My Clown Boy

My Clown Boy
23


__ADS_3

"ketahuilah,sudut pandang tiap orang ituberbeda jadi jangan merasa berlebihan hanya karena sebuah sudut pandang".


***


"ad! Main yuk!"lagi lagi Fany merengek ke Adly,ketika ia duduk pada sebuah ayunan.


"gak"jawab Adly ketus.


"ayo!kita gantian naik ayunannya kan Cuma satu!"Fany lagi lagi memaksa cowok itu.


"ad!lebih kencang!"teriak Fany sambil tertawa.


Tanpa sadar Adly menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum samar melihat Fany yang tertawa lepas. Jujur mungkin baru kali ini Adly melihat Fany tertawa karenanya. Yang lebih sering adalah membuat Fany kecewa,atau marah. Dan jujur ada sebuah rasa lega hanya karena tawa lepas itu.


Namun,tak berapa lama Fany merasa bosan sendiri hingga akhirnya ia melihat sebuah sepeda couple yang terparkir rapi. Di dekatnya,ada laki laki paru baya yang duduk dengan topi bundar sambil mengipasi dirinya. Fany kesana,membayar sewa lalu kembali memaksa Adly ikut dengannya.


Fany lagi-lagi tertawa ketika mereka mengelilingi taman yang cukup luas dengan sepeda,apalagi dia sedang bersama Adly.


"Ad! Lo udah sayang gak sama gue?"tanya Fany iseng,saat mereka lewat di dekat pohon yang cukup rindang. Sehingga udara sore benar benar terasa menenagkan. Hingga rasanya kelopak mata gadis itu sedikit memberat.


"gak!"jawab Adly singkat,padat,dan tidak jelas.


"kalau besok?"


"gak"


"kalau besoknya lagi-"mereka kembali melewati belokan di sekitar bunga bunga. Yang terdapat sedikit sungai kecil.


"gak tahu Fany"


"yah kok gitu sih!"Fany agak kecewa,


"ya gak tahu"jawaban Adly Cuma dua macam,'gak' dan 'gak tahu'.gitu aja terus hingga negara api menyerang. Fany musnah baru tahu rasa.


Mereka berhenti mengayuh setelah lima kali putaran,jelas mereka lelah memutuskan istirahat dibawah pohon rindang itu. Apalagi Adly yang masih menggunakan kostumnya. Mereka duduk bersisian lalu bersandar pada pohon itu menikmati semilir angin sore.


"Adly!gue sayang sama lo!gue gak tahu lo sayang sama gue atau tidak tetapi,gue akan terus sayang sama lo!"mata Fany benar beanr terasa berat,"Ad....."

__ADS_1


"ummmm....."


"makasih ya tadi. Karen udah nolongin gue,lalu bawa gue ke rumah".gumam Fany lirih yang sempat membuat Adly tertegun.


Fany bisa menebak jika cowok itu adalah Adly,karena disekolah yang pernah datang kerumahnya adalah hanya Ima,Rinhy,Sarah,Ali cs,dan Adly. Sedangkan Ali cs pasti gak tahu kalau dia pingsan,makanya peluang terbesar yang datang Cuma dia. Adly mahardika.


Adly yang tadi hanya menatap tanaman dihadapannya,merasa berat pada pundaknya menoleh. Mendapati Fany tengah bersanndar dibahunya dengan mata terpejam. Entah mengapa Adly merasakan sebuah ketenangan melihat cewek ini tertidur,yang akan berbeda 180 derajat ketika Fany terbangun,lalu berteriak tanpa malu kesana kemari.


Adly melihat wajah Fany yang terlihat tenang,orang yang menyayanginya walaupun telah ia tolak berkali kali. Hingga rasa kantuk itu juga menghampirinya, perlahan Adly juga memejamkan mata. Tanpa ia ketahui,sebuah kamera mengarah ke arah mereka yang tertidur di bawah pohon.


Peristiwa disekolah


Flasback


Fany ambruk dilapanngan yang membuat orang di dekatnya terkejut. Hukuman itu lupakan saja,dia segera berlutut menepuk-nepuk pipi Fany memanggil namanya berulang ulang. Tapi gadis itu benar benar tak bergerak,wajahnya seputih kapas (pucat).


Apalagi saat ini para siswa sudah masuk ke kelas masing masing.


Adly kemudian menggendong Fany meninggalkan lapangan yang menyiksa ini ,menuju uks sebuah rasa takut menjalar ke dadanya.


Adly segera meletakkan gadis itu hati hati diatas brangkar,memanggil petugas uks agar segera memeriksa Fany. Dia bolak balik semoga saja tak terjadi sesuatu yang serius.


Adly kembali menoleh,melihat mbak Risna perawat di uks yang memeriksa Fany yang telaten. Sungguh ini salahnya. Adly memerhatikan Fany,mata coklatnya,senyum cerianya,bibir tipisnya,serta rambut coklatnya mengingatkan Adly pada seseorang dimasa lalu. Gadis kecil yang dahulu menolongnya,lalu memberinya lolipop. Sekilas Fany agak mirip dengannya. Makanya,dia berusaha menjauhi gadis itu agar tak kembali mengenang masa masa menyakitkan dalam hidupnya.


