My Clown Boy

My Clown Boy
33


__ADS_3

"Rasanya lebih baik jika ia menghilang. Dari pada berharap pada hati yang tak melihat".


***


" Lo mau kemana sih?"tanya Ali pada Delano yang sekarang dengan asyiknya menyetir setelah menjemputnya dengan paksa.


"Bacot!"Cetus Delano yang seketika membuat Ali terdiam.


Delano menghembuskan nafas pelan,membelokkan mobilnya masuk ke tempat yang membuat Ali tercegang.


"Lo ngapain sih bawa ke tempat ini" tanya Ali sarkastik.


"Lo harus tahu Lan,semenjak Fany sakit gue gak pernah lagi ke sini" Pusing Ali memijit kepalanya.


Tapi ketika mobil menepi,cowok beriris coklat itu juga ikut turun.


"Gue butuh refreshing bro!" jawab Delano yang membuat Ali mendelik,kemudian melirik jam tangannya yang ternyata hampir jam tujuh.


"Oke,gue temani. Tapi gue harus pulang sebelum jam sembilan. Gimana?" tawar Ali,sebelum mereka masuk ke dalam.


"Deal", jawab Delano yang bisa melihat adanya kesenduan di iris grey cowok berkaus hitam di hadapannya.


Mereka kemudian masuk ke tempat itu. Ali menghela nafas pelan,sebenarnya ia sering datang ke tempat ini sekadar melepas penat. Atau justru mencari hiburan. Tapi kini keadaannya berbeda. Walaupun Ali yakin ada yang tak beres dengan sahabatnya itu,di lihat dari keanehan Delano.


Ali mengikuti langkah Delano, hingga mereka masuk dan di sambut oleh ruangan yang penerangannya minim. Hanya remang-remang, dan musik yang memenuhi indra pendengarannya saat ia tiba.


Ali memerhatikan sekitar, pengunjung bar ini masih sedikit. Berbeda jika jam sepuluh malam ke atas,akan ada lebih banyak orang yang melepas penat. Baik itu sebagai hobi atau memang ada sebuah masalah.


Sebuah panggung terlihat tak jauh dari tempatnya berdiri. Tempat Dj memutar musik, sambil sesekali bergoyang atau menepuk tangannya.


Orang-orang pun sibuk,ada yang bergoyang mengikuti musik,ada jiga yang hanya duduk santai di sofa dengan warna maroon yang tersedia.


Delano melangkahkan kaki mendekati bagian depan yang terdapat counter yang di lengkapi kursi yang lumayan tinggi tapi nyaman. Kursi itu dapat berputar hingga mereka dapat duduk dengan santai.


Delano kemudian memesan minuman pada bartender di sana. Seakan sudah akrab mereka mengobrol singkat dan beberapa kali bergurau.


Saat cocktail yang di pesan Delano sudah ada di atas meja yang lumyan panjang itu,Ali kembali menghela nafas. Apalagi ketika Delano mengeluarkan rokoknya dan mulai menghisap benda itu betulang kali.


"Gue,milkshake aja deh bang" Pinta Ali pada bartender yang dibalas dengan kerutan di kening oleh sang bartender.


"Tumben" seakan mengejek,Bang Adi,bartender itu pun mau tak mau menyiapkan milkshake milik Ali.


Ali terkekeh pelan,"Emangnya salah ya kalau gue tobat"ucapnya takzim yang membuat Bang Adi ikut tersenyum. Pemuda berusia sekitar duapuluh lima tahun itu memaklumi.


"Gak ada salahnya lo insaf,tapi aneh aja. Biasanya lo juga yang paling ngegas" sindir kang Adi yang membuat Ali mendengus sebal.


Delano meneguk wine,yang ada di tangannya dalam sekali tegukan. Terlihat wajahnya yang dingin,membuat Ali kembali bergidik.


"Lo kenapa sih kutu loncat?" tanya Ali kesal karena srdari tadi Delano hanya diam.


"Baik"


Respon singkat itu membuat Ali memutar malas bola matanya.


