
"Terkadang ada sebuah rasa yang muncul hanya sesaat,memberikan ketenangan serta kekuatan. Tapi rasa yang sebenarnya itu apabila ia hadir lalu tak pernah pergi".
***
Fany memejamkan mata,mengatur nafas kemudian berbalik. Gadis itu terkejut .....
Ketika melihat Delano tiba-tiba muncul lalu menggenggam tangannya saat ia berada tepat di depan pintu kelas.
Fany berniat melepaskan genggaman itu tapi Delano malah semakin mengeratkannya ketika melihat Bu Dina guru bahasa indonesia telah duduk di kursi guru.
Delano melangkah perlahan tapi pasti sehingga Fany sedikit mendongak untuk melihat cowok itu dari samping.
Tak ada yang sadar mereka hanya sibuk mengatur langkah saat penghuni kelas menjadikan mereka pusat perhatian.
Guru Bahasa Indonesia yang melihat mereka pun menegur.
"kalian dari mana saja?" Nada suaranya berwibawa. Hingga perlahan langkah mereka terhenti yang memciptakan suasana hening sesaat dalam kelas.
Fany gelagapan tapi Delano santai saja.
"Maaf bu! Saya pinjam bentar Fanynya". Delano tersenyum entah kemana keadaannya yang kacau beberapa menit yang lalu.
" Oh nak Lano,Gpp kok. Fany kamu duduk di dekat anggota kelompok kamu". Ucap Bu Dina memaklumi. Dan Delano kemudian memberikan senyum terbaiknya,lalu mengacak pelan rambut Fany.
Fany melihat ke arah yang di tunjuk Bu Dina,kelompok yang berada di pojok kelas yang terdiri atas Rini,Adly,dan ketua kelas mereka yang tercintah.
Ketiganya terlihat sibuk memdiskusikan sesuatu walaupun sebenarnya Adly hanya kadang kadang mengangguk membenarkan.
Walaupun Fany tahu palingan ketua kelas dan Rini cuma membicarakan gosip terbaru yang tayang di Silet.
Apalagi Rini yang sibuk mencerocos dengan ketua kelas tertawa sangat keras di dekatnya.
Fany mendekat sehingga ketua kelas pindah tempat dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Males gue dekat Rini kerjaanya gangguin mulu. Sukanya cerita anak orang" sungutnya lalu pindah ke samping Adly,tepat menghadap ke jendela besar yang mengarah keluar.

Meja mereka di susun saling berhadapan sehingga mereka bisa mendiskusikan tugas dengan mudah.
"**** lu! Katanya gak mau deket gue. Bilang aja lo mau ngelihat wajah imut nan cantik ini". Rinhy berpose sok imut sambil memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.
Fany menghela pelan,lalu melirik kursi kosong di dekat Adly.
Mata Fany membulat begitu menyadari fakta itu,ingin rasanya ia melompat saat itu juga kalau tidak mengingat fakta kalau masih berada di kelas.
Fany duduk,ketua kelas masih saja terus berdebat dengan Rinhy,ketua kelas masih terus manyun. Suasana diantara keduanya sedang panas panasnya.
Ketua kelas kemudian mengangkat kursinya ke samping kiri Adly sehingga Rinhy hanya sendiri di bagian depan.
Kelas riuh,setiap kelompok memiliki kesibukan masing masing dan hal itu membuat kelas menjadi bising.
__ADS_1
Bu Dina memukul meja guru.
"Diam!!" dan suasana langsung kembali hening.
Rinhy dan ketua kelas saling memandang dengan tatapan bermusuhan. Andainya ini dunia komik maka jelas akan ada laser pada matanya.
Adly memutar bola mata malas.
"Gak usah ngegas kali bu!". Ucapannya santai,tapi terdengar jelas oleh seisi kelas karena suasana sedang hening.
Ketua kelas jadi greget mendengar ucapan yang Adly yang gak tahu situasi sontak dia mendorong kepala Adly saking kesalnya. Apalagi kan dia ketua kelas masa sekelompoknya gitu amat. Bisa jadi hal itu menjatuhkan namanya yang tenar.
Ima yang berada di kelompok sebelah memanggil Fany dengan gaya ngegasnya seperti biasa.
Gerakan itu terjadi sangat cepat,hingga tepat saat Fany berbalik saat itu juga ketua kelas mendorong kepala Adly,lumayang keras hingga Fany memejamkan kepala takut tertubruk.
Tapi sedetik,Fany merasakan benda kenyal di bibirnya. Manis,tapi dingin. Hembusan nafas dari seseorang,terasa hangat baginya. Mereka sangat dekat hingga memicu perasaannya di dalam sana meletup letup.
Semua orang membeku seakan waktu berhenti pada menit itu. Semuanya berhenti, Ima,Rinhy, Maya,ketua kelas melongo. Mata mereka tak ada yang berkedip. Begitupun Adly,cowok itu juga tertegun.
Ada yang gigit pensil,ada yang mulutnya membuka,sudah di tutup tapi kembali terbuka. Untungnya tak ada yang pegang hp hingga moment itu tak terekam. Kecuali mungkin cctv yang senantiasa mengabadikan moment apapun.
Jantung Fany berdegup,cepat saat ia sadar. dia segera membuka mata lalu menarik kepala ke belakang.
