My Clown Boy

My Clown Boy
53


__ADS_3

Tapi ketika melihat seseorang yang di kenalnya berjalan ke belakang sekolah. Entah kenapa kakinya terus mengikuti langkah orang itu.


Bahkan rasa penasarannya sekalipun mengalahkan rasa takutnya yang sebelumnya.


Fany berjalan sepelan mungkin berusaha mengendap-ngendap agar tak ketahuan. Entah kenapa nafasnya menjadi tak beraturan begitu suasana terasa menjadi lebih menegangkan. Fany bersembunyi di balik tembok yang cukup besar sehingga dia bisa melihatorang itu tanpa harus ketahuan.


Fany melongokkan kepalanya, ketika mendengarkan suara benturan yang cukup keras. Dan di sana dia bisa melihat 'orang itu' sedang mengungkung seseorang yang tak bisa Fany lihat dengan jelas karena terhalang oleh badan 'orang itu' yang cukup besar.


Tapi Fany jelas tahu bahwa orang yang sedang berada di sana pasti sangat ketakutan melihat kemarahan orang yang tadi Fany ikuti. Terbukti,ketika dia melihat sekilas dia berusaha untuk kabur tapi tak pernah di beri jalan.


Oh God! Kenapa Fany harus di beri rasa penasaran yang tinggi. Apalagi sekarang dia sudah merasakan denyut jantungnya meningkat berkali-kali lipat setelah berada di tempat ini.


Dia hanya berharap agar 'orang itu' tak melakukan tindakan yang lebih. Karena kalau tidak, Fany tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.


"Lo kapan mau sadar sih?" tanya suara yang seringnya terdengar lembut di telinga Fany kini malah membentak orang yang tadi di kungkungnya.


Fany bisa melihat jika 'orang itu' sedang menatap tajam orang dihadapannya.


Baru saja 'orang itu' hendak memukul korbannya. Tiba-tiba saja bel tanda masuk berbunyi hingga tangannya hanya mengambang. Dan hal ini membuat Fany bernafas lega. Setidaknya dia tak melihat siaran langsung kekerasan kembali. Seperti 'dulu'.


"Urusan kita belum selesai! Jam istirahat kedua nanti kita lanjutkan". Tajam 'orang itu' yang entah mengapa tiba-tiba membuat Fany bergidik.


***


Jauh di tengah hutan,tepatnya di dalam gubuk tua yang sudah di tumbuhi semak belukar. Ada seseorang yang sedang menatap seorang laki-laki paruhbaya entah prihatin atau justru bersyukur. Tapi matanya yang hitam sekelam malam tak terlepas dari tubuh yang sedikit gemuk itu.


Entah angin dari mana tapi tiba-tiba si laki-laki paruhbaya berbalik. Dan mendapati orang tadi tengah menatapnya karena tak sempat bersembunyi. Atau memang mungkin lebih tepatnya tak berniat.


Laki-laki paruh baya itu terkekeh pelan melihat sang anak menatapnya seperti itu. Entah kenapa seperti ada yang berusaha ia tutupi.


Tapi bukannya terlihat ramah, malah terlihat menyeramkan. Karena mata kanannya yang rusak itu berputar-putar seperti hendak mencuat keluar. Dan mata sebelah kirinya yang normal berwarna semerah saga. Jadi tak ada alasan yang membuat tak takut.


Tapi tidak,bagi laki-laki yang masih terus menatapnya di depan pintu reyot salah satu bilik di dalam gubuk itu.


"Kau kenapa nak?" tanya laki-laki paruh baya itu. Ketika berbicara suaranya sedalam sumur seperti hendak menenggelamkan orang-orang yang mengganggunya.


Remaja laki-laki tadi menggeleng. Tapi si Paruhbaya tak percaya begitu saja. Dia sudah lama bersama,orang yang dipanggilnya anak itu akan terlihat seperti sekarang jika hendak menyampaikan sesuatu.


"Masuklah!"


Dengan patuh remaja itu masuk,lalu duduk di kursi kayu yang juga sudah terlihat tua. Dia sesekali menghela nafas berat. Saat lengan kemejanya sedikit tersingkap terlihat 'tatoo' bunga lili yang terlukis di lemgan kirinya.


Remaja itu menopang kepalanya dengan tangan kanan.


"Kenapa kita harus melakukan hal ini?" tanyanya ketika merasa sudah tenang. Suaranya berubah datar tapi matanya yang pekat tetap menatap mata rusak itu dengan berani.


Laki-laki paruh baya itu terkekeh. Lengkingannya sangat panjang. Lalu pandangannya terarah pada foto yang terletak di atas meja yang hampir reyot. Foto yang sama seperti yang sering di tatapnya setiap hari.