"Mana ada orang baik yang minum kek gini. Ngerokok sama tatoo. Yang ada lo mirip preman". Jika orang lain yang berkata demikian,maka sudah pasti ia terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


Tapi untungnya ini Ali.


Ali kemudian memutar kursinya,hingga ia bisa melihat ke arah panggung. Sambil meneguk pelan milkshake miliknya.


"Fany apa kabar?" tanya Delano memecah hening,yang membuat Ali refleks menggeleng.


"Traumanya kembali"


Delano terdiam cukup lama hingga akhirnya cowok itu kembali bersuara.


"Maaf" sesalnya kemudian.


Ali menggeleng,"fine,adek gue yang biasanya bawel berubah sekarang. Gue merasa bersalah gak becus jagain dia"sesal Ali kemudian,matanya menatap nyalang rombongan gadis yang baru saja memasuki bar dengan lewat di hadapan mereka.


Jika biasanya Ali menatap mereka sambil mengedipkan mata maka kali ini ia diam saja. Dia juga tahu jika beberapa orang dari gadis itu berusia kurang dari tujuh belas tahun. Dan otomatis itu melanggar aturan dari tempat ini. Yang usia maksimalnya tujuh belas tahun ke atas.


"Fobianya yang gue kira udah hilang ternyarta masih belum" lanjut Ali yang mengundang tatapan tanya dari Delano hingga Ali mau tak mau menjelaskannya.


"Fany memiliki fonofobia,salah satu jenis fobia spesifik yang jarang di miliki. Tapi karena sesuatu di masa lalu Fany terkena fobia itu. Dan gue kira udah sembuh tapi ternyata...." Ali menghembuskan nafas kasar.


"Ini semua gara-gara Adly" ada sebuah emosi saat Ali menyebutkan nama cowok dingin yang berhasil masuk ke dunia adiknya.


Delano mengeriyitkan kening bingung.


"Fonofobia itu apa ya?" tanyanya polos yang membuat Ali menggeram,karena kesal sudah menjelaskan panjang lebar tapi ternyata Delano tak mengerti.


"Fonofobia berasal dari dua kata yaitu fono yang berasal dari kata phone yang berarti suara. Dan fobia adalah ketakutan. Jadi fonofobia adalah ketakutan berlebihan pada suara keras" ujar Ali panjang lebar yang diangguki oleh Delano.


"Jadi karena Adly ngebentak Fany makanya fobianya kembali?".


"Dan lo gak mau cerita masalah lo ke gue?" ujar Ali yang kembali membuat Delano termangu.


***


"Yang dua orang itu siapa Ad?" tanya gadis yang berpakaian serba hitam itu pada Adly. Mereka berjalan di lorong sempit,dan di sisi jalan terdapat banyak semak-semak.


"Gak penting" ujar Adly tanpa minat. Dan mau tak mau gadis yang berusia lebih tua dari Adly empat tahun itu menghela nafas.


"Bukan ancaman kan?" tanya gadis itu pelan.


Adly menggeleng sebagai jawaban,dan mereka sekarang tiba di depan sebuah rumah sederhana dengan dua lantai. Warna dindingnya biru terang,di taman bagian depan terdapat ayunan dari ban besar.


Adly melangkahkan kaki,mengikuti gadis itu. Saat mereka sampai di depan pintu,anak-anak berlarian ke arah mereka.


"Kak Adly aku Kenya sama kakak, selama ini kenapa kak Adly jarang ke sini lagi?" gadis kecil bermata biru itu mengerjap protes pada Adly. Usianya sekitar empat tahun. Ayahnya Amerika, dan ditinggalkan oleh sang ayah ketika masih bayi. Dan ibunya meninggal,di temukan Liona-gadis yang tadi bersama Adly ketika ibunya sekarat.


"Kakak sibuk" Ada senyuman tipis yang muncul di wajah Adly.


Sementara teman-temannya sibuk menggeledah,oleh-oleh yang di bawa Adly,Kenya hanya bertanya ini itu. Pada Adly yang jelas saat ini masih menggunakan seragam sekolahnya tapi di tutupi jaket hitam.


