My Clown Boy

My Clown Boy
47


__ADS_3

"Setidaknya itu masih sebuah firasat. Hal itu belum pasti akan terjadi atau justru tidak".


***


Mata Farhan yang tadi penuh senyuman tertuju pada sosok badut yang masih duduk di tempat tadi. Dan anehnya senyum itu tiba-tiba menghilang di gantikan wajah tak suka.


"Fany rindu tahu! Kenapa papi baru pulang sekarang sih?" tanya Fany sambil mendongak menatap ayahnya. Yang tak kunjung melepaskan tatapannya dari Liam yang duduk tak berapa jauh dari tempat mereka sekarang.


"Papi...!" panggil Fany karena merasa diabaikan oleh ayahnya sendiri.


"Papiii!" panggilnya lagi karena Farhan masih terus menatap Liam.


Farhan akhirnya tersadar setelah Fany memukul pelan dadanya.


"Ada apa?" tanya Farhan kembali,lalu wajahnya kembali disertai senyuman.


"Lupakan saja!" delik Fany karena mulai kesal. Dengan ayahnya yang seakan tak peduli padanya.


Gadis itu lalu melepaskan pelukannya. Kemudian kembali duduk di samping Liam.


"Jadi ceritanya Fany marah sama papi?" kata Farhan sambil menghembuskan nafas. Jelas sekali jika lelaki paruhbaya itu gemas dengan tingkah putrinya.


"Gak!" jawab Fany,tapi tentu saja jawaban itu bertolak belakang dengan tingkahnya yang sekarang.


Liam yang berada di dekat Fany merasa canngung dengan keadaannya sekarang. Jelas sekali bahwa Farhan tadi tak suka padanya. Walaupun tak dikatakannya secara gamblang. Hal itu terbukti dari caranya melihat Liam tadi.


"Ehm...." Liam berdehem sejenak untuk menormalkan suasana. Sehingga baik Fany maupun Farhan menoleh kepadanya.


"Perkenalkan om..."


Belum sampai kalimatnya, dengan ketus Farhan memotong ucapan pemuda itu.


"Kau siapa?"tanya Farhan penuh selidik.


"Saya Liam" jawab Liam sedikit kikuk.


"Kenapa kamu bersama anak saya!" Farhan masih tak mau bertolenransi. Dan dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya.


"Maaf om! Saya seorang relawan. Dan kebetulan mendapat tugas khusus dari dokter Fey untuk menjaga Fany". Jelas Liam,yang membuat Farhan terdiam tapi masih terus menatap tak suka kepada Liam.


Fany yang melihat keadaan menjadi tak mengenakkan segera menjadi penengah.


"Papi kenapa sih? Pulang pulang langsung marah. Kalau gitu tinggal aja terus di luar negeri!"cetus Fany yang membuat Farhan terdiam. Lalu ikut duduk di bangku yang cukup untuk tiga orang itu dengan Fany yang berada di tengah.


"Jadi papi kembali keluar negeri aja nih?" tanya Farhan bermaksud memggoda anak gadisnya.

__ADS_1


"Iya. Fany gak peduli. Pergi aja sana!" ucap gadis itu sambil menggembungkan pipi.


Liam yang merasa canggung pun berdiri  bermaksud memberi ruang kepada mereka untuk berbicara lebih leluasa. Karena pemuda itu cukup mengerti keduanya sudah lama tak bersua.


"Om!Fan saya duluan ya!" pamit Liam kepada keduanya.


Farhan hanya mengagguk seperlunya juga tak berniat melihat pemuda itu lagi. Sedangkan Fany membiarkan Liam pergi dengan membuat suasana dengan drama yang ditimbulkannya.


"Fany. papi punya kabar baik untuk kamu!"


Demi mendengar kata terakhir mata Fany langsung berbinar.


"Apa pih?"


"Minggu depan......kamu!!"


Fany harap harap cemas mendengar kata berikutnya.


***


"Halo nak! Bagaimana dia  sekarang?" tanya suara dalam yang terdengar dari sambungan telepon seorang gadis berambut coklat berwajah oriental.


Gadis itu sedang berdiri dibawah pohon yang cukup besar sehingga tak terlihat oleh kedua orang yang duduk di bangku.


Gadis berwajah oriental tersebut sedang mengamati mereka.


"Sabar nak! Sabar kau cukup menungggu kabar dariku jika semuanya sudah tepat!" kekeh orang di seberang telepon.


