My Clown Boy

My Clown Boy
30


__ADS_3

"Jika ingin hidup normal cukup jauhi hal yang bernama sandiwara".


***


Sepuluh hari setelah insiden belakang sekolah....


Siswa-siswi Adyatama High school, setiap hari Jum'at selalu menggunakan pakaian bebas ke sekolah. Hal itu karena sebelum pelajaran di mulai ada kerja bakti atau senam bersama yang biasa di lakukan.


Pakaian bebas mereka tergantung dari kesepakatan masing-masing kelas. Dimana  warnanya bisa seragam atau tidak. Hari ini XI IPS 1 sepakat menggunakan kaus putih.


Mereka dengan semangatnya melaksanakan kerja bakti di gedung kelas. Ada pula yang membersihkan gedung olahraga yang berada di lantai dua bersama kelas XII IPS. Dan sisanya membersihkan koridor atau perpustakaan di lantai tiga.


Sebenarnya hanya XI IPS 1 dan IPA 1 di Adyatama High School yang bergabung dilantai dua dengan seluruh siswa kelas XII. Sementara seangkatan mereka yang lain berada di lantai satu bergabung dengan kelas X.


Di mana IPS terdiri dari 3 kelas setiap angkatan sedangkan IPA, 5 kelas tiap angkatan.


Walaupun sama-sama berada di lantai dua. Jarak IPS satu ke IPA satu lumayan jauh. Karena kelas mereka bersebarangan. Harus melalui banyaknya kelas dua belas untuk sampai ke sana.


Ruang olahraga di lantai dua juga tidak terlalu besar,karena hanya di khususkan untuk olahraga permainan bola kecil seperti bulu tangkis, senam lantai,atau atletik cabang lompat. Sisanya dilakukan di ruang olahraga lantai satu atau dilapangan.


Entah apa alasan sekolah sehingga XI Ips 1 dan ipa 1 di pisahkan dari angkatannya.


Tapi mereka hanya bisa menjalaninya dengan baik selama masih wajar.


Sarah,Ima,dan Rini termasuk orang yang membersihkan ruang olahraga sibuk bercerita sambil menyapu lantai. Mereka tidak peduli pada kakak kelas yang kadang kesal karena terlalu asyik dengan dunia mereka bertiga.


Banyak hal yang mereka ceritakan,termasuk gosip yang ada di grup sekolah. Mereka bertiga memang termasuk orang yang aktif di grup itu. Jadi jangan heran jika apa yang mereka ceritakan itu up to date. Tidak seperti Fany yang masih tergolong siswa baru di AH.


Sebenarnya penghuni grup sekolah itu adalah mereka yang suka membicarakan cogan-cogan. Atau orang yang lagi hitz. Makanya yang gabung di grup itu cukup penggosip serta orang kepo. Anggotanya lumayan banyak,hingga informan mereka juga membludak.


Dan pastinya chat yang masuk tiap malam dari grup itu akan berjumlah ribuan. Hanya dalam satu bahasan.


Dan sebagai anggota yang aktif,mereka rajin membaca atau bahkan mengirim sesuatu.


Tapi anehnya hal yang mereka ceritakan sekarang memiliki titik jenuh. Lebih-lebih Fany teman mereka sudah tidak pernah masuk sekolah selama sepuluh hari terakhir.


Jujur,mungkin mereka rindu suasana dimana mereka melihat Fany duduk tiap pagi di pojok belakang sekadar untuk menatap wajah Adly.


Atau bercerita tentang hal yang tidak mungkin cewek itu lakukan,tapi mereka mengangguk membenarkan hanya agar Fany tak kecewa.


Mungkin mereka juga rindu melihat Fany terus-terusan membuntuti Adly dari belakang agar cowok dingin itu mau bicara.


Rini dan Ima menekuk wajah,seiring tugas mereka-menyapu lantai-hampir selesai.


"Gue Rindu Fany" ucap mereka bersamaan. Lalu setelah itu,Ima dan Rini saling tatap. Dengan tatapan bermusuhan,kemudian menit ke berikutnya saling membuang muka.


Membuat Sarah yang melihat itu hanya terkikik geli.


"Cie kompak" ejek Sarah pada keduanya.


"Gak" elak mereka kembali bersamaan.Mereka kembali saling menatap saling benci.

__ADS_1


"Lo ngapain sih pake,ikut-ikutan segala?" Protes Rini dengan bibir mengerucut.


"Si Fany udah bisa di hubungi?" tanya Ima membelokkan percakapan. Dia tak mau memperpanjang masalah yang gak ada habisnya dengan si Rini.


"Tadi malam gue coba hubungi tapi gak aktif. Jika aktif pun,dia gak angkat". Bahu Rini ikut merosot,mengingat peristiwa malam tadi.


"Kalau kalian?"


"Sama" jawab mereka serempak. Dan mereka merasa tak semangat mengingat keadaan Fany.


"Emangnya Fany kenapa sih?kok tiba-tiba aneh gitu" Sarah juga ikut merasa penasaran,melihat perubahan ekspresi kedua temannya.


"Gue juga gak tahu persis,tapi melihat kiriman anak-anak di grup hari itu dia jelas ketakutan lalu ambruk di lapangan", jelas Ima menerawang mengingat video yang beberapa hari yang lalu dikirim oleh anak-anak di grup sekolah.


Walaupun yang tertulis di sana adalah tentang Ali yang benar-benar mengubah haluan tapi yang mereka khawatirkan justru keadaan Fany yang mengenaskan. Dan untung saat itu  ada Ali yang datang tepat waktu.


