My Clown Boy

My Clown Boy
58


__ADS_3

"Ada yang membuatku sadar. Jika tak selamanya menunggu tak selalu memberikan akhir yang baik".


***


"Maaf!" ucap orang itu pelan yang membuat Fany terperanjat


Fany tersenyum lemah, menatap wajah yang ia yakini milik Adly. Namun sayangnya cowok itu tak berani menatap mata Fany.


"Gak lo gak salah. Lo udah datang sekarang! Jadi lo mau bilang apa?"


Kening cowok itu mengeriyit. Dia tak pernah berfikir umtuk bicara apapun dengan Fany. Tapi melihat Fany yang semakin lama semakin menggigil timbul juga rasa iba dari dalam dirinya.


Dia menggeleng. Mata hitamnya, menatap mata coklat terang itu.


Dia kemudian membopong Fany yang mulai melemah. Karena memang belum makan. Cewek itu masih terus berusaha tersenyum seakan dialah sumber utama kebahagiaannya. Dengan lembut,cowok itu memasukkan Fany ke dalam mobil.


"Kita mau kemana?"tanya Fany pelan antara sadar dan tidak sadar. Beberapa kali ia menggeleng. Agar kesadarannya tak hilang. Tapi karena kondisi tubuhnya tak memungkinkan. Gadis itu perlahan memejamkan mata.


Orang yang tadi menjemput Fany. Menatap gadis itu sendu. Entah apa maksudnya. Lalu menit berikutnya dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Hujan masih terus mengguyur bumi. Dan malam pun kian larut.


***


Jam 23.00


Di rumah besar bernuansa putih itu. Seorang wanita paruh baya tak berhenti mondar-mandir. Sesekali secara tak sadar menggigiti kuku-kukunya. Rumah itu nampak sepi,hanya ada dia dan asisten rumah tangganya. Yang terus-terusan membujuk majikannya untuk makan.


"Nyonya harus makan!" kata Bi Inah kepada wanita yang berdiri di hadapannya.


Wanita itu,Ratih tak berhenti berfikir. Juga wajahnya terlihat lelah,tetapi dia terus menunggu kabar dari putrinya.


"Tidak bi. Saya harus menunggu putri saya!", untuk kesekian kalinya dia menghela nafas.


Tak berapa lama muncul seseorang dari balik pintu. Demi melihat yang datang Ratih langsumg berdiri. Dia memeluknya erat.


"Fany udah ketemu?" Tanya suara berat itu. Membuat Ratih tak kuasa menahan air matanya.


Wanita paruh baya itu menggeleng.


"Aku juga harus mencarinya!" kata Farhan tanpa sempat mengganti pakaiannya.


Dia sangat khawatir. Begitu dia tadi selesai meeting, seorang bodyguard yang ia tugaskan memgasi rumah dan putrinya datang melapor tentang hilangnya gadis itu.


Awalnya Farhan syok, hendak memarahi bodyguard itu. Tapi setelah berfikir akhirnya dia bisa menekan amarahnya. Lebih baik dia mencari putrinya di banding membuang buang waktu seperti sekarang.


Ponsel ratih berdering. Dan itu sebuah panggilan dari Ali.


"Halo mih!"


"Fany udah ketemu nak?" tanya Ratih langsung,berharap ada hal baik yang bisa ia dengar dari putranya.


"Belum. Tapi kata Lano! Ada orang yang tadi sempat melihatnya di taman A. Jadi Ali akan ke sana",


Ratih menghela nafas lega


"Semoga saja adikmu masih berada di sana!"


"Iya,Mi. Tapi Ali juga khawatir karena tiba-tiba kehilangan kontak dengan Delano. Padahal dia tadi berangkat ke taman A satu jam yang lalu. Tapi hingga sekarang Ali gak tahu kabarnya!", jelas Ali yang tanpa sadar membuat wajah lega Ratih tadi sedikit demi sedikit menghilang.


"..." Ratih tak bisa menjawab dia terlalu syok dengan kabar yang di berikan Ali barusan. Perlahan wanita paruh baya itu melemah. Dan dengan sigap Bi Inah memahan tubuhnya agar tak ambruk di lantai yang dingin.


