My Clown Boy

My Clown Boy
40


__ADS_3

"Tak selamanya hidup itu tentang kata sendiri. Percayalah diantara hal-hal menyakitkan yang datang menghampirimu akan ada setitik harapan yang membuatmu tersenyum walau hanya sesaat".


***


Fany mengulurkan tangan ke arah kupu-kupu itu. Dan tanpa ragu kupu-kupu itu segera hinggap diatas tangannya. Ali yang melihat itu tersenyum.


"Masih sama seperti dahulu" batinnya.


***


Tiga tahun yang lalu


"Bang Ali,Fany boleh minta sesuatu gak?" tanya gadis berkucir kuda itu pada kakaknya yang sedang asik main sepeda. Gadis itu mengenakan baju warna biru muda khas pasien.


Ali,kakaknya melihatnya sekilas sebelum akhirnya kembali sibuk memerhatikan jalanan di hadapannya.


Gadis itu cemberut,membuat Ali mau tak mau harus menghentikan sepedanya. Kalau tidak bisa mati dia di geprek maminya.


"Apa?"


Dan demi mendengar jawaban singkat itu mata Fany berbinar.


"Fany tadi lihat kupu-kupu di jendela kamar. Dan gue lihat terbangnya tadi ke sini. Tapi pas Fany ke tempat ini kupu-kupunya menghilang!" terangnya panjang lebar. Yang membuat kakaknya terlihat sedikit mengantuk karenanya.


"Terus?" Ali pura-pura **** karena tahu kemana akhir pembicaraan ini.


"Please!!!" mohon Fany dengan puppy eyesnya.


Ali turun dari sepedanya lalu mencari cara untuk menangkap kupu-kupu yang telah menarik perhatian adiknya itu.


"Gue kayaknya karena terlalu lama sakit makanya gak punya teman selain lo bang" Fany berkata dengan sedikit terharu.


"Jangan lebay....mending lo berobat yang bener biar cepat sembuh. Lalu ikut ke sekolah bareng gue. Nanti gue kenalin sebagai pembantu gue!" Cengir Ali lalu tertawa keras.


Fany menjulurkan tangannya mengambil ancang-ancang untuk menghajar kakaknya itu. Tapi tiba-tiba seekor kupu-kupu kecil hinggap diatas tangannya yang mungil.



Dan gadis itu tak jadi melanjutkan niatnya. Dia memandangi dengan takjub kupu-kupu itu sambil mengungkapkan kekagumannya. Ali yang tadi bersiap untuk berlari juga di buat ternganga di tempat.


"Tuh kan! Lo jangan berfikiran negatif mulu deh. Gak punya bukan berarti gak ada yang mau" cengirnya belagak menasehati. Dan Fany hanya bisa mendengarkannya dengan pasrah. Karena perhatiannya sepenuhnya tertuju pada kupu-kupu di tangannya.


"Woahhhh!!!" kagumnya masih merasakan sedikit geli ditangannya karena ulah hewan kecil itu.


"Gue ke wc dulu" pamit Ali sebelum akhirnya meninggalkannya sendiri.


Fany memutuskan duduk di kursi bundar yang tersedia di taman rumah sakit. Kupu-kupu itu bahkan tak berniat terbang dari tangannya.


Matanya masih berbinar kagum,mengamati perpaduan warna yang begitu indah di sayap kupu-kupu.


Bahkan tanpa ia sadari telah ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Tapicsemakin dekat langkahnya semakin terdengar jelas oleh telinga Fany.


"Hei!lo kenapa cantik banget sih hmmmm...."tanya Fany pada hewan yang masih setia di tangannya. Fany sudah gemas sendiri.


"Bang!lo tahu alasannya?"


Langkah itu terhenti sejenak hingga Fany ragu apakah itu benar-benar manusia atau hanya efek halusinasi dari obat yang baru saja dikonsumsinya.

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian langkah itu terdengar kembali yang membuat Fany bisa bernafas lega.


"Metamorfosis!" jawaban itu membuat Fany yang tadi tersenyum berhenti seketika. Suara itu terdengar asing di telinganya. Hingga gadis itu menoleh.


Dia mendapati seseorang yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Tapi jelas mereka sebaya. Hal itu karena seragam di balik hoodie hitam anak itu.


"Lo siapa?" tanya dengan kening mengerut karena pasalnya baru kali ini gadis itu melihat ada anak lain yang masuk ke rumah sakit ini.


"Gak penting!" jawabnya ketus.