Anak-anak di rumah itu memangĀ  rata-rata sudah tak memiliki orang tua. Baik karena di tinggalkan atau memang orang tuanya sudah meninggal. Adly membeli rumah itu ketika berusia 14 tahun bersama Liona yang saat itu berusia 17 tahun. Di bantu oleh ayah Liona yang seorang pengusaha sukses.


Rumah itu di belinya untuk menampung anak jalanan, mendidiknya dan memberikan pengetahuan.


Liona juga menyewa pengasuh, serta beberapa relawan untuk mengurus mereka jika dia tidak di sini.

__ADS_1


Dan sekarang sudah ada sepuluh anak yang tinggal,dua diantaranya sudah sekolah di SMP. Biayanya Adly dan Liona yang mengurusnya.


Adly memainkan rambut Kenya,entah mengapa anak itu sangat mirip dengan seseorang.


Tapi Adly suka,walaupun mata birunya itu berbeda dari teman-temannya. Kenya tak pernah merasa rendah diri. Dan anak-anak di tempat ini juga saling menerima bagaimanapun keadaannya.


Kenya kemudian meninggalkan Adly dari ruang tamu itu ketika sosok Liona muncul. Dan Adly bersikap biasa saja,selayaknya memang dirinya.


"Keadaan lo gimana?" tanya Liona to the poit,rambutnya yang bergelombang menjuntai pelan saat ia duduk di sofa tepat depan Adly.


Adly menghela nafas,"gak baik"jawabnya.


Liona mengerutkan kening,tak mengerti.


"Ada orang yg ngawasin gue" nada suaranya di buat sepelan mungkin. Tak mau mengambil resiko berbahaya.


Liona memegang tengkuknya tiba-tiba merasa seram seakan orang yang dimaksud Adly ada di sekitar mereka.


"Dan lo tahu orang itu".


Adly menggeleng pelan.


Liona menghela nafas,masalah akan rumit jika Adly tak tahu orang yang mengawasinya.


"Ad! Lo gak ngerasa aneh gak sama Sarah". Pancing Liona yang membuat Adly merengut tak suka.


"Jangan sembarangan" desis cowok itu. Liona kenal Sarah,karena memang Adly beberapa kali mengajaknya kemari.


"Gak maksud gue,lo gak ngerasa Sarah suka sama lo?" tembak Liona to the point yang menyebabkan Adly mematung beberapa saat lalu memutuskan menggeleng.


Dan selama ini memang dia tak memikirkan hal itu,karena ada seseorang yang mengusiknya. Dan orang itu Fany.


"Gak mungkin" elak Adly tampak yakin.


Adly lumayan terbuka pada Liona,karena gadis itu sudah dianggapnya kakak. Dan hal yang sama di rasakan Liona pada Adly,karena dia merasa sosoknya mirip dengan adiknya yang telah meninggal. Lion.


"Gue pulang" ucap Adly lalu keluar menerobos malam yang mulai menjelang,menuju ke tempat motor hitamnya terparkir di samping penjual gorengan.


Selalu seperti itu.


Liona menatapnya melalui pintu,hingga cowok itu menghilang dari pandangannya.


***


Fany menguatkan hati,tak peduli pada boneka pandanya yang masih tergeletak di hadapannya. Dia mengambil pisau itu lalu menggoreskannya ke tangannya. Tempat nadinya berdenyut perlahan.


Menit berikutnya,tetesan darah berhasil keluar melalui pergelangan tangannya.


Lebih baik ia mengakhiri semuanya di banding harus tersiksa karena suara-suara itu.


Dia menghela nafas,saat rasa sakit itu menyiksanya. Kemudian ia ambruk,tepat di sebelah boneka panda besar itu.


Ia hanya berharap ini segera berakhir,samar ia mendengar suara ibunya memanggilnya panik sebelum akhirnya kesadarannya menghilang....


Tbc

__ADS_1


__ADS_2