itu.


Nafasnya terasa terputus-putus.


Detik berikutnya terdengar suara teriakan dari orang yang dikenalnya.


"ADLY!!!!!!!" teriak Fany syok. Nafasnya berubah tak beraturan langsung berlari.


Adly tersenyum. Senyuman yang amat simpul. Lalu terjatuh tergeletak di lantai.


Hal yang terjadi hari ini akan menjadi hal yang paling berarti dalam hidupnya.


Setidaknya sekarang dia tak perlu hidup dalam rasa bersalah. Juga kungkungan kebimbangan yang amat sangat.


Entah mengapa tak ada lagi yang peduli pada Wils. Semua atensi tertuju padanya.


Dapat dia lihat adiknya itu membeku.


Juga Fany serta Ali berlari ke tempatnya.


"KAK!!! Willy"teriak Liam, merasa terguncang.

__ADS_1


Mendadak jantungnya seakan ditikam. Dia berlari sekencang mungkin ke tempat Adly memegangi perutnya.


"Gue udah jadi kakak yang bisa lindungin adiknya!" katanya lemah. Tapi terus tersenyum.


"Lo nggak keganggu kan punya kakak selemah gue?" tanyanya sambil menahan ringisan. Wajah Adly memucat.


"Hush! Lo jangan bicara kek gitu kak! Gue bahkan senang banget pas tahu lo itu kakak gue. Gue sering banggain ke teman-teman!" Liam tak bisa menahan diri untuk tak menangis apalagi kakaknya sedang berada dalam kondisi sekarat.


"Husss lo jangan nangis. Lo tahu kan alasan gue lakuin pekerjaan gue?"


Liam mengangguk.....dadanya bergemuruh.


"Bagus...nanti lo kembali ke bunda ya!"


Liam kembali mengangguk....


Sedangkan Fany terus terisak di sisinya yang lain.


Adly kembali tersenyum.


"Lo jangan pernah bikin diri lo nangis kek gitu. Gue gak suka!" pesan Adly menatap mata coklat itu tepat.


Rasa itu membuncah. Tapi di kalahkan oleh rasa sakit miliknya.


"Ayah!!!........ W....ill..y be...rha...sil kan lin...dun....gin Ian"paraunya dengan suara terputus-putus.


Lalu perlahan-lahan kesadarannya direnggut. Dan semuanya gelap.


"Ad....ADLY!!!!" Fany tak bisa menahan tangisnya. Gadis itu meraung. Berharap semua yang terjadi sekarang hanya mimpi.


Hari ini dia seharusnya bahagia .


Tapi kenapa berakhir seperti ini.


Dia mengguncang bahu cowok itu. Tapi tak ada reaksi.


Liam dan Fany saling berpandangan untuk waktu yang lama.


Tak mau bersiap pada kemungkinan terburuk.


Kenapa hari ini mesti ada?


Tuhan tolong bangunkan Fany sekarang.


Setetes....dua tetes.....hingga terjatuh terus menerus tanpa bisa di tahan.


***


Sarah yang tadi tersenyum menipiskan bibir. Tak menyangka hal yang akan terjadi berubah dengan cepat. Gadis itu merosot ke lantai dengan seluruh tubuh gemetaran.


Pistolnya terjatuh entah kemana. Dia menatap kosong ke arah tubuh yang mulai tergeletak itu.


Dia dengan jelas tadi mendengar Liam menyebutkan kata Willy. Itu artinya William yang sebenarnya itu adalah Adly orang yang di kenainya tembakan.


Sedangkan Adlian yang sebenarnya adalah orang yang selalu bersamanya. Orang yang selalu ada untuknya dalam bahaya apapun.


Sarah menjadi sesak sendiri merutuki kebodohannya.


Harusnya dia sadar tatapan Liam itu berbeda padanya. Harusnya ia mengakuinya jauh-jauh hari. Jika anak kecil yang bernama Adlian itu adalah William yang sekarang. Sungguh Sarah sangat bodoh tak menyadari tatapan Liam yang sangat sama dengan Adlian.


Apakah ia menyesal. Atau hanya takut pada kemungkinan terburuk?


Tak berapa lama langkah cepat terdengar mendekat. Sarah menahan nafas. Menit berikutnya, orang-orang berseragam coklat itu datang menodongkan pistol.


"Jangan bergerak!"


Sungguh! mungkin inilah akhir hidupnya. Harus dihantui rasa bersalah.


Hening.


Tapi suara tangisan jelas terdengar dari bibir Fany.


Malam kian larut udara, suasana kian mencekam. Di luar sana lolongan serigala terdengar.


Seakan turut berduka cita.


Bulan purnama sempurna terbentuk memancar melalui jendela. Seakan ikut mengintip ke dalam gedung tua itu.


Haruskah ini berakhir?


Tbc


Sorry kalau feelnya gak dapat. Soalnya aku juga baru belajar. Juga baru pertama kali bikin cerita. Sungguh.


Aku udah berusaha buat nyelesaiin ni cerita. Dan akhirnya. Berhasil. Aku senang. Walau gak bagus. Tapi aku senang banget akhirnya cerita pertamaku tamat juga😂hehe....


Mohon krisar nya ya


Apalagi aku tahu jika karya ini masih banyak kekurangannya. Dan insya Allah aku akan berusaha memperbaiki.


***

__ADS_1


Hmmm...ada yang kasihan gak sama si Adly. Jadi selama ia hidup ia terus dihantui rasa bersalah akan kematian adiknya.


Gejeeeh


__ADS_2