My Clown Boy

My Clown Boy
36


__ADS_3

Jangan terlalu melebihkan sebuah masalah,karena bisa saja ia menghancurkan.


***


"Dia gimana mi?" tanya Ali ketika mendapati Ratih duduk di kursi tepat di sebelah brangkar yang di tiduri Fany.


"Dokter sudah menanganinya. Dan tidak ada masalah serius" Hal itu membuat Ali menghela nafas lega,di ikuti orang yang berada di belakangnya. Delano.


"Terus kenapa Fany gak di pindahin aja ke kamar VIP?" Ali kembali bertanya memerhatikan sekitar.


Ratih menggeleng"tempatnya bukan di sini" matanya masih terus melihat Fany berharap akan ada pergerakan pada putrinya.


Lalu Ratih beralih menatap orang yang berdiri di samping Ali.


"Nak Lano?" Ratih mengerjap pelan menyadari teman Ali yang satu itu.


"Malam tante!" sapanya kikuk.


Ratih hanya bisa tersenyum tipis.


"Maaf,karena kamu harus melihat Fany sekacau ini"


Dan hal itu membuat Delano hanya bisa menatap prihatin.


Dia mengingat awal pertemuannya dengan Fany. Saat itu Fany tak tahu dirinya,bahkan setiap mereka kembali bertemu gadis itu selalu saja melupakan namanya.


Tapi bagi Delano itu adalah sebuah tantangan tersendiri. Karena jujur dia suka yang bernama tantangan. Bahkan tempo hari dia merasa puas telah memberi pelajaran pada Adly karena telah mengusik hidup Fany.


Suasana di ruangan itu sepi ketika Ratih meminta izin untuk keluar mengisi perut,hingga hanya menyisakan dirinya dan Ali.


Mereka hanya sesekali bersuara seakan ikut kesepian.


"Separah itu phobianya?" tanya Delano,yang diangguki oleh Ali.


"Lebih parah dari yang lo bayangkan! Dia menderita jenis phobia yang jarang disertai traumatis dari masa lalu" Ali menjelaskan.


"Sorry"


Ali mengerjap perlahan,"lo kenapa sih jadi aneh kayak gini?Mana lo yang katanya cowok bad?" Cowok itu tersenyum kecil menyadari hari ini Delano sedikit aneh.


Delano memutar bola mata.


"Emangnya lo gak buruk?" tanyanya balik.


Ali mengangguk polos yang langsung mendapat tabokan.

__ADS_1


"Oh ya! Cewek bodoh itu masih sering ngejar lo gak?" tanya Delano yang membuat Ali terdiam beberapa saat.


"Dia gak bodoh" ucap Ali pada akhirnya yang membuat Delano tertegun.


"Lo kenapa tiba-tiba ngebelain dia?"


Ali menggeleng.


"Yaudah bro gue pulang dulu. Sampein permintaan maaf gue ke Fany". Kata Delano sebelum akhirnya meninggalkan UGD.


Tapi Delano berdiri untuk sesaat ketika dia melihat pasien korban kecelakaan ketika baru masuk ke UGD. Wajahnya penuh darah,serta matanya yang terpejam berusia sekitar 25 tahun. Delano terdiam cukup lama,mengamati orang yang di dorong oleh beberapa perawat berseragam biru itu.


Delano merasa tak asing,tapi ia segera menepisnya.


Yang tidak ia sadari seorang gadis berambut pirang yang berdiri tak jauh dari korban kecelakaan itu menatapnya tajam.


Delano menggeleng lalu melangkah pelan keluar dari RS.


Ada sesuatu yang harus di urusnya yang lebih penting.


***


Seseorang dengan pakaian serba hitam itu memasuki sebuah ruangan. Dimana di dalam sana sudah terdapat seorang gadis berusia 17 tahun menunggunya. Dan demi melihatnya gadis itu terlihat sumringah.


Gadis berwajah oriental itu berdiri dari duduknya,lalu berhambur ke pelukan si pakaian hitam.


Tato di lengan kiri orang itu terlihat ketika baju lengan panjangnya sedikit tersingkap.


Mata kanannya yang normal menatap gadis itu tajam. Sedangkan mata kirinya tertutup kain seperti penampilan para bajak laut.