***


"Ada yang lihat Ian sama Steffy?" tanya seorang wanita muda yang tengah hamil,kepada ketiga orang yang sedang duduk di ruang santai.


"Aku tadi sempat melihat mereka kejar-kejaran di taman belakang. Sahut,seorang wanita muda lainnya yang sedang berada di dapur membuat minuman untuk ketiga laki-laki yang sedang berbicara dengan asyik di ruang tengah.


Sementara itu,tak jauh dari ketiga laki-laki dewasa terdapat dua orang anak laki-laki sebaya yang sedang bermain ular tangga. Salah seorang,matanya warna hitam sekelam malam. Sedangkan yang lainnya bermata coklat terang dengan senyuman yang sangat menawan.


Mereka semua terlibat dalam kegiatan masing-masing.


Wanita yang tadi tengah hamil berjalan tergesa menuju taman belakang. Dia mencari mereka di taman yang luas itu. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.

__ADS_1


" Ian! Steffy! Kalian dimana nak?"tanya wanita muda itu mulai khawatir. Pasalnya, perasaannya tak enak sejak tadi. Apalagi naluri kuat seorang ibu melekat pada dirinya.


"Ian!steffy!" teriaknya mulai berkeliling halaman. Tapi masih belum menemukan kedua anak itu.


Tak berapa lama. Muncul anak bermata hitam kelam itu. Wajahnya yang menggemaskan, terlihat khawatir pada wanita muda itu.


"Bunda kenapa?" tanya anak itu ingin tahu, matanya mengerjap beberapa kali melihat ke khawatiran ibunya.


"Willy! Adikmu tak ada dimana-mana nak!" ujar wanita itu dengan suara parau. Perasaannya memang sedang sensitive dan mudah menangis. Apalagi dia sedang hamil muda. Dia tak bisa menahan diri untuk tak menangis walaupun dihadapan anaknya yang masih berumur enam tahun tersebut.


Dengan tergesa anak itu masuk ke dalam rumah. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak ketiga laki-laki dewasa itu masih terus bercerita tentang bisnis mereka.


Dia mendekat, ke sosok yang seakan menjadi duplikat dirinya tapi versi yang lebih tua. Dia menyelanya yang berbicara.


Tampak ayahnya bertanya melalui tatapan sehingga anak itu mengatakan apa yang dikatakan ibunya tadi.


"Yah! Kata bunda Ian sama Steffy gak ditemukan di halaman belakang. Willy juga udah bantu cari,tapi juga tak menemukan mereka!" ucap anak itu yang seketika membuat ruangan menjadi hening.


Dika orang yang di panggilnya papa barusan syok.Dia terdiam cukup lama. Begitupula orang-orang di dalam ruangan menjadi panik termasuk wanita bermata coklat terang yang tadi membuat minuman untuk mereka.


Selang beberapa saat terdengar suara histeris dari luar yang membuat mereka kelimpungan dan segera ke sumber suara.


Wati, wanita yang sedang hamil muda itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut begitu Willy masuk. Dia terduduk di atas kursi sambil berusaha memerangi rasa sakit dan sesak yang datang secara bersamaan.


Seorang anak berlarian masuk ke halaman rumah,yang membuat wanita itu refleks memanggil nama anaknya.


"Ian....", tapi matanya menunduk sayu begitu melihat ternyata anak itu bukan Ian. Melainkan Ryan.


Ryan terlihat kesusahan membawa kotak hadiah besar,yang mungkin lebih besar di banding dirinya itu. Anak itu terlihat kewalahan tapi tak berhenti untuk sekadar sampai dihadapan Wati.


"Tan, tadi Ryan lihat Ian sama Steffy diangkat paksa sama om-om jahat masuk ke mobil!", cetus anak itu setelah meletakkan kotak besar yang tadi dibawanya secara kesusahan.


Wati melihat kotak yang diletakkan Ryan dihadapanmya. Dia mengamatinya dengan saksama. Kotak itu jelas milik putranya, dia yang kemarin malam membuat kotak itu serta isinya. Katanya hadiah ulang tahun untuk Steffy tapi anak itu seperti yang barusan Ryan katakan di culik.


Air mata yang berderai sejak tadi itupun kembali berjatuhan. Dia menangis histeris yang membuat Ryan membeku di tempatnya karena tak tahu serta tak mengerti situasi.


