
"Ada yang perlu ditukar untuk menciptakan kebahagiaan bagi orang terdekat".
***
Hening
Sepi
Senyap
Hal itulah yang ia rasakan ketika mulai membuka mata. Entah sudah jam berapa sekarang. Dia tak mengingat apapun. Cowok itu mendongak. Dan ternyata tangannya sedang terikat di sebuah tiang yang cukup besar tepat di atas kepalanya.
Dia memejamkan mata sejenak ketika rasa pening itu menghampiri.
"Pa! Hal ini tak ada dalam rencana kita. Kenapa papa menangkapnya juga. Bukankah papa sudah berjanji padaku untuk memberikannya padaku", samar suara familiar itu terdengar melalui telinga cowok itu.
Mungkin mereka sedang berdebat tak jauh dari tempat ini.
"Hahahaha ....jadi kau percaya dengan rencana itu nak. Aku sengaja melakukan semuanya. Karena aku sebenarnya memang ingin membunuhnya sejak dulu". Suara sedalam sumur itu menggema di kesunyian malam.
Cowok itu tersentak, jadi gadis itu. Yang ia yakini Sarah telah di jebak oleh Wils. Lalu papa? Bukankah papa Sarah sudah meninggal. Kenapa justru ia memanggil papa pada orang itu.
"Aku tak terima jika ia di perlakukan sama!"
"Terserah. Tapi Wils akan melakukan apa yang ia anggap benar", cetus orang itu yang membuat Adly orang yang terikat tadi membeku.
Membeku bukan karena apa yang terjadi di luar. Tapi seseorang tiba-tiba mengetuk-ngetuk jendela yang memang terdapat di ruangan itu.
Lalu menit berikutnya tiba-tiba kepala seseorang muncul dari jendela itu. Adly meringis melihat orang yang berada di sana.
"Akhirnya gue nemuin lo! Gimana aksi gue, keren gak?" dumel orang itu sambil memanjat melalui jendela. Lalu dengan tanpa masalah dia masuk ke dalam.
Adly sempat-sempatnya melongo melihat orang di hadapannya.
"Bagaimana bisa?" tanya cowok itu sedikit terkejut. Pasalnya dia tak memberitahu orang-orang jika akan ke tempat ini. Bahkan Ali sekalipun,yang merupakan kakak Fany. Karena memang sudah diperingatkan oleh Wils.
Ali yang mendengar kalimat itu dari bibir Adly menyeringai senang. Dia seakan bangga pada dirinya sendiri.
"Ada deh!"
"Gue kan jenius!" lanjutnya sembari memuji diri sendiri.
Flashback
Adly bergegas mengambil kunci motornya. Tak terlalu peduli akan kekalutan Ali beberapa meter di belakang sana.
"Lo mau kemana?" tanya Ali tajam karena memgira cowok itu akan kabur dari tanggung jawabnya mencari Fany. Apalagi Ali merasa sangat kesal kepadanya sekarang. Karena chat sialan itu Fany harus menghilang tanpa kabar hingga larut malam seperti sekarang.
Apalagi Aly barusaja melihat Adly menerima panggilan dari seseorang. Dan jelas itu cukup mencurigakan.
"Ke tempat dimana adek yang lo banggain itu berada". Tegas Adly penuh sindiran.
Mendengar itu sebuah harapan terbit dari hati Ali. Artinya Adly mungkin tahu adiknya berada dimana. Dan juga dia bisa bernafas sedikit lega.
"Gue ikut!" kata Ali cepat sambil berlari ke belakang Adly.
"Gak perlu!" cetus Adly kasar.
Mendengar itu Ali menjadi kesal sendiri atas sikap sombong orang dihadapannya. Yang terlihat seakan-akan tak membutuhkan orang lain. Refleks saja ia kembali melepaskan bogemannya. Dan itu cukup keras untuk orang terlatih seperti Ali.
Adly sedikit terhuyung tetapi tetap saja melangkah tak peduli.
