My Clown Boy

My Clown Boy
14


__ADS_3

"Hal-hal kecil yang kadang gak di sadari bisa membawa dampak besar"


(My clown boy)


***.


Fany menggeleng....


Semua ini salahnya


"Gue gak akan ngelarang lo ngerokok,itu hak lo. Tapi jangan ngerokok di hadapan gue. Gue gak suka asap rokok". Ucap Fany dengan suara terisak.


" ok! Kalau gitu jangan nagis dong. Kan mukanya jadi jelek gitu". Ledek Delano sambil menarik lengan Fany untuk duduk di sofa usang satu-satunya yang terdapat di Rooftop itu.


Mereka duduk berjauhan,mading-masing di ujung.


Untuk sesaat canggung menyelimuti keduanya.


"Eh....kok lo tadi gue ada di belakang sekolah?" tanya Fany memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta.


Delano melihat Fany sekilas lalu menyeringai.


"Aly,yang kerasaan".


"Maksudnya?"


"Aly nelpon gue!". Jelasnya.


" Aly? Lo kenal". Beo Fany,perasaan dia tidak pernah melihat cowok ini bersama kakaknya. Palingan,cuma si Rengga dan Reza yang Fany tahu.


"Siapa sih yg gak kenal sama cowok famous kaya dia. Satu sekolahan,udah tahu dia kali". Delano berkata yakin.


Membuat Fany merengut,mengingat alasan Tisya dan teman-temannya mengganggunya. Mereka tak tahu hubungan Aly dan dirinya,lalu mengatainya cewek murahan. Karena perilaku klisenya yang mengejar Adly.


" Fan,lo masih di sini kan?'. Sebuah tangan kembali menyadarknnya ke dunia nyata.


"Iya kok. Hehehe. Artinya lo sama Aly dekat ya". Selidik Fany hati-hati,takut cowok ini nantinya terusik.


Delano terpekur," oh...iyalah dia juga sekelas gue kok".


Fany memandang Delano dari samping sedikit kagum,baru kali ini dia bertemu seseorang yang friendly . Udah langsung akrab,biasanya orang-orang yang Fany jumpai gak akan langsung kaya gini membutuhkan usaha yang keras dengan memperlihatkan sisi kekanakannya baru akan akrab. Tapi Delano berbeda,Fany bisa nyaman bicara dengannya berlama-lama.


"Kok Aly gak pernah cerita ya!" gumamnya yang entah mengapa tiba-tiba Delano menarik sudut bibirnya.


"Orang yang ganggu lo! Tanpa sadar juga mengusik ketenangan gue,lo mau tahu kenapa? Abang lo yang berisik itu gak akan berhenti ngehubungin gue sebelum adiknya yang tercintah benar-benar aman". Cerita Delano sambil mengingat apa yang dilakukan Aly tadi saat dia sedang bermimpi indah langsung mendengar dering teleponnya.


Kan nanggung.....


Fany melihat Delano yang asik cerita.


Sosoknya beda dengan Adly


Batinnya.


Tapi tunggu-tunggu kenapa sekarang jadi kepikiran Adly sih.


"Hei....heiii...lo kenapa liat gue dengan mupeng kaya gitu. gue ganteng ya!!!". Kata Delano dengan alis yang dianik turunkan.


Satu hal lagi yang berhasil Fany ketahui,orang ini pedenya selangit.


" GR amat sih!!!",Fany menoyor pelan kepalanya.


"Apa....gue emang ganteng kan? Orang-orang dari dulu sering muji gue karena fakta itu". Delano lagi - lagi memamerkan dirinya.

__ADS_1


Fany sadar Delano memang terlihat buruk tapi di sisi lain dia memiliki kehangatan. Dia hanya belum tahu seburuk apa sebenarnya sang putra mahkota ini.


Dan akhirnya mata Fany terhenti pada lengan kiri Delano.


" Lan itu apa?" tunjuknya


"Lo gak liat ini tato" jawab Delano cuek.


"Iya...sihh tapi maksud gue,lo suka sama tato?" Fany menggarul tengkuknya yang tak gatal sedikit salah tingkah.


"Hmmm.....gue suka", jawabnya pendek.


" dan gak ada alasannya"ujarnya cepat sebelum Fany bertanya lebih jauh.


Fany berdiri dari duduknya,berniat mencari udara segar. Bolos sehari saja mungkin gak berdampak serius.


Fany melihat siswa siswi Adyatama High School sudah pulang,keluar berdesak-desakan melalui pintu gerbang.


"Kenapa mau gue antar pulang". Tawar Delano,yang sadar ini memang sudah jam pulang.


Fany tak menjawab,tapi Delano bisa melihat dengan jelas jika Fany ingin pulang.