"Aaaaa.....tidak mungkin....tidak mungkin. Aku harus menyusul mereka!", teriaknya histeris.


Selang beberapa saat orang-orang keluar. Dika, suaminya datang menenangkan. Terlihat sekali jika mereka semua sedang cemas.


"Mas! Kenapa? Kenapa mereka berdua harus di culik. Kita memang tak becus menjaga mereka, kita terlalu sibuk pada urusan masing-masing dan lupa jika mereka berdua itu nakal!" Wati berkata dengan isakan yang terdengar jelas.


"Jangan-jangan ini ulahnya. Tapi kenapa juga melibatkan anak ku!" desis Dika menahan amarah.


Tak berapa lama sebuah pesan masuk ke hpnya. Sehingga laki-laki itu yakin. Kalau orang itu adalah 'dia'.


+6285*******


Anakmu sedang bersamaku. Sebentar lagi kami akan berpesta. Kalau kau masih ingin melihat mereka datanglah. Sendirian kalau tidak kau tak akan melihat mereka bernyawa lagi. Sungguh mendengar tangisan mereka rasanya membuatku sangat puas.


Melihat pesan barusan Dika menggeram marah. Dia beranjak.


"Kumu mau kemana?" tanya Wati begitu melihat suaminya hendak pergi.


Yang hanya mengambil jaket kulit hitam serta kunci mobil di dalam rumah.


"Ke suatu tempat. Untuk menyelamtkan mereka!" jawabnya dengan nafas memburu.


Melihat kedua sahabatnya bersiap Dika menggeleng.


"Ini urusanku dengannya yang belum selesai. Aku akan segera menyelesaikannya dan membawa anak-anak kembali. Kalian tetaplah di sini. Aku titip Wati dan Willy", katanya sebelum akhirnya berjalan lalu mengeluarkan mobil.


Wati dan orang-orang di sana menatap Dika dengan perasaan khawatir.


Hanya saja yang tidak mereka sadari. Willy,anak bermata sekelam malam itu. Juga ikut masuk ke mobil. Anak itu meringkuk di bagasi mobil. Dan ayahnya juga tak menyadari hal itu karena terlalu terburu-buru.


Anak itu dengan dada berdebar juga hendak menyelamatkan adiknya. Juga menemani ayahnya. Karena dia sudah berjanji akan selalu menjadi kakak yang akan menjaga sang adik.


Dan Willy akan membuktikan hal itu.


***


Di jalanan yang legang, seorang remaja teronggok di sana. Air hujan terus-terusan mengguyur cowok itu. Tapi tak membuatnya mudah membuka mata. Tenaganya,sudah sangat lemah. Hingga untuk bergerak pun rasanya ia sangat kesusahan. Hanya hidungnya yang kembang kempis menjadi tanda jika orang itu masih bernyawa.

__ADS_1


Suasana jalan itu sangat gelap. Tertutupi oleh pohon beringin ditiap pinggir jalan. Jadinya dia tak langsung di guyur air hujan. Hanya saja dingin serta basah tak dapat dihindarinya karena aspal,juga mulai membuat air tenggenang. Orang itu sedikit sadar ketika air hujan mulai memasuki hidung serta mulutnya.


Dia perlahan membuka mata. Walau tak bisa bergerak bebas. Dia sadar sekarang dia sedang berada tepat di tengah jalan. Dan untungnya, tak ada mobil atau motor yang lewat selama ia tadi tak sadarkan diri. Jika tidak dia mungkin sudah meninggal di tindis kendaraan. Dengan susah payah cowok itu menggerakkan tubuhnya. Akan bahaya jika dia terus berada di tempatnya.


Dia berusaha menggerakkan tangannya. Tapi entah mengapa seluruh persendiannya terasa kaku. Dia merangkak walaupun sangat lambat. Sekujur tubuhnya terasa penuh luka. Dan rasanya perih ketika air hujan mengguyurnya secara langsung. Bahkan bau amis darahnya masih tercium oleh hidungnya yang tajam.


Akhirnya cowok itu sudah berhasil menepi. Dia merasa lelah juga kecewa karena tak mampu melawan mereka semua. Perasaannya tak enak. Mungkin saja sesuatu di luar kendalinya sedang terjadi sekarang.


