
"Gue sadar saat ini udah terlambat. Tapi apa lo yakin ini perasaan lo yang sesungguhmya".
***
Tapi masalahnya sekarang. Fany bertanya badboy itu siapa?
" udah balesnya. Gue udah bisa ngomong?"tanya Reza begitu melihat Fany kembali meletakkan hpnya di meja.
Fany mengeluarkan cengiran kudanya.
"Udah pak ketos!"
"Gue bisa lanjutin?"
Fany mengangguk takzim dengan apa yang barusan Reza katakan.
Reza kembali mendekatkan wajahnya,hendak berbisik. Dan Fany pun mulai serius mendengarnya.
"Delano itu...."
Tiba-tiba ucapan Reza terhenti,karena tanpa aba-aba sebuah tangan besar menyumpal mulutnya. Sebenarnya bukan menyumpal. Tapi lebih tepatnya memukul. Hingga cowok itu terpaksa tak jadi mengatakan hal yang hendak dikatakannya.
Fany mendongak dan melihat siapa orang yang dengan lancangnya melakukan hal seperti itu pada ketua osisnya yang tak tercinta. Dan begitu melihatnya,cewek itu terkejut. Karena ternyata orang yang melakukannya. Adalah nama yang barusan di sebut oleh si Reza.
Pantas saja.
"Lo berdua mau nyium-nyium pipi. Gak sadar jika masih ada gue?" tanya Delano gamang,tapi membuat kedua orang itu sukses membuka rahangnya. Melongo dengan hal yang barusan di katakan Delano.
Mereka berdua terdiam saling memandang. Lalu menit ke berikutnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Jadi lo kira gue mau nyium Fany?" tanya Reza to the point di sela tawanya yang membuat Delano terdiam.
Dan melihat keterdiaman cowok itu Reza bisa menyimpulkanmya sendiri.
Fany masih tertawa terpingkal pingkal,memegangi perutnya tak menyangka jika ternyata fikiran Delano sesempit itu.
"Lo beneran ngira kek gitu Lan?" tanya Fany ikut menyudutkan Delano yang membuatnya semakin tak keruan.
Jika ada yang bisa menyembunyikan Delano saat ini maka muncullah ke permukaan. Karena cowok itu sedang membutuhkan tempat persembunyian. Oh God bagaimana model muka tampan Delano saat ini. Dia sangat malu. Bahkan tanpa ada yang sadar telinga cowok itu sampai memerah.
"Gak....", kata Delano berusaha mengelak matanya tak bisa menatap kedua orang itu secara langsung. Dia menoleh ke segala arah asal bukan ke keduanya.
Reza dan Fany kembali tertawa dibuatnya.
"Gue gak tahu jika ternyata teman gue yang tampan ini berfikir macam-macam ke gue!",
"Lo gak usah ngelak Lan,gue Reza juga tahu lo lagi bohong sekarang!" Fany kembali memegangi perutnya.
"Siapa yang bohong sih?"
"Hahuahahuahaahuuuu.........tuh jelas banget saat lo ngelak". Kata Reza mengompori cowok itu.
"Iya jelas banget!", imbuh Fany yang membuat Delano semakin tersudutkan.
Dan hal itu membuat Delano yang baru bangun dari pingsannya langsung terduduk di salah satu kursi.
Dia menghela nafas kasar. Lalu menyugar rambutnya kebelakang. Matanya terpejam beberapa saat,menahan debaran di jantungnya.
"Iya gue ngaku!" aku Delano akhirnya. Cowok itu tak tahan mendapat tertawaan dari kedua orang yang sekarang sedang guling-guling di hadapannya. Bahkan Fany ikut-ikutan. Padahal tadi jelas Fany sedang menahan untuk tak bertingkah seperti biasanya.
Tapi entah mengapa Delano tersenyum melihat Fany yang sekarang. Itulah yang diharapkannya dari Fany menjadi diri sendiri tanpa berfikir hal-hal lain.
Fany yang tertawa saking ngakaknya. Tanpa sadar memukul-mukul cowok itu.