Pipinya memanas saat menyadari teman temannya menyorakinya. Malu,entah dimana ia harus menyembunyikan wajahnya. Dan dia rasa semerah kepiting rebus.
Adly langsung mendapat ledekan dari ketua kelas,hingga ia hanya bisa mengalihkan pandangan. Dan jelas cowok itu sedikit salah tingkah walaupun berusaha terlihat biasa saja.
"Omg.....Fany". Rinhy langsung heboh,mata Rinhy masih memandanginya dengan syok.
" Lo......ciuman". Rinhy melanjutkan ucapannya tanpa beban yang membuat Fany semakin malu.
Mereka lupa kalau di depan sana masih ada seseorang yang tak kalah terkejutnya menyaksikan semuanya terjadi. Guru itu tak berkedip sama sekali.
Fany sekarang tiba tiba merasa gerah begitu menyadari apa yang tadi terjadi. Rasanya dia ingin menghilang saja.
Bu Dina keluar untuk menyesuaikan degup jantungnya. Padahal bukan dia yang memgalaminya. Guru muda itu masih belum percaya apa yang baru saja di dilhatnya.
"Ima bilang dong ini cuma mimpi!" ujar Fany yang mengibas ngibaskan tangan kepanasan,hendak lari kemanapun. Sorakan terdengar dari mulut teman temannya.
"Ini bukan mimpi Ima jelas jelas satu kelas yang memjadi saksinya". Sahut Ima dengan raut serius.
Fany semakin salah tingkah,pipinya semakin memerah.
"Fany ciuman lo itu nyata!" tambah Rinhy.
Dan lengkap sudahlah penderitaan Fany hari ini. Tapi jika di pikir pikir tidak sepenuhnya penderitaan. Ada juga kebaikannya. Dan Fany mengambil hikmah positifnya aja.(eaaaa,kalau di dalam hatinya dia menganggap keuntungan).
Bu Dina kembali lalu menghela nafas,"Fany Adly kalian ke BK sekarang". Perintahnya yang kemuadian membuat Fany tertegun sesaat. Menurutnya hal yang tadi tak boleh dianggap kesalahan.
Tapi begitu melihat sorot tegas Bu Dina mereka tidak protes terlalu banyak. Hanya berjalan beriringan,tapi sengaja menjaga jarak.
__ADS_1
"Suit!suit!... Cieee cieeeee. Pangeran kodok sama putri keong berjalan beriringan ke BK" ucap seorang anak cowok yang membuat Fany begitu malu.
Adly memimpin di depan sedangan Fany hanya memgikutinya.
Saat sampai di depan pintu bertuliskan BK. Adly berhenti,mengetuk pintu kemudian mengucap salam.
Cowok itu kemudian masuk,dimana guru super killer yang paling di hindari siswa siswi Adyatama High School dengan tubuh tambun dan kecamata bulat besarnya yang khas.
Bu Zaraya.
Adly masuk ke ruangan yang serba hijau itu dengan perasaan yang sulit di tebak,karena cowok itu tetap terlihat santai. Mungkin flat.
Tak lama Fany menyusul,mereka duduk di kursi berseblahan. Fany terlihat menunduk karena gugup .
Bu Zaraya berdiri dengan kayu kecil ia tepuk tepukkan di tangannya.
"Apa yang telah kalian lakukan". Suaranya menggema di langit langit menambah rasa tegang pada kedua murid berlainan jenis tersebut.
Dia berdiri tepat diantara Fany dan Adly.
Fany menjadi gelagapan tak tahu apa yang harus ia jawab.
Dirinya terlalu grogi untuk bicara.
"Ciuman" jawab Adly singkat.
Bu Zaraya menggeleng gelengkan kepala.
"Itukan anggapan kalian!" ucap Adly menusuk.
.
Bu Zaraya menatap Adly tak percaya.
"Dasar anak jaman sekarang. Jelas jelas bersalah tapi masih tak mau mengakui kesalahannya! Apalagi berciuman di dalam kelas". Bu Zaraya menggeleng.
Tiba tiba keinginan Fany untuk membela diri muncul.
"Tapi bu itu gak sengaja. Dan jelas kami tidak mungkin melakukannya dengan sengaja". Fany menjadi miris sendiri memgatakan kalimat terakhirnya.
"Alah jangan banyak alasan,tidak sengaja tapi suka. Bacot bacot kalian tuh yang mencoreng nama baik sekolah kita". Bu Zaraya mulai marah.
" Tapi Bu bener itu gak sengaja. Kalau ibu gak percaya silahkan tanya teman teman sekelas saya". Fany masih bersikeras untuk membela diri.
"Hei nak! Gak ada kata gak sengaja di sini intinya kalian melakukannya di dalam kelas. Jadi itu pelangharan". Ucapan bu Zaraya terasa seperti cambukan bagi Fany.
Dan cewek itu merasa sangat tak adil. Perasaannya apakah salah jika dia protes? Apakah sekolah ini memiliki hukum yang memihak,sehingga mereka yang tak memiliki koneksi hanya bisa menerima hukuman tanpa pembelaan?
Mereka kembali bercerita ke dalam pusaran ketakadilan. Kedalam deru protes dari insan yang tak berdaya. Dari harapan yang terabaikan.
Tbc
__ADS_1
......