My Clown Boy

My Clown Boy
49


__ADS_3

"Perlahan memori itu kembali. Apakah ia siap atau tidak,jawabannya hanya dia sendiri yang tahu".


***


Fany bersama Farhan memasuki ruangan kerja dokter Fey. Terlihat dokter muda itu memang sudah siap akan kedatangan mereka. Dan seperti biasanya sang dokter memberikan senyuman menenangkan miliknya.


Di dalam ruangan yang cukup luas itu. Terdapat banyak alat yang meski sudah berulang kali dilihatnya. Fany belum tahu nama serta apa fungsinya. Dia tak terlalu peduli pada alat alat medis seperti itu.


Dan seperti biasanya Fany langsung naik ke brangkar begitu sampai di depan dokter Fey tanpa banyak bicara. Dan terapinya pun dimilulai. Perlahan kesadaran Fany menghilang begitu mencium aroma menenangkan yang entah berasal dari mana.


Dokter Fey tersenyum penuh arti pada Farhan ketika untuk pertama kalinya lelaki paruhaya itu untuk pertama kalinya menemani putrinya menjalani terapi.


***


Seorang gadis kecil sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya putih pucat,jelas terlihat karena gadis itu tak pernah keluar semenjak kejadian naas membuatnya harus dirawat sekian lamanya.


Jemarinya yang lentik perlahan bergerak yang menjadi tanda bahwa masih ada kehidupan di tubuh mungil itu. Walaupun matanya masih terpejam,tapi sudah ada gerakan kecil di sana sebagai bentuk perlawanan untuk sadar dari tidur panjangnya.


Di sekelilingnya,lima orang dewasa berdiri harap-harap cemas menanti gadis kecil itu membuka mata dari perjuangannya yang panjang untuk tiba pada saat sekarang.


Sungguh jantung kelimanya berdegup kencang untuk menanti hasil yang selama ini mereka tunggu. Karena bukankah penantian yang panjang akan membawa hasil yang memuaskan.


Pelan tapi pasti,sedikit demi sedikit mata itu mulai membuka. Hingga iris coklatnya yang berwarna terang mulai menangkap cahanya matahari. Gadis itu mengerjap-ngerjap beberapa saat sebelum menyadari dirinya tak sendiri. Di sampingnya tepat. Seorang wanita muda yang cantik berdiri,dengan memaksakan senyum walau kenyataanya air mata orang itu terus menerus menetes.


Setelah melihat sekitarnya gadis kecil itu tampak bingung. Berbeda demgan reaksi senang campur haru yang ditunjukkan kelima orang dewasa di hadapannya. Yang berdiri hingga seakanĀ  mengintari dirinya yang terbaring.


Anak itu menghembuskan nafas, mencerna situasi. Lalu memaksa kerongkongannya membuka untuk menyuarakan pertanyaanya. Keadaan hening karena semuanya menikmati kesadaran gadis kecil itu.


Lalu ia mulai membuka mulut. Tapi anehnya tak semulus dengan apa yang di bayangkannya. Membutuhkan usaha yang keras hingga akhirnya dia bisa mengeluarkan suara terputus-putus yang serak.


"A...ku.... Sia....p...a?" tanyanya yang membuat kelima orang itu termangu. Menahan isak tangis serta pilu.


Dua orang perempan lainnya menangis. Sedangkan yang berada tepat di sebelahnya tersenyum. Tapi dapat gadis kecil itu lihat di dalam mata yang juga beriris coklat yang sama seperti miliknya terdapat linangan yang menggenang membentuk kaca tipis karena tertahan di pelupuk matanya.


Orang di dekatnya memegang telapak tangannya lembut sehingga dapat gadis kecil itu rasakan sebuah kehangatan menjalar dari sentuhan kecil itu.


Dalam satu tarikan nafas wanita muda itu menjawab.


"Kamu.....kamu putri kami,yang sangat kami cintai"./


Hening sejenak,karena laki-laki yang berdiri di dekat wanita yang berbicara itu mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Juga karena memahan sesak.


"Kamu Fany putri kami!" kata wanita itu tak kuat menahan isakannya.

__ADS_1


"Aku ibumu. Dan di sebelahku ini ayahmu. Dan mereka bertiga adalah paman dan bibimu". Jelas wanita yang memiliki rambut panjang hitam itu. Lalu lelaki tampan di dekatnya segera memeluknya.


Juga kedua wanita yang sekarang duduk di sofa tak kuat menahan isakannya.


"Jadi namaku Fany?"tanyanya kembali tanpa peduli pada suasana haru yang tercipta di ruangan yang cukup besar itu.


Ratih ibunya mengangguk. Karena tak kuat,laki-laki yang memiliki aura kuat yang berdiri tepat di hadapannya itu pamit berniat membawa kedua wanita yang sedang menangis untuk menenangkan diri. Agar tidak membuat gadis kecil yang terbaring semakin bingung pada keadaan yang seharusnya membuat mereka senang.


Sebelum keluar wanita yang memiliki warna rambut yang sedikit lebih terang dibanding yang lainnya itu menghampiri Fany mengusap puncak kepala gadis kecil yang bahkan tak tahu apapun itu. Semuanya seakan warna putih menurutnya. Tak ada apapun yang diketahuinya.


Si rambut terang berusaha tersenyum kecil hingga gadis kecil itu mengerjap penasaran padanya.


Dia lalu mengambil kotak besar yang mungkin tingginya sama seperti tinggi tubuh Fany sekarang. Kotak besar itu kemudian di serahkannya pada anak kecil itu.


"Ini tadi ditinggalkan anak tante untukmu. Katanya ini milikmu,nak! Kamu baik-baik ya!" pesanmya sambil menyerahkan kotak besar itu.


