
Seorang pemuda memarkirkan motor besar hitamnya dengan rapi. Lalu dengan tergesa-gesa orang itu berlari,tapi dari arah berlawanan terlihat seseorang bermata abu-abu.
Mereka bertabrakan tepat di pintu rumah sakit.
"Maaf" ucapnya tanpa menoleh lalu berniat melanjutkan langkah.
Tapi pemuda bermata abu-abu itu tak terima. Dia mencekal tangan orang yang menabraknya sehingga orang itu menyadarinya.
"Mau kemana lo?" tanya Delano,pada Adly orang yang menabraknya.
Adly yang masih terkejut pun langsung mengubah ekspresinya.
"Bukan urusan lo" acuhnya berniat melanjutkan langkah. Tapi lagi-lagi berhasil di cegah oleh Delano.
"Fany?" tebaknya yang membuat Adly terdiam cukup lama.
Melihat reaksi Adly,Delano sudah bisa menebaknya.
"Bukannya itu yang lo inginkan!" sindirnya,yang membuat Adly mengepalkan tangan.
"Jangan ikut campur".
Delano tersenyum meremehkan,
"Seharusnya lo sadar diri. Lo udah nyakitin dia. Lo yang menyebabkan dia seperti sekarang. Masih punya muka nemuin dia!" bahkan sekarang Delano merasa kesal sendiri memgingat perlakuan Adly pada Fany. Yang buruk itu Delano,tapi kenapa Adly yang selalu menyakiti Fany.
Tapi tanpa berkata apapun lagi Adly segera meninggalkan Delano senidirian di sana. Jujur kalimat Delano barusan seakan menjadi tamparan keras bagi Adly sehingga cowok itu memutuskan melanjutkan langkah.
Suasana rumah sakit malam hari sedikit legang,dan Adly berhenti tepat di depan UGD. Terkejut ketika melihat brangkar beroda milik Fany di dorong keluar oleh perawat. Sementara banyak orang yang berdiri di depan ruangan itu dengan tatapan sedih masing-masing.
Mata Adly tertuju pada gadis dengan rambut pirang yang tak terlihat asing itu. Dia agak mengeriyit karena keheranan. Dia berniat bertanya tapi brangkar Fany sudah menjauh. Makanya dia mengurungkan niat. Lalu dia mengikutinya.
Seketika rasa khawatir menghampirinya,karena saat berada dihadapannya tadi Fany belum sadarkan diri. Adly sedikit berlari untuk mengejarnya. Entah kemana gadis itu di dorong oleh beberapa perawat.

Adly berbelok ke koridor begitu melihat mereka berbelok. Lantai rumah sakit agak menurun sehingga ia harus mengikutinya. Adly berhenti begitu menyadari ruangan yang akan ditujunya lebih ramai dibanding yang lain. Dia menoleh ke belakang,dan mendapati gedung yang sekarang di pijakinya berbeda dengan rumah sakit tadi.
Adly mendongak membaca tulisan yang terdapat pada papan warna hijau itu.
"Rehabilitasi kejiwaan"
Cowok itu tertegum begitu selesai membaca,tapi tak berlangsung lama ketika seseorang menepuk pelan pundaknya.
__ADS_1
Adly menoleh,mendapati seorang laki-laki paruh baya yang berdiri dengan setelan jas lengkap. Orang itu tersenyum manis pada Adly sehingga mau tak mau bibirnya sedikit tertarik ke atas.
"Anda mau membeli saham hingga datang kemari malam-malam?" tanyanya penuh perhatian,hingga Adly sedikit melongo.
Adly kembali menatap tulisan diatas sana. Hingga ia bisa mengerti. Adly kemudian menggeleng kaku.
Laki-laki paruh baya itu terlihat sedih sehingga Adly menjadi tak enak. Tapi tak berapa lama kemudian terlihat perawat yang segera menghampiri mereka hingga drama itu tak berlangsung lama.
"Maaf,Mas. Bapak ini pernah ditipu rekan bisnisnya hingga sekarang seperti ini", ujar perawat itu berusaha menjelaskan hingga Adly hanya bisa mengangguk kaku.
"Bdw mas sedang apa malam-malam di sini? Jenguk keluarga" selidik perawat itu hingga Adly teringat niat awalnya. Fany,ya Adly sedang mengikuti gadis itu.
Adly hendak kembali berjalan ke dalam ketika tiba-tiba cowok itu di tarik seseorang ke samping gedung. Tempat itu sekarang sepi karena sudah malam.Dan Adly tak tahu orang yang menariknya ini.
Saat orang itu membuka tudung jaketnya. Adly sedikit terperangah,karena orang itu adalah Ali.
