
"Walaupun terus menghindar. Apa kamu yakin suatu saat nanti dia tak akan menemukanmu?"
***
Yang sempat ia lihat sebelum benar-benar pingsan. Mereka mungkin memasuki hutan.
***
Bab 62...
Adly yang sudah mulai bisa menyimpulkan akhirnya mengambil kunci motor miliknya lalu segera beranjak sebelum terlambat.
Dia tahu orang itu, orang aneh yang memang selalu mengawasi kehidupannya. Orang aneh, yang melibatkan orang tak bersalah hanya karena dendam yang terjadi di masa lalu. Walaupun dia juga tak terlibat sama sekali tapi orang itu terlanjur bertindak jauh. Dia harus bergegas, karena mungkin orang itu akan melakukan hal di luar nalar manusia sekalipun.
Terlihat rahang cowok itu mengeras,tapi dia terus melangkah. Tak peduli pada malam yang semakin larut. Kali ini dia benar-benar akan menyelesaikannya. Dia tak akan membiarkan orang itu berkeliaran semaunya,dan kembali membawa orang-orang tak bersalah. Sudah cukup,kali ini dia tak akan kehilangan lagi.
Tapi anehnya ada yang mengikutinya dari belakang dan saat Adly menoleh di sana ada Ali yang terus mengikutinya.
"Lo mau kemana?" tanya Ali, melihat kepergian Adly yang secara tiba-tiba.
"Ke suatu tempat,yang gue yakin Fany ada di sana!", cetus Adly cukup panjang. Dia tak peduli kata orang sekarang. Yang dia tahu gadis itu dalam bahaya. Dan dia tak boleh terlambat.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Adly.
+6285*********
Kau tahu syaratnya kan nak? Aku juga sudah memperingatimu. Tapi dia tetap ngotot,dan sekarang gadis itu akan menerima akibatnya.
Picture
Adly menghembuskan nafas lelah. Ternyata dugaannya benar. Baru saja ia ingin mendatanginya,tapi dia sendiri yang mengirim pesan. Juga foto, Fany yang masih tak sadarkan diri terikat di kursi. Persis seperti gadis kecil malam itu. Yang ia sendiri lupa namanya, yang ia namai gadis kecil lolipop.
Ah! Sudahlah dia tahu jika Fany sangat membenci gadis kecil lolipop itu. Makanya setelah hari ini,dia tak akan berusaha mencarinya lagi. Karena kali ini dia sadar siapa yang berharga baginya. Nafasnya memburu, mendapat pesan itu.
Dia harus datang secepat mungkin.
"Gue ikut!", pinta Ali begitu Adly kembali hendak melangkah.
Adly melepaskan cekalan tangan Aly dengan kasar.
"Gak!", kata cowok itu tegas.
"Kenapa? Dia adik gue, dan gue bisa bantu lo!",
Adly menaikkan salah satu alisnya.
"Gak!" tolak Adly tegas setelah berfikir cukup lama.
"Tapi dia adek gue! Lo gak ada hak buat larang gue!" tajam Ali, emosinya sedikit tersulut secara tak sadar dia refleks memukul wajah Adly dengan keras.
Adly sedikit terhuyung ke belakang. Merasakan perih di sekitar wajahnya.
Tapi tetap saja cowok itu tak ingin mengambil resiko.
__ADS_1
"Lo tetap di sini atau dia gak selamat sama sekali!" tekan Adly pada Ali.
Cowok bermata coklat itu hanya terdiam berusaha mencerna kata-kata Adly. Maksudnya jika Adly di temani orang lain maka adiknya akan mati begitu.
"Ck!!!ck benar-benar orang licik", senyum culas terbit di bibir cowok itu yang membuat Adly membeku.
"Kalau begitu gue serahkan Fany ke lo! Tapi dengan catatan. Dia harus kembali dengan keadaan utuh tanpa cacat sedikit pun!", pesan Ali membiarkan cowok itu pergi. Tapi diam-diam dia memikirkan sesuatu.