Ali lalu kembali menarik kerah bagian belakang Adly. Dan tanpa cowok itu sadari Ali meletakkan alat pelacak di sana. Aly tersenyum tipis lalu membiarkannya pergi.
"Kalau gitu lo harus buat adek gue kembali". Pesannya sebelum Adly menaiki motornya.
Setelah Adly terlihat menajauh sebuah telepon dari nomor baru masuk. Tapi Ali jelas tahu dari mana asalnya. Karena baru saja dia meletakkan hp baru di ruang rawat Delano.
Ali kembali tersenyum. Berusaha menyusun rencana.
Flasback off
__ADS_1
***
"Hm....!" deheman itu membuat Ali maupun Delano menoleh ke asal suara.
Mata keduanya membelalak ketika terlihat di depan sana. Fany yang terikat di kedua tangannya serta mulutnya terbekap.
Tak ada lagi wajah songong yang di tunjukkan oleh Ali. Keduanya tegang.
Berusaha berbicara tapi tak bisa, sementara di sampingnya sudah ada Wils yang menodongkan pistol tepat di kepala gadis itu.
Adly yang barusaja dilepaskan ikatannya oleh Ali tak sempat melihat hal itu kapan terjadi. Begitupula Ali yang sebelumnya membelakangi mereka.
Dapat mereka lihat wajah ketakutan dari gadis itu. Apalagi kulitnya yang memang terlihat putih menjadi semakin pucak.
Dress yang digunakan gadis itu berantakan. Di beberapa bagian mulai robek.
Mereka tahu Fany berusaha berteriak tapi keadaannya yang tak terbekap membuatnya tak bisa mengeluarkan suara.
"Bagaimana?" tanya Wils, sembari memainkan pistol di tangannya.
"Apa ini yang kalian inginkan?"
Mereka berdua saling melirik. Ali mengepalkan tinjunya. Berfikir cepat. Dia tak boleh gegabah, nyawa adiknya sedang terancam.
Dia tak menduga jika ternyata Wils telah mempersiapkan rencana cadangan seperti ini.
Tatapan Adly berubah buas. Apalagi ketika matanya sempat bertemu dengan mata coklat gadis itu. Sungguh dia tak tahu harus melakukan apa.
Ini kesalahan yang berasal dari masa lalu tapi mengapa mereka yang tak tahu apa-apa juga dilibatkan.
Ali menghela nafas pelan. Lalu melangkah perlahan. Dirinya harus sesegera mungkin mengambil keputusan.
"Berhenti bermain-main dan akhiri semuanya Pak Tua!" kata Ali dengan nada mengejek. Dia sesekali melirik adiknya.
Beberapa orang berpakaian serba hitam masuk. Dan Ali sudah sigap akan kemungkinan ini.
Mereka berenam maju sekaligus, tapi tak memnuat Ali kewalahan. Dia meninju perut, menendang apapun yang dijumpainya. Walaupun kepala orang itu sekalipun. Walaupun Ali juga terkena pukulan di beberapa bagian. Tapi tak mengurangi semangatnya dalam berkelahi kali ini.
Wils agak tertegun melihat kemampuan berkelahi Ali. Dia mengamati Ali dan Fany secara bergantian.
Lalu terkekeh ketika menyadari sesuatu.
"Jadi kalian berdua saudara?" tanya Wils tapi tak mendapat jawaban selain tatapan buas.
Ali kembali maju, tatapannya hanya terpaku pada Wils. Sedangkan tanpa mereka sadari Adly mengendap-ngendap melalui sisi yang berbeda. Menuju ke belakang mereka.
"Apa alasanmu?" tanya Ali,penuh penekanan.
Wils terkekeh.
"Alasan klise dan sederhana. Seseorang dari masa lalu membuatku kehilangan apa yang harusnya kumiliki".
"Lalu apa hubungannya dengan kami". Tanyanya kembali sambil mengulur waktu. Dia terus maju, hendak mendekat ke keduanya.
