My Clown Boy

My Clown Boy
38


__ADS_3

"Menyerah dengan keadaan bisa disebabkan oleh tekanan yang sudah tidak bisa di tanggung".


***


Orang berpakaian serba hitam itu duduk dengan seringaian kecilnya,begitu gadis di hadapannya selesai menelpon.


Dia lalu mendekat dan mengacak pelan rambut gadis itu sambil terkekeh.


"Itu baru anakku" katanya bangga.


Gadis berwajah oval itu walau berat hanya bisa mengangguk lemah. Seakan apa yang baru saja ia lakukannya di sesali olehnya.


"Husshhh....tenang saja nak kau akan mendapatkannya" hiburnya yang membuat gadis itu menatap wajahnya tanpa takut.


"Pa...boleh aku tahu dari mana papa mendapatkan luka itu?" tanyanya hati-hati, dia penasaran sejak pertama kali bertemu orang yang ia sebut sebagai papa itu sudah memiliki bekas luka di matanya. Hingga wajahnya terlihat rusak.


Orang itu untuk sesaat tertegun, lalu mengangguk kemudian kembali duduk ke tempatnya yang semula.


"Aku mendapatkan luka ini dari ayah anak itu!"dia memberikan penekanan pada dua kata terakhir hingga gadis berwajah oriental itu hanya bisa menelan kasar salivanya.


Tak mau percaya akan yang di ungkapkan sang papa.


"Tapi kenapa?"


"Dia saat itu mau memisahkanku dengan kalian" ucapnya menerawang.


Orang itu terdiam sejenak lalu dengan penuh semangat melanjutkan ucapannya. Seakan di dalam sana ada emosi meluap-luap ketika mengucapkan nama itu. Nada suaranya seperti naik turun ketika bercerita,seakan kembali ke masa itu.


"Dan aku tak terima,kemudian berusaha melawan tapi saat itu dia memiliki pisau di dalam sakunya. Hingga orang itu melemparkan pisaunya tepat di mata bagian kananku", ujarnya sedikit sedih mengingat moment itu.


"Dan karena ayahnya pula papa ingin balas dendam pada anak itu?", tuntut gadis berwajah oriental dengan sedikit mendesak.


"Sebenarnya bukan itu saja,ada alasan lain yang membuatku ingin melenyapkannya. Tapi karena kau sepertinya menyukainya. Maka aku akan menyerahkannya padamu. Sebagai balasan karena telah membantuku" ujarnya yang membuat mata gadis itu berbinar.


"Sekarang hampir tengah malam. Pulanglah,orang di luar akan mengantarmu", katanya yang berhasil membuat gadis itu sedikit kecewa. Padahal masih banyak yang ingin dia ketahui.


"Ceritanya gimana?"


"Lain kali kita lanjutkan dengan kisah dibalik si gadis gila nak!" orang itu terkekeh dengan raut misterius. Tapi mereka sakarang sudah berdiri di depan pintu.


Di sana sudah terparkir sebuah mobil sedan dengan seorang sopir di dalamnya.


"Bye,Pa!" Pamit gadis itu sebelum membuka pintu mobil bagian belakang,lalu masuk ke dalamnya.


Orang itu masih berdiri di depan pintu hingga mobil benar-benar keluar dari area hutan.

__ADS_1


Ketika ingin kembali masuk kedalam,dia dikejutkan dengan kehadiran sosok pemuda tinggi yang secara tiba-tiba. Dia bahkan tidak menyadari sejak kapan pemuda itu berdiri di belakangnya. Mata hitamnya yang berkilau terlihat menawan.


Tapi anehnya pemuda itu mengeluarkan seringaian misterius.


"Papa bahkan sangat jago berakting" kemudian ia tertawa,jenis tawa menyeramkan hingga suara-suara hewan malam di luar sana terkalahkan olehnya.


Sebuah tato di lengan kanannya tersorot ketika ia tak sadar lengan kemejanya tersingkap.


***


"Pagi Ad!!!" sapa Sarah ketika Adly telah memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Hari ini hari sabtu jadi mereka tidak berangkat ke sekolah. Sebagai janji karena Adly kemarin tak sempat menemani Sarah kemarin karena memiliki urusan.


Jadilah hari ini dia akan menemani Sarah ke sebuah tempat yang belum ia ketahui ke mana tepatnya. Tapi kata Sarah dia ingin menemui ibunya.


Suasana pagi ini cukup cerah dimana orang-orang sudah memulai beraktifitas. Ada yang berjalan santai di sekeliling komplek perumahan. Ada yang membersihkan halaman,dan masih banyak lagi.


Sarah sendiri sudah masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu dan menyisakan Adly yang masih duduk diatas motornya.


"Udah?" tanya Adly ketika Sarah keluar dengan membawa rantang agak kecil,tapi cukup untuk dimakan seseorang. Dan jelas Adly tahu jika Sarah membuat itu untuk ibunya.