" yaudah...ambil seragam lo di dalem terus gue antar pulang". Putus Delano segera.


Fany masuk...


Delano berfikir,yang hanya dirinyalah yang tahu. Sebuah seringaian kecil muncul begitu melihat Fany keluar dengan menggunakan sepatu warna merah mudanya,tetapi bajunya masih milik Delano.


"Oke! Kita pulang" Fany mengangguk semangat.


"Gimana perasaan lo udah mendingan?" tanya Delano memecah sunyi.


"Makdudnya?"


Fany terdiam cukup lama memandangi pemandangan diluar sana dari dalam mobil merah ini.


" Gue udah maafin,toh mereka juga manusia sama seperti kita". Fany menghela nafas berat.


Tapi gue belum maafin mereka


Batin Delano


"Lo gak marah?"


Fany tersenyum getir,"marah buat apa? Kalau gue balas dendam gue sama mereka apa bedanya coba!".


"Emang kenapa sih. Lo kayaknya tertarik banget sama kasus tadi?" tanya Fany balik.


Yang membuat Delano membisu,tak bisa mengungkapkan apa yang di pikirkannya.


"Gk kok gue cuma mau mastiin aja lo beneran gk apa-apa. Kalau sampai mereka ganggu lo lagi,bilang aja ke gue!" ucap Delano sarkastik.


"Hmmm.....udah sampai!makasih ya Lan!" ucap Fany ketika turun dari mobil.


Fany melambaikan tangan sambil menggumam hati-hati saat melihat mobil Delano mulai melaju. Seakan hal itu sudah menjadi tradisi baginya.


"Senyum lo berharga Fan,dan gue beri pelajaran orang yang ngebuat lo nangis nanggung akibatnya. Bahkan walaupun mereka membayarnya dengan darah pun gak akan bisa gantiin itu" Delano menyeringai,lalu menelpon seseorang.


***


Fany masuk ke rumahnya,dan terkejut melihat surat abu-abu seperti yang ia terima sebelumnya.


Hei jika ada yang berani mengganggumu maka dia adalah urusanku.

__ADS_1


Badboy.


Fany tersenyum sekaligus keheranan,dari mana orang yang bernama badboy itu tahu jika ada yang mengganggunya.


Aneh


Batinnya.


Fany kemudian meletakkan surat itu dinakas. Dan Hpnya berdering tanda Vc.


Fany melihatnya dengan jelas nama Aly tertera dilayar.


"Apa?" tanya Fany galak begitu sambungan terhubung.


Aly meringis,"galak banget. Neng!"


"Lo gak papa kan?" tanya Aly segera sebelum Fany kembali nyerocos.


"Maksudnya?" kening Fany mengeriyit bingung.


"Si cabe katanya ngebully lo" ucap Aly sedikit kesal lalu berbaring.


Fany menelan saliva kasar"gak kok bang! Buktinya gue masih utuh". Dia berusaha berekspresi semeyakinkan mungkin.


"Mulut sama pipi lo biru kaya gitu lo bilang utuh". Aly terlihat khawatir sekaligus kesal diwaktu bersamaan.


Fany nyengir,kebiasaanya jika ketahuan.


"Siapa suruh abang sok sok ikutan pertukaran pelajar. Kan orang lain yang memang suka nyinyir seenaknya bisa gangguin gue" decaknya malas.


"Bang pulang nanti bawain oleh-oleh ya!" cetus Fany sambil menaik turunkan alisnya.


Aly mendesah pelan,adiknya selalu suka mengalihkan pembicaraan yang serius.


"Gue serius Fany. Coba kalau Delano gak nolongin lo,gue gak tahu mereka akan ngelakuin apa"


"Iya"


"Iya apa!"


"Itu tadi! Yang lo bilang"


"Emang gue bilang apa?"


"Serah!" Fany kesal


"Gitu dong jadi anak baek" Fany berani bertaruh andainya Aly ada disini mungkin cowok itu akan mengusap kepalanya. Macam tuan pada peliharaannya yang manis dan penurut.


Fany memutar bola mata"gak usah sok ngegurui bang. Kita hanya beda tiga menit doang. Lo cuma beruntung aja lahir duluan"


Dan sebelum Aly melanjutkan siraman qalbunya Fany mengucap 'bye' lalu segera memutuskan sambungan.


Kemudian menyalakan tv,karena sekarang dia sudah duduk di ruang keluarga.


Dia terkejut melihat berita terbaru. Matanya melotot tak percaya. Reporter terlihat bicara serius,tentang kasus yang terjadi


Suasana tiba-tiba berubah,Fany tahu betul tempat yang jadi sorotan media.


Karena itu sekolahnya ...


Tepatnya Adyatama High School


Tbc

__ADS_1


__ADS_2