Tapi dia berharap semuanya baik-baik saja. Walaupun rasa khawatirnya bertambah,tetapi cowok itu tak bisa melakukan apapun. Cowok itu melihat hpnya yang tergeletak di tengah jalan. Dengan layar yang sudah tak beraturan. Juga tergenang air hujan. Dengan sekali lihat pun akan berfikir jika benda itu rusak total. Tapi dia harus menggunakannya. Dia harus segera mengabari seseorang. Bukan untuk dirinya, melainkan gadis itu.


Dia kembali merangkak ke tengah. Hendak mengambil iphone keluaran terbaru tersebut.


Tapi sayang,sebelum ia sempat sebuah mobil langsung. Menginjak benda itu sehingga hancur berkeping-keping.


"Shittt!" umpatnya


"Kenapa gue jadi selemah ini?" gumamnya.


Juga rasa dingin itu terus-menerus menyerangnya seakan tak puas. Selang beberapa saat pandangannya mengabur hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.


***


Ali sampai di taman A tapi taman itu telah sepi. Dia mencari di sekeliling. Tapi tak ada yang duduk di sana seperti yang dikatakan Delano sejam yang lalu.


Dia terus mencari dengan perasaan cemas dia tak mau sampai-sampai hal itu terulang kembali. Dia tak akan membuarkannnya terulang.


Ali melihat warung kecil tak jauh dari taman A. Di sana seorang laki-laki tua penjaga kedai itu terlihat sangat ramah. Sayangnya Ali tak ada waktu untuk bercanda makanya cowok itu bertanya langsung.


"Bapak pernah lihat gadis ini?" tanyanya memperlihatkan salah satu foto Fany.


Laki-laki tua itu berfikir sejenak.


"Oh! Ini gadis yang tadi. Yang katanya nunggu seseorang nak!" ucap laki-laki tua itu.


"Dia tadi duduk di bangku. Saya suruh berteduh,dia langsung berjalan ke halte!"


"Lalu?" tanya Ali tak sabaran.


"Seseorang datang,dan menejemputnya menggunakan mobil. Saya pikir dia orang dekatnya karena gadis ini langsung memeluknya!"


"Bapak lihat mobilnya?"


"Lihat. Mobil yang digunakannyaΒ  warna silver dengan Plat 1450",


"Oke makasih pak!" kata Ali segera ke tempat mobilnya berada. Cowok itu tahu plat mobil yang barusan di sebut si Pak tua milik Delano. Tapi kenapa temannya itu tak memberinya kabar.


Ali mengeluarkan ponselnya hendak menelpon ibunya. Dengan laju pelan,cowok itu mulai mendial up hendak menyampaikan apa yang barusan di ketahuinya. Tapi saat sampai di jalan yang cukup legang. Lampu mobilnya menyoroti sesuatu.


Cowok itu tercekat ketika mengira, apa yang di temukannya sekarang adalah seonggok mayat. Dengan tergesa Ali segera menghentikan mobilnya. Dia turun hendak memeriksa orang itu.


"Siapa sih yang membuang mayat sembarangan!" gerutu cowok itu sambil mulai memeriksa.


Saat dia membalikkan tubuhnya yang tadi telungkup Ali membeku. Seonggok tubuh di hadapannya,sangat di kenalinya.


Tiba-tiba tubuhnya menegang dia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Antara cemas, takut, serta sesak.


Dia menyentuh wajah yang mulai memucat itu. Juga tubuhnya yang dingin. Untungnya nadinya masih berdenyut walau sangat pelan.


Ali mengguncang tubuh itu.


Hujan terus mengguyur mereka seakan sengaja tak berhenti. Ada duka yang mungkin menanti


"Lano.....", suaranya tertelan oleh air hujan.


Menit berikutnya dia merasa seluruh persendiannya melemah.


Tbc


Yuhuiiiii makin dekat ke End gaissss. Siapa yang gak sabar.


Eh.....ternyata tubuh yang di temukan Ali itu Lano. Jadi yang membawa Fany itu Adly pake mobil Lano?


πŸ™„πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Jejejeng jawabannya ada di next part.


__ADS_2