Gadis itu melihat jendela berukuran sedang yang terbuka. Membuat angin malam leluasa masuk dan memberikan efek dingin yang menusuk tulang.


"Bagaimana?" tanya orang yang dipanggil papa oleh sang gadis.


"Tidak buruk" sebuah seringaian terlihat di bibirnya.


"Anak cengeng itu bahkan tak pernah ke sekolah. Aku tak tahu pasti penyebabnya,tapi semua di awali malam itu pa. Saat papa bertemu badut itu di jalan". Gadis itu kemudian berdiri,lalu mendekati jendela. Memandang bulan sabit yang bersinar. Menerobos melewati celah celah pohon di luar sana.


Orang berpakaian serba hitam itu berfikir sejenak.


Topi koboinya di letakkannya di atas meja kecil. Perapian di sudut ruangan terlihat hampir padam. Hingga ia melemparkan kayu yang berada tak jauh darinya dan tepat sasaran. Selalu seperti itu.


"Kau akan seperti kayu itu nak" batinnya sambil menatap punggung mungil itu,lalu beralih ke kayu yang mulai terlahap oleh api.


Orang itu kemudian tertawa jenis tawa yang menyebabkan bulu kuduk meremang. Karena suaranya sangat dalam.

__ADS_1


"Jadi rencanamu berhasil" tanyanya.


Sehingga gadis berwajah oriental yang tadi menengadah menatap rembulan menoleh dengan kening berkerut. Lalu mengangguk dengan ragu.


"Maka sedikit lagi rencana kita akan berhasil. Nak!" bahkan ketika orang itu menyerigai,wajahnya berkali kali lipat menyeramkannya. Tapi tak membuat sang gadia ketakutan. Dia terlihat biasa saja berhadapan dengan orang berpakaian serba hitam itu.


"Tapi papa sudah janji kan,gak akan nyakitin dia!" tekan gadis itu pada kata terakhir.


"Justru papa lebih senang kalau dia menderita", cetusnya yang membuat gadis itu tak suka.


"Tapi mari kita lihat dahulu, sampai mana dia bisa bertahan. Dan papa gak akan menyakitinya untuk saat ini" orang itu kembali menyeringai,ketika gadis itu bernafas lega.


"Aku bahkan melakukan semua yang papa perintahkan. Tapi tak bisakah menuruti keinginanku untuk tidak menyakitinya?" protesnya,lalu menutup dengan kasar daun jendela.


Gadis itu melangkah lebar lalu kembali duduk ke tempat semula.


" i am sorry dear"ujar orang itu lalu menit berikutnya ia tertawa.


"Kenapa kamu mati-matian membelanya?jangan bilang jika kamu menyukainya!" tebaknya yang membuat gadis itu terdiam cukup lama.


"Mungkin" dan jawaban singkat itu sukses membuat orang itu menggeram.


"Jangan lakukan!" tekannya.


"Kalau begitu semua rencana yang papa lakukan akan kuberitahu padanya" ancam gadis berwajah oriental itu pada papanya.


Orang itu melotot,urat-urat wajahnya menonjol sangat menyeramkan. Tapi gadis itu bahkan tak gentar.


"Dari siapa kau belajar mengancam nak!" sahutnya dingin.


"Anda ahlinya. Dari siapa lagi?" balas gadis itu berani.


"Baiklah,ibumu yang kau sayangi kupastikan tak pernah melihatmu lagi" dan menit berikutnya kembali suara tawa menggema.


Tangan gadis itu mengepal,menatap wajah orang rusak itu. Selalu saja seperti ini. Dia akan mengamcamnya dengan ibunya.


"Terserah" ucapnya lemah. Dan demi ibunya gadis itu akan terus mengalah,perasaannya padanya akan selalu di nomor duakan. Meskipun ia merasa tak terima. Tapi baginya ibunya akan selalu di atas segalanya.


"Tidak nak. Orang itu kelak akan jadi milikmu. Hanya milikmu". Janjinya kemudian yang membuat mata gadis itu membulat tak percaya.


"Benarkah?"


Orang itu hanya mengangguk pelan. Dan saat sang gadis merasa sangat senang. Tanpa gadis itu sadari orang berpakaian serba hitam itu kembali menyeringai.


***

__ADS_1


tbc


__ADS_2