
"Lo harus sadar! Apa yang ada sekarang,bisa jadi menghilang suatu saat nanti".
***
Terdengar suara klakson mobil berkali-kali di luar sana. Membuat Fany yang hanya meringkuk di atas kasur penasaran dengan apa yang terjadi di luar.
Kamarnya agak gelap karena jendelanya selalu tertutup semenjak kejadian itu. Dan Farhan maupun Ratih memakluminya karena mereka tahu jelas keadaan putri bungsunya itu. Dia tak bisa-atau lebih tepatnya tak mau tidur karena takut dengan mimpi buruk itu lagi.
Dan karena kebisingan yang terjadi di luar untuk pertama kalinya selama sepuluh hari terakhir ia memutuskan membuka gordyn jendela yang mengarah ke luar.
Matanya yang coklat merasa agak silau karena terlalu lama berada di dalam kegelapan.
Fany mengerjap beberapa kali,berdiri di dekat jendela dengan memeluk boneka panda besar miliknya. Karena hal itu bisa membuat tangan dinginnya terasa sedikit hangat.
Fany melongokkan kepalanya dan mendapati mobil sport merah di depan rumah. Dia jelas tahu pemilik mobil itu. Salah satu orang yang ingin di hindarinya. Delano Adyatama,cucu pemilik yayasan.
Fany mundur beberapa langkah ketika ia melihat cowok itu juga melihat kearahnya. Yang tak peduli pada bodyguard yang berjaga di sekitar rumah.
Tak berapa lama Fany melihat Ali keluar dengan muka kesalnya,dan saat itu Delano memutuskan arah pandangannya dari Fany.
Fany mundur beberapa langkah. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Matanya yang kuyu mengeluarkan air mata,jangan lupakan wajahnya yang memucat seakan darah tak mengalir ke sana. Lututnya melemas tak mampu menahan bobot tubuhnya.
Hingga ia ambruk diatas lantai,dengan air mata bercucuran.
"Hiksss. Gue takut"Ingatan kejadian itu kembali terulang,Adly yang membentaknya serta perkelahian mereka. Fany sebenarnya sudah biasa melihat perkelahian. Tapi ketika melihat sifat asli Delano ia juga terpukul,benar yang dikatakan orang-orang. Delano bukan cowok baik seperti yang sering di lihatnya. Fany tak takut pada cowok itu,hanya kecewa. Tapi hal itu teredam oleh rasa takutnya.
Beberapa menit kemudian. Terlihat Ratih yang tergesa-gesa memasuki kamarnya.
"Kamu kenapa sayang". Tanya Ratih sembari membangunkan Fany yang masih terduduk dilantai ubin yang dingin. Ia membawa putrinya itu ke sofa kecil di pojok dinding.
Fany menjambak rambutnya frustasi,ketika ia sudah duduk diatas sofa. Nafasnya memburu,air mata tak berhenti mengalir.
Ada emosi di dalam sana yang ingin ia keluarkan namun tak bisa.
__ADS_1
Dia berteriak,meraung,lalu kembali menangis kencang. Ibunya di sampingnya tak bisa berkata-kata. Atas apa yang terjadi,pada putrinya.
"Kau harus kuat nak!" dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Setelah itu mata Ratih tertuju pada gordyn jendela yang terbuka.
Wanita paruh baya itu mendekat karena penasaran akan apa yang baru saja dilihat putrinya.
Dia menghela nafas pelan begitu menyadari apa yang membuat Fany histeris. Ali memang sudah menceritakannya secara detail kenapa Fany tiba-tiba kembali ke fobianya.
Fany yang masih menangis sudah melepaskan boneka pandanya yang besar itu. Matanya terarah pada pisau buah yang terletak di nakas dekat lampu tidurnya. Dia berjalan ke sana kala sebuah ide terbesit di pikirannya. Langkahnya mantap. Ia harus mengakhiri rasa takut yang terus menderanya. Menyiksanya dalam kungkungan asa.
Dia menoleh sejenak ke arah ibunya yang masih menatap ke halaman.
Fany menguatkan hati,tak peduli pada boneka pandanya yang masih tergeletak di hadapannya. Dia mengambil pisau itu lalu menggoreskannya ke tangannya. Tempat nadinya berdenyut perlahan.