"Lo ternyata punya sisi kayak gini juga Lan. Gue kira,lo cowok dengan pembawaan tenang. Tapi sekarang yang gue lihat apa. Lo ngira si bocah tengil itu mau nyium gue?" Keduanya kembali tertawa yang membuat Delano muak sendiri mendengarnya.
"Tapikan gue bukan melakukannya tanpa alasan!" ujar Delano jujur. Yang membuat Reza dan Fany meredakan tawa mereka sejenak. Lalu kembali tertawa begitu Delano selesai bicara.
Entah apa yang merasuki keduanya. Yang membuat Delano ingin menghilang secepatnya.
"Apa alasannya?" tanya Fany ketika dia merasa kasihan sendiri melihat cowok bernetra abu-abu itu terlihat semalu itu. Fany dengan sekuat tenaga menahan diri agar tak mengeluarkan tawanya.
"Gue suka sama lo!" ucapan Delano barusan bagai petir di siang bolong yang langsung menyambar Fany. Gadis itu sukses terdiam di tempat. Reza yang mendengernya juga berhenti tertawa.
Fany menatap netra abu-abu itu mencari secuil kebohongan di sana tapi hasilnya nihil. Gamblang tapi langsung ngena. Itulah yang dirasakannya sekarang.
Dia gak tahu harus bereaksi bagaimana karena nyatanya ini baru yang pertama kalinya ada yang mengucapkan hal seperti itu padanya. Walaupun dia sering melakukannya pada Adly tapi gadis itu jujur. Tak ada cowok yang pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung ke Fany
Menit berikutnya Fany tertawa. Bahkan sudut matanya sampai berair karena gadis itu tertawa ngakak.
"Lo bohong kan Lan?" tanya Fany di sela tawanya.
"Ini bukan hari ulang tahun gue! Apa ini ucapan April mop?"
Reza sudah tak tertawa,dia memandangi Fany dan Delano bergantian. Lalu matanya terfokus pada Delano. Dia menatap Delano dengan prihatin. Karena cowok itu terlihat tersenyum kecut.
"Gue gak bohong! Gue suka sama lo". Tegas Delano kemudian. Dan Fany secara otomatis kembali berhenti tertawa.
Entah mengapa dalam hatinya yang terdalam dia berharap bukan Delano yang mengungkapkan perasaannya seperti ini melainkan orang lain.
Fany melihat surat abu-abu yang masih tergeletak tak berdaya di atas meja. Dia memandangi surat itu dan Delano bergantian. Mata Fany membulat ketika tiba pada sebuah kesimpulan.
"Jangan bilang yang ngirim surat itu lo!" ujar Fany yang semakin lama semakin lirih.
Reza yang berada diantara keduanya merasa tak enak sendiri.
Seakan dirinya sudah dianggap tak berada disana.
__ADS_1
Delano mengangguk yang membuat Fany semakin syok. Kemana dirinya selama ini. Kenapa dia tak pernah menyadari Delano selama ini menyukainya.
Fany mengingat. Tentang pertemuannya dengan Delano. Juga tentang isi surat itu. Kenapa dia bisa begitu bodoh sampai tidak menyadarinya. Sangat jelas,jika cowok yang sering mengiriminya surat adalah orang yang sekarang duduk dihadapannya.
"Lo gak perlu jawab sekarang!" kata Delano akhirnya ketika melihat Fany masih betah dengan diammnya.
"Hummm gue rasa gue udah tak dianggap berada di sini! Gue otewe dulu dadah", kata Reza sebelum melenggang pergi.
Hingga menyisakan Fany dan Delano yang berada disituasi penuh kecanggungan.
"Maaf Lan...." ujar Fany kemudian. Anggap saja Fany bodoh karena menolak cowok idaman seantero sekolah. Dia tahu Delano anti yang namanya perempuan dari cerita Ima dan Rinhy. Tapi dengannya cowok itu berkata manis.