Fany tak berkata apapun. Atau lebih tepatnya tak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia sama sekali tak mengerti,karena Fany kecil hanya anak polos sama seperti kebanyakan.


Setelah selesai memberikannya. Si rambut terang meninggalkan mereka dengan langkah berat. Karena setidaknya dia harus memberikan ruang pada keluarga kecil itu untuk menikmati saat-saat seperti ini.


"Aku...tak mengerti!" nada bicaranya mulai lancar, walaupun suaranya masih serak. Tapi setidaknya,gadis itu tak lupa cara berbahasa.


"Maaf,maaf! Ini semua karena salahku. Membiarkan kalian lepas dari kendali kami". Kata Ratih mulai menyalahkan diri karena anaknya itu harus menjalani nasib menyedihkan seperti ini.


"Jangan berkata seperti itu sayang. Di sini tak ada yang bersalah. Memang mungkin sudah takdir yang sedang menguji kita. Tak ada yang bersalah" sahut Farhan berusaha menenangkan.


Gadis kecil yang tak tahu apa-apa itu langsung berbinar begitu melihat boneka panda besar yang berwarna hitam putih berada di hadapannya. Matanya hitam besar. Juga ketika di peluk terasa hangat.


Tapi begitu gadis kecil itu memeluknya,samar dia melihat boneka yang sama tergeletak di aspal di tengah siamg yang terik. Serta deru kendaraan. Dan hal itu membuat kepalanya terasa sakit. Dia mengerang sesaat sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Ketika itu kedua orang tuanya panik. Boneka panda besar itu kembali tergeletak di bawah ranjang rumah sakit. Seakan menyaksikan kehidupan dari tuannya boneka itu selalu ada.


***


"Fany!!! Fany!kamu tak apa sayang?" samar suara berat menyapa indera pendengarannya, begitu dia mengumpulkan kesadarannya kembali.


Jantung Fany entah sejak kapan berpacu cepat,serta peluh membasahi pelipisnya. Nafasnya terputus-putus dan hal itu membuatnya berkeringat dingin. Seakan baru terbangun dari tidur panjang. Gadis itu memerhatikan sekitarnya.


"Masih diruangan dokter Fey!" batinnya.


Tapi mimpi itu amat sangat nyata.


Hingga hal itu rasanya benar-benar terjadi.

__ADS_1


Begitu Fany membuka mata. Ayahnya sudah menyambutnya demgan menghela nafas lega.


"Akhirnya kamu bangun sayang!" ucap papinya penuh syukur.


"Apa yang kamu lihat nak?" tanya dokter Fey lembut. Mata birunya memancarkan ketenangan.


"Seseorang memberiku boneka panda besar. Tapi rasanya boneka itu milikku. Tapi orang yang memberiku tak ku kenal. Juga terasa tak asing!" jelas Fany menceritakan sebagian mimpinya.


Dan hal itu membuat dokter Fey kembali tersenyum. Setelah mengumpulkan kembali energinya. Gadis itu memutuskan bangun lalu memperbaiki duduknya. Dia melihat jam besar yang berada di ruang kerja dokter Fey. Di sana jarumnya menunjuk ke arah jam tiga. Artinya ini sudah sore.


Oh God berapa lama Fany tertidur.


Tak berapa lama pintu di ketuk. Lalu ketika pintu terbuka,terlihat seorang badut yang sedikit berbeda dari badut tadi pagi. Tingginya mungkin lima cm lebih tinggi dari badut tadi pagi. Juga pakaian mereka yang berbeda. Dia badut yang sering membuat Fany tenang setiap kali di dekatnya. Entah siapa namanya.


Tapi anehnya dia suka.


Begitu melihatnya Fany langsung keluar setelah pamit dengan ayah maupun dokter Fey. Fany tahu keduanya memiliki pembicaraan serius untuk di bahas makanya mereka memanggil si badut untuk menemani gadis itu.


Setelah Fany keluar wajah dokter Fey berubah serius. Dia menatap Farhan dengan intens. Seakan menunggu keputusan.


"Jadi gimana?"


Dokter Fey tersenyum lembut.


"Yang tadi dilihatnya bukan mimpi. Melainkan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu kalian",


Farhan tak mengalihkan perhatian dari dokter sekaligus sahabatnya itu.


"Reaksi Fany tadi sudah tak seperti biasanya. Yang artinya,dia sudah mulai menerima masa lalunya walaupun hal itu sedikit demi sedikit".


"Jadi artinya Fany sudah benar-benar bisa dipulangkan?"


Dokter Fey mengangguk sebagai jawaban. Yang membuat antusiasme diwajah Farhan bertambah. Setidaknya dia sudah lama menunggu kabar ini.


"Tinggal menunggu waktu dia mengingat semuanya. Juga kita harus bersama membangun jiwa dan mentalnya agar bisa menerima semuanya dengam baik tanpa ada lagi traumatis itu".


"Hm....semoga itu segera terwujud Fey!" kata Farhan penuh harapan.


Setidaknya sebagai seorang ayah melihat anaknya bahagia menjadi kebahagiaanya sendiri. Yang entah mengapa rasanya lebih besar di banding ketika ia berhasil menjalankan perusahaannya dengan hasil maksimal pun.


***


Sementara di tempat lain yang tak jauh dari sana. Tepatnya bagian depan. Sebuah mobil sedan warna hitam terparkir. Di dalamnya seorang berpakaian hitam mengawasi gerak-gerik dua orang yang berada di taman belakang.

__ADS_1


Sebuah seringaian terbit. Membuat wajahnya yang menyeramkan menjadi lebih buruk. Setidaknya ada sebuah rahasia yang ia ketahui dibalik sebuah kotak hadiah.


Tbc


__ADS_2