Cowok itu terlihat sedikit geram pada Adly. Tapi Adly hanya menanggapinya biasa.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Ali tanpa basa-basi.
"Gue lihat Fany!"
Ali berdecih pelan tapi masih tak memberikan efek apapun kepada cowok itu.
Dia kemudian teringat perlakuannya terakhir kali pada Fany. Sepuluh hari yang lalu.
"Maaf" lirihnya yang sekarang membuat Ali terperangah lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Lo pikir kata maaf,bisa ngembaliin Fany ke kondisinya yang semula. Tidak semudah itu ferguso!" Sarkasnya yang membuat Adly kembali penasaran,akan hal yang baru saja dilihatnya.
Adly mengangkat keningnya hendak bertanya. Tapi Ali lebih dahulu paham hingga ia menghela nafas sekali lalu memulai bercerita.
"Fany memiliki Fonophobia. Jenis fobia langka,yang memiliki reaksi ketakutan berlebihan pada suara keras. Dan lo tahu,yang lo lakuin hari itu ngebuat fobia adek gue kembali". Nada suara Ali menusuk,dan sukses membuat Adly terdiam beberapa saat.
"Lalu apa gue peduli?" Adly bertanya sinis,tapi ada sedikit rasa ragu dari pertanyaannya.
Ali yang kalap langsung saja memberikan pukulan pada Adly sehingga cowok itu tersadar akan hal yang baru saja dia katakan.
"Itu karena perkataan lo yang barusan", Ali berusaha menormalkan nafasnya yang tersegal.
Lalu memberikan pukulan kedua pada pipi sebelah kanan Adly.
"Ini karena selama ini lo selalu nyakitin dia dengan mulut pedas lo",
__ADS_1
Adly hanya terdiam menerima pukulan dari Ali. Karena apa yang dikatakan cowok itu benar adanya. Dan dia syok mendengar yang menjadi penyebab Fany berada di tempat ini tak lain dari dirinya.
"Maaf!" sekarang Ali bisa menangkap ketulusan dari mata Adly mengucap kata itu,hingga mau tak mau dia kembali menghela nafas pelan.
"Jangan ke gue,tapi ke dia. Dan gue bahkan gak bisa pastiin setelah ini dia mau nerima lo!"
Adly tertegun mendengarnya,
"separah itu?"
Ali mengangguk membenarkan, sekarang Aly melihat sorot sendu di wajah datar itu. Entah kemana ekspresi yang selama ini ditunjukkannya.
"Sebenarnya Fany ke sini bukan hanya karena fobianya" ucap Ali yang kembali meninggalkan tanda tanya di kepala Adly.
"Maksudnya?"
"Dia juga memiliki kejadian traumatis di masa lalu. Dan hal itu bahkan hampir kami sesali karena dia pernah dinyatakan meninggal. Tapi entah keajaiban dari mana hari itu tiba-tiba dia bangun. Tapi mentalnya kacau, yang menyebabkannya harus di rawat di tempat ini selama tiga tahun". Jelas Ali panjang,tapi hal itu malah semakin membuat kepala Adly di penuhi pertanyaan.
Jadi Fany sebelumnya pernah masuk ke tempat ini. Dan gadis itu pernah mengalami gangguan mental. Tapi bagaimana bisa? Apa penyebabnya? Dan hubungannya dengan fobia itu serta dirinya apa?
"Maaf,gue tiba-tiba curhat soal ini ke lo gue kalut", suasana diantara mereka perlahan mencair.
"Gapapa"
Kening Ali mengeriyit,"lo mau dengar ceritanya?"tanyanya yang membuat Adly mengangguk cepat.
Dan hal itu sukses membuat Ali terkekeh pelan,mengingat baru kali ini dia berinteraksi dengan Adly cukup lama.
"Sebelum itu gue mau lo berjanji satu hal"Ali meminta kesanggupan cowok itu.
"Apa?"
"Setelah ini,lo harus jagain dia gimana pun caranya. Karena fakta itu hanya diketahui sebagian kecil orang".
Adly terdiam,berfikir cukup lama sebelum akhirnya dering telepon Adly menginterupsi keduanya.
Adly meminta izin untuk mengangkat telepon dan dibalas anggukan oleh Ali.
Ali memandangi punggung Adly yang menjauh. Ali tersenyum kecut menyadari bahwa permintaannya sudah pasti di tolak oleh Adly.
Dan Ali tak bisa berharap banyak. Dia tak boleh lari dari tanggung jawab bagaimanapun keadaannya.
Karena Ali menunggu hingga satu jam kemudian tapi Adly tak kembali. Mungkin salahnya,tak seharusnya dia meminta Adly untuk menjaga adiknya karena bagaimanapun Adly membenci Fany. Terlepas dari fakta lain.
__ADS_1
Tbc