
"Jangan terlalu melebih-lebihkan hal yang kecil hanya kerena ingin sebuah pengakuan".
***
"Lo kenapa sih Li?" tanya gadis yang memiliki potongan rambut pendek.
"Iya. Li perasaan dari kemarin-kemarin Lo gak kayak gini deh!" tambah Reza salah satu teman Ali yang kemarin mencalonkan diri menjadi ketua osis bersama dengan Ali. Tapi entah keajaiban dari mana Reza yang notabenenya orang sebleng yang terpilih.
"Apa jangan jangan lo kecantok cewek di Singapura?" tanya Reza dengan wajahnya yang berbinar.
Dengan cepat Deska menampol wajah cowok bergigi kelinci itu.
"Li. Lo juga jarang nongkrong ama kita-kita" tambah Deska kemudian setelah puas dengan Reza yang sekarang meringis lalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena pusing.
Mereka sedang berada di kantin. Makan siang. Ali terlihat aneh karena akhir-akhir ini kebanyakan melamun gak kayak biasanya yang dengan senangnya menggoda cewek ke sana kemari.
Tapi Ali berbeda akhir-akhir ini seakan gak peduli pada sekitarnya.
Makanannya pun yang di pesannya di kantin mas Dono hanya di maakannya setengah. Setelah itu asik dengan lamunannya.
"Apa lo galau karena suara gue lebih banyak dibanding lo bro?" tanya Reza dengan songong.
Ali tak menjawab.
"Maaf bro. Itu karena pesona ketampanan gue lebih terasa dibanding lo!" lanjutnya dengan wajah sok gantengnya. Dan dengan entengnya dia mencari pembelaan pada Deska. Gadis yang lebih terlihat seperti seorang laki-laki. Kemeja putihnya dia gantung diatas kursi karena merasa gerah.
Yang terlihat dari Deska untuk menandainya perempuan hanya karena rok yang sekarang digunakannya. Karena di Adyatama High School mewajibkan seorang perempuan untuk mengenakan rok selutut.
"Lo kebanyakan drama kayaknya Za". Ujar Deska sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mungkin sedikit miris dengan sahabatnya itu.
"Tapi gue ganteng kan?" katanya sambil menaik turunkan alisnya.
Dan demi melihat itu Deska hampir saja muntah.
"Taik kucing dikata ganteng. Sorry gak level". Cibir gadis itu.
"Jadi itu artinya gantengan lo ya ta?"
Deska memutar bola mata,malas meladeni Reza. Ketua osis apaan yang tingkahnya kek gitu selain seorang Muh. Reza. Seharusnya dia sedikit lebih bertanggung jawab dan dewasa tapi eh tingkahnya malah semakin menjadi.
"Mau gue timpuk?"tambah Deska jadi semakin gregetan.
"Sorry,sorry!!!gue cuma bercanda" ucapnya cepat karena jika Deska sudah marah maka akan sulit untuknya kabur dari cewek itu.
__ADS_1
"Gimana cara gue biar bisa nemuin orang itu?" gumam Ali bertanya tapi lebih ditujukannya pada diri sendiri.
Dan hal itu malah ikut di dengar Deska maupun Reza. Mereka berdua saling melirik melempar pertanyaan.
"Maksud lo li?" tanya Deska meminta kejelasan.
Ali yang tadi melamun langsung tersadar. Kemudian menggeleng pelan.
"Gak!gak papa kok. Lo berdua lanjutin makan aja!" Jawab Ali dengan senyuman yang entah kenapa terlihat sedikit di paksakan.
"Tuh kan. Ali lo jangan kek gitu lah sama kita. Lo sirik karena gue yang terpilih jadi ketos. Guekan dah minta maaf Li!" ceplos Reza,tapi ketika sadar langsung menutup mulutnya sendiri begitu melihat tatapan horor dari Deska yang di tujukan padanya.
"Gak bukan gitu".
"Terus apa? Gue terlalu ganteng. Atau Deska yang terlalu gak peka?" cerocos Reza kembali.
"Loh kok lu bawa-bawa gue peyang!" ujar Deska sarkastis.
"Bukan itu juga!"
