
"Hari ini aku tersadar ada sebuah nama dari masa lalu yang telah lama kulupakan",
***
"Wils apa yang kau lakukan pada anak-anak itu?" teriak laki-laki dewasa yang baru turun dari mobilnya. Dialah Dika, ayah dari anak yang sekarang di siksanya.
"Hahahaahaaa, apa maksudmu? Dia menjadi anakku setalah kau membunuh anakku yang lain", sinis Wils, yang selalu mengenakan topi koboi hitam itu.
Mendengar suara yang datang anak yang tadi di cambuki oleh Wils itu mendongak. Mata yang biasanya menyiratkan keceriaan di balik mata hitam kelam itu kini menatap lemah sang ayah.
"Ay...a..h", katanya lemah tapi berusaha tersenyum. Membuat Dika rasanya teriris melihat anak kecil itu di perlakukan tak layak.
"Dendammu padaku Wils, bukan anak-anak kenapa kau melakukan hal ini pada mereka!", kata Dika berusaha menyadarkan orang di hadapannya. Apalagi tak jauh dari sana dapat Dika lihat gadis kecil yang satunya melihat semua kejadian ini dengan ngeri. Apalagi temannya sendiri di siksa di depan matanya.
Bukankah itu penyiksaan mental.
Dika tak habis pikir dengan apa yang di rencanakan oleh Wils bahkan dengan tega menyiksa anak yang berumur tujuh tahun di hadapannya.
Dengan pasti, Dika langsung menarik anaknya hingga berdiri. Juga melihat dengan miris luka di tubuh kecil itu. Sungguh menyayat, dia tahu luka itu pasti sangat sakit. Terbukti dari putranya yang menangis walaupun tak mengeluarkan suara.
Dia melihat punggung yang penuh luka itu dengan nanar. Sementara Ian anak itu memeluk ayahnya dengan erat.
"Hahahhaaaa, kau kenapa Dika? Menyesal telah melakukan hal itu pada keluargaku?" tanya Wils penuh sindiran.
Tangan Dika terkepal,tak peduli pada suasana malam yang semakin dingin.
"Ku bilang bukan aku yang membunuhnya Wils. Tapi kenapa kamu tak percaya?"
Wils mendecih dadanya terlihat naik turun. Matanya yang berputar-putar menyorot sendu.
"Lalu siapa?"
Jeda sejenak
"Jelas hanya kau yang ada d sana saat itu. Kau pelakunya! PELAKUNYA HANYA KAU!!!", kata Wils kembali berusaha menarik kembali anak itu hendak menyiksanya. Tapi anak itu terus berpegangan pada ayahnya takut terlepas. Begitupula Dika.
"Tak akan kubiarkan!" desis Dika memperingatkan.
Wils terhempas ke belakang, lalu wajahnya dari sendu berubah keras. Aura menyeramkannya bertambah berkali-kali lipat.
"Mana tega aku membunuh orang yang pernah kucintai Wils? Dia orang yang pernah mengisi relung hatiku. Aku tak bisa membunuhnya, apalagi anakmu aku tak akan tega membunuh nyawa sekecil itu". Ujar Dika berusaha menjelaskan.
Wils berdecih tak percaya.
"Bukankah itu alasan kuat untuk membunuh. Kau terlalu mencintainya hingga lupa jika dia bukan milikmu?" elak Wils kembali menyudutkan Dika.
"Tidak Wils,berapa kali harus kukatakan jika itu dulu. Dulu sebelum aku bertemu dengan istriku. Dia hanya masa laluku Wils!"
"Persetan dengan itu! Dia tak mungkin bunuh diri. Jika saja saat itu kau tak ada di sana dia tak mungkin melakukannya", cetus Wils kembali lemah.
"Dia bunuh duri karena kau *******!", lenguh Wils panjang sebelum kembali menarik anak itu.
Dika tak diam saja. Demi mempertahankan anaknya dia tanpa pikir panjang langsung memukul laki-laki itu. Tubuhnya yang jauh lebih bagus. Membuat Dika lebih unggul, dia memukul Wils membabi buta. Nafasnya memburu.
Tanpa ia sadari tangan Wils terancung,memberi kode dan menit berikutnya yang berasal dari segala arah berdatangan manusia-manusia berpakaian serba hitam. Dua di antaranya menarik Dika agar berhenti memukuli Wils mereka membawa Dika secara kasar di hempaskan di tendang. Awalnya Dika melawan. Tapi tenaganya tak sebanding dengan puluhan manusia terlatih itu. Pada akhirnya dia tumbang. Anaknya kembali di seret oleh Wils.
