
"Adakalanya kita harus mengerti,lalu mengalah pada keadaan".
***
"
Adly....." detik itu Aly keluar kamar,dengan tatapan sulit terbaca. Bahkan cowok itu telah mengambil fikiran bawah sadar adiknya.
***
Seorang pemuda duduk dibawah pohon beringin di taman belakang sekolah. Pemuda itu bersandar di sana menikmati angin yang membelai wajahnya yang lebam,bahkan ada yang sudah mulai membiru.
Wajahnya yang tampan,dengan alis yang agak tebal itu terlihat hancur. Seragamnya,atau lebih tepatnya kemeja putih dengan pinggir-pinggir merah itu juga terdapat percikan darah yang mulai mengering.
Rasa-rasanya sudah lebih satu jam ia duduk di sana tapi ia tak ada niat untuk beranjak. Dia tak peduli jika sewaktu-waktu ada guru. Atau petugas kedisiplinan menemukannya.
"Lo sedang apa di sini?" Suara itu membuatnya membuka mata perlahan. Mengabaikan rasa sakitnya jika ia bergerak.
Dia tidak menjawab,hanya menatap datar gadis yang berdiri di sebelahnya. Lalu kemudian memilih mengalihkan pandangannya pada rumput-rumput kecil yang menjalar di taman belakang gedung IPS.
Gadis itu kemudian mengambil posisi tepat di sebelahnya. Lalu mengeluarkan kotak obat yang tadi di bawanya. Lalu menghela nafas,pelan.
"Adly lo gak boleh kayak gini terus". Intonasi suaranya mulai gusar,seakan khawatir keadaan pemuda di hadapannya.
Adly masih saja sibuk dengan dunianya,tak menghiraukan Sarah yang mulai membersihkan lukanya.
Adly menghela pelan,sebelum akhirnya ia angkat bicara.
"Gue nyakitin dia!" ceritanya tanpa mengalihkan pandangan dari kupu-kupu yang hinggap diatas bunga-bunga taman.
Taman belakang gedung IPS memang jarang di tempati oleh siswanya. Hingga masih segar bugar seperti ini. Tak seperti taman belakang gedung IPA yang selalu saja ramai. Baik pada jam istirahat,atau jam kosong. Kebanyakan dari mereka menikmati waktu di sana.
"Siapa?"Kening Sarah berkerut, ingin tahu lanjutan cerita dari cowok di depannya. Ia sekarang menekan-nekan lukanya setelah di beri alkohol. Adly meringis tertahan,merasakan perih pada bagian yang di tekan Sarah.
"Fany",Nada suara Adly getir,entah apa yang di rasakannya.
Tanpa ia sadari,Sarah tertegun sesaat. Sebelum akhirnya kembali sibuk dengan kegiatannya.
"Lo udah gak benci sama dia?" Ada kegetiran,yang sempat di tangkap Adly melihat ekspresi Sarah yang tersenyum.
"Gue gak tahu", Pemuda itu menerawang,kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Melihat ketakutan yang terpancar dari bola mata yang biasanya berbinar ceria.
Dia,entah mengapa merasa tak suka jika gadis itu takut padanya.
Apalagi menangis,ada sebagian dari diri Adly yang terluka.
"Hmmm....Adly gue harap pilihan lo tepat. Gak jatuh ke orang yang salah. Karena tanpa lo sadari ada hati yang mungkin di luar sana yang berharap sama lo!". Cetus Sarah.
"Hm...."
Sarah selesai dengan pekerjaannya,ia membereskan kembali kotak P3K yang tadi dibawanya,lalu berniat pergi.
"Gue tetep pada yang awal!" Sambung Adly sebelum Sarah benar-benar pergi.
Adly sempat menatap punggung gadis itu sebelum akhirnya berbelok ke koridor.
Yang tidak di sadari cowok itu ada senyum miris yang terbit di bibir gadis itu.
__ADS_1
***
"Tolong!!!!tolong!!!!!tolong". Seorang gadis kecil berteriak di malam yang sepi. Baru saja ia mendapatkan kesadarannya setelah tadi ia mencium pekatnya obat bius.
Dia terbangun di sebuah ruangan yang asing,dan kotor. Seakan gedung ini sudah lama tak terpakai. Gadis itu berusia sekitar 6 tahun. Kaki dan tangannya terikat di sebuah kursi kayu.
Tak berapa lama seseorang dengan pakaian serba hitam terlihat di pandangan gadis kecil itu. Berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah yang menggema di gedung tua.
U
ntuk sesaat gadis itu memerhatikan orang yang berpakaian serba hitam itu. Menelisik wajah yang ada di balik topi. Tapi sadar ia berada dalam bahaya. Gadis itu kemudian meronta hendak melepaskan diri.
Walaupun hal yang di inginkannya sia-sia. Membuat tawa si baju hitam meledak. Membuat bulu kuduk merinding. Di luar,terlihat samar dari jendela cahaya bulan purnama sungguh terang. Dan hewan-hewan mengeluarkan suara aneh yang membuat gadis kecil itu ketakutan.
" Mama!!!"gadis itu terisak pelan,berharap dengan memanggil nama ibunya sebuah keajaiban akan terjadi. Berkali-kali ia terus meronta dan berteriak. Namun,nahas. Keajaiban itu tak ada.
