
***
"Kak! Kakak mau kemana?" tanya anak bermata hitam kelam itu kepada seseorang yang sangat mirip dengan wajahnya itu. Kakaknya yang sedikit lebih tinggi darinya terlihat bergegas.
"Sirkus!" jawab anak itu pelan. Sebuah ransel berisi perlengkapannya di gendongnya.
"Ian ikut!" ucap anak itu memelas. Dia sudah lama tak melihat Willy berada di rumah. Karena sibuk dengan sirkus itu.
"Entar. Kalau paman datang! Kamu tanya aja!" ucap Willy mematap anak bermata hitam kelam itu.
"Kakak aja! Kan kakak akrab sama paman. Ian mah apa. Palingan dibenci karena pernah diajak jadi badut tapi gak mau", ungkap anak itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Willy menghela nafas pelan, lalu mulai keluar halaman rumah besar itu. Ian membeku di tempatnya dengan bibir mengerucut. Sudah pasti kakaknya tak akan membiarkannya lagi untuk ikut.
Willy yang melihat itu jadi terdiam. Lalu menoleh ke sang adik sepenuhnya.
"Kenapa berdiri di situ, katanya mau ikut?" protes Willy, tapi nada suaranya terdengar datar.
Demi mendengarnya mata Ian kembali berbinar.
"Emang boleh?" ragunya.
"Jadi kamu gak mau?"godanya sedikit mengejek, juga menyudutkan.
Ian langsung berlari ke samping kakaknya. Dan berkata dengan semangat.
"MAU!!!!"
Lalu mereka berdiri di depan pagar menunggu seseorang.
"Ayah sama bunda ada di sana kan?"
"Iya. Emang kenapa?"
Ian menghela nafas pelan.
"Aku mau ngajak Steffy!" ucap Ian pelan.
"Gak usah!" tolak Willy cepat. Entah memgapa agak aneh mendengar nama gadis kecil itu di sebut.
"Kenapa?" tanya Ian polos. Matanya mengerjap beberapa kali.
"Kakak kan suka sama teman Ian itu!" lanjutnya lagi yang membuat wajah kakaknya memerah seperti kepiting rebus. Pipi bulatnya terlihat menggemaskan.
"Lalu kenapa sih kalau mau main sama dia kakak harus jadi aku. Gak jadi kakak sendiri!" lanjut anak itu yang semakin menyudutkan Willy.
"Dia bisa pingsan kalau lihat wajah kita sama!" kata.Willy pendek.
"Emangnya kenapa?" tanya Ian tak sadar jika kakaknya kembali berubah.
"Willy gak mau aja lihat dia pingsan".
"Dia gadis kecil lolipop yang menggemaskan", tanpa sadar sudut bibir Willy tertarik ketika mengingat pengalamannya benerapa hari yang lalu. Bertemu dengan gadis kecil lolipopnya.
__ADS_1
"Kakak mau bahagia sama Steffy?" tanya Ian kembali.
Willy memgangguk samar tapi disadari oleh Ian.
"Kalau gitu Steffy sama kakak aja. Ian gak mau nikah sama Steffy nanti. Karena dia pernah ngajak Ian nikah!" cetusnya polos. Karena sama sekali tak mengerti arti kalimat yang baru saja di ucapkannya.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti di hadapan mereka. Lalu seorang laki-laki muda melongokkan kepala dari balik jemdela.
"Eh! Ian mau ikut?" tanya laki-laki bersuara dalam itu. Laki-laki itu terlihat cukup tampan. Wajahnya bersih. Juga sedikit berisi.
Dengan cepat anak itu mengangguk.
"Oke!ayo kita berangkat!" putus laki-laki muda itu akhirnya.
Mereka berhenti di depan sebuah taman bermain. Dan Ian ketika turun langsung melihat temannya yang bernama Ryan. Dan di sebelahnya ada Steffy yang sibuk dengan permen lolipopnya.
Willy yang melihat itu jadi tersenyum kecil. Anak itu jadi terlihat manis ketika bersama permen lolipopnya.
Ketika Steffy mengarah ke mobil dia segera menunduk. Padahal walau tidak menunduk sekalipun Steffy tak akan bisa melihatnya dengan jelas.
Setelahnya dia mengikuti pamannya menuju ke toilet umum untuk berganti.
Setelah keluar dari ruang ganti. Anak itu melihat dirinya. Dari atas ke bawah. Sedikit terlihat lucu karena kostum yang digunakannya biasa di gunakan oleh badut dalam bentuk yang lebih kecil. Hingga mau tak mau anak itu terlihat lebih menggemaskan.
Sedangkan pamanmya sudah melangkah keluar. Pamannya dengan tak canggung langsung datang ke kerumuman anak kecil sehingga semuanya berbinar ceria melihat seorang badut.
