My Clown Boy

My Clown Boy
66


__ADS_3

"Ada yang lebih penting dari sekadar hasrat membalas dendam. Dan itu adalah sebuah ikatan tak kasat mata yang selalu akan mencari pembenaran".


***


"Kak Willy!" Ian walaupun kesusahan berusaha menghentikan Willy yang akan dibawah pergi.


Willy yang tak sadarkan diri diangkat dengan mudah oleh seseorang berpakaian hitam.


Ian di tempatnya, ingin mengejar. Tapi ayahnya masih terbaring di tanah dengan wajah memucat. Juga genangan darah di sekitarnya.


Steffy di sampingnya tak kalah kacau. Gadis kecil itu menangis sedari tadi. Seakan caranya itu bisa menghilangkan rasa takutnya juga berharap akan datang seseorang yang bisa menyelamatkan mereka.


Wils mulai beranjak pergi dari tempat itu. Ian terus menatap kepergian kakaknya. Anak itu bahkan berusaha tak menangis. Walaupun perih terasa di sekujur tubuhnya.


Banyak luka yang belum mengering di sana. Nafasnya berembus pelan. Kakaknya yang suka menghibur orang-orang terlihat sangat lemah dalam keadaan pingsan.


"Kak Willy" katanya mulai berdiri, lalu dengan langkah terseret ia berlari mengejar mereka. Anak itu tak peduli pada kakinya yang tergores beberapa duri jalan karena tak mengenakan alas kaki.


Yang ia pedulikan hanya kakaknya yang mungkin dalam bahaya.


Tap!!!


Dia berhasil menghampiri Wils, lalu memegang sekuat tenaga lengan Wils agar laki-laki itu mau berbalik. Dadanya terlihat naik turun.


"Jangan bawa kakakku!" pintanya memohon.


Kening Wils mengerut dalam sangat tak mengerti akan keinginan bocah di hadapannya.


"Jangan bawa kakakku!" pintanya mengiba. Bahkan anak itu mulai tertunduk di depan Wils. Dia yang sedari tadi tak menangis ketika Wils menyiksanya sekarang matanya terlihat berkaca-kaca.


Tak ada respon dari Wils selain menatap anak itu datar.


"Ian mohon jangan bawa kak Willy!" sebuah butiran bening berhasil keluar lalu terjatuh di pipi anak itu.


Anak yang penuh luka menunduk hampir bersujud di hadapan orang yang baru saja menembak ayahnya. Demi agar kakaknya tak dibawa. Sungguh terlihat sangat memilukan. Apalagi udara semakin dingin mencekam.


"Aku akan melakukan apapun!" cetus anak itu tanpa berfikir panjang. Dia mulai terisak karena merasa di abaikan. Dan anak itu sekarang bahkan tak berani menatap mata Wils.


"Bunda membutuhkan kakak untuk dia tersenyum. Kakak bisa melakukan apapun bahkan menjadi seperti paman dahulu karena ingin melihat bunda juga Ian tersenyum" kata anak itu.


Jeda sejenak untuk menarik nafas.


"Ian mohon, jangan bawah kak Willy!" pintanya sekali lagi. Kali ini anak itu benar-benar bersujud.


Wils terdiam memandangi Ian cukup lama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum simpul. Tapi lebih mirip sebuah seringain.


"Baiklah!" putus Wils pada akhirnya.


Yang membuat Ian langsung mendongak berbinar.


Dia mulai sedikit tersenyum.


"Terima kasih paman". Kata anak itu seakan tak bisa berkata-kata. Dia sampai lupa jika baru beberapa menit lalu laki-laki itu mencambuknya tanpa ampun. Tetapi sekarang dia berterima kasih. Seakan Wils orang paling berjasa di hidupnya.


"Tapi ada syaratnya" lanjutnya lagi ynag membuat senyum anak itu sedikit pudar. Orang yang tadi menggendong Willy mendekat, lalu berdiri tepat di sampingnya.


"Kau mengerti kan?" tanya Wils pada anak itu.


"Ian akan melakukan apapun" tegas anak itu.


"Bagus!"