Dia masih bisa melihat samar anak itu menangis. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Melihat Dika sudah tak bergerak. Anak buah Wils meninggalkannya begitu saja. Hanya saja nafasnya masih tersisa. Dia tak boleh membiarkan anaknya menjadi korban. Sama sekali tak boleh.
__ADS_1
Dika merasakan ada sentuhan lembut di tangannya. Laki-laki itu walaupun merasa sangat kesakitan dia berusaha membuka mata. Dan terkejut melihat Willy, anaknya yang tertua berada di sana. Dengan berurai air mata.
"Ayah...jangan pergi" isaknya karena mengira Dika sudah tak bernafas.
Laki-laki itu terkejut,karena tak menyangka jika Willy ada di tempat ini.
"Kamu ke sini sama siapa?" tanyanya lemah. Dan hal itu membuat mata Willy kembali berbinar karena ayahnya sama sekali tak meninggalkannya.
Dia mengusap pelan bulir air mata yang entah sejak kapan mulai membasahi pipi tembemnya.
"Ikut ayah!" jawab anak itu polos.
Dika menghela nafas frustasi. Merasa kecolongan. Tidak-tidak sekarang ada tiga nyawa yang harus ia lindungi.
"Sembunyilah Ly!", katanya menyuruh anak itu sembunyi karena takut Wils akan menemukannya. Lalu melakukan hal yang lebih parah.
"Tidak! Aku mau melindungi Ian. Aku kakaknya! Itu kata ayah. Aku gak boleh sembunyi. Ian kesakitan di siksa sama om-om jahat", cetus Willy yang membuat hati Dika menghangat.
"Jadi kamu mau menyelamatkan adikmu?"
Mata mereka yang sama bertemu, Dika bisa melihat kesungguhan di dalam mata anaknya.
"Iya!" angguknya mantap
"Kalau gitu,kamu bantu ayah!" pinta Dika mencoba bangun dari tanah keras itu. Awalnya ia merasa sangat sakit di sekujur tubuh. Tapi kini ia berusaha. Karena ada setidaknya tiga nyawa yang harus ia lindungi di tempat ini. Dia harus bertahan sampai mereka di pastikan selamat.
"Kau ke mobil. Di sana ada ponsel lama ayah. Juga nomor bunda kamu. Telepon bunda, suruh om FarhanĀ ke tempat ini. Katakan padanya sudah saatnya. Hanya itu", kata Dika sambil menghela nafas.
Awalnya Willy menolak,karena takut meninggalkan ayahnya. Tapi setelah memberikan lengertian jika nyawa adiknya terancam anak itu akhirnya menurut. Dia berlari sesekali mengendap, ketika ada orang berpakaian hitam itu berjaga.
Hanya saja, setelah anak itu pergi ayahnya di tangkap oleh beberapa orang berpakaian hitam.
***
Fany kaku di tempat. Dia tak percaya.
Tapi sebelum sempat melihatnya gadis itu di panggil. Jadi Fany belum melihatnya secara jelas.
Wils terkekeh kembali.
"Memang dunia sudah berubah. Dia juga sudah pergi, tapi kalian yang menjadi saksi malam itu juga harus menyusulnya. Walaupun orang-orang tahu kamu gila, tapi mungkin saja ada seseorang yang akan percaya dengan apa yang kau katakan!", cetus Wils panjang lebar.
"Lepaskan aku!" mohon Fany karena merasa sesak di sekujur tubuhnya.
"Memohonlah semampumu nak! Karena mungkin ini akan menjadi hari terakhirmu",
Wils mendekat memyentuh wajah Fany secara kasar. Membuat gadis itu meringis kesakitan. Mata rusak itu terlihat sangat dekat di depan wajahnya.
Fany menahan nafas. Orang itu memegang pipinya secara kasar.
"Wajahmu lumayan cantik nak! Tapi sayang kau harus mati dengan cepat. Tapi aku berbaik hati, kita akan menunggunya agar bisa menyaksikan kamu mati di depan matanya.
Fany yang merasa kesal tak tahan. Akhirnya gadis itu meludah tepat di wajah Wils.
Wils memejamkan mata sejenak. Lalu mengusap air liur Fany di wajahnya laki-laki paruh baya itu menggeram. Amarahnya tersulut. Dia langsung menampar wajah gadis itu secara kasar.
"Dasar kau gadis ******!" umpat Wils dengan suara menggema yang membuat Fany tersentak. Wajahnya terasa kebas. Perih menjalar dari pipinya yang perlahan memerah. Meninggalkan bekas yang amat menyakitkan.
__ADS_1
"Bejo!!!" panggil Wils dengan suara sedalam sumurnya dengan murka.