Orang itu sekarang berdiri tepat di hadapan si gadis kecil. Topi yang tadi menutupi kepalanya ia buka. Hingga memperlihatkan rambut yang sedikit berwarna perak. Karena sinar bulan.
Gurat wajah menyeramkan karena memiliki bekas luka di mata kirinya. Hingga yang menatapnya sekarang adalah mata kanan orang itu,yang berwarna merah. Mata kirinya berputar-putar hingga yang dominan adalah warna putih.
Saat ia membuka mulut,dengan cepat tercium aroma yang membuat anak itu hampir muntah.
Anak itu menggeleng,berusaha melawan saat tangan besar itu menyusuri wajahnya yang penuh air mata.
Tawa terdengar lagi menggema,meredam kesunyian malam.
"Kau tahu!!!! Apa kesalahnmu!" bentaknya yang membuat anak itu seketika terdiam. Membeku di tempatnya.
"JAWAB" bentaknya lebih keras begitu tak mendapat respon.
Dia berbalik,tak peduli melihat tubuh si gadis kecil menggigil ketakutan.
"Setelah ini kamu akan melihatnya sendiri". Menit berikutnya,seorang anak laki-laki berusia sama dengannya di seret masuk ke ruangan itu. Dengan keadaan mengenaskan.
Bocah lelaki itu,melawan. Tapi tenaganya sangat lemah. Tak berbalut baju. Hanya,celana yang tadi di pakainya.
Di punggungnya terdapat luka bakar dan bekas sayatan.
Melihat kedua tawanannya tercegang. Si baju hitam menyeringai.
"Kita lihat bagaimana reaksi orang tua kalian nantinya". Tawa kembali menggema,auman anjing liar juga terdengar samar dari kejauhan.
Kedua anak itu saling menatap,menyalurkan rasa sakit masing-masing.
"HEI APA YANG KAU LIHAT", bentak orang itu kembali tepat di telinganya.Sehingga si gadis kecil kembali bergetar ketakutan. Dia ingin menutup telinganya tapi tak bisa karena kedua tangannya terikat
"Aaaaaa"
***
Peluh bercucuran,keluar dari pelipis seseorang yang sedang berbaring diatas ranjang. Walaupun ACnya masih berfungsi normal. Tapi tiba-tiba saja ia merasakan keringat. Dia menggeliat,beberapa kali sebelum akhirnya terbangun dengan nafas ngos-ngosan.
.Dia menghirup nafas sebanyak-banyaknya ketika merasakan nyeri di sekitar jantungnya.
Lalu setelah itu segera meraih gelas di nakas. Kemudian meneguk isinya hingga tandas.
Dia terengah mengusap peluh sambil menormalkan pernafasannya.
__ADS_1
Baru saja ia bermimpi buruk,tentang anak kecil yang tak ia ketahui identitasnya. Memang ia sering mimpi buruk,tapi tak pernah membuatnya berkeringat dingin dengan seluruh tubuh yang bergetar ketakutan.
Dia mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu kembali terisak. Ketakutan.
Dia merasa tadi Ali menjemputnya di sekolah,tapi mana saudara kembarnya itu. Bahkan batang hidungnya saja tak terlihat.
Samar ia bisa mendengar suara dari ruang keluarga ia menghela nafas lega. Setidaknya kedatangan Ali bukan sebuah mimpi. Fany bersyukur untuk itu.
Dia bisa menebak dengan siapa kakaknya menelpon dari rengekannya. Siapa lagi kalau bukan ibunya tercinta.
Awalnya Fany tidak terlalu peduli,ia hanya berusaha meredam tangisnya.Tapi begitu namanya di sebut dia menajamkan Indra pendengarannya.
"Mi.....Ini tentang Fany".
"
...."
Fany tak bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan ibunya karena suaranya tidak di loudspeaker.
"Ali baru sadar kalau ternyata orang itu. 'Dia' Mi!". Dapat Fany tebak,pasti kakaknya itu sedang gusar.
Hening beberapa saat,membuat jantung Fany kembali berdebar. Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan keluarganya darinya.
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikirannya tanpa bisa di cegah.
"...."
"Iya Mi. Ali bakal jagain Fany. Tapi masalahnya Ali baru sadar sekarang. Saat mereka udah semakin dekat".
"...."
"Oke mi!"
"....."
"Siap!".
Fany merasa aneh. Dia tak mengerti apa yang di sembunyikan darinya. Entah mengapa hal itu membuatnya terganggu.
Setelah percakapan itu selesai. Entah mengapa bayangan kejadian itu kembali bermunculan di otaknya. Seakan sengaja memberikan teror agar ia ketakutan.
Suara-suara itu seakan menggema dalam kepalanya. Memberikan tekanan di otaknya,sehingga seluruh sarafnya rasanya mati rasa.
Ia berteriak kencang,maraung ketakutan. Kala suara-suara di otaknya semakin menikam. Seakan gendang telinganya ingin pecah. Padahal dia sudah menutup kepalanya dengan bantal berharap suara itu akan hilang dengan sendirinya.
Tanpa ia sadari raungannya itu sudah terdengar sampai ruang keluarga. Hingga Ali yang mendengar itu langsung masuk.....
"Pergi....pergi dari sini" Awalnya suara Fany terdengar keras,tapi lama kelamaan kian melemah hingga yang terdengar seakan hanya bisikan lemah.
Ali mengehela nafas,pelan lalu menghampiri sang adik. Berusaha menenangkan.
***
Tbc
😂
__ADS_1