Fany yang merasa tak memiliki kesalahan apapun hendak protes apalagi baru kali ini mereka bertemu.


"Lo sewot amat sih. Kenal aja kagak *************" cewek itu bahkan sekarang sudah menyerocos. Mengumpat dan lain sebagainya.


"Metamorfosis" jawab anak itu pada akhirnya,pasalnya telinganya sudah panas mendengarnya.


"Dasar bodoh" ejeknya lalu meninggalkan Fany yang melongo.


Fany hendak mengumpat. Apalagi anak itu terlihat santai dan tanpa beban. Bermulut pedas dan jawabannya sangat singkat. Padahal masih banyak penjelasan yang belum terjawab. Tapi anak itu sudah pergi. Memangnya kata metamorfosis menjawab semuanya. Bahkan Fany hingga sekarang di usianya yang ke empat belas tahun belum pernah sekalipun merasakan bangku pendidikan.


"Dasar aneh. APA PEDULINYA GUE BODOH APA GAK!GUEMASIH MENDING PUNYA SOPAN SANTUN TAPI LO!SEENAKNYA NGATAIN ORANG YANG BAHKAN GAK LO KENAL!" Fany berteriak,meneriaki punggung anak itu yang semakin menjauh. Bahkan ia sampai harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk itu.


Karena tak lama kemudian rasa sesak menghampirinya. Lalu nafasnya kian lama kian lemah. Dia tak dapat menahan matanya yang kian lama kian berat karena kelelahan. Hingga dia ambruk ketika sepatu Ali sudah tepat melangkah kearahnya. Dapat ia lihat secara samar,kupu-kupu itu terbang diatasnya sebelum akhirnya pergi.


***


Ruangan putih itu terlihat hening ketika Ratih masuk ke dalamnya. Dokter Fey menatap prihatin wanita itu. Dengan jelas gurat cemas terlihat di wajah cantik itu. Apalagi terdapat tanda hitam di bawah matanya yang menandakan orang itu tak tidur dengan nyenyak.


"Ada apa Fey?" tanyanya langsung. Tak mungkin dokter Fey memanggilnya ke sini jika bukan hal penting yang berkaitan dengan putrinya.


"Oke langsung saja! Keadaan Fanybelum dapat di prediksi hingga sekarang" Ucap dokter Fey memulai.


"Dia bisa saja seperti sekarang tapi hanya sementara. Dan aku takut jika obat itu sewaktu-waktu bisa membuatnya ketergantungan. Apalagi dosis yang Fany gunakan sudah cukup besar untuk anak seusianya".


Ratih syok mendengarkan penjelasan dokter Ratih. Keadaan ini membuatnya benar-benar diambang kebingungan,dan kenapa hal itu justru kembali pada saat yang seperti ini.


"lakukan yang terbaik Fey. Kalau perlu,aku akan meminta Farhan mendatangkan dokter dari luar negeri. Agar dia bisa kembali". Ratih terlihat rapuh tapi berusaha untuk kuat.


Dokter Fey mengagukkan kepala mengerti. Tentu dia akan melakukan yang terbaik. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.


"Harus ada seseorang yang bisa menghilangkan traumanya!"


Ratih tercegang beberapa saat,yang dikatakan dokter Fey barusan bahkan tak pernah di duganya.


"Tapi siapa? Dan apa yang harus dilakukan seseorang itu. Apalagi kami sebagai keluarga sudah melakukan segala cara agar trauma itu hilang" Sebuah air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Ratih. Dadanya naik turun mengekspresikan betapa putus asanya dia sekarang. Ruangan bernuansa putih itu untuk beberapa saat legang.


Dokter Fey menghembuskan nafas. Sebelum akhirnya memulai penjelasannya.


"Gangguan pasca-trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD)


PTSD adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian yang traumatis, seperti kematian anggota keluarga yang dicintai secara tiba-tiba, pelecehan seksual, atau bencana alam"


"Fany mengalami sejenis PTSD?" tanya Ratih memastikan.


Dokter Fey mengangguk. "Yap....tapi dalam bentuk yang lebih parah".