"Apa sih emangnya. Gue sebagai sahabat lo itu cuma mau tahu. Kalau bisa kita bantu lo nyelesaiin tuh hal yang buat lo kek gini"
Ali menghembuskan nafas pelan, lalu melihat kedua temannya.
"Lalu apa?" tanya Deska kembali bersamaan ketika dua orang berlawanan jenis lewat di dekat meja mereka menuju ke tempat mas Dono berada.
"Gue lagi cari seseorang untuk nyembuhin trauma adek gue!" jawabnya lelah.
Dan mereka tak sadar jika orang yang lewat tadi menajamkan indra pendengarannya begitu adek Ali di sebut. Siapa lagi kalau bukan Adly. Cowok yang patut di salahkan atas semua ini. Tapi masih berada dalam zona nyaman di kungkungan rasa bersalah.
"Adek lo trauma.Sejak kapan?" tuntut Deska.
"Udah lama!"
Hening menyelimuti mereka bertiga termasuk Reza yang memilih diam di banding menyeletuk seperti yang di lakukannya beberapa menit yang lalu.
Tiba-tiba mata Reza berbinar seakan ada sebuah ide besar dalam benaknya.
Lalu setelah itu dengan bersemangatnya bercerita.
"Gimana kalau orang itu gue Li!" katanya dengan semangat.
Dan Deska kembali hendak menimpuk cowok itu. Entah kenapa setiap berada di sekitar Reza dia selalu merasa kesal. Dan emosinya dengan cepat naik.
__ADS_1
Ali yang mendengar itu tak bisa berkata apa-apa. "Lo yakin kalau lo bisa?"tanya Ali memastikan.
"Jika Tuhanku mengijinkan" jawabnya dramatis dan detik itu juga sendok melayang di atas kepala Reza.
Reza mengusap kepalanya pelan.
"Lo kenapa sih Ka kalau ke gue galak mulu. Sekalinya ke Ali malah jadi lembut. Ke orang lain jadi orang baik. Kenapa cuma gue yang di dzolimi!" sungutnya merasa miris sendiri dengan gaya yang sedikit berlebihan.
"Tanya diri lo sendiri. Dimana masalahnya!"
"Lo kejam banget sama gue Ka.Bahkan sekarang aja lo gak bisa bicara baik-baik ke gue!" Cowok itu kembali mendramatiskan suasana.
"GAK!"
"Kalian berdua kenapa bertengkar mulu. Katanya tadi mau bantuin gue cari solusi kalau udah cerita. Kenapa sekarang malah asik!" Interupsi Ali yang membuat keduanya bungkam.
"Seakan gue gak dianggap diantara kalian!"
Deska langsung menggeleng. Dan semua itu tak luput dari perhatian Reza.
"Bukan gitu Li. Dia itu orangnya ngebuat gue pengen meledak mulu!" Adu cewek itu penuh dengan sumpah serapah.
"Gue curiga sama kalian berdua. Jangan jangan ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari gue!" selidik Ali menatap kedua temannya bergantian. Dan kedua orang itu refleks msnggeleng.
"Gak ada!" kata mereka berbarengan sedetik kemudian.
Ali mengeluarkan tatapan polosnya kepada kedua temannya itu. Dengan maksud.
Yang barusan apa?
Reza menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tauu ah! Gue rasanya udah mau masuk. Mungkin pak gun udah di kelas!" Pamit cowok itu begitu bel istirahat selesai berbunyi.
Orang-orang di kantin juga sudah keluar sejak tadi. Dan sekarang hanya menyisakan Deska dan Adly. Deska yang berasal dari IPS tiga itu tak terlalu peduli dengan pelajaran. Sementara Ali yang walaupun bolos selama sebulan tak akan merasa kesulitan untuk mengejar pelajaran dengan hasil akhir memuaskan.
"Semangat ya Al!!!" ujar gadis itu menyemangati Ali sebelum ikut meninggalkan kantin.
Ali melihat sesuatu yang terjatuh dari tempat duduk Deska beberapa saat yang lalu. Sebuah buku harian kecil.
Ali mengambilnya. Lalu hendak membukanya. Tapi sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Hingga cowok itu urung. Dia memilih menoleh.
Tbc
__ADS_1