
"Setiap orang yang menjauh pasti memiliki alasan. Biarpun rasa itu ada,tapi tak terlihat".
***
"Dia...."
***
Keesokan paginya,Fany ke sekolah lebih cepat dari biasanya tepatnya Selasa pagi. Entah mengapa moodnya akhir-akhir ini terasa baik. Fany ke kelasnya,namun temannya belum ada yang datang. Kelasnya masih kosong.
Karena bosan,akhirnya ia memutuskan ke taman belakang sekolah. Dia berjalan pelan,berharap hari ini lebih baik dari kemarin.
Cewek itu tercegang melihat seseorang di sana. Karena terlihat dari belakang dia tak tahu persis,tapi cewek itu merasa tak asing.
Fany mendekat lalu menyentuh pundak cowok yang duduk di sebuah bangku,dan pandangannya kosong.
"Ad..." gumamnya. Hingga cowok bermata kelam itu berbalik,dan tatapan mereka beradu. Tapi Adly segera memalingkan wajahnya melihat objek lain.
Sedangkan Fany lebih terkejut sekarang melihat wajah Adly yang penuh lebam,dan sudut bibirnya yang bengkak. Seketika rasa khawatir muncul.
"Ad....lo kenapa begini?" tanya Fany khawatir dan refleks menyentuh wajah Adly. Adly meringis,lalu menepis tangan Fany.
"Bukan urusan lo!" ketusnya
Untuk sesaat Fany membeku,terkejut dengan ucapan barusan. Biasanya Adly memang bermulut tajam. Tapi tak pernah seperti ini. Dia syok,bahwa baru saja Adly membentaknya.
.
"Lo kenapa?" tanpa Adly sadari,tangan Fany gemetaran. Dengan mulut yang terkatup rapat.
"Lo! Kenapa selalu ganggu gue?" Adly kembali membentak Fany tapi suaranya lebih keras.
Hingga kali ini Fany benar-benar ketakutan. Wajahnya pias, sepucat kapas. Seakan aliran darahnya berhenti.Benarkah orang yang membentaknya barusan adalah Adly? Fany tak percaya. Dan tidak mau percaya,tapi kenyataannya orang itu adalah Adly. Orang terakhir yang Fany harapkan akan berlaku kasar,mengingat sifat dinginnya. Dia sangat ketakutan belum ada seseorang yang membetaknya seperti yang baru saja cowok itu lakukan bahkan ibu dan ayahnya.
Fany mundur teratur menahan isak tangis,dia sangat ketakutan. Bahkan sekarang badannya menggigil,apakah Adly membencinya sedemikian rupa hingga ia bahkan mengeluarkan suara sekeras itu.
Dia menutup telinganya,Apalagi melihat wajah Adly yang menatapnya datar seakan tak percaya akan ketakutannya.
"LO KENAPA?" gantian Adly yang bertanya,tapi suaranya masih ketus. Dan itu membuat gendang telinga Fany seakan ingin pecah.
Jantungnya berpacu,dia mundur ke sudut dinding. Lalu perlahan berjongkok memeluk lututnya sendiri ia sangat takut pada Adly.
Cowok yang berada di hadapannya bukan Adly yang ia kenal.
"Gak! Lo bukan Adly pergi dari sini!" teriak Fany dengan suara parau karena teredam oleh ketakutan yang menghampiri.
__ADS_1
Melihat itu Adly merasa bersalah seakan dirinya sudah menyakiti gadis itu apalagi Fany menutup telinganya.
Adly maju mendekat,hendak memeluk gadis itu tapi Fany seakan menghindar.
"Jangan mendekat" suara Fany sangat lirih.
"Maaf,Fan!" Ya ini Adly yang meminta maaf,kata pertama yang ia keluarkan untuk Fany setelah sekian lama. Karena setau Fany cowok itu tak pernah meminta maaf. Tapi Fany seakan menulikan telinganya matanya menutup tubuhnya masih menggigil ketakutan.
Dan detik berikutnya,sebuah bogem berhasil mengenai pelipis Adly ketika ia hendak meraih Fany. Dan seketika Adly tersentak,dan terhuyung ke belakang.
"Lo! Jangan sentuh dia", suara geraman marah membuat Adly mendongak,dan matanya bertemu dengan netra abu itu.
Adly yang tak terima kemudian bangun lalu membalas pukulan Delano. Adu jotos pun tak dapat dihindari,mereka saling menyerang. Membabi buta,hingga Adly berhasil di pojokkan ke dinding. Delano memperkuat pukulannya.
"Lo selalu saja membuat dia menangis *******!" Delano menarik kerah kemeja Adly lalu memukulnya telak. Hingga memar di wajahnya bertambah.
Adly tersenyum,senyum yang jarang dia perlihatkan ke orang orang.
"Bukan urusan lo!"
Melihat reaksi itu Delano semakin menjadi tak kenal ampun,seakan orang di hadapannya ini pantas di bunuh.
"Lo yang ******* Lan,karena ngebuat dia pergi".
Fany yang samar samar mendengar kericuhan,perlahan membuka mata dan melepas telinganya yang tadi ia tekan karena ketakutan. Dan sekarang,langsung di suguhkan pemandangan yang sangat di hindarinya.