"Gangguan kecemasan

__ADS_1


Seseorang yang mengalami gangguan kecemasan merespon obyek atau situasi tertentu dengan perasaan ketakutan, panik, berkeringat, dan detak jantung menjadi lebih cepat. Disebut gangguan jika gejala-gejala tadi tidak dapat mereka kendalikan dan sudah mengganggu keseharian. Gangguan kecemasan juga dapat berupa fobia terhadap situasi tertentu, gangguan kecemasan sosial, ataupun gangguan panik. Sebagian orang juga memiliki fobia terhadap hal yang spesifik, seperti fobia darah, air (tenggelam), dan fobia ketinggian". Dokter Fey menutup penjelasannya dengan hati-hati melihat reaksi Ratih. Dia takut jika wanita itu akan sangat terpukul. Tapi melihat ekspresi Ratih yang masih tegar membuat Dokter Fey akhirnya bernafas lega. Setidaknya Ratih menguatkan diri.


"hal itu yang membuat Fany susah untuk di sembuhkan?" tanya Ratih memastikan.


Dokter Fey mengangguk, membenarkan meski agak berat tapi kebenaran harus ia sampaikan. Dari pada nanti jika sudah terlambat hal itu tentunya akan lebih menyakitkan bagi Ratih maupun Farhan.


"Jadi pesanku. Temukan orang itu secepatnya. Setidaknya agar Fany bisa terus tersenyum menatap dunia tanpa ada yang mengganggunya". Ucap dokter Fey takjim.


"Aku akan berusaha Fey!"


"Tidak. Kita semua akan berusaha!" Dokter Fey meralat ucapan Ratih barusan.


"Menurutmu bagaimana hasil kerja Ali?" tanya Ratih sambil mulai berdiri lalu berjalan pelan ke arah kaca bening rumah ruang kerja dokter Fey.


Dan melihat ke bawah. Ratih sedikit tersenyum demi melihat kedua anaknya sedang tertawa di bawah sana. Dan itu membuatnya sedikit lega.


Dokter Fey ikut mendekat dan menyaksikan apa yang baru saja dilihat Ratih. Dan mau tak mau dia juga ikut tersenyum.


"Andainya ini bukan sementara" Ratih bergumam pada diri sendiri yang membuat dokter Fey kembali merasa prihatin.


"Bukankah hal kecil seperti ini akan membawa sesuatu yang besar?" Dokter Fey bertanya,tapi ada nada menenangkan dari suaranya.


Ratih mengangguk "kuharap begitu".


Tapi dia tercegang ketika kembali melihat kebawah dia menangkap sesuatu yang aneh Ali tak berada di sana melainkan seseorang.


***


"Fan gue kebelakang dulu ya!kebelet nih. Ntar gue suruh suster nyamperin lo ke sini". Ali berkata sebelum akhirnya berlari tanpa menunggu jawaban dari adiknya.


Fany merengut tak percaya, bahkan sekarang dia ditinggal sendiri. Eh ralat,berdua dengan kupu-kupu di tangannya.


Fany tersenyum sendiri tak perlu khawatir. Toh sebentar lagi suster akan datang.


"Jadi sekarang kamu jinak ke gue?" ucap Fany gemas pada kupu-kupu cantik itu.


"Gue iri sama hidup lo yang bisa dengan bebas terbang kemana pun yang lo mau!" ucapnya menatap kupu-kupu di tangannya. Rambut coklatnya di terbangkan oleh angin. Matanya menatap nyalang kupu-kupu itu.


"Meskipun sendiri setidaknya lo bisa dengan bebas melihat dunia!" ucapnya berusaha tak terdengar lemah.


Terdengar suara langkah kaki mendekat hingga Fany yakin jika orang di belakangnya pastilah suster yang di kirim Ali padanya.


Sebuah bunga berhasil di terbangkan oleh angin lalu terjatuh tepat di belakang Fany. Hingga kupu-kupu itu ikut terbang ke arah belakang,lalu hinggap di atas bunga itu. Fany tersenyum ketika melihat pemandangan itu.


Dia berniat mengambil bunga yang di tempati kupu-kupu itu tapi sebuah sepatu yang dilihatnya ketika berjongkok membuatnya berhenti.


Gadis itu mengucek mata beberapa kali. Bukankah seharusnya yang datang itu suster kenapa yang berdiri di hadapannya itu rasanya mirip laki-laki.


Dia tak menduga kakaknya akan datang secepat itu mengingat pesan terakhirnya tadi.


"Bang. Gue kira lo akan lama" ucapnya sambil mendongak dengan senyuman. Pasalnya sekarang dirinya merasa sedikit lebih baik.


Tapi senyumnya sedikit demi sedikit menghilang ketika matanya bertemu dengan mata hitam itu.


Dia menelan saliva susah payah. Keringat menguncur dari pelipisnya.


__ADS_1


"Ad....ly" suaranya sedikit tercekat ketika menyebut nama itu.


Tbc


__ADS_2