
"Tentang hati yang mulai mengerti bagaimana caranya menyukai"
***
Mereka kembali bercerita ke dalam pusaran ketakadilan. Kedalam deru protes dari insan yang tak berdaya. Dari harapan yang terabaikan.
***
Fany menghela nafas pelan. Melirik Adly yang tetap terlihat tak peduli.
"Ad! Lo mau sampe kapan duduk kaya gitu,bantuin gue kek! Hadapi Bu Gentong!",desis Fany sambil melotot ke Adly,dan jelas suara desisannya hanya mereka berdua yang dengar.
"Gak!"jawaban singkat itu membuat Fany putus asa.
"Ok! Kalau begitu artinya Adly siap menerima hukuman" tegas bu Zaraya yang mendengar Adly gak nyambung dari apa yang di bahasnya.
Lalu Bu Zaraya kembali duduk ke kursinya kemudian menatap Adly dan Fany secara bergantian.
Fany menyerah pupus sudah harapannya yang tadi meluap luap. Sekarang ia pasrah.
"Baiklah Bu saya juga" dan itu membuat Bu Zaraya tersenyum puas. Lalu guru tambun itu menulis sesuatu pada kertas,membuat Fany berdebar menunggu keputusan.
"Jadi hukuman kalian adalah bakti sosial selama tiga hari berturut turut,gak boleh diwakilin apalagi gak hadir. Kalau melanggar,satu haripun kalian gak datang hukumannya akan ditambah", keputusan Bu Zaraya membuat bahu Fany merosot.
Dia sangat malas mengikuti hal hal seperti itu,tapi dia berusaha meyakinkan diri.
Melihat gak ada dari keduanya yang berniat menanggapi Bu Zaraya melanjutkan ucapannya.
" satu lagi,berhubung masih pagi silahkan kalian berjemur di depan tiang bendera sambil hormat sampai jam istirahat".
Fany terkejut,Adly hanya terus menatap lurus Bu Zaraya.
"Tapi Bu!" sergah Fany.
"Tidak ada bantahan,atau saya tambah hukuman kalian karena banyak protes".
"Lo gak usah protes"ujar Adly menatap Fany tepat
" ck percuma"kata cowok itu lalu berdiri meminggalkan ruang Bk menuju lapangan upacara,yang saat ini sedang kosong. Karena tak ada kelas yang olahraga.
Apalagi sekarang hampir mendekati istirahat kedua mungkin tinggal satu jam pelajaran,atau empat puluh lima menit.
Dan pada akhirnya Fany menurut,melihat arah mata Bu Zaraya. Fany sebenarnya kurang fit tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah hukumannya. Dan dia harus menerima konsekuensi walaupun tanpa kesengajaan. Apalagi tadi ia sudah merasa cukup membela diri.
"Ad! Lo gak mau minta maaf ke gue soal yang tadi?". Ujar Fany memecah hening yang tercipta saat mereka sudah berdiri di lapangan upacara ini. Matahari,sebenarnya sudah mulai terasa membakar apalagi sudah lewat jam sepuluh.
Dan itu membuat Fany jenuh,dengan keringat yang terus membasahi seragam sekolahnya.
"Nggak!"
Kening Fany mengeriyit,lalu sesaat kemudian senyum jahilnya terbit.
"Kok gitu! Apa jangan jangan lo suka ya!" goda gadis berambut sebahu itu,rambutnya yang coklat tergerai lalu ikut di terbankan angin kecil.
"Gak!"
Fany bingung mendengarnya,tapi ia memaklumi emang dasar Adly pikirannya sulit di tebak,dan Fany sebenarnya agak curiga mungkin cowok ini hanya memiliki kata gak di kepalanya.
"Ih!!!!Adly lo kok kembali irit ngomong sih setelah kemarin sayang sayangan sama gue?" protes cewek berbir tipis itu.
__ADS_1
"Plis! Jangan berisik"
"Ok! Dan gue anggap lo suka kejadian yang tadi", katanya lalu tertawa yang menurut Adly mirip mak lampir.
