
"Jangan biarkan aku berharap pada hal yang semu. Yakinkan aku untuk terus bersamamu"
***
Adly melihat wajah Fany yang terlihat tenang,orang yang menyayanginya walaupun telah ia tolak berkali kali. Hingga rasa kantuk itu juga menghampirinya, perlahan Adly juga memejamkan mata. Tanpa ia ketahui,sebuah kamera mengarah ke arah mereka yang tertidur di bawah pohon.
***
Fany perlahan terbangun merasakan sesuatu yang berat diatas kepalanya. Aroma khas itu membuatnya tersenyum tipis. Dia kemudian melirik melalui sudut matanya untuk memastikan. Dan benar saja,orang itu sedang tidur di sampingnya dan bersandar tepat di atas kepalanya.
Fany berusaha untuk tidak bergerak agar Adly tidak terbangun. Entah mengapa keadaan ini kembali membuat debaran jantungnya menggila. Fany menyimpulkan berada di sekitar Adly tidak baik untuk kesehatan jantung.
Hingga terdengar dering telpon. Tapi bukan Hp Fany melainkan cowok badut di sampingnya. Fany yang mendengar itu segara menepuk pelan pipi Adly.
"Ad!!!!Bangun ada yang nelpon lo kayaknya",Cicit Fany.
Adly perlahan membuka matanya menyadari dirinya terlalu dekat dengan Fany. Dia berdehem singkat untuk menghilangkan suasana canggung yang tiba-tiba saja tercipta.
Dia merogoh sakunya,tapi ekspresinya berubah kaku begitu melihat 'nomor itu' lagi.
Adly kemudian beranjak dari duduknya mencari tempat agak jauh dari Fany dan sepi.
Dia menghela pelan lalu menggeser tombol hijau.
"Halo" Orang itu bahkan mengucapkannya ketika Adly baru saja mengangkatnya.
"Hahahahah.....rupanya kau memiliki mainan baru nak!" suara sedalam sumur itu membuat bulu kuduk merinding. Tapi tidak dengan cowok yang masih berpakaian badut tersebut. Berbicara dengan 'orang itu' selalu sukses membuatnya geram.
"Langsung aja ke intinya" Adly sengaja menekankan kata terakhir.
"Hahahaahahah,jangan berlagak tak tahu. Kau jelas tahu dia siapa".
Adly berusaha mencerna ucapan orang di seberang sana. Dan bisa saja,dia. Adly menoleh ke arah Fany yang asik dengan Hpnya.
"Jangan ganggu dia" desisnya menahan amarah.
"Itu tergantung kamu,dan kurasa kau akan menikmatinya kali ini" Orang itu kembali tertawa mengejek,kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Menyisakan Adly yang berusaha menahan emosi.
"Sial" ucap Adly sambil mengepalkan tinju. Adly kemudian menghampiri Fany yang berada di bawah pohon. Emosinya yang tadi,bisa ia kendalikan dengan baik. Dia kembali duduk tapi sedikit menjaga jarak.
Fany menyadari keanehan itu memutuskan bertanya. "Lo kenapa?" suaranya ia usahakan tidak terlalu bersemangat seperti tadi dia yang hampir terjungkal karena terlalu bahagia.
Adly menggeleng,dia menghembuskan nafas lelah.
__ADS_1
"Kita pulang".
Dan Fany tanpa berusaha bertanya lebih jauh lagi memutuskan mengangguk pasrah. Apalagi sekarang memang sudah jam 4 sore. Dia tak mau mengambil resiko. Baru saja ia hendak menelpon Pak Karman,Adly segera mencegahnya.
"Kita naik taksi"jelasnya. Dan setelah itu taksi sudah ada,lalu berhenti tepat di depan mereka. Lalu tanpa aba-aba Fany langsung masuk ke dalam.
Tapi Fany malah mengeriyit heran. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan Adly. Dan itu kembali mengundang rasa penasarannya.
Jadi pada akhirnya rasa penasaran itu hanya tersangkut di tenggorokan,melihat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini.
"Ad lo kenapa sih?" Akhirnya pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut Fany karena tak tahan akan keheningan yang tercipta di dalam mobil.
Adly kemudian menatapnya dingin. Membuat Fany menelan salivanya kasar.
"Ok! Kalau itu privasi. Lo gak usah cerita". Cetusnya kemudian.
Tak lama setelah itu,tiba-tiba mobil itu sudah berhenti tepat di depan rumah Fany. Fany segera turun.