***
Suasana jalanan sore itu tak terlalu macet seperti biasanya. Semua berjalan dengan lancar,apalagi dengan keadaan yang cerah seperti sekarang.
Tapi hal yang berbeda yang di rasakan oleh kedua remaja yang masih berdiri di depan penjual gorengan yang masih kaku. Apalagi tatapan dingin itu terarah pada mereka.
Ima melirik Rini,menyalahkan cewek itu karena ide gilanya. Bagaimana kalau seperti ini. Siapa yang bertaggung jawab. Rutuknya masih menatapnya dengan sinis.
Sedangkan Rini hanya santai,tersenyum tipis ke arah Adly seakan hal ini bukan masalah serius. Deru kendaraan yang berlalu lalang tak mengubah suasana tegang yang tercipta di sekitar mereka.
"Kenapa?" tanya cowok itu,masih datar. Bekas lukanya masih terlihat jelas di sekitar bibir dan pelipis.
Kening Ima dan Rini mengerut samar. Tak mengerti pertanyaan singkat itu.
"Gak papa. Hehehe" Rini yang menjawab,kikuk.
Adly memutar bolamata,jelas cowok itu menangkap keanehan dari gerak gerik mereka.
"Pergi" Usir Adly tanpa embel embel di hadapannya.
__ADS_1
Membuat Ima merasa kesal sendiri.
"Lo kenapa sih irit banget ngomong?Emangnya kalau ngomong panjang harus pake duit? Atau lo dapat tagihan setelah ngomong lebih dari tiga kata makanya ngomongnya singkat" Kesal Ima karena Adly masih saja berbicara sesingkat dan sangat sedikit di saat mereka penasaran setengah mati pada cowok yang ditaksir salah satu sahabatnya ini.
Adly masih tak bergeming,tetap santai dan tidak peduli.
Dan Ima berani bertaruh,jika seandainya sekarang ada perang dunia pun pasti Adly enggan bergerak.
"Bukan urusan lo"
Mas-mas penjual gorengan,mungkin mendengar suara Ima yang kesal tadi. Terbukti sekarang pria tua-gemuk itu melongokkan kepala penasaran. Dan Rini langsung menjelaskannya dengan lancar. Hingga penjual gorengan itu kembali sibuk dengan kegiatannya.
Kembali hening beberapa saat
"Gue pergi", Adly lalu melangkahkan kaki tanpa berniat memperpanjang urusannya. Dia kemudian mengambil kantong kresek yang menggantung di atas motornya,lalu kembali berjalan tanpa menengok.
Rini dan Ima keki setengah mati karena ketidakpedulian cowok itu. Mereka heran,kenapa Fany bisa tergila-gila pada cowok menyebalkan seperti itu.
"Hei!" teriak Ima dan Rini bersamaan sehingga Adly berhenti sejenak.
"Lo nggak pernah peduli pada Fany,walau sedikitpun. Lo gak suka sama dia?" tanya Rini merasa miris sendiri dengan sahabatnya satu itu. Dan ia tak tahu bagaimana keadaannya saat itu.
Adly menelan ludah susah payah. Entah apa yang ia rasakan,tapi nama Fany ketika di sebuat orang lain sukses selalu membuatnya tertegun. Dia menoleh,memilih menggeleng lalu pergi tanpa peduli lagi.
Ima dan Rini masih berdiri mematung di tempat itu. Mereka melihat kepergian Adly,saat berada di ujung dia menelpon seseorang. Lalu beberapa saat kemudian muncul cewek dengan pakaian hitam yang mungkin sering di lihat Ima. Cewek itu mengambil alih kantong kresek di tangan Adly lalu mereka berjalan beriringan masuk semakin dalam diantara rumah-rumah yang berjejer.
Sekarang sudah terbukti apa yang sering dilihat Ima itu memang benar. Dan cewek yang bersama Adly itu hanya bisa ditebak-tebaknya bagaimana posisinya di hati Adly.
Mereka kemudian memilih meninggalkan tempat itu. Tempat dimana mereka mengetahui isi hati Adly untuk sahabatnya.
"Ma.Mampir ke rumah Fany gih! Gue rindu sama dia". Pinta Rini yang diangguki Ima. Kali ini Ima melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dan mereka berdua pun tahu alasannya.
Tbc
__ADS_1
Lelah😕