Setelah Sarah naik Adly segera melajukan motornya. Dan tanpa ragu gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Adly.


Adly fokus ke jalanan saat Sarah tak sengaja melihatnya melalui spion motor.


Sarah sedikit tersenyum melihat ekspresi serius itu.


***


Belum sempat ia mengamati sekitarnya,matanya langsung tertuju ke arah ibunya yang masih tertidur lelap.


Kamar ini agak aneh,perabotan di sekitarnya tak ada. Selain ranjang ini sendiri dan kursi yang di duduki ibunya. Bahkan jendelanya, tidak terbuat dari beling melainkan besi yang sangat kuat. Bentuknya pun tak beraturan. Sepi itulah yang di rasakannya.


Tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Seakan ingin pecah, suara aneh itu kembali menghantuinya. Rasa sesak tiba-tiba menghimpit dadanya.


Dan mau tak mau gadis itu menutup kepalanya menggunakan bantal yang tadi menyanggah kepalanya.


"Aaaaaaaa......!"teriaknya frustasi ketika rasa sakit itu kian menjadi. Kakinya bergerak-gerak gelisah, dengan nafas yang terputus-putus.


Fany berteriak semakin keras, berniat keluar meninggalkan tempat itu. Tapi dia baru sadar kakinya terikat pada besi penyangga brangkar.


Teriakannya semakin menggema,sesekali isakan mulai ikut keluar. Wajahnya memucat, jemarinya sedingin es. Dia frustasi tak bisa bergerak.


Dan keadaan itu sukses membuat ibunya terbangun. Fany menangis dengan bantal masih menutupi kepalanya.


Melihat itu Ratih segera memeluk putrinya, memberikan kehangatan layaknya seorang ibu. Jari-jemarinya mengelus puncak kepala putrinya.

__ADS_1


"Mi Fany takut!" isaknya dengan suara parau.


Ratih menenangkannya, mengeluarkan kata-kata yang membuat Fany sedikit tenang. Sekarang tenaganya yang tadi terlalu kuat untuk melepaskan diri mulai melemah.


Gadis itu membuka bantal yang ada di wajahnya. Meletakkannya di tempat semula lalu membalas pelukan ibunya.


"Fany mau pergi dari sini!"


Fany ingat walaupun samar dia merasa pernah berada di tempat ini sebelumnya. Dan hanya rasa sesak ini yang di ingatnya. Menggerogoti jiwanya,hingga rasanya ingin marah. Tapi tubuhnya tak bisa bergerak bebas.


"Kamu akan keluar sayang!" hiburnya kembali.


Setelah itu Ratih menekan tombol warna merah yang terdapat tepat di tembok atas brangkar milik Fany.


Tak berapa lama terlihat orang berjas putih itu masuk. Fany mendongak untuk melihatnya. Dan matanya tertuju pada netra biru itu.


Dan Fany mengingatnya,"dokter Fey!"ucapnya menahan gejolak di kepalanya.


Orang itu tersenyum,jenis senyuman yang menenangkan. Membuat Fany merasa deja vu seakan pernah mengalami hal ini sebelumnya. Walaupun semuanya terasa samar tapi Fany paham rasanya.


"Keadaammu bagaimana nak!" tanya dokter itu lembut. Dan Fany menggeleng sebagai jawaban.


Rasa sakit di kepalanya berkurang akibat,obat yang tadi sempat di berikan ibunya padanya sebelum dokter Fey datang.


Fany menarik tangannya dari genggaman sang ibu,dan baru menyadari ada perban putih yang membalut tangannya itu. Fany baru ingat bahwa sebelumnya,harusnya dia sudah mati.


Tapi kenapa dia masih hidup hingga sekarang. Fany langsung mengacak rambutnya,tak peduli pada kedua orang dewasa itu yang masih berada di sana.


"Aku rasanya mau mati,hiks...." ucapnya parau yang membuat ibunya tiba-tiba merasa tersayat melihat keadaan  putrinya.


"Kenapa kalian biarin aku hidup, aku mau mati. Suara-suara itu terus-terusan mengganggu", Fany berteriak,benar-benar mengeluarkan isi hatinya.


"Aku mau mati!!!" teriakan itu perlahan berubah menjadi isakan parau. Sebelum akhirnya Fany hanya bisa menangis,terus-terusan mengacak rambutnya. Dia mau pergi tapi tak bisa karena kakinya terikat.


Ratih dan dokter Fey saling berpandangan. Sebelum akhirnya dokter Fey menggeleng lemah.


Tanpa mereka sadari di luar sana ada sebuah kamera yang memotret mereka bertiga. Tapi lebih fokus pada gadis yang sekarang menangis dengan keadaan menyedihkan.


Orang itu tersenyum aneh sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu ke kamar lainnya.


Tbc


Fany gimana?


Sedihhh

__ADS_1


Kira-kira dokter Fey itu siapa. Kenapa Fany seperti gak asing?


__ADS_2