Cowok itu bahkan rela menjadi pengagum rahasianya. Tapi dia harus jujur. Jujur pada perasaannya sendiri. Juga pada cowok di hadapannya. Dia tak mau menyakiti Delano di saat perasaannya milik orang yang bahkan tak melihatnya sekalipun.
Delano tersenyum kecil sudah menduga jawaban Fany akan seperti itu.
"Tak apa!" kata Delano sambil mengusap puncak kepala Fany. Dia menatap Fany dengan penuh sayang.
Aku akan berusaha membuatmu melupakannya. Lanjutnya dalam hati. Yang tak mungkin di dengar orang-orang.
***
"Fan Delano tadi nembak lo?" tanya Ima begitu melihat Fany duduk di kursinya. Kebetulan sekembali Fany dari UKS. Ada pengumuman tentang rapat guru. Jadi kemungkinan selama satu jam kedepan mereka tak mungkin belajar.
Fany yang mendengarnya terkejut. Mereka bicara dengan santai di tengah kesibukan teman-temannya yang berbeda.
"Dari mana kalian tahu?" tanya Fany kepada keduanya. Mereka berkumpul di tempat Rinhy yang terletak di belakang tengah.
Fany mengingat saat peristiwa itu terjadi hanya ada tiga orang di uks yaitu Delano,dirinya, serta Reza. Ketika pikiran Fany tiba pada sebuah kesimpulan mata Fany melotot.
"Jangan bilang dari...."
"Yap benar. Dari sang ketua osis!" jawab Ima enteng.
Seketika pikiran Fany di penuhi wajah menyebalkan cowok bergigi kelici itu.
"Aissss.....benar-benar kaleng rombeng tuh anak!" kesal Fany.
"Tumben lo gak nyaut Rin?" tanya Fany begitu menyadari keanehan salah satu temannya itu. Rinhy terlihat menopang kepalanya dengan kedua tangan tak niat menanggapi percakapan keduanya.
"Jujur!!!!Lo terlihat seram kayak gitu Rin!" aku Ima dengan nada suara pelan yang membuat Rinhy mencak-mencak.
Rambutnya yang dikucir kuda sampai bergerak-gerak.
"Kalian berdua gak tahu rasanya ditusuk dari belakang hiks!", ujar Rinhy dramatis seperti hendak menangis. Matanya yang biasa berhalu itu menatap sedih.
Fany memutar bola mata begitu menyadari jika ternyata Rinhy seperti itu karena dirinya. Oh my God.
"Jadi lo ngambek karena gue?"
"Masih nanya lagi. Lo udah nusuk gue Fan. Rasanya sakit!" kesal Rinhy lalu diakhir ucapannya dia sengaja melemahkan suaranya.
"Lo tahu. Jika My Lano itu milik gue! Gue suka sama my Lano", kata Rinhy lalu menangis sekeras mungkin ya walaupun tanpa air mata.
"U......cup...cup.....cup.....!"hibur Fany tapi dimata Ima Fany juga tertular penyakit drama si Rinhy.
Sungguh memuakkan. Ima jadi berfikir kenapa di beri teman-teman seperti keduanya. Tapi saat Ima kembali berfikir dengan benar tingkahnya juga tak beda jauh. Makanya dengan senyum yang terhias dia juga ikut memeluk Rinhy.
"Eh...udah gue gak bisa nafas!" putus Rinhy akhirnya ketika merasa kesulitan bernafas. Dan hal itu membuat kedua temannya melepaskan pelukan mereka.
"Fan setelah gue berfikir lagi. Setelah mengingat hari itu gue jadi tahu satu hal",
Ima dan Fany saling menatap melihat perubahan Rinhy secara tiba-tiba itu.
"Maksudnya?"
"Lo kemana,saat gue pulang bareng Delano?" serang Rinhy tiba-tiba,yang membuat Fany gelagapan harus menjawab apa.
"Yang mana?" tanya Fany pura-pura lupa.
"Itu loh. Yang lo ceritain,saat kita vc-bertiga" tambah Ima juga tiba-tiba antusias.