"Dan syaratnya adalah........ Gantikan Willy!" setelah Wils mengucapkan kata itu deru mobil mulai terdnegar mendekat ke arah mereka sekarang. Steffy yang tadi menangis terlihat tak sadarkan diri tak jauh dari ayahnya.


Ian terdiam sebelum akhirnya mengangguk.


Wils kembali tersenyum.


"Mulai sekarang akulah orang tuamu. Dan kau hanya perlu mendengarkan diriku" ucap Wils penuh penekanan. Dan orang yang menggendong Willy langsung meletakkan kakaknya diatas tanah.


Ian mengangguk. Lalu mengikuti mereka dari belakang menuju mobil jeep berada. Dia sempat menoleh pada kakaknya sebelum kembali melangkah dengan cepat.


Setelah mereka meninggalkan tempat itu. Bala bantuan baru datang.


***


"Liam" kata Fany melirih mata coklatnya bertemu dengan iris hitam kelam itu. Tapi air matanya tak berhenti menetes melihat Ali yang bahkan tak bergerak sedikitpun.


Liam, bersiap menarik pelatuknya yang tetap mengarah ke gadis itu. Dia lalu menoleh ke orang yang berwajah sangat mirip dengannya berada di belakang Wils sedang tercekat.


Wils juga bersiap menarik pelatuk itu.


Matanya dan mata Wils bertemu.


"Mulai sekarang akulah orang tuamu. Kau hanya boleh patuh pada diriku" kata Wils ketika mengobati luka Ian kecil di sebuah rumah sederhana.


Ian hanya mengangguk. Tapi berjanji dalam hatinya akan melqkukan itu.

__ADS_1


"Baik, pa!"


"Mulai sekarang namamu William" cetus Wils tanpa beban.


Anak itu tertegun sesaat sebelum akhirnya mengangguk.


Ingatannya kemudian berlalu ke pengalaman lain.


"Ly! Kau ternyata anak yang sangat pintar. Papa bangga padamu. Baru umur sepuluh tahun kau sudah mahir menembak" kata Wils tersenyum bangga melihat bocah sepuluh tahun yang baru saja menembak sebuah apel dengan tepat di atas kepala asisten rumah tangga mereka.


"Iya. Papa kan yang ngajar Willy" kata Ian juga tersenyum tanpa beban. Juga disertai rasa kagum pada tangannya sendiri.


Ingatannya berlalu lagi. Ketika dia duduk di bangku smp.


Anak itu duduk di sofa di dalam rumahnya sambil memandangi sebuah foto. Foto seorang gadis remaja berwajah oriental dengan senyum manis.


"Apa yang kau lihat Ly?" tanya Wils menghampirinya. Matanya yang berputar-putar melihat sedikit foto itu.


"Bukan apa-apa!" katanya cepat.


"Bukankah itu seorang gadis? Kau menyukainya?" tanyanya tepat yang membuat Ian terdiam cukup lama tapi wajahnya memerah.


"Siapa namanya?"


"Entahlah!" kata Ian pendek. Pasalnya dia juga tak tahu. Mereka bertemu dengan tak sengaja. Tapi anak itu langsung menyukainya.


"Sudah saatnya kita membuat rencana nak!" cetus Wils yang membuat kening Ian mengerut.


'Apa maksudnya' batin anak itu.


***


Dan Liam sadar sekarang, jika ternyata rencana ini untuk mereka.


Liam menarik nafas sejenak, tangannya entah kenapa terasa gugup. Padahal ia sudah sering berlatih sebelum ini.


Jam rasanya berdetak sangat lambat.


"Maaf" gumam anak itu ketika matanya tak sengaja kembali bertemu.


Dia langsung menarik pelatuknya. Dan Adly telah berlari bersiap atas segala kemungkinan. Liam tahu itu. Adly pasti akan melakukan hal ini walau terlihat tak peduli. Bahkan cowok itu sekarang sudah memeluk Fany erat melindungi dari pistol Liam.


Tapi sayangnya, sasaran Liam berubah di saat yang menentukan. Dia menembak pistol yang berada di tangan Wils, sehingga benda itu terjatuh lumayan jauh. Juga peluru itu juga sempat menggesek tangan laki-laki paruh baya itu.