Mereka tak peduli pada gosip-gosip siswa yang miring itu. Karena mereka tahu dengan jelas hubungan Ali dan Fany. Dan hanya benar-benar mereka yang dungu yang tak menyadari kalau kedua orang itu adalah saudara kembar. Hanya karena tidak memperjelas status mereka.


Sebenarnya,hanya warna mata dan hidung yang sama dari keduanya. Makanya jika di lihat sekilas orang-orang memang mungkin akan salah menyimpulkan.


Coba kalau tidak,entah nasib apa yang akan menunggu temannya itu. Mereka tahu banyak,siswi yang membenci Fany karena walaupun murid baru sudah berhasil menjadi salah satu murid famous hanya karena cewek itu bergaul dengan cowok-cowok populer AH.


Bahkan tanpa Fany sadari mungkin gadis itu di ikuti oleh paparazzi. Karena apapun yang dilakukannya,kadang terlihat di sana. (Jangan terlalu di percaya yang ini,hanya pandangan Ima semata :v)


Dia di cap cewek gatal oleh sebagian anggota grup. Walaupun tidak terang-terangan. Karena Ima,akan segera mengamuk jika ada hal miring yang membicarakan temannya itu.


"Gimana kalau kita tanya Bebeb Ali saja" Usul Ima semangat.


"Iya juga sih".


"Atau gimana kalau kita jenguk aja ke rumahnya" tambah Sarah memberikan pilihan lain.


Ima berbinar,sambil meletekkan sapu ke tempatnya. Mereka sudah selesai,dan bersiap-siapa kembali ke kelas.


"Gue gak yakin kita di ijinin masuk. Penjagaan di rumahnya dua kali lipat lebih banyak sekarang. Gue lewat kemarin", Rini kembali membuat Ima berjalan gontai.


"Gue jadi penasaran,apa aja yang terjadi di antara mereka  saat itu" gumam Sarah yang tidak di dengar dengan jelas oleh Ima dan Rini.


"Lo ngomong apa barusan Sar?"


Sarah gelagapan,tapi segera menormalkan kembali ekspresinya dengan tersenyum.


"Gak kok. Ayo masuk" ajaknya langsung,ketika mereka sudah sampai di depan pintu kelas. Dan setelah itu dia masuk ke dalam meninggalkan Ima dan Rini. Yang berdiri melongo.


"Gue tadi dengar dia penasaran deh!" Ima mengaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Penasaran apa ya?Lo gak dengar Rin"


"Aneh!" imbuh Rini,lalu mereka pun mengikuti Sarah masuk ke dalam kelas.


Sarah tak langsung duduk ke bangkunya melainkan datang ke samping Adly lalu berbicara dengan cowok itu. Ima dan Rini hanya memandangi mereka dalam diam. Karena selama ada Fany, Sarah sudah jarang duduk di sana. Tapi sekarang ia kembali setelah Fany tak pernah muncul.

__ADS_1


Mereka melihat lebam yang masih berbekas di wajah Adly. Padahal pertama kali mereka melihat luka itu adalah sembilan hari yang lalu,atau tepatnya sehari setelah Fany pulang di jemput oleh Ali dengan keadaan mengenaskan.


Tapi hari itu Adly tak masuk kelas atau lebih tepatnya bolos.


"Lo gak ngerasa aneh gak sih sama Si Adly?" tanya Rini memicingkan matanya ke arah cowok yang duduk di pojok,dimana Sarah juga duduk di sebelahnya.


Ima mengerjap pelan,"aneh kenapa?"


"Entah!tapi gue ngerasa dia nyembunyiin sesuatu".


Ima berfikir sejenak,berusaha mencerna apa yang dikatakan sahabatnya.


"Iya juga sih. Gue pernah gak sengaja lihat dia dengan pakaian hitam-hitam lewat di sudut jalan". Mengingat itu entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk Ima merinding.


"Terus?"tanya Rini masih penasaran.


"Gue gak yakin nih,kayaknya dia bertemu dengan seseorang di sana tapi gue gak bisa lihat dengan jelas. Dan saat itu gue kira bukan Adly. Tapi melihatnya untuk yang kedua kalinya gue jadi berfikir aneh!", gumam Ima kembali mengingat.


" Tuh. Kan Aneh!"Rini memberi jeda pada ucapannya.


"Dan dia lebih aneh dari pada My Lano",lanjutnya.


Ima melongo,karena menit berikutnya Rini sudah berteriak seperti biasa.


"Kok gue merasa yang aneh itu lo Rin" Decak Ima malas,sambil berjalan santai menuju ke tempatnya. Dia menatap sejenak ke arah Adly dan Sarah duduk lalu berjalan santai.


Tapi dia merasa aneh saat ia menginjak lantai yang harusnya keras,malah terasa lembek.


Tak lama berselang terdengar pekikan kesakitan.


"Waduhhh.....berat banget. Yang nginjak gue siapa?"


"Rusuk....gue mau patah!!!" teriaknya sambil menggapai gapai kaki Ima.


Ima menoleh ke asal suara tepat di bawah kakinya. Dan ternyata.


....


Di sana ada ketua kelas tercintah yang sedang tiduran sambil tiarap di lantai. Dan Ima menginjak punggungnya.


Saat sadar cewek itu langsung turun,dan berlari sejauh mungkin dari amukan ketua kelas.


Apalagi bekas sepatu Ima menempel di baju bagian belakang sang ketua kelas mereka yang berwarna putih.


"Dasar teman laknat,ketuanya tiduran malah di injak" Racaunya tak jelas.


Bayangkan di tengah mimpi indahnya tiba-tiba terbangun karena merasa ada yang menimpanya. Dan ternyata itu adalah Ima.


Sedangkan Ima sudah berlari sejauh mungkin dari jangakauan ketua kelasnya yang mengamuk.


"Bahaya....bahaya bahayaa....."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2