Pamannya menunjukkan atraksi menarik seperti sulap dan memutar bola secara bergantian. Dan hal itu mengundang rasa kagum anak-anak yang melihatnya. Dan mau tak mau semakin banyak orang yang berkumpul lalu membentuk kerumuman.
Para orang tua juga mendekat. Mengawasi anak-anak mereka dari dekat.
Bukankah menghibur orang-orang rasanya semenyenangkan ini.
Steffy yang melihat kemana Ian membawanya langsung berbinar ceria.
"Ternyata ada badut mini!" ceria gadis kecil itu. Dia gemas sendiri. Langsung nyosor aja memeluk si badut kecil. Lalu merasakan kelembutan dari pakaian yang di kenakan si badut.
Sedangkan Willy membeku. Baru kali ini di peluk oleh Steffy, teman Ian yang sedikit menarik perhatiannya karena kelucuan gadis kecil itu. Pipi yang bulat dengan mata sipit. Sungguh sangat menggemaskan.
Steffy melompat-lompat.
"Steffy gak tahu ternyata ada badut kecil gini. Steffy suka!" cerocos anak itu sambil melirik ke Ian.
"Lain kali bawa Steffy lagi ketemu dia!" pintanya kembali.
"Kenapa Steffy ketawa. Dia gak lucu dibandingkan sama paman badut!" protes anak bermata abu-abu itu pada Steffy.
Dan demi mendengar ucapan Ryan barusan,Steffy memanyunkan bibirnya.
"Wleeee! Ryan nyebelin. Badut ini lebih lucu dibanding paman!" katanya sambil menjulurkan lidah.
Dan hal itu membuat Ryan memutar bola matanya malas.
"Terserah"
__ADS_1
Willy jadi gemas dan tanpa sadar mengusap pelan kepala gadis kecil itu. Dan kembali Steffy terpanah.
"Steffy suka sama badut!" katanya lalu menyanyi-nyanyi kecil. Dan lama-kelamaan di ikuti oleh kedua temannya. Ian yang tadi memegang lolipop milik Steffy jadi menyodorkan permen itu kembali kepada pemiliknya.
"Nih!"
Dan diam-diam anak itu melirik kakaknya yang terlihat sedikit bahagia.
Dari kejauhan dia bisa melihat seorang anak berambut pendek mendekat ke arah si badut. Ian merasa tak asing pada anak itu. Tapi Ian lupa dimana pernah melihatnya.
"Foto yuk!" cetus Steffy yang langsung diangguki oleh Ian begitu acara sudah selesai.
Mereka sedang duduk di bangku taman.
Tak berapa lama si paman badut datang dengan membawa sebuah kamera di tangannya. Membuat anak-anak itu tersenyum langsung mengambil posisi.
Ian berdiri di samping kanan Steffy. Sementara di tempat paling kanan ada si paman badut.
"Aku di sini ya!" ucap Ryan sambil berdiri tepat di samping kiri Steffy.
"Jangan!!!" tolak Steffy cepat. Dia lalu menarik Willy mendekat. Sehingga tempatnya bertukaran dengan Ryan.
"Steffy maunya dekat sama badut!" lanjutnya memberengut sebal pada Ryan.
"Tapi! Kan Steffy bisa sama paman badut!" protes Ryan mulai kesal. Mata abu-abunya menyorot tak terima.
Steffy menggeleng.
"No!Steffy mau sama dia!" putus anak itu akhirnya.
Lalu kamera pun di bidikkan.
Dan setelahnya langsung tercetaklah foto itu dengan sendirinya.
Foto yang terpajang di sudut dinding ruangan kecil itu.
Yang menjadi salah satu kunci dari ingatan Fany hingga kembali.
Awalnya dia tak mengerti. Tapi setelah berfikir dan melihat apa yang terjadi hari ini membuatnya paham. Jika mereka saling berhubungan.
Juga paman badut itulah Wils yang berdiri dengan seringaiannya di sana.
Laki-laki yang dulu cukup tampan dan menjadi penghibur mereka berubah menjadi menyeramkan seperti itu.
Entah apa yang terjadi hingga terjadi perubahan yang pesat.
Tapi dari sini Fany sadar tak selamanya orang akan berdiri di nasib yang sama. Semua akan berubah seiring berjalannya waktu.
Termasuk orang yang sekarang berdiri tak jauh dari mereka.
Apa yang harus dilakukannya? Hal ini sudah melenceng terlalu jauh.
Tbc
__ADS_1
Jadi makin panjang ya!/sabar. Aku gak suka terlalu terburu buru. Semuanya butuh proses.
Dan semua penjelasan akan terjelaskan pada akhirnya.