__ADS_1


Entah mengapa,setiap kali menatap foto itu wajahnya sering kali berubah beberapa kali dalam sekejap. Kadang tersenyum seakan bernostalgia, lalu tak berapa lama tawa jahatnya akan muncul. Menjadi seperti iblis yang sangat kejam.


Hal itu tak pernah luput dari pengamatan remaja yang di panggil 'nak' oleh si laki-laki paruhbaya.


Sama seperti yang sekarang sedang dilakukannya pada foto ketiga orang itu. Dengan seorang perempuan yang berada di tengah lalu diapit oleh dua orang laki-laki yang cukup tampan.Bedanya yang di sebelah kiri tersenyum lebar,merangkul bahu yang perempuan. Sedangkan sebelah kanan tersenyum dengan di paksakan. Tangan si perempuan terlihat menggenggam laki-laki yang sebelah kanan.


"Ini demi kau,nak!" katanya penuh khidmat.


"Tapi entah mengapa. Semakin saya pikirkan,semakin saya tak yakin kemana arah layarnya!" nada suara si Remaja terdengar lebih ketus dibanding sebelumnya.


"Diam! dan lakukan saja apa yang kuperintahkan!"laki-laki paruh baya itu juga sedikit tersulut emosi. Karena baru kali ini orang yang di sebutnya anak berkata keras seperti itu padanya.


"Bagaimana saya bisa diam jika apa yang saya lakukan sekarang alasannya tak jelas?" jawabnya dengan suara yang mulai memelan. Dia seakan miris sendiri pada apa yang harus dilakukannya. Serta hal hal yang tak masuk akal untuk rencana besar mereka.


"Jika saja aku tak menolongmu saat itu. Bisa saja kau sudah tinggal nama sekarang!" tanpa sadar laki-laki paruhbaya itu mengucapkan kata yang terdengar ambigu di telinga si remaja.


"A...paa.... Ma..k..su..nya?" tanya remaja tersebut tergagap-gagap.


"Lupakan saja nak! Ini hanya masa lalu rumit orang tua. Kau tak perlu terlibat jauh. Cukup lakukan saja". Kata laki-laki paruh baya itu tak hendak melanjutkan ucapannya lagi.


Dia lalu meletakkan foto yang tadi di pegangnya pada tempatnya lalu keluar.


Si remaja laki-laki menghela nafas kasar. Tubuhnya ia sandarkan ke kursi. Apakah ini beralasan balas dendam? Dia sama sekali tak bisa menebaknya.


Tapi apapun itu dia tak akan membuatnya terlibat. Salah seorang di dalam foto itu dia mengenalinya. Seorang wanita yang diapit oleh dua laki-laki itu adalah ibunya. Dan dia harus melindunginya. Itulah alasannya terlibat yang mungkin tak diketahui laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ayah.


Tapi tiba-tiba dering telepon membuyarkan lamunannya. Melihat nama yang tertera di layar dia segera mengangkatnya.


***


Selama pelajaran berlangsung entah kenapa Fany terlihat gelisah. Kadang gadis itu sengaja terang-terangan melihat jam. Kadang tiduran.


Dia juga merasa ada yang disembunyikan teman-temannya padanya tapi entah apa. Dia tadi bertanya pada Ima dan Rinhy tentang apa yang barusan mereka lakukan tapi tak ada yang menjawab jujur. Padahal Fany jelas tahu karena juga berada di tempat yang sama dengan mereka tadi.


Fany tahu hal itu mungkin ada hubungannya dengan dirinya. Tapi hal itu tak ia tahu. Memang beberapa di koridor tadi sengaja menatapnya tak suka secara terang-terangan. Kadang juga penuh bisik-bisik. Tapi sekali lagi Fany tak tahu hal itu.


Bel tanda istirahat kedua akhirnya terdengar. Tapi bukannya bebas dia justru semakin was-was dan penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya. Karena dengan jelas tadi orang yang dia ikuti mengatakan "kita lanjutkan jam istirahat kedua".


Ima dan Rinhy langsung berlarian ke kantin karena kedua orang itu tadi tak sempat makan di istirahat pertama. Dia melihat orang yang tadi dia ikuti melemaskan buku buku jarinya. Menyapa beberapa teman sekelasnya,lalu tatapannya itu berubah dingin ketika melangkah pergi.


Jujur Fany tak tahu apakah dia harus terlibat atau justru diam saja mengetahui sebuah kejahatan akan terjadi. Entah dia akan menutup mata atau justru terlibat lebih jauh yang menyebabkan keselamatannya sendiri.


Tapi entah mengapa melihat wajah dingin itu kakinya kembali melangkah. Melangkah-melangkah lalu membawanya kembali ke tempat yang tadi berniat di hindarinya. Dia berada di tempatnya sebelumnya. Dan kedua orang itu juga masih berada di tempat yang sama.


Dengan si korban yang menjadi sangat ketakutan.