"Ke taman!" jawab Fany polos, menatap kedua temannya tanpa prasangka apapun.
Jawaban Fany barusan membuat Fany menepuk meja reflek. Wajahnya terlihat sedikit menyedihkan.
"Tuh kan!"
"Lo sama badut gak?" tanya Rinhy lagi.
Fany menatap Rinhy tak percaya. "Darimana lo tahu?" tanya Fany polos.
Jujur mendengar Fany barusan entah mengapa semangat Rinhy tiba-tiba menghilang.
"Tuh kan. Yang gue simpulin benar. Yang dilihat Delano saat itu. Lo!"miris Rinhy,ketika mendengar pengakuan Fany.
"Gak mungkin!" elak Fany.
"Itu memang mungkin. Karena gue juga disana waktu itu" aku Ima pada akhirnya.
"Gue lagi sepeda-sepeda sore di sekitar taman saat lihat lo ada di taman Fan dengan seorang badut. Lalu saat gue hendak pulang. Gue lihat mobil Delano berhenti di jalanan dekat sana!awalnya gue gak peduli,tapi setelah tahu sekarang gue jadi ingat saat itu". Jelas Ima yang membuat Fany terdiam.
Dia memikirkan Delano saat ini. Tentang bagaimana cowok itu menyembunyikan semuanya. Dia sadar,rasa suka Delano kepadanya tak main-main.
"Fan!kalau Delano benar-benar ngatain hal itu pada lo. Itu artinya dia benar-benar suka ke lo,karena selama sekolah disini gue gak pernah dia dekat dengan perempuan. Dia cowok yang paling dihindari di ADH karena sikapnya" jelas Rinhy tiba-tiba berapi api.
"Iya. Dia bahkan tak segan membuat orang-orang yang mengusiknya masuk RS!" tambah Ima yang membuat Fany tercegang. Sesadis itukah?
__ADS_1
"Gue gak tahu!" jawaban Fany membuat baik Ima maupun Rinhy mendesah kecewa.
"Jadi lo masih mau ngejar cowok yang ngatain lo murahan?" tanya Ima yang membuat Fany merasa tertohok.
"Buka mata lo!jelas jelas di depan sana ada yang nunggu lo! Tapi lo malah memilih yang bahkan gak pernah sekalipun menoleh ke lo", sungguh Fany tak tahu harus menjawab apa. Apa yang dikatakan kedua temannya itu kenyataan yang tak mungkin di elaknya.
Tapi mereka hanya belum sadar jika badut yang saat itu bersamanya adalah Adly. Itulah yang membuat Fany tak yakin jika Adly benar-benar membencinya.
"Akan gue pikirkan!"
"Tidak! Lo harus beri dia kesempatan!" ralat Rinhy,yang membuat Fany mengangguk pasrah.
***
Sarah kecil berlarian di sekitar komplek rumahnya. Entah kemana semua teman-temannya pergi. Atau memang sengaja tak keluar rumah untuk menghindarinya.
Tak berapa lama ada seorang anak kecil yang usianya sepantaran dengan dirinya. Dia melihat tangan anak itu melambai-lambai padanya. Dan dengan cepat Sarah berlari ke sana.
"Ayo kita main" ajak anak kecil itu. Panggil saja namanya Mia.
"Ayo! Di rumahku ada mainan baru yang dibelikan oleh mama", kata Sarah antusias.
"Benarkah?"tanya Mia antusias.
Sarah hanya mengangguk saja.
"Tunggu di situya! Aku minta izin dulu"
Lalu tanpa aba-aba lagi Mia langsung melenggang masuk.
Tapi tak berapa lama terdengar suara dari dalam sana. Antara marah,atau sengaja suara ibu-ibu itu sangat keras.
"Kamu gak usah main dengan anak seperti dia! Bisa-bisa ayah kamu juga kepincut sama ibunya", teriak Ibu Mia yang membuat Sarah kecil terlihat bersedih.