Orang yang di panggil pun segera masuk. Wajahnya tak jauh beda dari Wils,hanya saja matanya tak rusak. Tapi tubuh gempalnya yang besar juga sama seperti Wils. Orang itu membuka tali yang mengikat Fany.
Setelahnya menyeretnya ke sebuah ruang yang sangat sempit. Pengap itulah yang ia rasakan ketika melngkahkan kaki di sana. Juga pencahayaanya tak ada yang membuat Fany harus menabrak sesuatu yang tak ia tahu itu.
Tapi hal itu tak berlangsung lama. Karena orang yang bernama bejo tadi menyalakan lampu yang walaupun remang tapi cukup membuat Fany bisa melihat dengan jelas. Setelahnya Bejo keluar. Menyisakan Fany sendiri yang memeluk lututnya ketakutan. Juga tubuhnya terasa amat sangat lelah karena perutnya belum terisi sejak sore.
Fany mengedarkan pandangan ke segala arah, berharap menemukan celah untuk kabur. Tapi hasilnya sia-sia tak ada celah walau sejengkal pun dalam ruangan ini. Hal itu membuatnya tanpa sengaja melihat gambar-gambar yang tertempel di dinding. Gadis itu mendekat memastikan penglihatannya tak salah.
Nafasnya tercekat, karena termyata Foto yang ia lihat adalah kebanyakan foto dirinya dengan Adly? Dia bisa melihat Fany waktu di cafe, ketika ia berkumpul dengan teman, juga di toko buku,rooftop,di taman saat ia tidur bersandar di bahu Adly, saat ia tak sengaja bertabrakan dengan Adly lalu adu mulut, masih banyak lagi aktivitasnya yang lain. Baik ketika bersama Adly maupun tidak. Juga di sana ada fotonya ketika sedang mengamuk di tempatnya rehabilitasi.
Gadis itu sadar akan sesuatu. Dirinya dan Adly sudah di untit sejak lama. Jadi artinya mereka saling berhubungan?
Dia melihat di pojok, ada sebuah gambar yang cukup menarik. Gambar tiga anak kecil dengan dua orang badut. Badut yang pertama adalah orang dewasa, sedangkan yang kedua anak kecil mungkin seusia dengan mereka bertiga.
Fany bisa melihat mereka semua tersenyum ke arah kemera. Gadis kecil itu berada di tengah. Di samping kanan ada anak laki-laki bermata sekelam malam sedang tersenyum ceria. Sementara seorang badut kecil ada di samping kirinya. Sangat jelas jika badut kecil itu menatap si gadis kecil. Sementara di samping kiri si badut kecil ada seorang anak bermata abu-abu yang rasanya sangat familiar di mata Fany. Anak itu tersenyum kecil. Sementara di tempat paling kanan terdapat badut besar itu. Tersenyum tapi lebih mirip seringaian.
Fany berfikir apa hubungan mereka dengan dirinya. Dan saat ia berfikir lebih dalam sebuah jawaban akhirnya ia temukan bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Di sana berdiri si gadis berpakaian hitam kebesaran tadi.
"Lo tak penasaran dengan orang yang mengambil gambarnya?" tanya gadis itu. Entah mengapa Fany merasa jika suara itu terasa tak asing.
"Lo siapa?" tanya Fany terbata.
"Lo emang bodoh ya!", ejek gadis itu yang Fany yakini sedang tersenyum meremehkan.
"Lo masih gak tahu gue siapa?" tanyanya kembali.
Fany menggeleng, lebih tepatnya mengingkari.
"Baiklah!" desis orang itu sembari membuka tudung kepalanya.
Demi melihatnya Fany terkejut, matanya sempurna membulat. Dia jelas tahu orang itu.
Mendadak dia berharap ini semua mimpi. Orang di hadapannya menyeringai puas melihat reaksi terkejut Fany.
"Lo kenal gue kan, Stevanhy Rhizki?" seringai itu entah mengapa.Fany tak mengenalinya. Tapi Fany jelas tau orang di hadapannya.
"Sarah!" cetus Fany lemah,merasa sangat terkejut serta lelah.
Ya! Dialah Sarah Aninda teman sebangku Fany yang merangkap jadi sahabatnya. Tapi setelah itu apa yang ia lakukan. Fany bahkan terlalu syok untuk mengelaknya.
Dia berharap segera terbangun dari mimpi ini.
Tbc
Huhuahuaaaa..
Gimana?gimana ? Terkejut gak?
Sarah....ternyata musuh dalam selimut.
Dan selama ini menjadi tukang untit. Juga....
Terus baca ya:)
__ADS_1