"Ad,Lo gak singgah dulu" tawarnya basa basi. Dan di balas gelengan oleh Adly.
Adly menghela pelan,perkataan 'orang itu' kembali berputar di kepalanya. Dia masih bisa melihat Fany melambaikan tangannya dengan sedikit melompat persis anak kecil yang kegirangan melalui jendela.
***
Bahkan dia masih saja tersenyum ketika sampai di ruang tamu. Tak menyadari jika kedatangannya membuat orang yang berada disana menoleh serempak kearahnya.
Saat menyadarinya,Fany langsung kikuk,pipinya langsung memerah lalu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal Fany memberikan senyumnya yang sedikit di paksakan.
"Gue ganggu ya!" dan dengan polosnya ia bartanya,hingga mengundang tawa orang di ruangan itu. Tak terkecuali Mama dan Papanya.
"Gak kok,sayang" Ucap wanita separuh baya yang Fany yakini adalah tante Clara. Teman mamanya,yang memang dahulu sering berkunjung.
Ratih,yang melihat anaknya segera menyuruh Fany bergabung.
"Halo,om! tante" sapanya masih dengan wajah memerah lalu duduk tepat di samping kiri Ratih.
Tamu itu memang sudah sering datang sebelumnya. Keluarga tante Clara. Tapi mata Fany kemudian tertuju pada gadis sebayanya,yang agak asing .
"Fany kenalkan ini Davina" seakan mengetahui isi pikiran Fany ,Clara segera memperkenalkan gadis di dekatnya.
"Hai Davina" sapa Fany pada gadis itu. Lalu setelah itu mulutnya mulai menyerocos. Mencomot topik apapun untuk di bahas dengan Davina dan keluarganya. Dalam waktu singkat mereka sudah akrab.
"Fany sekarang sudah besar ya!" Ujar Niko,yang Fany tahu ayah dari Davina.
__ADS_1
"Iya dong,mereka bertiga kan seusia", Farhan membenarkan.
"Davina juga sekolah di Adyatama loh" Ratih memberitahu putrinya. Yang membuat mata Fany sempurna membulat karena terkejut.
"Kok gue gak pernah ketemu sama lo!Vin"
"Aku emang gak seterkenal itu" Ucap Davina kalem. Dan Fany menghela nafas kecewa. Lakali k
"Lain kali,kalau lo liat gue di sekolah langsung panggil aja. Abisnya gue lumayan pelupa". Cengirnya yang membuat orang di ruangan itu serentak tertawa.
"Aku juga masih kelas 10 kok!" Davina menjawabnya yang lagi lagi kalem.
Fany mengangguk,lalu berpamitan ke kamarnya. Dan orang itu kini membahas hal lain. Dan samar samar Fany mendengar nama Aly di sebut. Tapi Fany tak terlalu menghiraukannya.
Apalagi hal ini Fany lakukan agar keluarganya leluasa berbicara dengan tamunya.
Fany menghempaskan diri ke kasur,menikmati degupan jantungnya. "Adly...."
Semakin Fany mendekat padanya,pun semakin ia merasa Adly jauh. Terlalu jauh untuk dia gapai.
Bukan jauh dalam artian yang sebenarnya,tapi dia merasakan Adly menyembunyikan sesuatu. Dan sesuatu itu yang Fany tak tahu.
Fany menghela nafas,lelah mungkin. Tapi ia tak akan menyerah,demi melelehkan apa yang membeku di hati Adly.
Fany melihat Hpnya yang berdering sebuah panggilan video,keningnya mengeriyit ketika nama Rini tertera di layar.
Ketika Fany menggesernya,wajah Rini dan Ima terpampang di layar.
Tapi yang mengejutkan Fany adalah Rini yang langsung berteriak kesetanan.
"FANYYYY!!!! OMG,Hari ini gue beruntung banget. Sumpah" ceritanya berapi api.
Ima meringis tertahan,"apaan sih?Dari tadi gue nanya malah lo acuhin"Ima terlihat sebal dan itu lucu bagi Fany.
Rini menarik nafas,"Gue.....ketemu.....My Lano.....OMG",dan kembali lah ia berteriak teriak seperti tadi.
"Bukan cuma ketemu sebenarnya,gue diantar pulang. Astagah.....dia pahlawanku"Mata Rini menerawang seakan mengingat kejadian tadi.
"Delano?"
TBC
Gak nyambung😑gak sih?
__ADS_1