Gadis itu tersenyum. Lalu menatap orang yang entah sejak kepan sekarang sudah berdiiri di depannya.


Dia membeku untuk sesaat.


"Halo!halo!" suara orang di seberang telepon menggantung. Karena tidak direspon. Lalu menit berikutnya gadis itu mematikan telepon secara sepihak.


"Siapa kau?" tanyanya sedikit tergagap tapi berusaha menentang laki-laki berpakaian badut di hadapannya.


"Harusnya yang bertanya itu gue!" sinis sang badut, Liam.


"Ck!Lo mau apa dari gue?"


Liam tersenyum tapi tak terlihat oleh gadis dihadapannya.


"Apa yang lo lakuin disini?"


"Bukan urusan lo!" lalu setelah itu sang gadis berwajah oriental meninggalkan Liam begitu saja tanpa mengucapkan apapun.

__ADS_1


Tapi tanpa ada yang sadar wajah Liam berubah. Demi melihat kepergian gadis itu. Setidaknya Liam tahu diri. Bukankah seharusnya mereka tak saling mengenal. Itu kata ayahnya.


Tapi lupakanlah. Dia harus berjuang pada tujuannya yang sekarang.


***


"Minggu depan......kamu!!"


Fany harap harap cemas mendengar kata berikutnya.


"Apaan?"potong Fany merasa tak sabar psalnya ini sudah lima menit yang lalu tapi ayahnya belum melanjutkan ucapannya. Dari tadi berulang-ulang terus di kalimat yang sama.


"Kata dokter Fey jika terapi hari ini berjalan lancar. Maka minggu depan kamu sudah bisa pulang. Dengan catatan kamu tetap harus mengikuti terapi secara rutin".


Kalian sudah bisa menebak reaksi Fany. Ya!gadis itu sekarang melompat-lompat kegirangan. Lalu setelah itu langsung memeluk ayahnya kembali. Kemudian menciumi bagian pipi ayahnya.


Farhan tertawa lepas karena kebahagiaan putrinya. Entah mengapa kebahagiaanya ini lebih besar dibanding sebelumnya. Dia yakin Fany akan mampu melewati semuamya dengan baik.


Farhan kemudian melihat jam tangannya. Sepuluh menit lagi jam sembilan. Dan dokter Fey tadi sudah berpesan agar Fany dibawa sebelum jam sembilan. Karena akan memulai lagi terapinya.


"Ayo kita kembali ke RS kamu harus menjalani terapimu yang terakhir selama berada disini!" ajak Farhan kepada Fany. Hingga Fany akhirnya langsung mengiyakan.


Fany kemudian naik ke kursi rodanya. Lalu di dorong dengan pelan oleh Farhan di belakangnya. Sepanjang perjalanan Fany terus tersenyum ceria. Lalu bersenandung kecil.


***


"Jadi dokter! Ibu saya sudah bisa pulang hari ini?" tanya gadis berambut pendek itu pada dokter yang duduk dihadapannya.


"Iya. Selamat ya!" jawab dokter Fey turut merasa senang.


"Perkembangannya akhir-akhir ini sangat pesat. Juga interaksinya dengan orang orang disekitarnya. Dan berdasarkan pemeriksaan terakhir,ibumu sudah bisa keluar". Jelas dokter Fey dengan senyuman.


"Terima kasih dokter. Kalau begitu saya pamit dulu!" kata Sarah lalu keluar dari ruangan dokter Fey.


Saat keluar Sarah dikejutkan oleh seseorang berpakaian badut yang berdiri tepat di depan pintu ruangan dokter Fey. Badut itu terus menatap Sarah dengan sulit diartikan. Tapi Sarah tak terlalu peduli. Dia hanya berjalan melalui si cowok badut.


Sarah berjalan dengan kepala tertunduk. Dia tak peduli pada sekitarnya. Dia keruangan ibunya. Dan ternyata barang mereka sudah di kemas.


"Ayo kita pulang nak!" ucap ibunya ketika Sarah sudah sampai diambang pintu. Memang ibunya sudah terlihat bersiap.


"Ayo bu!"


Mereka lalu kembali berjalan keluar. Sarah menggandeng lengan ibunya dengan sangat hati-hati. Saat sampai di bagian depan rumah sakit. Gadis itu membeku begitu dia mendengar suara seseorang.


"Sarah!".

__ADS_1


Tbc


__ADS_2