Dia dapat melihat kemarahan Delano maupun Adly yang saling melawan satu sama lain. Melihat Adly yang sekarang seakan tak berdaya. Ia menggeleng pelan,lalu kembali terisak keras.
Bibir mungilnya mengeluarkan kata" Kalian berdua monster!"suaranya tergugu sangat ketakutan. Seakan ada yang menikamnya.
Dia histeris lalu berlari meninggalkan taman belakang sekolah tak ada yang dipikirkannya selain menjauh dari Adly maupun Delano. Fany seharusnya tak pernah mengenal mereka berdua.
Ketakutannya semakin menjadi.
Sekarang Fany telah sampai di lapangan dengan penampilan yang kacau,air mata terus mengalir seakan tak terbendung. Kakinya gemetar tak kuat berlari,hingga ia terjatuh begitu saja di tengah lapangan.
Pikirannya kembali tertuju pada kedua orang di taman belakang,Fany tak tahu apakah mereka telah berhenti atau justru semakin menjadi.
Sebuah pelukan hangat mengejutkannya,dia mengusap air yang menghalangi pendangannya.
Nafasnya tercekat merasakan aroma ini. Seketika ia merasa tenang walau tubuhnya terus-terusan menggigil.
"Lo sekarang aman!" Ucap suara itu lembut tepat di telinga Fany.
Fany menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik kakaknya.
__ADS_1
"Bang.....mereka jahat". Dia merasakan pelukan itu kian mengerat.
"Gak akan ada yang jahat,sama Fany. Abang akan melindungi kamu". Suara itu masih sangat menenangkan.
Fany perlahan meredakan tangisnya,lalu hal yang pertama yang ia lihat adalah wajah Aly yang sekarang lebih dewasa dari biasanya.
"Bang Ali juga jahat,udah ninggalin Fany sendiri". Suara Fany parau.
"Maaf,Fan!Aku minta maaf. Kapau ternyata hal ini menyakitimu".
Pelukan itu sekarang berganti,lalu memegang pergelangan tangan Fany. Mereka berjalan pelan. Sedangkan Aly masih terus memeluk gadis itu menenangkan.
Yang Fany tidak sadari,sedari tadi seluruh penghuni sekolah menatap mereka berdua. Sama seperti mereka pertama kali memasuki sekolah ini. Saat Fany menjadi murid baru tiga bulan yang lalu.
Tatapan mereka berbeda-beda,ada yang kagum,iri,benci semua berpadu. Tapi ia maupun Ali tak peduli. Kali ini ia menulikan telinga. Karena sekarang kakaknya sudah ada di sampingnya. Dan Fany yakin,tak seharusnya ia menaruh hatinya pada orang yang salah.
Mereka keluar dari lingkungan sekolah,memasuki mobil yang telah terparkir di jalanan depan sekolah. Ali terus-terusan menenangkan Fany. Walau gadis itu terus saja ketakutan,terlihat dari wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang terus menggigil.
Pak karman yang melihat itu dari spion besar menghela nafas pelan. Baru saja ia dari bandara menjemput tuan mudanya itu tapi masalah datang pada nonanya.
Pak Karman tadi memang sempat melihat Aly mendapat telepon dari seseorang,lalu menyuruh Pak Karman mengemudikan mobilnya ke sekolah. Dan ia terkejut melihat Fany telah terduduk lemas ketakutan di lapangan sendirian. Dengan orang-orang yang hanya lewat tanpa ada yang menghampiri.
"Gue berjanji Fan,orang itu gak akan bisa deketin lo lagi" Batin Aly sambil terus mengusap puncak kepala adiknya. Walaupun kenyataannya Fany yang terus mendekat pada cowok yang dimaksudnya.
Sampai di rumah,Ali langsung membawa Fany ke kamarnya. Lalu membaringkannya diatas kasur. Ia tak akan mengganggu adiknya yang sedang tertidur. Sekarang Fany mulai tenang hingga Ali bisa bernafas lega.
Ali memerhatikan kamar Fany. Tak ada yang berubah semenjak tiga bulan yang lalu,selain note kegiatan Fany dengan Adly yang kian bertambah.
Dan Ali tahu mungkin setelah ini,suasana akan berubah. Dan dia tak bersiap untuk kemungkinan terburuk,apalagi orang tuanya baru saja ke luar negeri.
Ali kemudian membelai pelan rambut adiknya,lalu menaikkan selimut untuk menutup tubuh Fany yang masih berbalut seragam sekolah. Saat ia hendak keluar samar ia mendengar Fany menggumamkan nama seseorang.
"Adly....." detik itu Aly keluar kamar,dengan tatapan sulit terbaca. Bahkan cowok itu telah mengambil fikiran bawah sadar adiknya.
Tbc
Hahaah
Gak nyangka kan Ali tiba-tiba udah pulang. Unchhh ada yang rindu gak sama ke konyolan dan ke playboannya.
Bdw Fany itu emang takut sama bentakan. Makanya orang di rumahnya memanjakannya. Selain karena anak bungsu ya gitu. Sebenarnya ada alasan hingga Fany takut seperti itu.
Dan aku akan jelasin,di part part yang akan datang.
Dadahhh
__ADS_1