" JANGAN BERMAIN BERSAMA ANAK YANG TAK KITA TAHU ASAL USULNYA!"amarah si ibu tak bisa di kontrol lagi hingga Sarah kecil yang berdiri di depan pagar menunduk lesu. Tanpa menunggu Mia keluar lagi gadis kecil itu segera berlari.
Bukan salahnya yang tak tahu siapa ayahnya. Tapi salahkan saja takdir yang membuatnya lahir tanpa seorang ayah. Sarah berlari dan berlari. Tanpa sadar kakinya tersandung sesuatu yang membuat gadis itu terjatuh di kubangan lumpur.
Rambutnya yang pendek menjadi kotor terkena cipratannya. Sungguh paket yang komplit.
Sarah kecil merasakan perih di sekitar kakinya. Dan ketika dia melihatnya ternyata di sana ada luka lecet yang mengeluarkan darah.
Dan hal itu membuat Sarah tak kuasa lagi menahan tangisnya. Dia meraung-raung di jalan dan tak ada yang peduli padahal dia berada di tengah komplek perumahan. Ibunya juga tak mungkin mendengarnya,karena tadi pamit ke pasar.
Lalu Sarah kecil harus bagaimana. Dia takut pada sesuatu yang bernama darah. Yang bisa dia lakukan hanya menangis dan menangis, berharap akan ada yang menolongnya.
"Kamu kenapa?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuat Sarah menghentikan tangisannya untuk mengetahui siapa yang berbaik hati datang.
Gadis itu menoleh,dan mendapati seorang anak yang usianya tak jauh darinya. Bedanya anak itu laki-laki. Mata hitamnya sekelam langit malam. Wajahnya imut menggemaskan penuh binar penasaran. Di tangan kanannya ada sebuah permen lolipop.
"Sakit!!!!" kata gadis kecil itu menunjuk kakinya.
Anak kecil tadi terkejut ketika melihat luka Sarah.
"Pasti sangat sakit!" ringis anak itu yang membuat Sarah mengangguk.
"Kamu bisa berdiri?"
Mendengar pertanyaan itu. Sarah berusaha berdiri dan pada akhirnya bisa walaupun dengan bersusah payah.
"Tunggu dulu ya!"kata anak itu meletakkan tas yang di gendongya berniat mencari sesuatu.
Sarah kecil hanya mengamati apa yang dilakukan anak di hadapannya.
"Nah ketemu!" ujar anak itu ketika mengeluarkan air mineral miliknya lalu membersihkan lumpur yang ada di sekitar rambut Sarah juga di tangan gadis kecil itu.
Setelah selesai anak itu tersenyum memandangi Sarah.
"Kamu manis!" katanya yang membuat Sarah kecil terbengong bengong.
Lalu setelahnya,anak itu mengeluarkan handsaplast dari sakunya dan memakaikannya di kaki Sarah yang terluka dan telah di bersihkannya barusan.
"Nah selesai!" anak itu tersenyum penuh rasa bangga yang membuat Sarah kecil terus-terusan memandanginya.
"Namamu siapa?" tanyanya pada Sarah.
"Sarah" jawabnya malu-malu.
"Kalau gitu sampai jumpa Sarah", pamit anak itu sambil menyerahkan lolipop yang tadi di tangan kanannya ke Sarah.
"Jangan nangis lagi ya!" pesannya dengan tersenyum yang entah kenapa senyum itu menular ke Sarah. Dia menerima lolipop itu.
"Makasih" kata Sarah kecil.
"Nama kamu siapa?" tanya Sarah setengah berteriak ketika anak itu mulai menjauh.
Anak itu berfikir sejenak,berhenti lalu kembali menoleh ke Sarah.
"Ian. Namaku Adlian" katanya mengedipkan sebelah matanya lalu berlalu pergi.
Sarah kecil tersenyum. Dia berjanji akan mengingat nama itu selalu.
***
"Kamu sudah sadar?" tanya seseorang ketika Sarah dengan pelan membuka matanya.
Tbc
__ADS_1
Lalalalaaa
Gue berharap cerita ini cepat selesai. Aamiin.