" yang tadi hanya kebetulan!" jawaban itu membuat Fany yang tadi diawang awang jadi jatuh ke dasar.
"Lo kenapa sih aneh banget!" Fany menjadi bingung sendiri,sambil mengingat ingat apa saja yang ia lakukan hari ini. Sehingga membuat Adly berubah. Walaupun Adly emamg kaya gitu sebenarnya. Tapi Fany bersikukuh kalau Adly berubah.
"Lo yang aneh!"
Hingga sebuah kejadian berputar di kepalanya,saat Fany masuk kelas dan cowok di sebelahnya ini menatapnya tajam kala itu. Tapi bukan itu,melainkan tangan Fany yang digandeng Delano memasuki kelas.
Lah!!!
Lah!!!
Dan Fany yiba pada sebuah kesimpulan yaitu Adly Cemburu,digaris bawahi teman teman Adly cemburu.
"Lo marah sama gue!" tanya Fany mencoba menenangkan degup jantungnya yang menggila karena bisa bisa terdengar kalau ia tidak segera mengatur nafas.
Adly tak peduli,hanya terus menatap lurus pada bunga kembang sepatu yang tergelatak di depan kakinya. Tatapannya hanya pada benda itu,bunga yang gugur.
Fany mendekat,sangat pelan lalu menyeggol bahu Adly.
"Jawab dong jangan jangan lo cemburu" tebak Fany disertai senyuman jail dan khasnya.
"Ck...." Adly lagi lagi berdecak.
"Kok lo jadi nyebelin sih!" gadis itu jadi merengek kecil,begitu menyadari tak ada respon dari Adly.
"Artinya lo cemburu kan? Ngaku aja,lo cemburu ngeliat gue bareng Delano!". Fany mendesak cowok tinggi itu,dan anehnya Adly sempat tertegun sebentar sebelum akhirnya ekspresinya normal kembali.
Mereka lewat di lapangan,ada yang menuju kantin ada pula yang menuju mushalah.
Sedangkan rombongan XI IPA 1 berjalan menuju ke kelasnya karena baru saja selesai belajar biologi di lab.
Disana ada Rengga dan Reza yang nyepik cewek cewek AH sana sini.
Sedangkan di belakangnya ada Delano yang berjalan dengan memasukkan tangan je kantong celananya dengan earphone di telinga. Di sampingnya,ada seorang gadis manis dengan rambut sebahunya tersenyum senang hingga memperlihatkan deretan giginya yang kecil tapi rapi.
Saat rombongan itu berjalan tepat di depan Fany dan Adly. Mata mereka bertemu,mata Fany dengan pemilik netra abu abu itu. Dan anehnya ini berlangsung cepat tapi terasa lama oleh Fany.
Dia tak menyadari orang yang di sampingnya justru mengawasi semuanya. Delano berhenti hingga mereka bertiga seakan masuk ke atmosfer yang berbeda.
Rengga yang tadi di depan sekarang berbalik,melihat situasi yang kurang mengenakkan.
Reza pun demikian,dia melihat Fany.
" Hm...Fan,lo berjemur di situ. Mau hitam?"dengan konyolnya bertanya.
Membuat kontak mata itu terputus.
Fany menggeleng,pelan.
"Bdw,yang di kelas itu rasanya kayak gimana?" muka Reza terlihat sangat kepo.
Tapi langsung di jitak oleh Rengga.
Muka Fany bersemu,tapi tunggu gimana bisa mereka tahu. Ini sebuah keganjilan.
__ADS_1
Delano terus menatapnya,gadis di sebelah Delano juga.
"Oh maaf Lan,entar gue latihan piano lagi sama lo ya!". Ujarnya lalu meninggalkan tempat itu,ya Fany ingat dia adalah Maurina Aqilla Malik. Juara pianis di AH,Fany kagum tangan selentik itu bisa menari diatas tuts piano dengan lincah.
" Fan! Lo gak papa kan?" tanya Rengga,menyadarkan Fany kembali.
Fany hanya menggeleng pelan,lututnya mendadak lemas. Artinya jika ada yang mereka tahu ada yang menyebarkannya. Tapi Fany tak tahu siapa yang setega itu padanya.