"Itu karena kalian ada hubungannya dengan orang yang meremggutnya".
"Psikopat" Desis Ali tanpa sadar.
Saat itu juga Wils maju selangkah. Lalu arah pistolnya dia balik. Menuju kepada Ali.
Matanya yang berputar-putar tampak memerah. Sementara yang lainnya memejam untuk membidiknya tepat.
Dan menit itu juga dia menembakkan pistolnya ke arah dada Ali.
Tepat di jantung. Dengan sangat pelan, Ali akhirnya. Ambruk ke tanah.
Wils kembali terkekeh.
Sedangkan Fany yang melihat semuanya berteriak dalam diam. Air matanya tak dapat di bendungnya.
Apa yang lebih menyakitkan dari melihat seseorang yang di sayangi di bunuh di hadapan kita.
__ADS_1
Fany mulai memberontak. Ingin berlari menghampiri Ali tapi tak bisa. Ingin berteriak juga tak bisa. Semua tertumpuk di dadanya membentuk rasa sesak.
Adly yang berdiri tak jauh dari sana juga tersentak.
"Tak mungkin cowok itu mati" batinnya tak terima.
Wils terkekeh nyaring. Melepaskan lakban yang membekap mulut Fany. Hingga terdengar suara isakan dari gadis itu.
"BANG ALI! Hiks!" tangisnya tak dapat di bendung. Saat itu Fany sadar jika kakinya tak terikat. Dan detik itu juga dia berlari ke arah abangnya.
Walaupun tangannya masih dalam kondisi terikat tapi dia tak peduli.
Dia mendekat, berusaha menggapai abangnya yang terlihat sangat lemah. Darah menggenang di tempatnya berpijak sekarang tapi ia tak peduli.
"Bang jangan tinggalin gue hiks!"
"Abang kenapa mesti datang ke sini. Lebih baik gue aja bang!" isaknya.
Sedangkan dari arah berlawanan sebuah pistol mengarah ke Fany yang sedang menangis. Gadis itu tak sadar. Orang yang memegang pistol memiliki tatoo bunga lili di lengan kirinya.
Pakaiannya serba hitam dengan topi hitam yang menutupi kepalanya.
Adly yang berada di belakang Wils menyadari itu.
Wils terkekeh, lalu ikut mengarahkan pistolnya ke gadis itu kembali.
"Matilah nak!"
Setelah kata itu terucap Fany mendongakkan kepalanya. Matanya bertemu pandang dengan orang yang menggerakkan pelatuk.
Dia tersadar akan sesuatu.
Lalu dia berbalik menatap Adly yang masih membeku di tempatnya.
Dia menyadarinya.
Tidak mungkin, wajah itu entah kenapa terasa sangat mirip.
Apalagi saat topi orang yang memegang pistol terjatuh di terbangkan angin malam.
Mata coklatnya membelalak.
Adakah yang bisa menjelaskan.
Kenapa ini terlihat sangat nyata.
Tidak mungkin Adly membelah diri.
Dia tak peduli lagi pada pistol yang mengarah padanya.
Orang itu mulai menarik pelatuknya. Dan Fany bersiap. Dia bahkan pasrah melihat bagaimana kakaknya harus di tembak di depan matanya.
Adly yang masih merasa pening bersiap untuk berlari menyelamatkan cewek itu.
"William!!! Sekarang!" cetus Wils juga mulai menarik pelatuknya.
Fany kembali bertemu pandang dengan cowok itu.
Nama William terasa tak asing di telinganya. Entah mengapa ia merasa pernah mendemgarnya.
Saat di detik yang paling menentukan Fany ingat sesuatu.
William hampir mirip dengan kata Liam. Relawan yang merangkap jadi temannya di tempat rehabilitasi.
Tapi kenapa? Wajah itu sangat mirip dengan Adly.
"Maaf!" dia bisa melihat bibir pemuda itu mengatakan kata yang memang sering di ucapkan.
Fany memejamkan mata. Bersiap menerima
***
__ADS_1
Tbc