Dan melihat yang terjadi. Semua orang yang berada di sana tercekat. Termasuk Wils yang menatapnya tak percaya. Dada Wils naik turun. Juga perlahan ada titik titik darah dari tangannya.


Bukankah ini bukti nyata dari sebuah penghianatan?


Di lantai. Yang terlihat dingin, kedua orang itu masih saling memeluk. Seakan takut kehilangan satu sama lain. Liam menarik sudut bibirnya entah mengapa merasa lega.


Kakaknya itu terlalu bodoh menyimpulakan.


Lalu ketika tersadar. Keduanya terlihat malu. Lalu serentak menoleh pada Liam.


Pandangannya dengan Adly bertemu. Keduanya saling menatap dengan tak terbaca.


***


Adly masih berdiri di tempatnya ketika pelatuk akan di tarik ke arah Fany. Nafasnya tercekat. Apa yang harus di lakukannya. Apalagi gadis itu akan di serang dari dua arah berlawanan. Dia tak memikirkan bagaimana wajahnya dan wajah penembak itu bisa sama.


Tapi yang dipikirannya sekarang adalah bagaimana gadis itu bisa selamat.


Dia menoleh melihat seringaian Wils.


Dan sedetik sebelum pelatuk itu tertarik, dia langsung berlari ke arah Fany. Ya! Dia memutuskan akan melindungi gadis itu sampai akhir.


Dia memeluk Fany erat. Berharap dengan cara itu yang akan terkena tembakan bukan Fany melainkan dirinya. Dadanya merasakan desiran pelan ketika ia memeluk tubuh mungil itu.


Dia bisa merasakan bagaimana Fany tak beraksi karena perlakuannya yang tiba-tiba. Tapi gadis itu jelas terkejut.


"Lo jangan gerak!" pesan Adly sambil memejamkan mata menikmati desiran sesaat ini. Dia takut setelah ini tak lagi bisa merasakannya.


Karena cowok itu sekarang lebih memilih apa yang dikatakan hatinya karena takut kehilangan kembali.


Entah mengapa ia tiba-tiba merasa bodoh karena terlambat menyadari perasaannya sendiri.


Dia merasakan tubuh Fany yang kurus bergetar. Mungkin karena tangis atau justru rasa takut yang amat sangat. Waktu seakan bergerak sangat lambat.


"Gue sayang lo Fan!" akunya kemudian. Dan saat itu pula dia merasakan basah dibaju belakangnya. Entah apa yang membuat gadis ini kembali menangis. Memang Adly merasa sangat buruk sekarang. Hanya memberi gadis itu rasa sakit juga terluka di saat yang bersamaan.


Bukankah jika di keadaan normal Fany bisa saja berteriak lalu berguling-guling bahagia. Karena ini adalah hal yang di tunggu-tunggunya sejak lama.


Tapi kenapa sekarang gadis itu tak mau berhenti menangis.


"Dan hal itu sudah lama!" lanjut Adly dengan nafas tertahan. Dia takut tak ada waktu untuk mengungkapkan srmuanya. Jadi dia akhirnya mengataknnya di saat-saat paling menentukan mereka.


"Gadis kecil lolipop" ucapnya parau. Dan demi mendengar itu Fany membeku.

__ADS_1


Adly teringat bagaimana dulu wajah Fany langsung mengeruh setelah membuka ponselnya. Karena membaca kalimat itu. Gadis kecil lolipop. Yang gadis itu tak sadari gadis kecil lolipop adalah dirinya sendiri


"Lo jahat Ad!" lirih Fany tapi terdengar jelas di telinganya.


Adly memejamkan mata. Bersiap merasakan peluri itu menembus tubuhnya.


Apalagi saat suara tembakan sudah terdengar. Dia memeluk Fany semakin erat.


Adly bersiap merasakan rasa sakit itu. Tapi anehnya tak ada. Dia berfikir apakah sakitnya hanya seperti ini. Dan sekarang dia sudah mati. Tapi kenapa dia masih bisa merasakan pelukan Fany yang kian mengerat. Bahkan rasanya mencengkram. Dan semua ini terasa nyata.