Tapi percuma,semakin ia mencoba menjauh semakin pula takdir membuat mereka mendekat. Semakin pula bimbang dirinya antara mempertahankan atau melepaskan.


Ya Adly dahulu memiliki teman ketika ia masih sangat kecil,teman yang tak pernah ia tahu namanya hingga kini. Hingga ia menamainya gadis kecil lolipop. Nama yang ia jadikan pesan layar dihpnya. Dan ia tahu,Fany pernah membacanya diam diam di kostnya.


Apakah Adly harus mengakui kalau gadis kecil itu adalah cinta pertamanya. Dan ia tak pernah melihatnya lagi. Maka sebuah alasan terjawab dengan jelas mengapa ia menolak Fany. Ada orang lain yang perlu ia cari dimana keberadaannya.


Walaupun sebenarnya akhir akhir ini dia benar benar merasa bimbang. Karena gadis kecil itu tak pernah ia temukan. Tapi semakin ia amati wajah itu semakin terkoyak hatinya. Semakin tumbuh rindu yang berkecamuk disana. Dia ingin melupakannya tapi percuma karena semakin Fany mendekatinya rindu itu semakin besar bukan untuk Fany melainkan gadis kecil lolipop.


Mbak Risna selesai,Adly mendekat berharap mendapat penjelasan.


"sepertinya,Fany belum makan. Makanya tubuhnya lemah,apalagi matahari yang panas membuat energinya terkuras habis. Dia pasti juga tak meminum apapun kan?"Mbak Risna bertanya untuk meyakinkan argumennya.


Dan itu benar seingat Adly,Fany belum memakan atau meminum apapun. Tapi Adly mengira jika Fany sarapan sebelum ke sekolah,tapi nyatanya tidak.huhhh benar benar cewek yang ceroboh.

__ADS_1


Adly mengangguk pelan,hingga mbak Risna kembali menjelaskan. "Tapi dia akan baik baik saja saya telah menyuntikkan vitamin,tapi mungkin akan pingsan sedikit lebih lama karena pengaruh obat yang tadi saya berikan".


Adly kembali mengangguk,tak berniat menanggapi.


Dia membayangkan Fany yang masuk kelas bergandengan dengan Delano......


Tunggu tunggu kenapa fikiran Adly terus tertuju pada Fany apa pedulinya jika Fany bersama Delano atau apapun itu. Ingat!!! Adly Cuma perlu mencari gadis kecil lolipopnya.


Oke jangan fikirkan Fany,toh itu haknya untuk dekat dengan siapapun. Tapi tak berapa lama bu Zaraya tiba tiba muncul,Adly menatap gurunya itu dingin.


"kenapa masih disini mau jadi sok pahlawan kamu!"Bentak Bu Zaraya yang tak peduli jika ia masih berada di uks. Hingga terpaksa mbak Risna mengodenya.


Adly tak mengacuhkannya,hanya terus menatap mata bulat itu tanpa berkedip seakan ia tak takut. Karena hukuman itulah yang membuat Fany akhirnya pingsan. Walaupun kesalahan mereka sebenarnya tak jelas. Dan kalau misalnya orang tua Fany mau menuntut,maka sekolah ini bisa jadi dipertanyakan dalam hukuman yang gak jelas dan terlalu menekan.


"GARA GARA IBU"Adly berkata ketus,


"apa yang bilang....."benar benar berang Bu Zaraya,bisa bisa tensinya naik. Apalagi mbak Risna yang tak diacuhkan.


"hm....."tepat saat itu Delano masuk membuat Bu Zaraya menahan kata katanya.


"keluar!" desisnya menatap Adly dengan tatapan membunuhnya.


Tetapi Adly tak bergeming dia menatap Delano dingin tanpa suara,tapi tak gentar meskipun dia tahu dengan tepat siapa Delano.


Bu Zaraya bahkan Mbak Risna menjadi panik melihat situasi yang kian memanas,denagn dua orang yang berbeda kepribadian itu siap saling menerkam.


Tapi Bu Zaraya tak mau hal itu sampai terjadi makanya ia menarik Adly keluar. Adly sebenarnya enggan ditarik seperti itu ,tapi entahlah dia memang agak malas berhubungan dengan Delano.


Ada sebagian dari diri Adly menolak,tapi sebagian lagi mendukung toh dia bukan siapa siapa dari Fany.


Saat sampai diluar Adly menahan Bu Zaraya,"bu saya mau bicara"ucapnya serius.


Bu Zaraya mau tidak mau mendengarkan penuturan Adly.


"baiklah jika itu keinginanmu saya tidak memaksa". Bu Zaraya kemudian menepuk bahu Adly.setelah mendengarkan permintaan cowok tinggi itu barusan. Setelah itu Bu Zaraya meninggalkan Adly sendirian dengan perasaan berkecamuk.


"gadis kecil lolipop kamu dimana?"batinnya

__ADS_1


tbc


__ADS_2