Adly maupun Delano tak melepaskan pandangan darinya. Hingga membuat Rengga dan Reza merasa tak enak. Mereka berdua tahu gimana senangnya Delano tadi pagi lalu mendadak berubah setelah berada di lab biologi.
"Hhhh!!!ok Lan,sudah cukup pelajaran akan segera dimulai dan lo harus belajar". Usul Rengga yang langsung di setujui Reza.
Lalu keduanya menarik Delano pergi.
Fany sebenarnya belum makan siang tapi dia juga,tak mau meninggalkan hukumannya ini makanya,dia memilih patuh. Dan keringatnya terus saja membanjiri.
Dia penasaran siapa yang telah memberitahu Delano perihal kejadian itu,perasaan di kelasnya tak mungkin ada yang mau berurusan dengan sang most wanted.
" Hei!!! Heii guys lo tahu pelanggaran mereka apa?"Fany menoleh ke asal suara seseorang ketika ia merasakan yang berbicara sengaja mengeraskan suaranya.
"Apa apa?"Jawab beberapa yang di belakang.
Si gadis yang di depan langsung berbisik bisik sambil menatap sinis Fany.
" Cuih!!!! Murahan!" sindir salah satunya yang membut Fany menahan geram.
Sebenarnya Fany tak menerima di perlakukan seperti itu,ia juga tahu diantara banyaknya siswa AH banyak yang tidak menyukainya.
Dia tahu beberapa alasan klise para 'pembenci' itu. Dan Fany benar benar tak akan menerima hal itu. Tanpa sadar gadis itu menunduk menatap tali sepatunya,daripada harus berurusan lagi dengan mereka lebih baik ia menghindar. Bukan masalah pengecut atau tidaknya Fany hanya tak ingin ada yang kecewa karenanya. Atau semakin membenci.
Tanpa sadar orang di sampingnya menatapnya,ketika Fany menunduk.
Tapi tak berlangsung lama,karena suara cempreng dari Ima langsung membuatnya mendongak kembali.
"Fany,kok lo sampai di jemur Bu Gentong?"Rinhy langsung memghampiri Fany.
"Lo mau makan?" tawar Ima sambil menyerahkan sebungkus roti dengan sebotol air mineral.
"Gak usah,nanti gue makan kok di kantin mas Dono!apalagi kan tinggal lima menit". tolak Fany karena merasa tak enak.
"Tapi bdw Fan itu ciuman pertama lo gak!" cetus Rinhy yang langsung membuat pipi Fany bersemu.
"Pasti itu yang pertama" selidik Ima dengan suara berbisik melihat gelagat aneh sahabatnya itu.
"Gue denger" ucap Adly ketus,yang membuat Ima maupun Rinhy tertawa ngakak.
"Terus kenapa?" tantang Ima "lo mau apa?" lanjutnya.
"Yang di lapangan selain mereka berdua segera keluar,atau saya juga ngehukum kalian berdua". suara itu membuat Ima maupun Rinhy segera berlari keluar lapangan mereka tahu milik siapa itu suara.
Hingga sekarang mereka kembali berdua.Matahari semakin terik,hingga panasnya terasa ke ubun ubun.
Hukuman ini walaupun cuma berdiri terasa sangat berat. Tapi Fany tetap mau menjalaninya.
Fany entah kenapa tiba tiba merasa pusing, pandangannya mengabur,hingga dia menggeleng kecil sambil memegang kepala.
Pusing.....dia takut,dan dia terlalu lemah untuk berdiri. Kakinya tak kuat,panas ini begitu menyiksanya dengan perut yang belum terisi. Nafasnya tersegal,lalu dia melihat Adly di sampingnya yang masih terus berdiri.
Lalu,Adly mengabur bayangannya ada dua mungkin juga tiga,matanya terlalu berat untuk dia. Kakinya terlalu lemah,dan tenaganya habis. Dalam hitungan detik,dia terjatuh dan semuanya menjadi gelap baginya.
__ADS_1
Tbc