Adly membuka mata kembali. Dan terkejut ketika mendapati pistol Wils terlepas dari genggamannya. Dia perlahan melepaskan pelukan ketika sadar Fany juga tak apa-apa.


Dia menoleh ke orang yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. Entah kenapa Adly merasa ikatan mereka sangat kuat. Fany juga terkejut.


Apalagi Wils.


.


.


"Apa-apaan ini?" tanya lelaki paruhbaya itu yang membuat ketiga remaja yang sedang saling meledek itu kembali tersadar.


"William! Sejak kapan kau merencanakan semua ini?" tanyanya kembali.


Liam menatap Wils dingin. "Sejak kau membunuh ayahku!" tekan pemuda itu menatap Wils dingin. Semua orang terperangah mendengar jawaban Liam. Tapi Adly tertegun.


Mungkinkah dia?


Adly lalu menoleh ke Ali yang entah sejak kapan sudah bangun.


Cowok itu tersenyum tengil kepada keduanya.


"Cieeee! Yang baru aja ungkapin perasaan!" ledek cowok itu seakan tak terjadi apa-apa padahal dadanya baru saja di tembak. Tak terlihat seperti orang yang sekarat. Melainkan biasa saja.


"Kok bisa?" tanya Fany memerhatikan Ali dari atas ke bawah.


Memang di sana terlihat ada bercak darah. Tapi Adly baru menyadari sekarang. Jika ternyata darah itu bukan darah asli. Melainkan buatan.


"Li! Lo mau apa?" tanya cowok bermata abu-abu itu begitu melihat Ali memasukkan sebuah cairan warna merah ke dalam plastik bening bungkusan es batu.


"Lo liat aja! Gk usah bertanya bege. Ini nanti kayaknya berguna" ucap cowok itu sembari mengalungkan plastik itu pada lehernya. Hingga pastiknya tepat berada di dada sebelah kirinya.


"Lo bawa kan apa yang tadi gue minta?" tanya Ali tanpa peduli ekspresi penuh tanya Delano.


"Hooh! tuh". Tunjuk Delano pada sebuah plastik.


Bagus.


Cowok itu kemudian mengeluarkan baju anti peluru yang tadi sempat dia pesan. Lalu memakianya. Setelah itu memakai kembali bajunya yang sempat ia buka.


"Siap! Sekarang kita berangkat!" ucap Ali semangat seakan lupa jika barusan ia sangat khawatir sampai-sampai lepas kendali. Tapi kini yang ia pikirkan hanya menyelamatkan adiknya meskipun tanpa di undang. Bukankah ini memang tugas seorang kakak.


Adly walaupun terkejut merasa salah tingkah. Juga merasa dibodohi orang-orang. Wils di tempatnya berdiri kaku memandangi semuanya.


Jadi yang tadi terjadi semuanya telah direncanakan oleh mereka.


Adly menoleh tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang berdiri tak jauh dari sana. Mata Adly membulat begitu menyadari apa yang di pegang orang itu.


Wils kembali terkekeh.


Ini adalah saat yang paling dinantikannya.


Tbc


***


Siapa yang tadi nangis mengira jika ternyata Ali...meninggal hayo....siapa????


Huahuahuaa....jugaaa omaigeehh aku gak nyangka jika ternyata Adly yang dingin dan banyak pemikiran langsung ungkapin begitu aja perasaannya pada Fany.....uwuwuwww.... Jadi pengen dipeluk juga.


Lalu di gituuin. "Gue udah sayang lo sejak dulu!" kalimat yang paling ingin gue dengar. Anj***.


Gak becanda doang. Ok! Terus pantengin aja lanjutannya Mcb. Karena bentar lagi mau tamat.


See you di next chapter.


Jadi kalian suka cara siapa ngungkapin perasaannya.


A. Delano yang tepat sasaran


B. Adly yang gak pernah ngasih kode apa-apa tau-taunya ngaku sayang.


Gue jadi bertanya-tanya gimana cara Adly nyrmbunyiin perasaannya sendiri selama ini.


Oke.


Sekian dulu bacot ku.

__ADS_1


Udah beneran sampe sini✌


__ADS_2