Adly melajukan motor membelah kesunyian malam. Dia melihat jam di hpnya, dan di sana tertulis jam 00.00, dan hari itu terjadi sama persis seperti sebelumnya. Tapi sekarang dia sudah bukan bocah tengil yang tak tahu apa-apa seperti dulu.
Dia Adly Mahardika. Namanya berubah tapi dia masih orang yang sama. Orang yang menyaksikan semuanya, tapi sekarang dia akan meluruskannya sebelum semuanya terlambat.
Hanya saja ada sesuatu yang tidak ia sadari, karena sesuatu itu menantinya di luar sana.
***
Delano terbangun,dari pingsannya. Cowok itu melihat sekelilingnya yang sepi. Tanpa seoramg pun. Artinya, dia tertidur sendirian di kamar VIP ini. Mungkin baru beberapa menit yang lalu cowok itu dipindahkan.
Dia merasa miris sendiri pada hidupnya. Seakan dirinya tak punya keluarga. Dia akan menjalani semuanya sendirian. Dia melihat infus yang masih melekat di tangannya. Cowok itu lelah. Dia segera melepaskan benda itu secara paksa.
Pakaian pasien telah melekat di tubuhnya.
"Gue terlihat jelek pakai baju ini", ucap Delano pada dirinya sendiri.
Dia menoleh ke nakas. Di sana sudah ada paperbag. Yang ia tebak berasal dari Ali. Temannya satu itu sudah hapal betul kebiasaanya. Dia segera mengambil peperbag itu. Dan isinya adalah sebuah pakaian lengkap. Demi melihatnya Delano tersenyum kecil.
Saat dia mengeluarkan isinya, yang ia kira sudah habis. Ternyata masih ada hal lain. Dia melihatnya isinya ponsel baru. Sungguh dia ingin sangat-sangat berterima kasih pada Ali.
Di sana ada pesan tertulis pada kertas kecil.
TERTANDA
TEMAN LO YANG SUPER TAMPAN
Tanpa ba bi bu lagi cowok itu segera mendial up nomor yang ia yakini milik Ali itu.
"Halo!"
"Makasih banget bro. Lo sahabat gue yang sangat-sangat tahu apapun yang gue butuhin",
"Lo jangan banyak cingcong. Ada hal lebih mendesak yang harus kita lakukan. Fany beneran di culik",
Mendengar kalimat yang barusan di katakan Ali, Delano seperti tersambar petir di siang bolong. Hampir saja dia menjatuhkan hp baru di tangannya. Tapi cowok itu berusaha tenang.
"Lo gak bercanda kan Li. Ini gak lucu. Lo gak mau prank gue kan?"
Terdengar embusan nafas lelah dari orang si seberang telepon. Dan hal itu bisa dia simpulkan sendiri.
"Gue gak bercanda, orang yang nyulik dia adalah mereka yang ngambil mobil lo ",
Tanpa sadar ucapan Ali barusan membuat tangan Delano memgepal. Entah,dari mana tiba-tiba dia merasa sekesal ini.
"Apa yang harus gue lakukan?"
__ADS_1
Dan setelah percakapan itu berakhir. Delano segera mengganti pakaiannya. Dia tahu Ali juga sempat membayar tagihan rumah sakitnya. Walaupun sebenarnya dia tak perlu membayarnya sih. Karena rumah sakit tempatnya berpijak sekarang juga milik Almarhum kakeknya. Tapi ada sebuah alasan yang membuat Delano tak mau menggunakan fasilitas itu secara gratis. Tapi urusan Delano bukan itu sekarang. Dia harus mengejar waktu.
***
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia barusaja sadar dari pingsannya. Dia merasakan sesak pada tangan dan kakinya. Saat dia mulai melihat. Ternyata gadis itu berada dalam keadaan terikat di sebuah kursi. Persis seperti yang sering ada di dalam mimpinya.