Entah mengapa firasat Fany mengatakan jika orang yang ia rasa menjadi korbannya kali ini bukan laki-laki seperti tadi. Melainkan seorang perempuan.

__ADS_1


"Katakan jika yang melakukannya benar-benar lo!"ketus orang itu seakan ingin menerkan orang dihadapannya.


Fany menahan diri supaya tak mengeluarkan suara apalagi dia merasa entah kemana tiba-tiba perginya pasokan udara milikinya. Dia mencoba melongokkan kepala kembali.


Mengapa dari tempat ini gadis itu tak bisa melihat siapa yang menjadi korbannya. Selalu terhalang oleh 'orang itu'.


" halo!halooo!tolong tolong aku"ucap suara yang menurut Fany sedikit Familiar itu. Dia yakin si korban pasti berusaha menghubungi seseorang karena setelahnya. Orang yang tadi di ikutinya terlihat menggeram marah. Wajahnya berkali-kali lipat menyeramkannya di banding biasanya.


"Lo! Ternyata cemen,beraninya nusuk dari belakang" kata cowok yang di ikuti Fany sarkas. Nafasnya terlihat memburu,berusaha menahan diri untuk tak memukul orang di hadapannya.


"Jangan hanya karena lo cewek! Lo berani ngelakuin apapun sesuka lo. Jangan hanya karena gue gak mukul cewek lo jangan berbuat seenaknya!"kata cowok itu kembali. Nafasnya memburu serta dadanya naik turun.


Menit berikutnya,suara benda terjatuh terdengar menggema. Dan Fany yakin benda itu adalah Hp yang tadi digunakan se cewek untuk menelpon.


"Lo bilang dia cewek gila ke orang-orang. Sementara sebenarnya yang gila itu lo! Bukan dia!lo gila!" desis Delano tepat di telinga cewek itu. Karena sekarang si cewek berlutut di depan Delano sambil menelungkupkan wajahnya.


"Lo kenapa ha? Lo takut sama gue!",kata cowok itu sambil berusaha membuat si cewek berdiri. Dan saat berhasil,detik itu juga Fany tercekat.


Walaupun tak jelas dia sekarang tahu siapa gadis yang sedang di siksa cowok itu. Pantas rasanya tak asing karena gadis itu adalah Sarah teman sebangkunya.


Karena tak tahan melihat Sarah di perlakukan seperti itu. Akhirnya Fany memilih keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Stop!stop Lan! Berhenti nyakitin dia!" kata Fany dengan suara serak karena menahan tangis lututnya bergetar melihat teman sebangkunya sekacau itu di perlakukan sangat tak adil oleh cowok itu.


Saat mendengar suara Fany cowok itu terdiam. Perlahan pegangannya di kerah baju Sarah mengendor sehingga gadis itu bisa bernafas.


"Fany...." ujar cowok itu lirih,dia memandangi Fany yang saat ini benar-benar ketakutan. Menangis,walaupun berusaha tak gentar. Lalu kembali memandangi cewek yang sudah kacau balau karena ulahnya.


"Lo masih gak mau ngaku?" tajam cowok itu yang membuat Sarah menggeleng,tapi tak ada yang sadar jika gadis itu menahan senyum agar tak terbit.


Walaupun belum sepenuhnya terlepas,berkat keberadaan Fany Sarah bisa bernafas walau sedikit.


Tapi entah berasal dari mana tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam datang lalu memukul cowok itu. Karena perhatiannya terpusat pada gadis yang berdiri di sudut. Dia tak sadar kapan datangnya orang itu.


Cowok yang tadi jatuh tersungkur,perih pada wajahnya. Juga mulai ada lebam karena orang yang memukulnya bertubi-tubi itu seakan tak memberi ampun.


Setelah yakin cowok itu tak lagi melawan dia kemudian membawa Sarah. Mengangkatnya dalam gendongan dan meninggalkan kedua orang yang kondisinya berbeda itu.


Fany yang melihat semuanya syok. Hendak mengejar Sarah tapi orang yang tadi membuatnya takut sekarang tergeletak tak berdaya.


"Jangan tinggalin sa...ya!" katanya lemah yang membuat Fany menoleh,seketika matanya bertemu dengan netra abu-abu itu sebelum akhirnya pingsan.


"Lan!lan! Delano bangun!" ujar Fany tak jadi mengejar Sarah. Dia menggoyang-goyangkan tubuh yang sekarang sedang tak sadarkan diri itu.


Tapi tiba-tiba sebuah hal mengejutkan Fany terjatuh dari saku Delano ketika dia mencoba membangunkannya.


Sebuah surat warna abu-abu,gambar tengkorak bertuliskan untuk Fany.

__ADS_1


Mata Fany membulat tak percaya. Dia tak mungkin.....


Tbc


__ADS_2