Dia melihat ke sekitar gelap. Matanya rasanya mematap di ruang hampa udara. Dan dia teringat kembali pada mimpinya. Ada cahaya bulan. Dan gadis itu mencari-cari sesuatu. Matanya membulat,ketika tiba-tiba pintu jendela berderit. Terbuka mungkin dihempaskan angin malam. Dan di sana dia bisa melihat dengan jelas. Bulan purnama bersinar melalui pucuk pucuk daun di hutan rimba.
Entah mengapa ada rasa takut yang datang secara tiba-tiba lalu menjalar di hatinya. Tangannya ia rasakan sedingin es. Fany ingat sekarang. Gadis kecil terikat itu adalah dirinya. Gadis kecil malang yang menangis pilu di tengah malam jauh di dasar hutan dibawah bulan purnama itulah dirinya.
Dan mimpi itu mungkin bukan mimpi, melainkan ingatan yang mendesak untuk kembali. Rasa takut itu semakin menjalar. Jika memang itu terjadi akankah ada korban lain?
Kenapa dia tak melihat jejak manusia di tempat ini selain dirinya. Ataukah dia memang di tahan di dimensi lain yang isinya bukan manusia.
Tapi rasa penasarannya akhirnya terjawab begitu sebuah langkah kaki terdengar di malam yang legang. Menggema di ruangan.
Bukan hanya seorang melainkan dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Keduanya mengenakan pakaian serba hitam.
Pertanyaannya sekarang mengapa Adly juga terlibat? Apakah ini rencana epik yang mereka susun untuk menjebak Fany dalam ilusi. Lalu menyekapnya seperti ini.
"Kau ingat aku nak?" tanya suara itu yang membuat Fany merinding. Suara sedalam sumur yang cukup Familiar di telinganya karena sering menghantuinya.
Fany menggeleng. Berusaha menatap mereka segalak mungkin tapi suara sedalam sumur itu kembali menggema.
"Kamu berbohong!" lalu tanpa aba-aba lagi,orang itu. Si laki-laki yang bertubuh agak tambun membuka tudung kepalanya. Fany bisa melihatnya secara jelas. Wajah itu membuatnya bergidik ngeri. Dengan mata kiri yang rusak. Berputar putar,membuat orang lain merinding.
Dia ingat. Dia menamai dirinya Wils.
"Kau ingat sekarang. Aku siapa? Aku orang yang sering kau panggil paman saat itu",kekeh laki laki yang bernama Wils itu.
Tunggu-tunggu. Dia memang ingat jika dia Wils. Tapi paman? Bahkan Fany tak ingat secuil pun pernah menggunaakan kata paman dalam kamus hidupnya.
"Kau lupa?"kekehnya lagi. Orang itu sekarang mendekatkan wajahnya ke depan wajah Fany hingga mereka saling menatap dengan tepat.
Fany melihat mata itu. Entah mengapa seperti ada ingatan yang berusaha ia keluarkan tapi selalu gagal. Membuatnya pening.
"Siapa kamu?"tanya gadis itu ketika tak sanggup lagi.
Suara kekehan panjang itu terdengar.
"Ingatlah sendiri gadis kecil",
Mendadak memori itu kembali
Tapi ada hal yang membuatnya tercegang berikutnya. Seorang gadis lainnya yang mengenakan tudung kepala itu mendadak membukanya.
Fany kaku di tempat. Dia tak percaya.
***
Tbc
Siapa sih yang dilihat Fany. Makin ke sini makin gak nyambung ya? Makanya gak ada yang tahan buat baca. Atau makin ke sini makin bikin sakit kepala karena gak ngerti.
__ADS_1
Next. Aku pernah bilang jika mungkin akan tamat di part 60 nyatanya belum. Karena aku gak bisa buat yang panjang panjang. Tapi aku up setiap hari kan. Jadi puaskan rasa penasaran kalian dan lanjutkan bacanya. Aku jamin gak akan gantung.
Hehehe sekian dulu